29 Hari

29 Hari
Bab. 52 . Tebakan Deo


__ADS_3

Rasa cinta pasti ada pada setiap insan. Terlebih pada masa-masa sekolah terutama pada saat SMA.


Arian kembali fokus membuat konsep untuk menyatakan perasaannya kepada Airin. Karena sangat fokus ia tidak menyadari bahwa Deo sahabatnya masuk ke kamarnya dan ikut duduk di sampingnya.


Deo melihat Arian yang tersenyum-senyum sendiri sambil terus berselancar di dengan laptopnya.


"Arian kau ini kenapa ?" tanya Deo.


Namun Arian masih asik dengan dunianya sendiri. Deo menatap ke arah monitor dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Arian. Namun ia tetap tidak mengerti dengan apa yang ia lihat itu.


Merasa haus Deo berdiri dan mengambil air dingin dari lemari es yang ada di kamar Arian. Setelah itu ia kembali ke samping Arian lagi.


"Arian sebenarnya apa yang kau kerjakan ? bahkan kau tidak merespon saat aku masuk dan bertanya kepada mu." tanya Deo.


Lagi-lagi Arian tak mendengar apa yang dikatakan oleh Deo.


"Kebakaran ! Kebakaran !." teriak Deo tepat di samping telinga Arian.


"Arian terperanjat karena terkejut dengan teriakan Deo. Arian menatap Deo dengan ekspresi yang rumit.


"Apa yang kau lakukan dan mengapa kau berteriak di samping telingaku ? aku bisa tuli karena teriakan mu itu !." ucap Arian.


"Seharusnya aku yang bertanya Arian, apa yang kamu lakukan hingga saat aku masuk dan bertanya kepada mu hingga berulang kali kau tetap bungkam dan hanya tersenyum sendiri seperti orang gila." jawab Deo cuek.


"Benarkah ?" tanya Arian seolah tanpa dosa.


"Kau bisa bilang seperti itu seolah-olah aku yang mengada-ada. Sedangkan kau tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila." ucap Deo sambil menenggak kembali minuman yang ada ditangannya.


"Cinta yang membuat aku menjadi gila. Aku memang gila sobat. Gila karena cinta." jawab Arian tulus tanpa ada sebuah kebohongan.


"Kau sedang jatuh cinta ? katakan kepada sahabat mu ini siapa gadis itu yang bisa membuat Arian jatuh cinta !" ucap Deo dengan penuh semangat.


"Lihatlah ini bagaimana menurut mu ?" tanya Arian tanpa menjawab pertanyaan Deo.


Deo segera mendekat dan memperhatikan sebuah video yang baru saja di selesaikan oleh Arian.

__ADS_1


"Ini sangat luar biasa ! apakah kau berencana untuk mengungkapkan perasaan mu dengan cara seperti itu ?"


"Pasti gadis itu akan merasa lebih spesial karena kau menggunakan cara yang berbeda dan terkesan sangat romantis." ucap Deo dengan penuh keyakinan.


"Tapi siapa gadis itu ? Dan sejak kapan kau menyukai dia. Sepertinya aku belum pernah melihat kau dekat dengan seseorang. Semua teman wanita kau perlakukan sama. Tak terlihat ada yang spesial di antara mereka." ucap Deo kemudian.


"Benarkah ? apakah aku kurang memberikan perhatian yang lebih terhadap dia. Apa dia akan menolak perasaan ku nantinya ?." tanya Arian.


"Bukan begitu maksudnya Arian, selama aku mengenalmu kau memperlakukan semua orang dengan baik. Tidak ada yang spesial di antara mereka. Kecuali Airin."


"Jangan-jangan gadis yang kau maksud itu adalah Airin ?" tanya Deo dengan pemasaran.


"Bukankah tadi kau bilang aku memperlakukan semua dengan sama tak ada yang spesial." ucap Arian.


"Tapi Airin berbeda, kau selalu tersenyum sendiri saat melihatnya meskipun dari jauh. Bahkan kau selalu punya cara untuk bertemu dengannya meskipun hanya sekedar bertegur sapa."


"Bahkan dia wanita pertama yang duduk di samping pengemudi mu. Aku belum pernah melihat kau mengijinkan wanita duduk di sana." jawab Deo.


Arian tersenyum mendengar jawaban Deo. Ia teringat saat mengantarkan Airin pulang dan berganti seragam karena ulah Chika.


Bahkan saat melihat Airin selesai mandi dan berangkat kembali Airin sangat cantik tanpa polesan make-up. Begitu kecantikan yang alami terpancar dari wajah cantiknya.


"Woi ! malah melamun." ucap Deo sambil menatap wajah sahabatnya yang tersenyum simpul.


"Apa ?" tanya Airin yang kurang mendengar apa yang dikatakan oleh Deo.


Deo hanya menggelengkan kepalanya karena sahabatnya yang biasanya mempunyai tingkat fokus yang tinggi, saat ini sangat berbeda.


"Sudahlah ! lanjutkan saja apa yang akan kau lakukan. Aku akan tidur disini saja." ucap Deo sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Terserah kau saja." jawab Arian pasrah dengan keputusan Deo.


Deo yang biasanya rame kini memilih untuk tidur. Hal yang sangat langka menurut Arian. Kemudian ia melanjutkan untuk menyempurnakan konsep yang ia buat untuk wanita pujaan hatinya.


Sementara Deo berusaha memejamkan matanya, meskipun ia sangat penasaran dengan apa yang Arian lakukan dan siapa wanita itu. Apakah benar Airin atau bahkan Chika.

__ADS_1


Karena kedua wanita itu memiliki kecantikan yang luar biasa, hanya saja kecantikan Airin terlihat begitu alami dan ada aura yang begitu luar biasa meskipun ia berpenampilan sangat sederhana.


Tetapi berbeda dengan Chika yang kecantikannya terkadang membuat orang bosan memandangnya terlebih lagi sifatnya yang sangat buruk.


Ketika ia teringat dengan Chika, ia teringat kembali dengan tuan Fernandez yang mereka temukan dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu.


"Bagaimana keadaan beliau saat ini ? apakah sudah lebih baik atau sebaliknya ? dan mengap tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan keadaannya, apakah tidak ada yang mengetahui keadaannya." ucap Deo tiba-tiba.


Arian yang kebetulan memperhatikannya mengerutkan keningnya. Ia hanya merasa heran dengan sahabatnya itu. Dengan mata yang terpejam tetapi masih menghawatirkan nasib seseorang.


"Arian apakah kau tau bagaimana keadaan tuan Fernandez setelah kita mengantarkan ke Rumah Sakit waktu itu ?" tanya Deo.


"Tidak, aku tidak tertarik untuk itu." jawab Arian dengan cuek.


"Apakah kau tidak ingin menjenguknya ?" tanya Deo lagi.


"Apakah kau ingin aku mengantarkan mu untuk bertemu dengan Chika ?" tanya Arian.


"Ya aku dulu Memang pernah mengagumi kecantikannya. Tetapi aku tidak suka dengan kelakuannya yang seperti nenek sihir."


"Jika kau ingin mengantar aku bertemu dengan seorang, lebih baik kau antar aku ke rumah Serli. Meskipun dia sederhana tetapi dia lebih berharga." jawab Deo dengan jujur.


"Oh ternyata sudah berpaling." ucap Arian asal.


"Arian apakah kau tidak penasaran dengan siapa pelaku yang membuat tuan Fernandez seperti itu di kediamannya sendiri ?" tanya Deo.


"Bukankah sudah aku katakan, aku kurang tertarik dengan masalah itu." jawab Arian.


"Iya aku tau, kau lebih tertarik dengan Airin kan ?" tanya Deo.


"Nah itu baru benar." jawab Arian dengan tersenyum menatap Deo.


"Artinya benar tebakanku bahwa kau jatuh cinta dengan Airin ? jika benar maka aku akan mendukung mu dengan sepenuh hati. Kalian terlihat sangat serasi."


"Cantik dan tampan dengan kepribadian yang sama. Sama-sama baik hati dan suka menolong." ucap Deo dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2