29 Hari

29 Hari
Bab. 44. Misel


__ADS_3

Setiap orang pasti mempunyai sebuah masalah, dan Setipa orang mempunyai cara sendiri untuk bisa menyelesaikan masalah itu.


Tak jauh berbeda dengan keluarga Fernandez yang selalu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan memanfaatkan kekuasan dan juga kekayaannya.


Bahkan mereka menghalalkan segala cara untuk bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Tak perduli benar atau salah yang jelas mereka harus benar dan menang.


Menyakiti, menindas bahkan membunuh orang yang tak bersalah sekalipun atau apapun itu mereka tidak perduli, hanya satu yang mereka pedulikan " pangkat dan kekuasaannya " yang ia pedulikan.


Hal itu yang membuat Deo mendukung siapapun orangnya yang telah berhasil memberikan pelajaran kepada tuan Fernandez, meskipun ia sendiri tidak mengetahui apakah hal itu benar atau salah.


Tak terasa Arian dan juga Deo terlelap bermain di dalam mimpi indah mereka masing-masing.


Sementara Airin tengah memeriksa bagaimana kondisi keluarga Fernandez setelah kejadian waktu itu.


Dari layar monitornya ia dapat melihat dengan jelas bagaimana kejadian yang terjadi di kediaman mewah tersebut.


Airin tersenyum saat ia melihat Arian dengan sigap menolong seseorang yang dalam kesulitan tanpa memperdulikan apakah orang tersebut baik atau buruk.


"Arian kau mempunyai hati yang tulus, bahkan kau mau menolong tuan Fernandez. Tapi sayangnya ponsel milik Chika tidak sempat kau amankan."


"Padahal aku berharap kau bisa mengamankan ponsel tersebut. Tapi aku juga salah karena tidak mengambil sendiri ponsel tersebut. Semoga Serli tidak lagi menjadi bahan bullying bagi Chika setelah kejadian itu." ucap Arin lirih.


"Sebaiknya aku mengunjungi Chika di rumah sakit sekarang. Kasihan dia sendirian hanya ditemani oleh pelayan dan juga penjaga." ucap Airin.


Setelah itu ia membereskan laptopnya, dan segera bersiap untuk mengunjungi Chika di rumah sakit.


Setelah berpamitan kepada ibu Iyem, Airin segera berjalan meninggalkan rumah itu dan menunggu mobil yang akan mengantarkan ia ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu berhenti tepat di depan Airin. Sang sopir segera turun dan membukakan pintu untuknya dan sedikit membungkukkan badan.


"Silakan masuk nona !." ucap sopir tersebut.


"Terimakasih." jawab Airin.

__ADS_1


Kemudian ia masuk dan segera duduk, setelah itu mobil tersebut berjalan menuju rumah sakit.


"Nona, apakah anda akan tetap tinggal di rumah itu? Bukankah lebih baik jika anda segera pulang. Nyonya besar selalu menunggu nona Airin untuk segera pulang ke rumah." ucap sang supir.


"Sebentar lagi Airin juga pulang, setelah memastikan keadaan tuan Fernandes dalam keadaan baik-baik saja, kita akan pulang ke mansion utama." jawab Airin.


"Baik non saya akan mengabari yang di rumah." ucap sang sopir.


"Tidak perlu ! ini sudah malam kasihan jika mereka harus menunggu kedatangan saya." ucap Chika.


"Baik non." jawab sang sopir.


Kemudian Airin meminta berhenti di sebuah minimarket untuk membeli beberapa barang untuk dibawa ke rumah sakit.


Setelah dirasa cukup, Airin segera menuju ke tempat kasir untuk membayar barang yang ia beli. Namun langkahnya terhenti saat melihat Misel yang sedang berdebat dengan kasir.


"Kau berani bilang bahwa kartu ini kosong, apakah kau tidak tau bahwa saya mendapatkan ini dari keluarga Fernandez. Jika mereka mendengarnya maka kau akan tanggung akibatnya." ucap Misel dengan penuh amarah.


"Maaf nona, tapi memang kartu ini sudah kosong. Kami telah mencobanya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama." ucap sang kasir dengan sopan.


"Maaf nona, jika anda tidak bisa membelinya maka silakan tinggalkan barang-barang ini dan kembalilah ke rumah untuk mengambil uang tunai tetapi jika kau tidak mau jangan bawa semua ini dan tinggalkan tempat ini karena kami masih banyak pelanggan. " ucap sang kasir.


"Kau berani sekali melawan keluarga Fernandez, tunggu saja akibat yang akan kau tanggung karena dengan terang-terangan melawan mereka." ucap Misel sambil meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Misel berlalu Airin kemudian berjalan mendekati kasir dan segera membayar belanjaannya kemudian ia segera keluar dari mini market tersebut.


Airin menutupi wajahnya dengan menggunakan masker, saat berlalu di depan Misel.


Misel melihatnya dengan sangat teliti dari atas sampai bawah.


"Sepertinya aku mengenalmu." ucap Misel.


Belum sempat Misel melanjutkan ucapannya, mobil mewah berhenti tepat dihadapan mereka. Kemudian sang supir turun kemudian ia membukakan pintu untuk Airin.

__ADS_1


"Silakan masuk Nona." ucap sang Supir.


Setelah Airin masuk, mobil mewah tersebut segera melaju meninggalkan Misel yang masih berdiri terpaku melihat mobil yang baru saja melintas di depannya.


"Mengapa gadis itu sangat mirip dengan Airin ? apakah benar itu tadi adalah Airin ? tapi tidak mungkin, mana mungkin tukang sapu itu mempunyai mobil semewah itu." ucap Misel sambil menatap mobil tersebut.


"Tapi mengapa kartu ini, tidak bisa digunakan ? apakah tuan Fernandez melupakan janjinya dan sengaja tidak mentransfer uang atas kerja kerasku menculik Serli."


"Jika memang demikian aku akan menghubunginya untuk menagih uang bayaran yang telah ia janjikan. Jika beliau menolaknya maka akan aku bongkar semua kebusukannya." ucap Misel dengan tersenyum penuh kemenangan.


Setelah itu ia segera mengeluarkan ponselnya, dan segera menghubungi tuan Fernandez. Namun tidak bada jawaban.


Ia berkali-kali menghubunginya lagi, namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban sama sekali.


Dengan kesal Misel meninggalkan minimarket itu, ia segera menghentikan taksi dan segera menuju kediaman tuan Fernandez.


Setelah beberapa saat akhirnya ia sampai di depan gerbang kediaman tuan Fernandez. Rumah yang besar dan mewah tersebut terlihat sangat sepi.


Bahkan penjaga yang biasanya berlalu lalang tak terlihat sama sekali. Misel menjadi sedikit ragu untuk masuk. Ia berdiri cukup lama di depan pintu gerbang.


Namun setelah lama berfikir, akhirnya Misel menekan bel yang ada di depannya. Setelah beberapa saat scurity muncul di hadapannya.


"Ada yang bisa saya nona ?" tanya scurity itu.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Fernandez." jawab Misel tanpa basa-basi.


"Maaf Nona, saat ini tuan sedang tidak berada di rumah." jawab scurity itu.


"Sampaikan kepada tuhanmu bahwa saya adalah Misel teman putrinya Chika dan saya adalah partner kerja beliau."


"Katakan kepadanya bahwa saya datang untuk menagih bayaran sesuai dengan kesepakatan kita." ucap Misel.


"Maaf non tuan saat ini sedang tidak di rumah, beliau sedang sakit dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit."

__ADS_1


"Jika anda ingin bertemu dengan beliau, silakan datang ke rumah sakit dan katakan sendiri apa yang ingin kau katakan." jawab Scurity itu kemudian ia segera berlalu meninggalkan Misel yang masih berdiri di depan pintu gerbang.


Sementara Misel masih mencerna apa yang dikatakan oleh scurity itu, sambil menatap ke rumah mewah yang ada dihadapannya.


__ADS_2