
Setelah jam istirahat berbunyi seluruh siswa segera keluar untuk menikmati makan siang atau sekedar ngobrol bersama teman-temannya.
Namun Chika tetap pada posisinya. Ia masih melamun memikirkan tentang ucapan Deo dan juga penolakan Arian.
Ia tak habis pikir, apa yang kurang dari dirinya sehingga Arian tidak pernah sekalipun memberinya kesempatan untuk sekedar bersamanya.
Lalu apakah sebenarnya tujuan Arian dan Deo ke rumahnya waktu itu ? apakah benar apa yang dikatakan oleh ayahnya bahwa mereka sebenarnya mencari sesuatu di kediamannya.
Dan apakah mereka ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa sang ayah ? tapi apa maksud Deo bahwa semalam mereka b melihat semuanya ? apakah ada hubungannya dengan sang ayah dan juga Misel ?.
Chika mencoba berfikir dengan keras agar bisa memecahkan teka-teki yang ada didalam benaknya.
"Chika ayo kita istirahat, aku haus dan juga sedikit lapar. Bagaimana jika kita pergi ke kantin ?." tanya Misel sambil mendekati Chika.
"Kau pergi sendiri saja, aku masih betah berada di sini." jawab Chika diluar dugaan Misel.
Biasanya Chika lebih suka berada di kantin dari pada berada di dalam kelas. Apalagi saat ini adalah waktunya istirahat.
"Chika apakah ada yang salah dengan mu ? atau kau sedang tidak enak badan ?" tanya Misel dengan khawatir.
"Tidak ! aku hanya sedikit lelah. Jadi aku tidak ingin melakukan apapun. Jika tidak keberatan tolong belikan aku makanan ringan dan juga segelas jus." jawab Chika.
"Ok, akan aku belikan untuk mu. Setelah pulang sekolah nanti aku antar kau ke Dokter, agar segera mendapat penanganan yang tepat sebelum semuanya terlambat." ucap Misel.
"Baiklah, terimakasih untuk semuanya." jawab Chika dengan suara yang lemah.
Misel segera berlalu meninggalkan Chika yang masih menatap ke langit-langit kelas. Misel dengan bersenandung meninggalkan Chika dan semua yang ada dalam pikirannya.
Sementara Airin segera mendekati Chika setelah memastikan bahwa Misel telah berlalu.
"Boleh aku duduk di sini ?" tanya Airin dengan sopan.
__ADS_1
"Silakan ! tapi ada angin apa sehingga kau mendatangi aku seperti ini ?" tanya Chika dengan curiga.
" Tidak ada, hanya saja sejak kau datang kau terlihat tidak seperti biasanya. Bahkan ketika Model berlalu kau masih enggan untuk bangkit meninggalkan kelas yang biasanya membuatmu tidak betah di dalamnya."
"Apa yang terjadi padamu ? apakah kau sakit atau ada sesuatu yang lain ?" tanya Airin.
Chika hanya memandang Airin dengan sinis, ia tidak menjawab pertanyaan Airin dan hanya menghela nafas panjang lalu memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
"Maaf karena telah mengganggu dan membuat mu tidak nyaman. Tetapi jika kau butuh bantuan jangan sungkan, katakan saja siapa tau aku bisa membantumu." ucap Airin.
"Yakin kau ingin membantu ?" tanya Chika.
"Asalkan tidak melanggar hukum dan dalam hal kebaikan mengapa aku tidak yakin." ucap Airin.
"Ok, kalau kau memang ingin membantu ku. Tolong katakan kepada Serli agar dia berkata jujur siapa yang telah membuat ayahku jadi menderita seperti sekarang." ucap Chika dengan kilatan amarah di matanya.
"Apakah kau yakin bahwa ayahmu menderita ?" tanya Airin cuek.
"Begini, mungkin saat ayahmu di bawa ke rumah sakit beliau terlihat begitu kasihan. Tetapi sekarang ayahmu sangat bahagia karena Misel menjaganya dengan baik." ucap Airin.
"Apa hubungannya dengan Misel ? bahkan ia tidak tau apa-apa." jawab Chika.
"Apakah kau yakin ? sebelum kau kecewa, sebaiknya kau cari terlebih dahulu kebenarannya." jawab Airin.
"Lebih baik kau diam, dan jangan banyak bicara jika kau hanya ingin menambah beban pikiranku." jawab Chika.
"Begitu juga kau, lebih baik mencari kebenarannya baru boleh kau simpulkan dan kau tarik benang merahnya." ucap Airin sambil ia melangkah keluar dari dalam kelas.
Chika menatap punggung Airin hingga tak terlihat lagi. Kemudian ia memejamkan matanya sambil mengingat semua perkataan Airin.
"Sebenarnya apa yang terjadi ? tapi apakah Misel akan jujur dengan ku ? jika ia tidak ingin menutupi semuanya dari ku, seharusnya ia sudah berkata dengan jujur." ucap Chika dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Chika bangkit kemudian ia berjalan keluar kelas hendak menyusul Misel. Namun ia berhenti sejenak ketika melihat Arian berjalan ke arahnya dengan senyum manis menghias wajahnya.
"Aku harus apa ? bagaimana ini ? Arian berjalan kemari dan ia begitu tampan dengan senyuman diwajahnya."
"Apa aku berpura-pura tidak melihatnya dan berjalan untuk menutupi kegugupan ku ? bagaimana ini, ia semakin dekat." ucap Chika dalam hati.
Seandainya ada yang mengetahuinya mungkin saat ini ia akan terlihat seperti udang rebus,
Mukanya terlihat begitu merah karena menahan rasa malu dan juga rasa penasaran. Jantungnya berdetak sangat kencang. Saat Arian berjalan kearahnya dan berjarak beberapa meter saja.
Dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Arian terlihat begitu berwibawa. Auranya mampu membuat siswa yang berada di depannya menyingkir dengan sendirinya dan memberinya jalan dengan penuh hormat.
Chika begitu salah tingkah, namun ketika tepat berada di depannya, Arian menyingkir dan melanjutkan untuk menuju Airin yang sedang duduk membaca buku di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon.
Semilir angin menerbangkan rambut Airin yang menambah pesona kecantikannya yang begitu alami dan begitu murni.
Chika berpaling melihat ke arah mana Arian berjalan. Hatinya kembali tersayat saat melihat pria yang selama ini ia dambakan dan bahkan membuat ia salah tingkah beberapa menit yang lalu tersenyum mengulurkan tangannya ke arah gadis yang selama ini begitu ia benci.
Tanpa ragu, Airin menyambut tangan Arian kemudian keduanya berjalan beriringan dengan begitu mesra. Tanpa perduli bahwa ada sebuah hati yang tersakiti.
Meskipun sebenarnya Arian dan Airin, hanya berjalan sambil bercanda bersama Deo seperti anak-anak yang lainnya.
Namun, di mata Chika mereka terlihat begitu mesra dengan kedekatan yang sesederhana itu. Karena hal itu tidak pernah ia rasakan.
Sejak kecil ia tidak banyak mempunyai banyak teman, hanya beberapa orang saja yang boleh menjadi temannya. Ia tidak bisa bergaul dengan semua orang dengan alasan keamanannya.
Sejak kecil ia selalu merasa iri ketiga melihat anak-anak seusianya bisa bermain dengan bebas tanpa harus banyak berfikir ini dan itu. Dunia anak-anak begitu sederhana dan penuh dengan kebahagiaan, namun sama sekali belum pernah Chika rasakan.
Ia hanya bisa melihat teman-temannya bermain dari balik kaca karena ia tidak di ijinkan untuk bergabung dengan mereka.
Chika menghentakkan kakinya dan ia segera kembali ke dalam kelas. Dengan kesal ia menghempaskan tubuhnya di kursi. Tanpa ia sadari air matanya menganak sungai di pipinya. Sebuah wujud kesedihan yang tak sempat ia ucapkan.
__ADS_1