
Setelah Rara pulang sekolah, dia pun memberitahu Jeni untuk segera ke cafe tempat mereka janji tersebut.
"Kak Jen....", 'Sapa Rara yang melihat Jeni dari kejauhan'.
"Ada apa Ra yang ingin kamu bicarakan, sepertinya sangat serius", 'Tanya Jeni yang duduk di tempat yang telah di siapkan Oleh Rara'.
"Iya kak, ini aku juga udah pesanin minum buat kak", 'Jawab Rara'.
"Kok kamu tahu minuman kesukaan aku?", 'Tanya Jeni'.
"Iya soalnya aku perhatiin kak saat kita ngebahas surprise untuk kak Fitri selalu pesan ini, makanya aku pesanin. Ini barusan kok kak dan masih dingin", 'Jawab Rara'.
"Terimakasih ya Ra", 'Ucap Jeni'.
"Iya kak, sama-sama", 'Jawab Rara'.
"Jadi begini kak, aku khawatir dengan kondisi kak Angga", 'Ucap Rara memulai pembicaraan nya'.
"Kondisi Angga?", 'Tanya Jeni dan mengerjitkan Keningnya'.
"Iya kak kondisi kak Angga, semenjak kejadian di air terjun itu dan juga kak Fitri tidak ada kabar. Kakak Angga emosional sering tidak terkontrol kak, di sering marah-marah dan ngamuk tanpa sebab jika ia tidak mendapat kabar apapun tentang kak Fitri. Dan juga akhir-akhir ini dia juga tidak selera makan katanya, dan sekarang badannya keliatan kurus dan juga matanya itu merah karena sering kurang tidur", 'Jawab Rara'.
"Astaghfirullah, kok bisa ya Ra Angga seperti itu sekarang ini?", 'Tanya Jeni lagi'.
"Aku juga ngak tahu kak, kamarin dia nelpon kakak kan nanya kabar kak Fitri. Dan setelah itu dia ngamuk lagi kak, katanya semua orang menyembunyikan kabar Fitri dari dia. Aku udah coba menenangkan dia kak, tapi dia hanya tenang sesaat saja kak nanti akan seperti itu lagi. Sekarang aku binggung kak harus ngapain lagi, dan aku juga ngak mau kak Angga terus seperti ini kak. Aku takut nantinya dia melakukan hal yang nekat lebih dari ini", 'Jelas Rara'.
"Hal nekat lebih dari ini maksud kamu Ra?", 'Tanya Jeni lagi'.
"Waktu itu pernah sekali kak Angga ngamuk di kamarnya, dan dia membanting semua yang ada di sana. Dia sambil ngomong untuk apa saya hidup kalau seperti ini terus, semua orang menyembunyikan kabar Fitri dari saya, lebih baik saya mati saja" 'Jawab Rara yang tidak terasa air mata nya jatuh'.
"Kamu yang sabar ya Ra, aku turut prihatin dengan kondisi Angga saat ini", 'Ucap Jeni dan mengelus punggung Rara'.
__ADS_1
"Aku binggung kak harus ngapain lagi dan minta tolong sama siapa lagi. Kakak pasti aku kan kabar kak Fitri?", 'Tanya Rara'.
"Iya Ra aku tahu, semalam aku abis nelpon juga sama dia", 'Jawab Jeni'.
"Aku mohon sama kakak, tolong ceritakan ini semua sama kak Fitri kak, aku mohon. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kakak ku kak. Meskipun kak Angga bukan kakak kandung aku sendiri, tapi aku udah menganggap dia kakak kandung aku sendiri kak", 'Ucap Rara memohon kepada Jeni'.
"Aku tidak meminta kak Fitri untuk menjadi pacarnya kak Angga kak. Aku hanya ingin kak Fitri mau berbicar dengan kak Angga dan mengizinkan kak Angga untuk menjelaskan semua yang terjadi beberapa hari yang lalu itu. Aku tahu bagaimana perasaan kak Fitri saat ini, tapi aku juga ngak tega liat kondisi kakak aku sendiri kak", 'Ucap Rara Lagi'.
"Iya Ra, nanti aku akan coba bicara sama Fitri. Tapi kamu yang sabar ya, soalnya Fitri juga sulit di hubungi hanya sesekali doang dia mengangkat telpon dari kita. Aku aja yang sahabat nya sendiri, baru kemarin doang dia mau mengangkat telpon ku, dan itu pun kita bicara sementar doang", 'Ucap Jeni yang merasa prihatin dengan kondisi Angga yang bisa di sebut hampir gila'.
"Iya kak, terimakasih ya kak, sudah mau membantu aku. Kalau begitu Rara pulang dulu ya kak, kasian kak Angga sendirian di rumah", 'Ucap Rara yang pamit kepada Jeni'.
"Iya Ra, kamu mau aku anter ngak?", 'Tanya Jeni'.
"Ngak perlu kak, aku bawa motor juga kok", 'Jawab Rara'.
"Ra, orang tua Angga tahu kondisi Angga seperti ini?", 'Tanya Jeni dan menahan kepergian Rara'.
"Yasudah kalau gitu hati-hati ya", 'Ucap Jeni'.
"Iya kak, bye", 'Ucap Rara melambaikan tangannya'.
Jeni tidak ingin nantinya orang tua Angga menyalahkan Fitri yang telah membuat anaknya seperti ini.
"Kasian ya Angga, dia sampai seperti itu sekarang ini. Sungguh besar cinta dan sayang Angga terhadap Fitri", 'Gumam Jeni lagi dan dia pun juga memutuskan untuk pulang juga'.
*
"Fit..... kamu udah daftar bimbingan belajar nya?", 'Tanya Eli kepada keponakannya'.
"Sudah Tante", 'Jawab Fitri'.
__ADS_1
"Kapan kamu perginya?", 'Tanya Eli lagi'.
"Daftarnya Online Tan", 'Jawab Fitri'.
"Oooo begitu ya, enak ya jaman sekarang ini apa-apa serba online. ngak seperti Tante dulu yang harus kesana kemari untuk daftar-daftar begituan", 'Ucap Eli'.
"Iya tan", 'Jawab Fitri'.
"Terus dimulainya kapan kamu bimbingan nya?", 'Tanya Eli lagi'.
"Besok Tan jam 10 pagi", 'Jawab Fitri'.
"Yasudah kamu semangat ya, dan semoga bisa masuk kamus yang kamu inginkan", 'Ucap Eli'.
"Aamiin, doain ya tan", 'Ucap Fitri'.
"Pasti dong sayang, Tante pasti akan doain kamu", 'Jawab Eli'.
"Kita keluar yuk, jalan-jalan sekalian liat-liat kampus yang pengen kamu tuju, mau ngak?", 'Ucap Eli'.
"Beneran Tan?, mau-mau Tan", 'Jawab Fitri yang terlihat sangat senang'.
"Yasudah sana kamu siap-siap dulu, Tante juga mau siap-siap", 'Ucap Eli'.
"Oke tan", 'Ucap Fitri yang berlari-lari ke kamarnya dengan sangat senang'.
"Jangan lari-lari Fit, ntar jatuh sayang", 'Ucap Eli yang sudah tidak kedengaran oleh Fitri'.
Terimakasih ya Allah engkau menitipkan Fitri untuk menemani hamba yang sering merasa kesepian ini. Dan akhirnya hamba bisa merasakan menjadi seorang ibu kembali semenjak di tinggal anak hamba Ariel beberapa tahun yang lalu.
"Ariel mama sekarang sudah tidak merasa kesepian lagi nak, ada kak Fitri yang sekarang menemani mama. Dia kuliah di sini dan juga tinggal sama mama dan papa. Kamu pasti senang kan nak melihat mama dari surganya Allah, melihat mama yang sudah tidak kesepian lagi. Dan juga pasti sekarang lagi dan adik bayi sudah berkumpul di sana, dan di sini hanya tinggal mama dan papa nak. Untung saja sekarang ini ada kak Fitri yang nemani mama, saat papa kalian sibuk bekerja dan kadang keluar kota", 'Ucap Eli dalam hati dan tidak terasa air matanya menetes di pipinya'.
__ADS_1