ADIKKU SELALU MEREBUT APA YANG AKU PUNYA

ADIKKU SELALU MEREBUT APA YANG AKU PUNYA
71


__ADS_3

"Mama ini ngomong apa sih?", 'Tanya Andra'.


"Terus kalau kamu ngak suka sama itu anak kampung, kenapa kamu membela dia dari pada mama kamu sendiri", 'jawab Hesty'.


"Ma, bukannya Andra membela dia di bandingkan mam. Tapi mama itu, tadi sudah terlalu keterlaluan ma", 'Ucap Andra'.


"Yang mama bilang apa adanya kok", 'Jawab Hesty lagi'.


"Yang di bilang Andra itu ada benarnya ma, ucapan mama tadi itu keterlaluan. Dan lagian juga ngak enak jadinya ma aku sama pak Bram", 'Ucap Tio yang baru masuk mobil'.


"Apa hebatnya sih itu anak kampung, semua orang lebih memilih dia", 'Jawab Hesty yang turun dari mobil dan menyetop taksi yang lewat'.


"Ma....ma mau kemana?", 'Teriak Andra'.


"Sudah ndra, biarin aja mama kamu itu. Ntar dia juga pulang sendirinya", 'Ucap Tio yang kemudian juga menjalankan mobilnya'.


"Tapi pa....", 'Ucap Andra'.


"Udah biarin saja, memang mama kamu itu juga sudah keterlaluan. Papa juga merasa ngak enak sama pak Bram dan juga keluarganya, karena ulah mama kamu itu", 'Jawab Tio yang fokus menyetir mobil nya'.


Akhirnya Tio, Andra dan juga Luna pun memutuskan untuk pulang, menyusul Hesty yang pulang duluan menggunakan Taksi.


"Apa sih hebatnya itu cewek kampung, sampai-sampainya Suami dan anak-anak aku begitu memuji dan mengagung-agungkan karya nya itu. Padahal mah karya dia itu biasa-biasa saja, ngak ada yang spesial dan wah", 'Omel Hesty di dalam taksi perjalanan pulang'.


Sementara itu, sopir taksi hanya melihat Hesty ngomel-ngomel dari kaca mobil.


"Jangan sampai dia itu memikat hati putra ku, ngak Sudi aku punya menantu gadis kampung begitu", 'Gerutu Hesty lagi'.

__ADS_1


Ingin rasanya Hesty teriak dan maki-maki orang siapa pun itu, untuk melepaskan semua amarah nya saat ini.


Hesty memang lah orang yang seperti itu, omongan nya ngak bisa di jaga dan juga dia itu bicaranya asal aja. Terkadang Tio merasa ngak enak sama rekan-rekan kerja, karena ulah sang Istri.


Begitu pun dengan Dia memang kenal dengan Hesty, karena merasa teman arisan juga. Tapi mereka itu juga tidak dekat, hanya sekedar berteman biasa saja. Karena ulah Hesty juga, yang mulut ngak bisa di jaga dan dia juga suka pamer dan semua mau di beli dengan uang. Mungkin karena dia semerta-merta berasal dari keturunan orang kaya, dan ngak ngerasain susah dari kecil, jadi menurut dia semua bisa di halalkan dengan uang.


*


"Tan.... itu bukannya Tante Hesty ya?", 'Tanya Fitri yang melihat Hesty turun dari mobilnya dan menyetop taksi yang lewat'.


"Iya sayang, itu mamanya Andra", 'Jawab Eli'


"Tapi kok dia turun dari mobilnya ya, dan naik taksi", 'Tanya Fitri lagi'.


"Tante juga ngak tahu sayang, mungkin dia ada perlu lain kali", 'Jawab Eli'.


"Apa kak Andra dan Tante Hesty berantem ya, gara-gara tadi. Dan Tante Hesty lebih memilih pulang naik taksi sendirian, dari pada sama keluarga nya", 'Ucap Batin Fitri'.


"Besok aku harus nemui kak Andra di kampus, aku merasa ngak enak gara-gara aku kak Andra dan mamanya jadi berantam", 'Ucap Fitri lagi dalam Hati'.


"Fitri.... jangan terlalu di pikirkan ya nak omongan istrinya pak Tio tadi, anggap aja itu sebagai bentuk salah satu rintangan yang harus kamu lewati untuk mencapai ke suksesan kamu", 'Ucap Bram yang melihat keponakannya itu berdiam diri'.


"Iya sayang, kamu jangan terlalu pikirannya ucapan mamanya Andra tadi itu. Dia memang begitu orangnya nak, ngak pernah berubah dari dulu sampai sekarang", 'Timpal Eli juga'.


"Iya om... Tante", 'Jawab Fitri yang tidak mau om dan tantenya itu khawatir dengan dirinya'.


Bram pun kembali fokus, nyetir mobil nya. Dan melajukan menuju rumah miliknya. Sementara itu, Fitri masih sibuk dengan pemikirannya sendiri yang dia sendiri juga kebingungan.

__ADS_1


*


"Apa ini sudah waktunya aku untuk harus belajar bisnis, sesuai dengan apa yang orang tua aku inginkan ya?", 'Ucap Andra menatap langit-langit kamarnya'.


"Apa dengan kedatangan Fitri ke perusahaan papa, aku jadi semangat belajar bisnis ya. eh tapi, semoga saja Fitri tidak merubah keputusannya untuk bergabung dengan perusahaan papa karena ulah mama tadi", 'Ucap Andra lagi dengan sendirinya'.


"Besok aku harus nemui Fitri di kampus, untuk minta maaf sama dia. Karena ulah mama tadi, aku juga ikut merasa tidak enak dengan Fitri termasuk Tante Eli dan suaminya", 'Ucap Andra lagi masih dengan posisi yang sama'.


Andra merasa sangat senang Fitri ikut bergabung dengan perusahaan milik papanya, dan ini juga akan menjadi salah satu semangat dan motivasi Andra untuk belajar bisnis sebagai pewaris utama perusahaan milik orang tuanya. Dan juga Andra merasa kagum dengan sosok Fitri, yang menerima tawaran dari papanya itu padahal dia masih kuliah semester awal. Menurut Andra Fitri itu adalah sosok perempuan panutan bagi orang banyak, karena kegigihan dan kemauan dia yang tinggi untuk mencapai kesuksesan dia dengan sendiri nya, tanpa harus ada embel-embel orang tua atau keluarga di balik kesuksesan nya itu. Maksudnya itu Fitri ingin sukses dengan sendirinya, bukan dengan numpang nama dengan orang tua dan keluarganya. Bisa aja kan Fitri kerja di perusahaan milik Bram adik ipar ayahnya, dan meminta jabatan yang tinggi. Pasti Bram akan kasih, secara dia itu sudah menganggap Fitri seperti anak kandungnya sendiri dan juga dia belum mempunyai keturunan, mungkin nantinya Fitri yang akan di jadikannya pewaris utama, kita tidak ada yang tahu. Yang jelas untuk saat ini, Bram dan Eli sangat menyayangi Fitri seperti anak kandung mereka sendiri. Dan mereka juga sangat bersyukur, dengan adanya Fitri. Jadi mereka tidak merasa kesepian dan juga mengobati rasa kangen mereka terhadap anak mereka yang sudah di panggil sang khalik terlebih dahulu.


*


pagi-pagi sesampai di kampus, Fitri pun celengak-celinguk mencari keberadaan Andra. Karena Fitri ingin minta maaf, karena dia semalam Andra dan mamanya jadi berantem.


"Kak Andra.....", 'Sapa Fitri dari kejauhan yang melihat Andra bersama teman-temannya'.


Andra pun menoleh kepada suara yang barusan memanggil namanya itu, dan juga menurut dia suara itu tidak asing di telinga nya.


"Kalian duluan aja ke kantin, ntar aku nyusul", 'Ucap Andra kepada teman-temannya yang berencana hendak ke kantin bareng'.


"Yasudah kalau gitu ndra, kita duluan ya", 'Ucap Keni salah satu teman Andra'.


Andra pun menghampiri Fitri, yang tadinya memanggil nya. Yang berdiri tidak jauh dari tempat di mana dia dan teman-temannya tadi bicara.


"Duh... baru juga pagi, udah liat beginian jadi malas deh", 'Gumam Sinta yang melihat Andra dan Fitri berdua-duaan'.


"Kenapa sih itu cewek dimana ada Andra, dia juga ada terus. Kaya surat sama perangkonya", 'Ucap Sinta lagi'.

__ADS_1


Sinta semakin hari semakin tidak suka melihat Fitri, apalagi Sinta sering melihat Fitri berduaan dengan Andra.


__ADS_2