
"Bel ini ngak sesuai dengan bayaran yang udah kamu janjikan sama aku?", 'Ucap Hani'.
"Kan kemarin itu aku udah kasih DP juga sama kamu Hani", 'Jawab Bela'.
"Iya tapi kan tetap ngak sesuai Bel", 'Ucap Hani'.
"Kamu mau ngak nih uangnya, kalau ngak aku ambil lagi nih", 'Ucap Bela dengan nada tinggi'.
Hani pun mengambil uang yang di pegang oleh Bela itu, walaupun uang itu tidak sesuai dengan bayaran yang sudah Bela janjikan. Bela menjanjikan bayaran yang lebih jika Hani mau mengambilkan foto dia dan Angga yang sudah dia rencanakan di malam itu.
flashback..
"Han... Kamu ambilin ya fotonya?", 'Ucap Bela'.
"Ngak Bel, aku ngak mau", 'Jawab Hani'.
"Kamu yakin ngak mau, aku akan bayar kamu lebih. Ini DP nya terlebih dahulu", 'Ucap Bela'.
mendengar bayaran Lebih itu pun, Hani Langsung kepikiran ibunya. Dia harus membeli obat untuk Ibunya yang sedang Sakit dan juga dia harus membiayai sekolah adik-adiknya.
"Gimana Han?, kamu yakin ngak mau?", 'Tanya Bela lagi'.
"Iya...Iya bel aku mau", 'Jawab Hani'.
Hani akan menghalalkan segalanya, demi mendapatkan uang lebih untuk biaya ibu nya yang sedang Sakit dan juga sekolah adik-adiknya. Dia tidak mau adik-adiknya putus sekolah juga seperti dirinya. Hani pun mengikuti instruksi Bela untuk mendapatkan uang yang telah di janjikan Bela tersebut.
flashback selesai
"Mau juga kan kamu itu, belagak sok-sokan ngak mau uang juga", 'Ucap Bela dan berlalu dari hadapan Hani'.
Hani pun terdiam dan menatap Bela dengan tatapan tidak suka.
"Liat aja kamu bel, suatu saat aku akan membalas semuanya", 'Ucap Hani menatap kepergian Bela'.
Kalau bukan karena faktor ekonomi yang membuat Hani seperti ini, dia juga tidak akan melakukan hal yang tidak baik seperti ini.
__ADS_1
Kalau Hani tidak melakukan apa yang di suruh oleh Bela, pasti dia tidak bisa membeli obat untuk Ibunya yang sedang Sakit.
"Ngak apa-apa lah, uang ini juga udah lebih dari cukup kok untuk membeli obat ibu", 'Ucap Hani lagi'.
Hani pun bergegas ke apotik yang tidak jauh dari tempat kerjanya itu, untuk membeli obat untuk Ibunya. Dan kemudian dia bergegas pulang, karena tadi dia mendapat telepon dari adiknya bahwasanya obat ibunya abis dan sekarang ibunya membutuhkan obat tersebut karena nafas sang ibu kembali sesak.
"Ibu.... Ibu ngak apa-apa kan?", Tanya Hani yang baru pulang kerja'.
"I-ibu ngak apa-apa nak", 'Jawab Ibu Hani dengan terbata-bata karena dadanya yang sesak'.
"Ini Bu, ibu minum obat dulu ya", 'Ucap Hani dan membantu ibunya minum obat'.
"Ibu kita kerumah sakit aja ya Bu, Hani tidak mau ibu kenapa-kenapa", 'Ucap Hani lagi'.
"Tidak perlu nak, ibu ngak apa-apa kok", 'Jawab Marta ibunya Hani'.
"Maafin ibu ya nak, gara-gara ibu sakit kamu yang harus banting tulang untuk keluarga kita", 'Ucap Marta lagi'.
"Ya Bu, Ibu tidak perlu minta maaf. Ini udah kewajiban Hani Bu sebagai seorang Anak. Ibu jangan banyak pikiran lagi ya. Hani akan bekerja keras untuk pengobatan ibu dan juga sekolahnya adik-adik", 'Jawab Hani yang berurai air mata'.
"Itu tidak penting ibu, ibu jangan banyak pikiran lagi ya. Yang penting sekarang bagi Hani adalah kesembuhan ibu dan juga sekolah Anda dan Nita. Hani nanti bisa ambil sekolah paket B dan juga C Bu, untuk mendapatkan ijazah yang setara dengan SMP dan SMA dan Fitri bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekarang ini. Ibu doain Hani ya Bu, semoga rezeki Hani lancar terus", 'Ucap Hani lagi'.
"I-iya nak, ibu pasti doain kamu kok. Tanpa kamu minta pun ibu akan doain anak-anak ibu", 'Jawab Marta lagi'.
"Andi... Nita kalian sudah makan?", 'Tanya Hani kepada kedua adiknya'.
"Belum kak, kita nunggu kakak pulang dulu. dan makan sama-sama", 'Jawab Nita'.
"Yuk kita makan yuk, Ini kakak ada beliin ayam goreng tepung buat kalian", 'Ucap Hani lagi sembari mengeluarkan ayam goreng tepung dari dalam tasnya'.
"Hore... ayam goreng tepung", 'Sorak Andi dan Nita'.
"Ibu istirahat ya Bu, Hani mau nemani adik-adik makan dulu", 'Ucap Hani kepada sang ibu sembari membantu ibunya rebahan'.
"Iya nak, kamu juga makan dulu nanti kamu sakit", 'Ucap Marta'.
__ADS_1
"Iya Bu", 'Jawab Hani'.
Hani pun membawa adik-adiknya keluar dari kamar sang ibu, dan mengajak mereka makan.
"Besok-besok kalian makan aja ya, ngak perlu nunggu kakak pulang. Takutnya kadang kakak pulangnya telat", 'Ucap Hani sembari mengambilkan nasi buat kedua adiknya itu'.
"Baik kak", 'Jawab Andi dan Nita'.
"Kak Hani ngak ikut makan?", 'Tanya Nita'.
"Kalian berdua aja yang makan ya, kak udah makan tadi di tempat kerja", 'Jawab Hani'.
Terkadang Hani meneteskan air mata, melihat serba kekurangan di rumah nya itu. Dan juga terkadang Hani merasa iba kepada kedua adiknya itu, Karena mereka tidak bisa main seperti temannya yang lain karena mereka harus menjaga sang ibu saat pulang sekolah karena kakaknya yang sedang bekerja.
Semenjak di tinggal oleh bapaknya yang pergi dan memilih wanita lain, semenjak itu pula lah Marta Ibunya Hani mulai sakit-sakitan. Setelah Hani lulus Sekolah Dasar, dia pun memilih bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe, untuk membiayai kebutuhan dan juga biaya sekolah adik-adiknya. Hani tidak merasa malu jika dia harus lebih dewasa dari pada usianya yang masih remaja. Dia juga tidak malu saat teman-temannya pada berpakaian seragam sekolah dan dia malah berpakaian seragam kerja. Karena Hani lebih malu jika dia mati kelaparan dengan keluarganya.
Hani tetap semangat bekerja demi kelangsungan hidupnya dan juga sekolah adik-adiknya. Dia tidak mau adik-adiknya bernasib sama dengan dirinya yang harus putus sekolah juga.
*
"Woi... bengong Mulu kerjaannya. Kesambet ntar baru tahu rasa", 'Ucap Rara mengagetkan sang kakak'.
Angga pun hanya diam, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Kak Angga kenapa lagi?, kok ngak seperti biasanya ", 'Ucap Rara'.
"Apa kak Angga sakit?", 'Tanya Rara lagi sendirian'.
Rara pun mengikuti langkah sang kakak, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan kakak sepupunya itu dan juga Rara ingin memastikan bahwa kakak sepupunya itu baik-baik saja.
"Tadi Fitri sama siapa?", 'Tanya Angga lagi sendirian di dalam kamarnya'.
"Apa Fitri udah punya cowok di sana?", 'Tanya Angga lagi'.
"hah... apa?, Kak Fitri punya cowok?", 'pekik Rara yang tidak sengaja mendengar ucapan Angga barusan, tetapi Rara Menutup mulutnya agar Angga tidak mendengar pekikan nya tersebut'.
__ADS_1