ADIKKU SELALU MEREBUT APA YANG AKU PUNYA

ADIKKU SELALU MEREBUT APA YANG AKU PUNYA
Ep. 62


__ADS_3

Pagi-pagi buta, sudah Ado sosok laki-laki yang datang hendak menjemput Fitri.


"Fit..... Uda siap?", 'Tanya Eli yang menghampiri kamar sang keponakan'.


"Bentar lagi Tan, om udah siapa ya tan?", 'Tanya Fitri balik'.


"Belum juga kok, itu udah ada Andra yang nunggu kamu di bawah", 'Jawab Eli'.


"Hah... kak Andra?", 'Tanya Fitri yang mengerjitkan Keningnya'.


"Iya....", 'Jawab Eli di sertai anggukan kepala'.


"Itu orang kok pagi-pagi buta udah di sini ya?", 'Tanya Fitri dalam hatinya yang penasaran kenapa Andra udah sampai di sini aja'.


"Fit... malahan ngelamun, buruan kasian andranya nunggu lama", 'Ucap Eli'.


"Biarin lah Tan, orang aku ngak ada janjian sama dia", 'Jawab Fitri yang kembali berkemas'.


"Emangnya kamu ngak ada janji sama dia tah?", 'Tanya Eli lagi'.


"Ngak Tan, aku ngak ada janji sama dia. Dia aja tuh yang tiba-tiba datang ke sini", 'Jawab Fitri'.


"Udah lah biarin, kamu buruan gih temuin dia. Kamu harus hargai perjuangan nya loh untuk sampai sini pagi-pagi buta begini", 'Ucap Eli kepada keponakannya itu'.


"Iya Tan, bentar lagi Fitri turun", 'Jawab Fitri'.


Setelah selesai berkemas dan memoles sedikit wajahnya dengan alat kecantikan, Fitri pun menuruni anak tangga untuk menemui keberadaan Andra, sedangkan Eli sudah turun dari tadi untuk menemani suaminya sarapan.


"Pagi kak....", 'Sapa Fitri basa-basi'.


"Iya fit, kamu udah siap?", 'Tanya Andra'.


"Udah kak", 'Jawab Fitri'.


"Ayuk kita berangkat, ntar sarapannya di kantin kampus aja", 'Ucap Andra'.

__ADS_1


"Hhmm iya kak", 'Jawab Fitri yang merasa kenapa ini orang yang ngatur-ngatur hidup saya ya'.


Fitri pun berpamitan kepada om dan tantenya, begitu pun dengan Andra.


"Tante.... om... Fitri pamit kuliah dulu ya", 'Ucap Fitri yang menghampiri adik dari ayahnya itu di sofa yang tidak jauh dari tempat duduk dia dan Andra tadi'.


"Ngak sarapan dulu sayang?", 'Tanya Eli'.


"Ntar aja di kampus Tan", 'Jawab Fitri'.


"Minum susu aja dulu gih, udah Tante buatin tuh ada di meja makan. Mubasir kalau ngak di minum", 'Ucap Eli yang telah mempersiapkan segala kebutuhan sarapan Fitri dan juga suaminya'.


Eli sampai mempersiapkan segelas susu hangat untuk keponakan nya itu, meskipun dia sudah dewasa sekalipun. Karena Eli merasa senang mempersiapkan semua itu.


Setelah meminum segelas susu hangat buatan sang Tante, Fitri dan Andra pun berpamitan kepada adik dan adik ipar dari ayah Fitri tersebut.


"Om.... Tante... Aku pamit dulu ya, izin ngajak Fitri", 'Ucap Andra yang berpamitan'.


"Iya nak Andra.... Kalian hati-hati yah", 'Jawab Eli'.


"Kalian hati-hati yah, Andra om titip Fitri, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia. Kalau seandainya terjadi apa-apa sama keponakan saya kamu yang saya cari", 'Ucap Bram Tegas'.


"Baik om", 'Jawab Andra'.


Setelah berpamitan, Andra dan Fitri pun menuju kampus menggunakan motor Andra. Sebenarnya sih Andra juga ada mobil di rumahnya, tetapi dia lebih suka menggunakan motor. Motornya ngak kaleng-kaleng loh, sejenis moge, hehehe. Ya secara dia orang tajir melintir juga lah ya, heehh.


"Ih papa ngak boleh ngomong kayak tadi itu tahu", 'Ucap Eli sepeninggal Fitri dan Andra'.


"Ya kenapa ma, ngak apa-apa lah. Itu tanda nya peringatan buat dia, dan dia juga harus menjaga Fitri baik-baik jangan sampai lecet. Lecet dikit keponakan papa itu sama dia, dia yang nantinya bakalan papa cari", 'Jawab Bram'.


Eli pun terenyuh mendengar ucapan suaminya itu barusan, karena dia merasa suaminya juga begitu menyayangi Fitri seperti anak dia sendiri.


"Terimakasih ya Allah, engkau telah menitipkan hamba seorang suami yang bukan hanya mencintai dan menyayangi Hamba, tetapi dia juga mencintai dan menyayangi keluarga hamba, termasuk keponakan hamba sekali pun", 'Ucap Eli dalam hati dan bersyukur kepada Allah'.


*

__ADS_1


Pagi-pagi di rumah Rina, Rina kembali mengalami ke sedihan karena dia sangat rindu dengan sang putri sulungnya Fitri.


"Biasanya pagi-pagi, udah sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan Sarapannya, dan juga kehebohan akibat suaranya itu. Ibu liat ini aku ngak, Bu sepatu aku yang kemarin di sini kemana?", 'Gumam Rina yang duduk di kursi meja makan sambil menopang dagunya'.


"Anak yang selalu kehilangan barang-barangnya yang hampir setiap hari, apakah kamu di sana juga begitu nak?", 'Gumam Rina lagi'.


"Ibu rindu kamu fit, maaf kalau ibu selalu berlebihan merindukan kamu ya nak, dan mungkin ini terlalu lebay. Tapi ibu rindu suasana yang ramai karena suara mu itu", 'Ucap Rina lagi yang tak terasa air mata pun menetes di pipinya'.


"Ibu... ibu kenapa nangis?", 'Tanya Bela yang melihat sang ibu menetes air mata'.


"Ngak kok Bel, mata ibu itu perih kelilipan tadi, makanya air matanya keluar", 'Jawab Rina berbohong'.


"Kamu udah sarapan?", 'Tanya Rina lagi yang mengalihkan pembicaraan sang anak bontot nya itu'.


"Belum Bu, ini mau", 'Jawab Bela yang masih menatap wajah sang ibu".


"Udah kamu sarapan dulu ya, itu udah ibu buatkan susu hangat", 'Ucap Rina'.


"Susu hangat, sejak kapan aku doyan minum susu hangat begini pas sarapan, yang ada nanti perut aku mules sampai di sekolah. Ini mah kebiasaan kak Fitri pas sarapan", 'Ucap Bela dalam hati'.


Bela hanya menyantap nasi goreng buatan sang ibu, karena ini sudah menjadi kebiasaannya saat sarapan. Bela tidak bisa tuh kalau sarapan roti sama susu hangat yang ada nanti perutnya mules, maklum lah ya perut-perut orang kampung, hehehe.


"Bel.... ini susunya ngak di minum?", 'Tanya Rina yang melihat sang anak sudah selesai sarapan'.


"Ngak Bu, buat ibu aja atau buat nenek gitu. Nanti perut Bela mules Bu Sampai di sekolah kalau minum susu begit", 'Jawab Bela dan berpamitan kepada sang ibu untuk kesekolah'.


"Duh menyebelin bangat, mana gua di suruh minum susu lagi pagi-pagi itu kan kebiasaan Fitri. Apa ibu lagi kangen sama kak Fitri ya, itu makanya dia menyiapkan kebiasaan kak Fitri sarapan, tapi kok malah aku yang di suruh minum. Kan ibu juga tahu kalau aku ngak doyan minum susu pagi-pagi. Apa ibu mau aku jadi Fitri gitu?, dih ogah aku mah", 'Ucap Bela lagi di perjalanan menuju sekolahnya dengan mengendarai motor matic kesayangannya itu'.


"Astaghfirullah ini kan kebiasaan Fitri kalau sarapan, kenapa aku jadi sama-samain dengan Bela. Ya Allah semoga saja bela tidak tersinggung dengan perbuatan hamba barusan", 'Ucap Rina menepok jidatnya'.


"Maafin ibu ya bel", 'Ucap Rina lagi yang merasa bersalah, mungkin dia memang sangat merindukan Fitri, jadi kebiasaan Fitri terus dia lakukan di rumah ini, termasuk sarapan'.


*


"Duh... makin mesra aja nih pangeran dan tuan putri. Helm pakai di bukain segala", 'Ucap Sinta yang panas melihat adegan di parkiran pagi ini'.

__ADS_1


__ADS_2