
"Kok aku semakin penasaran ya sama cewek yang waktu itu, entahlah kenapa aku selalu kepikiran sama dia. Padahal aku sudah tidak pernah melihatnya lagi", 'Gumam Andra yang semakin hari semakin penasaran dengan sosok Fitri'.
"Ah.... sudah lah, mendingan aku pergi keluar saja biar ngak kepikiran itu cewek lagi", 'Ucap Andra dan menyambar kunci motor di atas meja yang berada di kamarnya'.
"Andra...... mau kemana kamu?", 'tanya Hesti kepada anak laki-laki satu-satunya itu'.
"Keluar mam", 'Jawab Andra'.
"Keluar kemana lagi kamu ndra, baru juga kamu pulang masak udah pergi lagi. Mendingan kamu ke kantor papa kamu sana, belajar bisnis. Nantinya kamu yang akan mewarisi perusahaan kita ini ndra, Kamu yang akan mengendalikan nya", 'Ucap Hesti'.
"Kenapa sih mama selalu bicara seperti itu, aku ini masih kuliah mam. Nanti selepas kuliah aku juga akan belajar kok. Kan masih ada Luna ini juga", 'Jawab Andra'.
"Luna itu perempuan nak, dan yang pewaris utama itu adalah kamu bukan Luna", 'Ucap Hesti'.
"Terserah mama lah, aku mau pergi dulu", 'Jawab Andra dan berlalu pergi dari hadapan sang ibu'.
"Andra..... Apa yang mama ucapkan itu demi kebaikan kamu nak, demi masa depan mu juga", 'Teriak Hesti lagi'.
Tetapi Andra tidak mengindahkan apa yang di ucapkan oleh mamanya itu. Dia lebih memilih pergi dari rumah, untuk bersenang-senang dengan teman-teman nya.
"Mama... Mama kenapa teriak-teriak begitu?", 'tanya Luna yang menghampiri sang ibunda'.
"Itu lun, kakak kamu. Sampai kapan dia berfoya-foya seperti itu terus dengan teman-temannya. Lebih baik dia belajar ke kantor papa kamu", 'Ucap Hesti'.
"Udah mam, mama tenang dulu ya. Nanti darah tinggi mama kumat", 'Jawab Luna yang menenangkan Hesti'.
"Tapi mau sampai kapan kakak kamu itu seperti itu Lun, kenapa dia tidak pernah mau mendengarkan apa kata mama", 'Ucap Hesti'.
"Udah ma, mama jangan terlalu seperti itu sama kak Andra. Nanti juga ada masa nya kok ma, Kak Andra untuk belajar mengurus perusahaan kita", 'Jawab Luna'.
"Tapi kapan lu?, sampai kapan dia akan seperti ini terus menerus", 'Tanya Hesti lagi'.
"Ntar ada masanya juga kok ma, percuma juga mama ngomong nyuruh dia yg untuk belajar mengurus perusahaan, bikin Mama capek aja ma. Mendingan mama biarin saja kak Andra dengan sendirinya. nanti dia juga sadar sendiri kok ma", 'Jawab Luna'.
"Mendingan mama sekarang Luna bawa kekamar ya, mama istirahat. Nanti kalau mama terus terusan memikirkan kak Andra, yang ada darah tinggi mama kumat lagi ma", 'Ucap Luna lagi'.
Luna pun memapah mamanya itu menuju kamar, untuk beristirahat.
Andra memang lah anak yang keras kepala dan bandel, tapi dia masih tahu batasannya dalam bergaul. Andra memang sering minum-minum, main cewek tapi dia tidak pernah yang namanya menyentuh perempuan lebih dan juga dia tidak pernah menyentuh yang namanya barang haram yang marak merajalela di kalangan anak muda saat ini.
Andra juga bukanlah tipikal anak yang mau terus menerus di suruh ini lah itu lah, dia akan melakukan segala sesuatu atas kemauannya sendiri bukan paksaan dari orang lain.
*
"Gimana dong kondisi keponakan saya?", 'Tanya Eli saat menemui dokter bersama dengan sang suami Bram'.
"Ini buk, hasil Rontgen nya", 'Jawab dokter yang tadi menangani Fitri'.
"Keponakan ibu terkena Sindrom Iritasi Usus besar", 'Ucap Dokter lagi'.
"Apa itu dok?", 'tanya Bram'.
"Sindrom Iritasi Usus atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah kumpulan gejala akibat iritasi pada saluran pencernaan.
__ADS_1
Masalah kesehatan ini dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala. Biasanya meliputi kram perut, nyeri perut, kembung, dan perubahan pola buang air besar (diare atau konstipasi).
IBS adalah keadaan kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Namun, hanya sejumlah kecil pengidap IBS yang memiliki tanda dan gejala yang parah. Beberapa pengidap lainnya mungkin dapat mengontrol gejalanya dengan mengatur pola makan, gaya hidup sehat, dan juga stress", 'Jelas Dokter tersebut'.
"Ya Allah pa, Fitri...", 'Ucap Eli yang kembali berurai air mata'.
"Ya ma, mama tenang dulu ya", 'Jawab Bram merangkul sang istri'.
"Tapi bapak sama ibuk tidak perlu khawatir yang berlebihan, karena yang di idap pasien saat ini hanyalah gejala awal belum kronis. Jadi hanya perlu mengatur gaya hidup sehat", 'Ucap Dokter lagi'.
"Alhamdulillah syukurlah dok", 'Ucap Eli'.
"Itu penyebab apa yang ya dok?", 'Tanya Bram lagi'.
"Yang pertama itu adalah faktor makan atau pola makan yang tidak sehat, dan juga stress atau terlalu banyak beban pemikiran, dan gaya hidup yang berantakan", 'Jawab Dokter'.
"Jadi sebaiknya hindari terlebih dahulu memakan makanan yang dapat menyebabkan IBS dan juga mengatur pola hidup sehat,
makanan yang tinggi gas
Pengidap IBS seringkali mengalami kembung, oleh karena itu kita harus menghindari makanan yang memiliki gas tinggi. seperti minuman berkarbonasi dan alkohol serta makanan yang dapat menyebabkan peningkatan gas.
Penelitian menunjukkan bahwa beberapa pengidap IBS melaporkan perbaikan gejala diare, Jika mereka berhenti memakan makanan yang yang mengandung gluten. Seperti gandum, barley, dan gandum hitam.
menghindari kafein pada kopi dan teh.
Tidak merokok
Lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat tinggi seperti, buah-buahan, sayur, dan kacang.
__ADS_1
minum air putih setidaknya 3-4 gelas sehari
Rutin berolahraga
Tidur yang teratur dan waktu tidur cukup."
'Jelas Dokter lagi'.
"Ini saya kasih resep obat, dan tolong di tebus ya", 'Ucap Dokter itu lagi'.
"Baik dok", 'Jawab Bram'.
"Untuk sementara hari ini pasien di rawat inap terlebih dahulu ya buk, jika besok keadaan pasien membaik dan tidak lagi mengalami sakit perut atau kembung yang berlebihan baru kita izinkan pulang", 'Ucap Dokter lagi'.
"Baik dok", 'Jawab Bram'.
Eli dan Bram pun pamit dari ruang dokter tersebut, dan menuju kamar rawat inap Fitri.
"Pa... bagaimana ini?. Apa kita harus memberitahukan kabar ini ke kampung?", 'Tanya Eli saat keluar dari ruang dokter'.
"Entah lah ma, kita tanya Fitrinya terlebih dahulu saja. Dan kondisi Fitri pun tidak terlalu parah, dan dia hanya mengatur pola hidup sehat dan juga minum obat", 'Jawab Bram'.
"Ma, mama ke kamar Fitri saja dulua ya. Papa mau Nebus obat Fitri dulu ke apotik", 'Ucap Bram'.
"Baik pa", 'Jawab Eli'.
Eli pun menuju kamar rawat inap keponakannya itu takut Fitri sudah sadar dan tidak ada yang menemani, sementara Bram menuju apotek rumah sakit untuk menebus obat Fitri.
"Tante....", 'Panggil Fitri saat Eli membuka pintu kamar tempat Fitri di rawat saat ini'.
"Iya sayang", 'Jawab Eli'.
"Aku sakit apa Tan?", 'Tanya Fitri'.
"Ka-kamu terkena penyakit sindrom iritasi usus, tapi ini semua masih gejala sayang belum kronis. Jadi dengan kamu minum obat, dan juga mengatur pola hidup sehat. Inshaallah kamu nantinya akan sembuh", 'Jawab Eli yang ragu untuk menceritakan kepada fitri'.
"Apa Tan....", 'Tanya Fitri lagi dan sekarang meneteskan air matanya karena dia tidak menyangka bisa terkena penyakit inii'.
"Udah sayang, kamu yang tenang ya. Inshaallah secepatnya kamu bakalan sembuh kok", 'Jawab Eli'.
"Tan.... Aku mohon jangan kasih tahu orang tua dan keluarga di kampung ya soal penyakit aku ini. Cukup Tante, om Bram dan aku saya yang tahu. Aku mohon Tan, aku ngak mau mereka sedih dan juga mengkhawatirkan kondisi aku", 'Ucap Fitri'.
__ADS_1
Eli pun bimbang saat ini, apa dia mau mengikuti apa kata Fitri, atau malah sebaliknya memberitahu keluarganya di kampung.