
"Maaf ya pak Asep nunggu lama, soalnya tadi meeting agak ngaret karena kliennya datangnya sedikit telat. terus tadi di lift juga rame bangat", 'Ucap Fitri yang baru masuk mobil'.
"Iya mbak Fitri, ngak apa-apa kok", 'Jawab Asep yang memang sejak antar Fitri tadi tidak balik ke rumah lagi, di hanya menunggu Fitri di sana sesuai dengan perintah Eli'.
"Yasudah kalau kita pulang saja pak, tapi pak Asep udah makan?", 'Tanya Fitri yang cemas kalau seandai pak Asep belum makan karena menunggu dia'.
"Udah kok mbak, saya udah makan tadi di depan sana", 'Jawab Asep'.
"Yasudah kalau kalau begitu kita pulang aja ya pak, takut Tante Eli nantinya khawatir", 'Ucap Fitri'.
"Baik mbak", 'Jawab Asep yang mengemudikan mobilnya menuju rumah'.
Di perjalanan menuju rumah, Fitri pun kembali teringat dengan Andra yang tadi dia temui di kantor. Padahal Waktu itu dia pernah dengar dari Luna adiknya Andra dan juga papanya kalau Andra tidak mau jika di suruh datang ke kantor. Jangankan untuk belajar bisnis, datang ke kantor saja dia sangat lah tidak mau. Katanya Ada saatnya nanti, dia akan datang ke kantor dan belajar bisnis dengan sendirinya.
"Kak Andra tadi ngapain ya ke kantor?", 'Tanya Fitri dalam pemikiran nya saja'.
"Astaghfirullah Fitri.... itu kan perusahaan bapaknya jadi sesuka hati dia lah mau ngapain di sana", 'Jawab Fitri lagi'.
Fitri tersadar dengan apa yang diucapkan barusan, yang mana Andra juga merupakan bosnya juga. Jadi Fitri nantinya harus lebih hormat dan sopan jika bertemu dengan Andra di lingkungan kantor nantinya.
*
"Selamat datang di perusahaan ini pak Andra, suatu kehormatan bagi kami bapak datang ke perusahaan ini", 'Ucap Mila sambil menundukkan kepala'.
"Jangan panggil saya pak mbak, panggil Andra saja", 'Jawab Andra yang merasa tidak nyaman di panggil pak oleh orang yang umurnya jauh di atas dia'.
__ADS_1
"Ya kan pak Andra anaknya pak Tio pemilik perusahaan ini, ya otomatis pak Andra juga pemilik dari perusahaan ini. Jadi sangat tidak sopan kalau saya memanggil nama", 'Ucap Mila'.
"Tapi saya merasa tidak nyaman kalau di panggil seperti itu mbak", 'Jawab Andra'.
"Tapi saya jadinya yang tidak sopan kalau hanya memanggil nama", 'Ucap Mila'.
"Yasudah deh kalau begitu, gimana baiknya saja mbak", 'Ucap Andra yang akhirnya pasrah dengan sebutan, memang itu adalah kodratnya karena Andra adalah pewaris utama dari Santoso grup termasuk Sans Designer'.
"Ada apa nih, pak Andra tiba-tiba datang ke kantor", 'Tanya Mila dengan Sopan'.
"Emangnya saya ngak boleh datang ke sini?", 'Tanya Andra balik'.
"Ya boleh lah pak, maksud saya tumben-tumbennya gitu", 'Jawab Mila yang merasa kikuk pertanyaan Andra barusan'.
"Ya ngak apa-apa, saya hanya ingin mulai belajar bisnis saja. Dan papa bilang saya harus kesini nemui mbak Mila", 'Ucap Andra'.
Sebenarnya bukan Tio lah yang menyuruh Andra untuk datang ke sana, melainkan dia meminta Andra untuk datang ke kantor pusatnya dia. Jadi Tio dapat memantau dan mengajarkan Andra secara langsung, tetapi Andra menolak. Dia mau mengikuti apa kata orang tuanya untuk belajar bisnis, tapi di tempatkan di SANS Designer yang merupakan bagian dari Santoso grup.
"Andra kapan kamu mau mulai belajar bisnis nak?, kan bentar lagi kamu juga lulus kuliah?", 'Tanya Tio saat mereka makan malam beberapa hari yang lalu'.
Momen makan malam bersama ini adalah momen yang cukup langkah di keluarga Tio Santoso, di karenakan dengan kesibukan masing-masing. Terlebih Tio, jika akan sangat jarang sekali makan malam di rumah karena kesibukan di bekerja dan ketemu dengan klien sana sini.
"Belum tahu pa", 'Jawab Andra membuang kasar nafasnya'.
Sebenarnya Andra juga udah bosan di tanya-tanya seperti ini terus oleh orang tuanya, dan dia juga kasian sama ayahnya yang harus menghabiskan masa tuanya untuk bekerja dan mengurus perusahaan demi menghidupi keluarganya. Dan Andra juga sudah mulai tertarik untuk memulai belajar bisnis, tapi dia belum tahu kapan akan memulainya.
__ADS_1
"Terus mau sampai kapan kamu gini-gini saja Ndra, apa kamu ngak kasian melihat papa kamu. Dia harus menikmati masa tuanya dengan mengurusi perusahaan. Harusnya papa kamu itu sudah beristirahat di rumah, dan kamu sama Luna lah yang meneruskannya", 'Ucap Hesty'.
"Memang Luna udah bisa di handalkan dalam mengurus perusahaan, tapi papa belum bisa melepas sepenuhnya kepada Luna ndra. Luna mengurusi anak perusahaan aja ngak kelar-kelar, semuanya", 'Ucap Tio yang ikut menyambung ucapan istrinya tersebut, agar pikiran dan pintu hati putra sulung mereka terbuka'.
Mendengar Ucapan orang tuanya barusan, membuat Andra terdiam dan berpikir sejenak. Ada benarnya juga apa yang di bilang oleh Papa dan mamanya tersebut, harusnya sang ayah hanya memantau kinerja mereka dari kejauhan saja tanpa ikut andil turun kelapangan. Bisa saja Tio melepas perusahan dan di percayakan kepada orang kepercayaan dia, tetapi Tio tidak ingin apa yang sudah dia bangun sejauh ini lenyap sesaat karena orang kepercayaan nya itu. Karena kita tidak tahu isi kepala seseorang itu bagaimana, apalagi sudah di hadapkan dengan uang segepok, pasti banyak setan yang menggodanya dan biasa yang sering di namakan dengan khilaf. Oleh karena itulah Tio Masih mati-matian ikut andil mengurus perusahaan meskipun umurnya sudah tidak mudah lagi. Dan harapan satu-satunya Tio adalah Andra dan Luna, dan terutama Andra karena dia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga Santoso tesebut, dan dia adalah pewaris utamanya perusahaan dan seluruh harta yang di miliki oleh Tio Santoso.
"Yasudah Andra akan mulai belajar bisnis, sesuai dengan apa yang mama dan papa inginkan", 'Ucap Andra'.
"Seriusan sayang?", 'Tanya Hesty lagi untuk memastikannya'.
"Iya ma, Andra serius", 'Jawab Andra'.
"Syukurlah kalau kamu mau ndra, kamu mau mulai masuk kantor kapan?", 'Tanya Tio lagi'.
"Secepatnya pa", 'Jawab Andra'.
"Yasudah nanti kamu hubungi papa saja, dan papa sendiri yang akan membantu kamu juga", 'Ucap Tio Lagi'.
"Nah itu masalahnya, kalau Tio harus ke kantor pusat papa kan lumayan jauh tuh dari kampus Tio, jadi capek pa Tio harus bolak balik sejauh itu. Gimana mau Tio belajarnya di Sans Designer aja, soalnya kan lebih dekat sama kampus Tio. Jadi kalau Tio lagi ngak ada kelas Tio bisa ke sana dulu, ntar balik lagi ke kampus, jadi ngak makan waktu banyak", 'Usul Andra'.
"Yasudah kalau begitu, nanti papa hubungan manager di sana untuk bantu kamu. Tapi kamu tetap harus belajar juga di rumah sama papa ya, kalau nanti senggang", 'Jawab Tio yang menyetujui usul putra sulungnya itu'.
"Baik pa", 'Ucap Andra'.
Andra senang, karena dia bisa sering ketemu Fitri kalau di kantor. Meskipun Fitri terbilang jarang juga sih kekantor, karena dia juga harus kuliah.
__ADS_1
"Baik lah pak Andra, sebelum kita mulai belajar nya. Saya akan ajak bapak keliling kantor ini terlebih dahulu, dan memperkenalkan bapak kepada seluruh karyawan di kantor ini", 'Ucap Mila'.
Mila pun mengajak Andra berkeliling di kantor ini, dan juga memperkenalkan Andra kepada seluruh karyawan kantor ini. Agar nantinya, tidak ada karyawan yang menganggap Andra anak baru. Meskipun pak Tio tidak meminta dia untuk membeda-bedakan Andra. Mila hanya jaga-jaga agar hal yang tidak di ingin terjadi, karena masih banyak di luaran sana yang udah kerja lama alias senior semena-mena kepada anak baru atau juniornya, tapi ngak tahu juga ya di perusahaan ini?, hehehehe.