
"Fitri.... Fitri.....", 'Teriak Bram memanggil nama Fitri saat dia baru pulang kantor'.
"Ada apa Pa, teriak-teriak gitu manggil Fitri?", 'Tanya Eli yang menghampiri sang suami'.
"Papa ada berita bagus buat dia ma", 'Jawab Bram'.
"Berita bagus?", 'Tanya Eli dengan binggung'.
"Iya ma, Fitrinya mana?", 'Tanya Bram balik'.
"Fitrinya belum pulang pa, tadi dia jalan sama temannya. Tapi udah jalan mau pulang kok, pasti bentar lagi sampai", 'Jawab Eli'.
"Jalan sama temannya yang cowok itu?", 'Tanya Bram'.
"Bukan pa, Fitri jalan sama temannya yang cewek kok", 'Jawab Eli'.
"Ya sudah papa mandi dulu gih, bersih-bersih sama ganti baju sambil nunggu Fitri", 'Ucap Eli'.
"Yasudah kalau gitu, papa naik dulu ya ma", 'Jawab Bram'.
Bram pun menaiki anak tangga di rumahnya, dan menuju kamarnya. Sementara itu Eli masih di ruang tengah rumahnya, menunggu sang keponakan.
"Terimakasih ya Ki, kamu udah ajak aku keliling ibukota. Aku senang bangat", 'Ucap Fitri kepada Kiki yang baru sampai di rumahnya'.
"Iya Fit, sama-sama. Ntar kita jalan-jalan lagi ya. Aku akan ajak kamu kemana yang kamu mau", 'Jawab Kiki'.
"Beneran Ki?", 'Tanya Fitri dengan antusias'.
"Iya beneran Fit, yasudah kalau gitu aku pulang dulu ya. Udah malam soalnya", 'Jawab Kiki sekalian pamit'.
"Iya Ki, kamu hati-hati ya. Bye-bye, sampai ketemu besok di kampus", 'Ucap Fitri melambaikan tangan'.
__ADS_1
Kiki pun kembali melajukan motornya semakin jauh dari rumah Fitri, dan Fitri pun segera masuk.
"Assalamualaikum", 'Ucap Fitri membuka pintu rumah yang tidak terkunci'.
"Waalaikumusalam", 'Jawab Eli yang bangkit dari duduknya'.
"Maaf ya Tante, Fitri pulangnya kemalaman", 'Ucap Fitri dan mencium tangan adik dari ayahnya itu'.
"Iya sayang ngak apa-apa, ini baru jam 8 kok. Belum larut malam juga, kalau udah di atas jam 9 baru Tante marah", 'Jawab Eli'.
"Kamu bersih-bersih dulu gih, abis itu turun ya. Ada yang mau di bicarakan oleh om kamu", 'Ucap Eli'.
"Apa Tan?", 'Tanya Fitri binggung'.
"Tante juga ngak tahu", 'Jawab Eli mengangkat bahunya'.
"Yasudah kalau gitu Fitri naik dulu ya tan", 'Ucap Fitri'.
"Iya sayang", 'Jawab Eli'.
"Apa yang mau di bicarakan oleh om Bram?, atau jangan-jangan om Bram ngak suka kali ya aku pulang malam", 'Ucap Fitri dalam hati dan masih terngiang-ngiang ucapan dari adik ayahnya itu'.
Fitri pun mempercepat langkah kakinya menuju kamar, untuk bersih-bersih diri.
*
"Kak Andra tumben akhir-akhir ini jarang keluar?", 'Tanya Luna'.
"Ya lagi pengen di rumah aja, emangnya kenapa?. Kakak ngak boleh di rumah gitu?", 'Tanya Andra balik'.
"Ya ngak gitu juga kak, tumben-tumben aja. Biasanya kan kakak jarang di rumah", 'Jawab Luna'.
__ADS_1
"Udah-udah kalian ini jarang loh kita makan malam dengan keluarga lengkap kayak gini, eh malah berantam", 'Ucap Hesty menengahi kedua anaknya itu'.
"Andra.... kuliah kamu gitu mana?", 'Tanya Tio ayah Andra'.
"Lancar kok pa", 'Jawab Andra'.
"Skripsi kamu udah kelar?", 'Tanya Tio lagi'.
"On going pap", 'Jawab Andra yang kembali menyuap makanan yang ada di atas piringnya'.
"Terus kapan kamu mau belajar bisnis ndra, kamu itu satu-satunya pewaris utama perusahaan kita", 'Ucap Tio lagi'.
"Iya pap, ntar Andra ke kantor papa kalau Andra ngak sibuk kuliah", 'Jawab Andra'.
"Ntarnya itu kapan ndra, kamu itu dari kemarin-kemarin ntar-ntar Mulu", 'Ucap Hesty'.
"Iya ma, Andra pasti kok bakalan belajar bisnis. Tapi ntar dulu otak Andra itu masih mumet mam ngerjain skripsi", 'Jawab Andra membanting sendok makannya dan berlalu dari meja makan'.
"Andra.... Andra... Mama belum selesai ngomong ya sama kamu", 'Teriak Hesty tetapi Andra tidak menghiraukannya dan dia tetap mempercepat langkahnya menaiki anak tangga rumahnya dan menuju kamarnya'.
"ma... Mama itu tidak bisa seperti itu loh ma bicara sama Andra. Tidak semua anak itu bisa di kerasin dan harus ngikutin apa kata kita gitu", 'Ucap Tio menasehati sang istri'.
"Tapi pa... itu Andra sudah keterlaluan", 'Jawab Hesty'.
"Iya papa tahu, tapi kita harus bicara sama Andra itu pelan-pelan dan lembut mam. tidak di kerasin begini, yang ada nanti dianya tambah parah. Coba deh mama bicara baik-baik sama Andra, pasti Andra ngak bakalan kayak tadi. Semua anak itu tidak sama ma, mereka punya tipe dan sifat masing-masing. Mama mungkin bisa keras bicara sama Luna, dan Luna selalu ngikuti apa kata mama. Mama bilang A, pasti Luna akan ngelakuin nya bagaimanapun. Tapi tidak dengan Andra ma, kalau mama bicara baik-baik sama dia pasti dia akan nurut apa kata mama", 'Ucap Tio lagi'.
"Tapi mau sampai kapan dia seperti ini pa, dia itu pewaris utama perusahaan kita. Iya sih ada Luna, tapi dia itu tombaknya pa", 'Jawab Hesty juga'.
"Iya ma, papa tahu. Tapi yang di bilang Andra barusan itu ada benarnya juga. Saat ini dia masih mumet otaknya gara-gara lagi ngurus skripsi, kalau kita tambah lagi dengan dia belajar bisnis, nantinya dia bisa tambah mumet otaknya ma atau bisa jadi ntar dia stress", 'Ucap Tio'.
"Itu Luna juga belajar bisnis sambil kuliah juga kok pa, malahan dari dia SMA lagi", 'Jawab Hesty'.
__ADS_1
"Iya itu beda ma, antara Luna dan Andra. Luna itu memang sudah senang belajar bisnis sedari kecil, tapi Andra itu dia tidak tertarik sama sekali untuk belajar bisnis ma. Dan juga dia itu bisa di bilang terpaksa lah harus belajar bisnis, karena dia itu pewaris utama perusahaan kita. Jadi kita itu harus menunggu sampai dia itu, siap untuk belajar bisnis ma. Dan Seharusnya kita sudah bersyukur ma, Andra udah berkumpul makan bareng sama kita, dan dia betah di rumah. Lah biasanya mama juga tahu kan, dia ngak betah di rumah dan juga pulangnya kita ngak ada yang tahu karena dia pulang sudah larut malam dan bahkan pagi. Dan dia juga ngak pernah tuh kalau pergi kemana gitu pamitan sama kita. Dia kapan makannya kita ngak ada tahu, karena dia itu ngak pernah makan di rumah. Biasanya rumah ini tuh seperti tempat singgah dia doang, bukan rumahnya. Dan kita masih bersyukur mah sebandel apapun dia, tapi dia ngak pernah tuh yang namanya bolos kuliah, dan nyatanya sekarang dia tetapi ngerjain skripsi telat waktu ma", 'Ucap Tio lagi'.
Hesty hanya terdiam saja, mendengar ucapan suaminya itu. Hesty mencerna satu persatu ucapan dari suaminya barusan. Benar kata suaminya, Hesty terlalu keras dan mengikuti kemauan kepada anak-anak nya.