
Setelah pulang sekolah, Fitri hanya berdiam diri di kamar. dia tidak keluar kamar, dan juga tidak menyapa orang yang berada di rumah tersebut.
"Kenapa ya, aku selalu di giniin. jujur aku udah capek sama ini semua, dan lagi-lagi Ibu terus menerus membela Bela. Tetapi aku tidak boleh egois, bagaimana pun bela tetap lah Adik aku, dan ibu juga tetaplah ibuku. Jadi berarti barang milik aku juga milik dia dong, meskipun semua yang aku punya dia juga mau", 'Ucap Fitri sambil menulis di buku diary nya tak terasa air matanya menetes begitu saja'.
Selama ini tempat Fitri curhat, yaitu hanya lah buku diary satu-satunya. Maupun itu masalah keluarga, teman sepermainan, dan bahkan tentang percintaan.
Fitri juga menulis impiannya yang ingin dia capai di masa depan kelak.
"Mulai dari sekarang aku harus tambah rajin menabung, dan juga terus mengalih potensi design ku. Setelah lulus sekolah nanti, aku ingin pergi kuliah ke kota dan mencapai cita-cita ku untuk menjadi seorang desainer terkenal, dan aku bisa membeli semua yang aku mau dengan hasil jerih payah ku sendiri", 'Ucap Fitri sambil memegang celengan tempat biasa dia menabung'.
Semenjak kecil Fitri selalu menabung, dan itu juga sudah di tanamkan oleh orang tuanya sedari dia dan Bela kecil. Meskipun mereka berasal dari keluargayang bercukupan, tetapi mereka tetap di ajarkan menabung dan berhemat sedari mereka kecil. Celengan yang Fitri punya tiap tahunnya selalu di buka, setelah itu di masukin ke rekening atas nama dia sendiri.
"Semangat menabung Fitri Ramadhani, waktu kamu masih ada 2 tahun lagi", 'Ucap Fitri yang sekarang beralih membuka buku tabungan rekening miliknya'.
"Tapi apa ayah sama ibu mengizinkan aku untuk kuliah di kota ya?", 'Tanya Fitri lagi kepada dirinya sendiri'.
"Sudah lah Fitri, jangan terlalu di pikiran dulu untuk sekarang ini, yang harus kamu pikirkan sekarang salah harus belajar yang rajin dan masuk universitas keinginan kamu dan mencapai cita-cita yang kamu impikan sedari kecil yaitu menjadi seorang desainer terkenal, sesuai dengan hobi kamu yaitu mendesign dan menggambar. Semangat Fitri demi masa depan yang cerah", 'Ucap Fitri lagi memberi semangat kepada dirinya sendiri'.
Fitri pun menulis di kertas Universitas impiannya dan menempelkan di mading (majalah dinding) kecil yang berada di kamarnya. Disana juga tertempel beberapa impian yang ingin di capainya dan juga beberapa design dan gambar yang selama ini dia buat. Dan salah satunya adalah design baju pengantin, dan dia berharap kelak dia menikah dan memakai baju pengantin dari design dia sendiri.
"Fitri....Fitri....", 'Ucap Rina mengetuk pintu kamar sang anak tetapi tidak ada jawaban'.
Rina pun langsung masuk kedalam kamar sang anak sulungnya itu, karena kamarnya tidak terkunci, dan ternyata Fitri lagi mandi.
__ADS_1
Rina tertegun melihat kertas-kertas yang tertempel di majalah dinding kecil sang putri nya. karena selama ini Rina sang jarang masuk kedalam kamar sang putri, baik itu Bela maupun Fitri. karena menurut Rina kamar adalah salah satu privasi seseorang, oleh karena itu lah dia tidak begitu sering masuk kamar putri-putri nya.
"Ya Tuhan, apa aku bisa nantinya berpisah dengan anak ku. Saat mereka ingin mencapai cita-cita dan jalan hidupnya masing-masing", 'ucap Rina bertanya kepada dirinya sendiri, setelah melihat secarik kertas yang berisi impian sang putri yang tertempel di mading kecil di kamar Fitri dan tidak terasa air mata Rina menetes melihat impian sang putri'.
Dalam hatinya Rina senang jika anaknya kelak memiliki masa depan yang cerah, tetapi ada perasaan sedih juga disaat nanti anak-anak nya akan meninggalkan dia dan suaminya di kampung dan sementara anak-anak mereka pergi ke kota untuk mencapai cita-cita dan memilih jalan hidup mereka masing-masing.
Kenapa harus ke kota?......
Karena jika mereka tetap tinggal di kampung/desa, kemungkinan kecil untuk mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan memadai seperti di kota. Dan juga di kota mereka lebih memiliki peluang besar untuk mencapai cita-cita mereka dan sukses.
"Ibu....ibu.....", 'Sapa Fitri yang keluar dari kamar mandi dan melihat ibunya memegang secarik kertas'.
"Iya nak.....", 'Jawab Rina dan mengusap air matanya'.
"Ibu kenapa?", 'Tanya Fitri mendekati sang ibu'.
"Oh ini, ini adalah impian-impian aku Bu. Ibu doa in saja, semoga aku bisa mencapai semua impian aku ini, dan bisa membuat ibu dan ayah bangga dan semoga juga kelak aku bisa membahagiakan kalian di masa tua", 'Ucap Fitri yang mengambil kertas yang tadi di pegang ibunya'.
"Ibu pasti doain kamu nak, tanpa kamu pinta pun, ibu dan ayah akan mendoakan kalian", 'Jawab Rina yang kembali menetes air mata nya lagi'.
Rina masih berpikir, apakah dia sanggup jauh dari anak-anaknya kelak.
"Kakak janji sama ibu dan Ayah, kalau kakak akan buat kalian bangga dan juga akan membahagiakan kalian", 'Ucap Fitri mengusap air mata sang ibu'.
__ADS_1
"Aamiin, semoga apa yang kakak impikan tercapai ya nak. Nanti setinggi apapun jabatan kakak, dan sebanyak apapun harta yang kakak milik, dan sejauh mana pun kakak pergi, kakak jangan pernah ninggalin sholat", 'Ucap Rina memberi nasihat kepada sang anak'.
"Iya Bu, kakak akan selalu ingat kata-kata ibu", 'Jawab Fitri'.
"Yasudah, kakak ganti baju dulu sana. abis ini lanjut ke meja makan ya, soalnya ayah sama Bela udah di bawah. Ibu tunggu di luar", 'Ucap Rina'.
"Iya Bu, ibu duluan aja. Nanti kakak nyusul", 'Ucap Fitri'.
Rina pun keluar dari kamar Fitri dan menunggu Fitri di depan pintu kamarnya, agar nanti mereka bersamaan turun kebawah.
"Aku berjanji pada diri ku sendiri, bahwa aku akan membuat bangga ayah dan ibu dan juga akan membahagiakan mereka di hari tua mereka", 'Ucap Fitri tersenyum dan kembali menempel kertas yang tadi di cabut oleh sang ibunda'.
*
"Ibu sama kakak lama bangat sih, jadi aku sama ayah makan duluan, soalnya kita udah kelaparan", 'Ucap Bela saat Fitri dan Rina duduk di meja makan'.
"Iya dek, ngak apa-apa", 'Jawab Fitri tersenyum dan melupakan kejadian tadi pagi'.
"Kalian ngapain sih di atas, lama bangat", 'Tanya Ben'.
"Ayah mau tahu aja, atau mau tahu bangat", 'tanya Fitri lagi ngeledek'.
"Mau tahu bangat dong", 'Jawab Ben'.
__ADS_1
"Dih ayah, dasar kepo", 'Ucap Fitri meledek dan di sambut tawa oleh semua yang ada di meja makan'.
Mereka berempat tertawa bahagia dan meledek satu sama lain, begini lah kalau mereka sudah berkumpul semua, pasti siapapun yang melihatnya keluarga ini akan iri. Karena mereka begitu bahagia sekali, dan juga mereka adalah keluarga yang sangat harmonis.