Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 22


__ADS_3

2 bulan kemudian.


Adinda masih nyaman bergelung dalam balutan selimut. Sementara Zaid telah siap dengan mengenakan seragamnya.


Zaid memandangi wajah sang istri yang terlihat pucat. Sejak semalam istrinya itu mengeluh pusing dan mual. Ia begitu khawatir dengan sang istri tercinta hingga tak membangunkan sang istri untuk menyiapkan keperluannya bekerja. Zaid mencium kening Adinda dengan penuh kasih sayang, membuat mata sang istri membuka.


" Mas sudah siap ? Kenapa ga bangunin Dinda ? " tanya Adinda dengan suara khas orang bangun tidur.


" Kamu pulas banget tidurnya. Mas gak mau ganggu " jawab Zaid menantap sang istri yang nampak tidak seperti biasa.


" Kamu sudah mendingan ? " tanya Zaid mengelus kepala sang istri.


Adinda mengangguk lemah.


" Masih pusing sedikit, tapi gak apa-apa kok. Mas gak usah khawatir " jawab Adinda.


Zaid menangkup kedua pipi Adinda.


" Kalau gak enak badan, gak usah kuliah. Istirahat aja di rumah. Kalau keterusan, nanti sore Mas antar ke dokter " seru Zaid.


" Gak apa-apa kok, Mas. Kemarin mungkin karena telat makan, jadi maagnya kambuh. Hari ini, Dinda ada ujian " ucap Adinda sambil memegang tangan Zaid.


" Ya, udah, makanya jangan telat makan. Maaf Mas gak bisa anter kuliah. Kalau ada apa-apa hubungi Mas ya sayang ! " ucap Zaid sambil mencium kening dan mengecup bibir sang istri.


" Maaf ya, Dinda gak bisa siapin keperluan Mas Zaid... " ucap Adinda memeluk sang suami yang sudah rapi dan wangi.


" Yang penting kamu sehat... Nanti Mas minta tolong Bi Narti bawain sarapan ke kamar " sahut Zaid.


" Gak perlu, Mas. Dinda sarapan di bawah aja... Nanti ibu khawatir lagi, kan Dinda baik-baik aja " jelas Adinda lalu melepas pelukannya.


" Mas cepetan berangkat, nanti gak keburu apel pagi lho ! " ingat Adinda.


" Ya sudah, Mas berangkat ya. Kamu hati-hati, makan terus minum obat sama vitamin jangan lupa " titah Zaid lalu kembali mengecup bibir sang istri.


" Siap suamiku, Kapten Zaidku sayang... Hati-hati ya, Mas ! " ucap Adinda mengiringi kepergian Zaid dengan senyuman.


Setelah Zaid berangkat, Adinda bangkit dari kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Adinda turun dari kamar setelah rapi. Bu Sandra, sang ibu mertua segera menyuruh Adinda untuk sarapan. Sejak semalam, ia begitu khawatir dengan keadaan menantu kesayangannya itu.


" Sarapan dulu, sayang ! Gimana sudah mendingan, nak ? " tanya Bu Sandra saat melihat Adinda turun dari tangga lalu membawa Adinda ke meja makan.


" Iya, sudah mendingan Bu " jawab Adinda sambil duduk di kursi.

__ADS_1


Bu Sandra menyiapkan sarapan untuk Adinda.


" Kamu jangan lupa sarapan, Zaid bilang katanya Dinda ada ujian ya hari ini. Biar nanti Pak Dito yang anter ke kampus " ucap Bu Sandra sambil meyodorkan sepiring nasi beserta lauknya pada Adinda.


" Terima kasih, Bu " ucap Adinda pada sang ibu mertua.


Adinda begitu bahagia karena memiliki suami dan ibu mertua yang sangat menyayangi dan memperhatikannya.


Adinda segera melahap makanan yang diberikan oleh Bu Sandra. Setelah selesai makan, ia pun berpamitan untuk pergi ke kampus.


Sesuai yang diperintahkan oleh Bu Sandra. Adinda ke kampus diantar oleh Pak Dito supir keluarga mereka.


" Terima kasih Pak. Pak Dito pulang aja, gak usah nunggu Dinda. Biar nanti Dinda pulang naik taksi aja " ucap Adinda.


" Tapi ibu tadi nyuruh nungguin Mba Dinda sampai selesai " sahut Pak Dito.


" Gak apa-apa, Pak. Soalnya ada 3 mata kuliah yang Dinda ikutin ujian hari ini. Kalau nungguin Dinda nanti kelamaan " jelas Adinda.


" Tapi, Mba... "


" Udah gak apa-apa Pak. Nanti Dinda bilang sama ibu kalau Dinda pulang naik taksi aja. Sekarang Pak Dito pulang aja ! " potong Adinda lalu segera keluar dari mobil.


Adinda segera masuk ke dalam ruang ujian, sementara Pak Dito memilih pulang sesuai apa yang Adinda perintahkan.


" Din... lo gak apa-apa ? Muka lo pucat banget " ucap Caca yang merasa khawatir dengan keadaan Adinda.


Adinda memijat-mijat pelipisnya sambil menutup mata.


" Dari kemarin gak enak badan sih. Kayaknya kambuh lagi maag gue " jawab Adinda, kini kepalanya ia biarkan menempel di meja dengan sebelah tangannya dijadikan alas.


" Telpon Mas kapten dong, Din. Biar dia bisa jemput lo kesini ! " seru Mayang sambil memijat pundak Adinda.


" Hm... Udah di chat tadi, disuruh nunggu dulu " jawab Adinda lesu tanpa mengangkat wajahnya.


" Din... Nih minum teh hangat dulu, biar gak lemes " ucap Mayang sambil menyodorkan segelas teh manis hangat ke hadapan Adinda.


Adinda tidak menyahuti ucapan Mayang.


" Din... Dinda... Lo gak apa-apa kan ? " tanya Mayang kemudian, sambil menepuk-nepuk wajah Adinda.


Sayangnya, Adinda masih tidak merespon. Matanya terpejam dengan wajah yang pucat serta keringat dingin yang mengalir di wajah dan


tubuhnya.

__ADS_1


" Ya, ampun Dinda... Sadar Din ! " ucap Caca sambil berusaha membangunkan Adinda dengan menepuk-nepuk wajahnya.


Bersamaan dengan itu, Rian dan Aldi muncul di hadapan mereka. Segera Caca dan Mayang meminta tolong kepada mereka untuk membawa Adinda ke rumah sakit.


Dengan sigap Aldi menggendong Adinda menuju mobilnya diikuti oleh Caca dan Mayang. Walaupun Aldi tahu jika Adinda sudah menjadi milik orang lain, tetap saja masih tersisa rasa pada Adinda. Sehingga ia pun begitu khawatir dengan keadaan wanita yang pernah ia cintai itu.


Aldi duduk di depan bersama dengan Rian. Sementara Caca dan Mayang, menemani Adinda yang pingsan di jok belakang.


Aldi membawa Adinda ke rumah sakit yang paling dekat dari kampus. Kebetulan, rumah sakit yang dituju adalah tempat Pertiwi bekerja.


Mereka membawa Adinda ke ruang IGD kebetulan Pertiwi sedang bertugas sehingga segera ditangani oleh Pertiwi.


Pertiwi segera memberitahu Zaid bahwa Adinda ada di rumah sakit tempatnya bekerja. Zaid yang sedang dalam perjalanan menuju kampus Adinda kemudian segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Zaid mengayunkan kakinya dengan cepat. Ia masuk ke ruang igd dengan perasaan was was. Seharusnya tadi pagi ia mencegah sang istri berangkat kuliah dan membawanya ke dokter.


Saking khawatirnya, Zaid bahkan tidak menyadari kehadiran Aldi dan Rian yang berada di luar IGD


Zaid membuka tirai penutup ruangan tempat Adinda diperiksa. Nampak sang istri tengah terbaring lemah di atas bankar dengan infusan di tangan kanannya.


" Sayang... Kamu baik-baik aja kan ? " tanya Zaid khawatir. Ia segera menghampiri Adinda lalu meraih tangannya. Bahkan Zaid mengabaikan keberadaan Caca dan Mayang disana.


" Gak apa-apa kok, Mas " jawab Adinda sambil tersenyum.


Zaid mencium kening dan bibir Adinda, lalu mengelus kepala sang istri dengan lembut.


" Mas... malu ih ! " bisik Adinda.


" Malu kenapa sayang ? " tanya Zaid bingung.


" Malu sama Caca sama Mayang " jawab Adinda lalu melirik kedua sahabatnya yang memperhatikan mereka.


Zaid menegakkan badannya, lalu berdehem sambil melihat ke arah Caca dan Mayang.


" Ehem... Saya sampaikan terima kasih karena kalian sudah membawa istri saya ke sini " ucap Zaid penuh wibawa.


" Sama-sama, Pak Kapten " jawab Mayang dan Caca sambil tersenyum.


" Mas harus berterima kasih juga sama Aldi dan Rian diluar. Mereka yang udah bawa Dinda waktu pingsan tadi " seru Adinda.


Zaid menghela nafasnya, merasa malas jika harus berhubungan dengan Aldi, pria yang dengan berani berterus terang mencintai istrinya.


" Mas... " Adinda menyentuh tangan Zaid.

__ADS_1


" Iya, nanti Mas akan berterima kasih pada mereka " ucap Zaid sambil meraih tangan sang istri tercinta.


__ADS_2