Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 47


__ADS_3

Zaid dan Adinda kini telah berada di dalam kamar mereka. Adinda tak melepaskan tautan tangannya dari lengan Zaid. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Sementara itu, Zaid tak hentinya menciumi jemari Adinda kemudian mengecupi pucuk kepala sang istri lalu turun ke kening dan juga pipinya. Merasakan aroma harum dari tubuh sang istri. Tangannya mengulur menuju perut sang istri yang sudah membesar kemudian mengelusnya penuh cinta.


" Jagoan ayah, apa kabarnya ? Maafin ayah ya... Ayah janji akan selalu bersama kalian. Ayah janji tidak akan meninggalkan kalian lagi " janji Zaid sambil mengelus perut Adinda.


Adinda hanya tersenyum, ia sedang merasakan kehangatan dan kenyamanan berada dalam pelukan sang suami kembali.


" Sayang... " panggil Zaid lembut.


" Hem... " Adinda mengeratkan pelukannya ke tubuh Zaid tanpa melihat sang suami. Ia malah memejamkan matanya.


" Sayang... Boleh Mas tengokin anak kita ? " bisik Zaid di telinga sang istri.


Adinda sontak membuka matanya lebar-lebar kemudian melonggarkan pelukannya.


" Apa sih Mas " ucap Adinda dengan wajah merona. Adinda hampir saja membalik badannya jika saja Zaid tidak menahan dagunya lalu meraup bibir sang istri dengan bibirnya.


Zaid semakin memperdalam ciumannya dengan menahan tengkuk Adinda. Adinda pun membalas ciuman Zaid hingga mereka saling mengecapi, melepaskan rasa yang membuncah begitu lama diantara keduanya.


Zaid melepaskan tautan bibir mereka, lalu menyentuh bibir sang istri dengan jarinya. Zaid tersenyum puas, sementara Adinda hanya bisa tersipu malu.


" Boleh ya, sayang ! Mas mau buat jalan lahir buat anak kita " pinta Zaid yang kini telah mengungkung tubuh sang istri dengan penuh gairah.


Adinda menganggukan kepalanya tanda setuju. Tak menyia-nyiakan waktu, Zaid segera membuka pakaiannya juga membuka pakaian sang istri yang telah lama didambanya.


Dengan tubuh sang istri yang nampak lebih berisi justru membuat Adinda semakin seksi di mata Zaid. Nafas Zaid menderu, menahan gelora rasa yang semakin menjadi setelah melihat tubuh polos sang istri.


" Pelan-pelan, Mas ! " ingat Adinda sambil menahan hasratnya yang juga mulai ikut terpantik.


Akhirnya kembali Zaid mengobarkan peperangan bersama sang istri. Berlomba meraih kenikmatan yang telah lama terpinggirkan. Hingga akhirnya mereka berdua menggapai indahnya puncak nirwana bersama-sama.


Sama-sama bermandikan peluh, mereka melewati perang yang begitu panas setelah terlalu lama melakukan gencatan senjata. Setelah beberapa purnama terpisahkan ruang dan waktu kini mereka terbaring lelah saling memeluk satu sama lain. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.

__ADS_1


" Aku mencintaimu, Dinda. Kamulah alasan terbesarku untuk bertahan hidup selain ibu dan anak kita " ucap Zaid mencium pucuk kepala sang istri yang telah lelap tertidur setelah digempur oleh Zaid.


Zaid tersenyum bahagia sambil memeluk tubuh polos sang istri dengan begitu posesif sampai akhirnya Zaid menyusul sang istri yang telah lebih dahulu masuk ke alam mimpi.


...****************...


Arjuna bergegas memasuki kediaman Zaid, mencari keberadaan Arif yang sejak semalam tidak menjawab pesan dan mengangkat telpon darinya. Sampai di halaman, Arjuna tak menemukan Arif disana padahal biasanya pagi-pagi begini, Arif sedang memanaskan mobil.


" Nyari siapa, Bang ? " tanya Adinda saat melihat sang kakak yang terlihat mencari-cari seseorang.


" Arif, kamu lihat gak dek ? " tanya Arjuna polos.


Adinda tersenyum jahat.


" Udah gak ada orangnya... Yang abang cari udah pergi " jawab Adinda santai.


" Maksud kamu gimana dek ? " tanya Arjuna bingung.


" Orang yang abang cari udah gak ada. Tapi kalau abang penasaran coba cari lagi yang teliti. Palingan yang ketemunya yang lain " sindir Adinda lalu melangkahkan kakinya memasuki bagian dalam rumah.


" Lho, Zaid ? " tanya Arjuna tak percaya saat melihat Zaid duduk santai di meja makan.


Adinda duduk di samping sang suami, kemudian menatap sinis ke arah sang kakak.


" Gak usah pura-pura kaget gitu, bang. Dinda sama ibu udah tahu semuanya. Tega ya abang sama Dinda " gerutu Adinda memandang Arjuna dengan kekesalan di hatinya.


Arjuna hanya mengelus tengkuknya, ia merasa kikuk sendiri dan tak enak hati.


" Sudah, Juna. Sini duduk, sarapan dulu ! " seru Bu Sandra mencairkan suasana.


Arjuna duduk di hadapan Zaid sambil menatap penuh tanya pada sahabatnya itu.


" Gak usah main mata gitu deh ? Drama banget sih abang sama Mas Zaid... " ucap Adinda jengkel.

__ADS_1


" Maafin Juna, Bu... Maafin abang, Dinda. Ini semua abang lakuin supaya semuanya aman. Juna gak pernah punya niatan bohongin Ibu sama Adinda. Lagian ini juga maunya Zaid " ucap Arjuna tak ingin disalahkan seorang diri.


" Sudah... sudah... Ibu ngerti kok. Yang penting sekarang kita semua sudah berkumpul kembali " jawab Bu Sandra bijak.


Arjuna meghela nafas lega, sambil melirik sang adik yang masih memasang wajah masam.


" Dinda... " panggil Arjuna.


" Apa ? " sahut Adinda jutek.


" Masih marah sama abang ? Hem ? Sini sebentar ! " ucap Arjuna melambaikan tangan meminta agar sang adik menghampirinya.


Adinda mencebikkan bibirnya lalu bangkit dan berjalan menuju Arjuna.


" Abang minta maaf sudah menyembunyikan hal ini dari kamu. Maaf sudah membuatmu khawatir dan menunggu terlalu lama " ucap Arjuna menatap sang adik.


Di luar dugaan Arjuna yang mengira jika Adinda marah terhadapnya, justru terkesiap karena sang adik justru memeluknya.


" Terima kasih abang sudah membawa kembali Mas Zaid ke sisi Dinda. Terima kasih telah mengembalikan kebahagiaan Dinda. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membayar semua yang sudah Abang lakukan selama ini... Adinda beruntung memiliki kakak seperti Bang Juna dan Kak Pertiwi. Yah, walaupun kadang suka bikin kesel tapi Dinda sayang Bang Juna " ucap Adinda sambil terisak di pelukan sang kakak.


Arjuna tersenyum sambil mengelus punggung sang adik. Ia sangat bersyukur, rupanya adiknya yang manja itu kini sudah menjadi lebih dewasa.


" Stop... Lepasin pelukan lo dari Adinda ! Gak usah peluk lama-lama gitu ! " seloroh Zaid lalu membawa sang istri ke tempat duduk mereka semula.


" Ya elah, Id... Dinda itu adik gue lho. Masa iya lo cemburu sama kakak ipar sendiri " oceh Arjuna sambil menahan tawa.


" Cemburu tuh gak pilih-pilih orang " balas Zaid sengit.


" Iya, tapi lihat juga kondisi dong. Udah lo kekepin semalaman adek gue, masih juga lo takut. Gak nyadar apa kalau lo udah bikin tanda kepemilikan lo sampai leher adik gue penuh tato cinta lo " sungut Arjuna tak kalah sengit.


Adinda membulatkan matanya, lalu memegangi lehernya. Wajahnya bersemu merah menahan malu.


" Mas Zaid sih... Ganas banget serangannya ! " rengek Adinda pada sang suami dengan polosnya membuat Arjuna dan Bu Sandra menahan tawa.

__ADS_1


" Ya ampun sayang gak apa-apa kali. Ibu sama Arjuna juga ngerti kok, kalau kita kan butuh pelampiasan setelah lama gak ketemu " jawab Zaid cuek yang justru semakin membuat Adinda membelalakkan matanya.


" Astaghfirulloh Mas... Ih, mulutmu itu lho ! Dikontrol dong ! Gak bisa diajak kompromi sih " kesal Adinda sambil menghentakkan kakinya.


__ADS_2