Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap Part 3


__ADS_3

Evan baru saja melandaskan diri di Rumah Sakit, ia segera masuk ke ruang IGD tempatnya magang sebagai dokter muda saat ini.


Baru saja ia melangkahkan kakinya memasuki Riang IGD, Dokter Anan selaku dokter senior meminta Evan untuk menemaninya visit ke salah satu pasien VVIP disana.


Mereka segera masuk ke dalam ruangan rawat. Seorang pasien paruh baya terbaring lemah di atas tempat tidur pasien. Walaupun ruangan itu memiliki fasilitas mewah tetapi tidak membantu kesembuhannya.


" Bagaimana kondisi Tuan Lukman, dokter ? " tanya seorang pria yang bisa diperkirakan jika itu adalah asistennya.


" Kondisinya sangat lemah. Seharusnya ia segera dioperasi " jawab Dokter Anan setelah memeriksa keadaan pasien.


" Maafkan kami dokter. Sebetulnya kami sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Tuan Lukman dan seharusnya sudah bisa operasi hari ini. Tetapi, mendadak pendonornya pergi " jawab pria itu lagi.


Deg...


Pendonor ? Pergi ? Jangan-jangan yang dibicarakan itu gadis itu... Ya, Reksa !


pikir Evan dalam hati.


" Dokter Evan ? Dokter Evan ! " ucap Dokter Anan sambil menepuk bahu Evan membuat Evan segera tersadar.


" Iya, dok... Maaf... " sahut Evan.


" Mulai saat ini, anda yang mengontrol kondisi Tuan Roy. Kemudian laporkan keadaannya kepada saya " seru Dokter Anan pada Evan.


" Baik, Dokter " jawab Evan menganggukkan kepala.


Mereka pun kemudian keluar dari ruangan tersebut.


" Tuan Lukman itu, pemegang saham terbesar di rumah sakit ini. Susah payah, mencari pendonor yang cocok eh malah kabur orangnya. Padahal Tuan Lukman sudah memberikan uang yang sangat besar kepada mereka " cerita Dokter Anan.


Ternyata benar... Reksalah orangnya.


" Lalu mengapa tidak meminta mereka mengembalikan uangnya saja, Dok... Setidaknya bisa mencari kembali pendonor yang lain " tanya Evan.


" Ya, itu bisa saja dilakukan... Hanya saja, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencarinya. Selain itu, belum tentu cocok. Berbeda dengan pendonor yang melarikan diri ini. Tidak hanya ginjalnya saja yang cocok. Bahkan golongan darah mereka sama padahal termasuk golongan darah yang langka " jelas Dokter Anan.


Evan menyimak semua ucapan Dokter Anan dengan seksama.


" Lalu bagaimana jika tidak berhasil menemukan pendonornya ? Berapa lama lagi waktu untuk Tuan Lukman ? " tanya Evan serius.

__ADS_1


" Saya sudah merawat Tuan Lukman sejak lama. Ia dapat bertahan selama ini karena tekadnya yang kuat untuk menemukan putri kandungnya " jawab Dokter Anan.


" Memangnya apa yang terjadi dengan putri kandung Tuan Lukman ? " tanya Evan penasaran.


Entah mengapa, Evan begitu tertarik dengan kehidupan Tuan Lukman yang ada hubungannya dengan Reksa.


" Dulu sewaktu kecil, putri satu-satunya diculik. Istrinya bahkan sampai depresi dan masuk rumah sakit jiwa. Hingga kini, ia masih berusaha mencari putrinya itu meskipun ginjalnya bermasalah " jelas Dokter Anan.


Evan mengangguk-angguk kepalanya. Merasa iba dengan apa yang menimpa pria paruh baya itu.


" Kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya. Nanti tolong anda cek lagi keadaan Tuan Lukman. " seru Dokter Anan kemudian meninggalkan Evan dan kembali ke ruangannya.


Evan kembali ke ruangan IGD, entah mengapa ia jadi memikirkan Reksa. Gadis yang kemarin melarikan diri dari Rumah Sakit.


Jadi, gadis itu tidak berbohong... Sepertinya aku sudah salah duga.


Malam telah berganti pagi, sebelum pulang Evan melakukan visit ke ruangan Tuan Lukman. Di dalam ruangannya terdapat seorang pria yang sedang berlutut.


" Maafkan saya, Tuan... Saya berjanji akan membawa anak saya kembali. Tolong berikan saya waktu untuk menemukannya " ucapnya memohon.


" Kau sudah mempermainkan kami. Jika dalam waktu satu bulan kau tidak membawa anakmu itu, maka kau harus mengembalikan uang 1 milyar yang telah kami berikan kepadamu " titah Roy, asisten Tuan Lukman.


" Pergilah ! " usir Roy.


Pria yang berlutut itu bangkit, kemudian bergegas meninggalkan ruang rawat Tuan Lukman.


Sepertinya, pria itu adalah ayah tiri gadis itu. Aku tidak akan membiarkannya menemukan Reksa.


pikir Evan sambil melirik pria yang baru saja keluar ruangan.


" Dokter... Dokter... " panggil Tuan Roy.


" Ah, iya maaf ! " sahut Evan.


Kemudian ia bergerak mendekati brankar Tuan Lukman dan segera memeriksanya.


" Bagaimana kondisi saya, dokter ? " tanya Tuan Lukman dengan nafas yang berat.


" Kondisi anda cukup stabil. Sebaiknya anda tidak terlalu banyak pikiran " jawab Evan.

__ADS_1


Pria yang berbaring itu sedikit menarik sudut bibirnya, ia menertawakan keadaan dirinya sendiri.


" Ya, mungkin lebih baik jika aku menunggu kematian saja " ucapnya dengan tatapan kosong.


" Tidak ada yang tahu, kapan kematian itu akan datang. Setidaknya kita berusaha melakukan yang terbaik sampai akhirnya kematian menjemput " sahut Evan bijak.


Pria itu tersenyum simpul, kemudian menghela nafasnya yang terasa berat.


" Sebaiknya anda berjalan-jalan di luar. Menghirup udara pagi akan membuat pikiran anda lebih segar " ide Evan.


" Hem, sepertinya patut dicoba. Apakah anda bersedia menemani saya, dokter ? " tanya Tuan Lukman menatap Evan dengan tatapan memohon.


" Baiklah, saya akan menemani anda. Setelah jadwal tugas saya selesai, saya akan kembali dan mengajak anda berkeliling di luar " jawab Evan.


" Terima kasih, dokter " ucap Tuan Lukman.


" Kalau begitu, saya permisi Tuan ! " pamit Evan kemudian keluar dari ruangan VVIP itu.


" Apakah anda benar-benar ingin keluar, Tuan ? " tanya Roy.


" Ya, sepertinya yang dikatakan dokter muda tadi ada benarnya. Aku perlu banyak menghirup udara segar " jawabnya.


Seperti yang telah ia ucapkan. Evan kembali ke ruangan Tuan Lukman setelah jadwal tugasnya berakhir. Dan kini, Evan tengah menemani Tuan Lukman berjalan-jalan di taman Rumah Sakit dengan menggunakan kursi roda. Sementara sang asisten mengawasi mereka berdua dari kejauhan.


" Terima kasih, dokter... Anda sudah berkenan menemani saya " ucap Tuan Lukman.


" Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Saya senang dapat membantu anda " sahut Evan tulus.


" Jangan memanggil saya, Tuan. Panggil saja Om supaya terdengar lebih akrab " ucapnya sambil tersenyum.


Evan membawa kursi roda Tuan Lukman ke tempat yang mendapat cahaya matahari pagi yang cukup agar ia dapat berjemur.


" Berapa usia anda, dokter ? " tanya Tuan Lukman.


" 23 tahun, Om " jawab Evan.


" Putri saya pun saat ini sudah berusia 23 tahun. Sudah 19 tahun saya tidak bertemu dengannya... Bahkan saya tidak tahu dia berada dimana sekarang. Apakah dia masih hidup ? Bagaimana keadaannya saat ini...? " Tuan Lukman menghentikan ucapannya. Ia menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


" Om percaya dengan kuasa Tuhan ? Orang tua saya selalu mengatakan untuk yakin dengan kebesaran dan kuasa Tuhan. Ketika tidak ada lagi manusia yang bisa menjadi sandaran, yakinlah jika hanya Tuhan yang dapat menjadi sandaran terbaik dalam hidup kita. Om hanya harus yakin dan senantiasa berdoa " jelas Evan.

__ADS_1


Pria paruh baya itu, termangu dengan penjelasan Evan. Mungkin selama ini, dia melupakan jika ada Dzat yang paling berkuasa dalam kehidupan ini.


__ADS_2