Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Season 2 Part 3


__ADS_3

" Ayo ! Dira... Bagas... Jelasin maksudnya omongan tadi apa ? " selidik Adinda dengan tangan bersedekap di dada sambil menatap kedua anaknya secara bergantian.


Bagas melirik Indira, begitu juga dengan gadis kecil yang cantik itu melihat ke arah Bagas. Keduanya saling bertatapan dan saling memberikan kode melalui tatapan mata.


" Gak ada maksud apa-apa kok bunda cantik. Emang kan biasa kalo ngajakin Lesha pasti sama Dira. Kalau cuma Bagas sama Lesha aja kan nanti yang lain curiga, masa tunangan kakaknya jalan sama adiknya juga " seloroh Bagas lantas duduk di samping Indira yang kini asyik kembali bermain dengan boneka-boneka kesayangannya.


Adinda tentu tak begitu saja mempercayai ucapan Bagas. Namun, saat ini ia tak punya pilihan lain selain diam dan mengamati. Semuanya akan terjawab seiring berjalannya waktu.


" Betul yang kamu bilang, Gas ? Gak ada yang mau kamu bilang lagi sama Bunda ?" tanya Adinda memberi kesempatan pada sang anak sekali lagi untuk berterus terang.


Bagas hanya menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya sambil asyik menatap layar televisi.


" Ya sudah... Kalian berdua tunggu di rumah ya. Bunda mau ke supermarket dulu sama ayah " ucap Adinda lalu berjalan menghampiri Zaid.


" Ya, ampun de... Kamu tuh ya, hampir aja ketahuan Bunda " racau Bagas pada sang adik.


" Maafin Dira ya, Bang ! Tapi kenapa sih Bang Bagas gak kasih tahu Bunda yang sebenarnya... " Ucap Indira heran.


" Gak bisa gitu dong. Lagian kan Kak Lesha udah dijodohin sama Bang Evan. Gak mungkin juga Bang Bagas rebutan sama Bang Evan. Kayaknya juga Lesha cintanya sama Bang Evan bukan abang " jawab Bagas menghela nafas panjang.


Deg...


Apa ? Jadi benar Bagas memang menyukai Alesha ?


Adinda yang baru saja kembali tak sengaja mendengar percakapan kedua anaknya itu. Sebagai seorang ibu, tentunya Adinda tak bisa memilih antara Bagas dan Evan. Akan tetapi, Evanlah yang sudah ditenggarai sebagai jodoh dari anak Adrian sejak dulu bahkan sejak sebelum Alesha lahir.


" Ayo, sayang ! " ucap Zaid sambil merengkuh pinggang Adinda.


" Eh, iya... Ayo Mas ! " sahut Adinda lalu berjalan melalui kedua anaknya.


" Dira gak mau ikut ? " tanya Zaid pada si bungsu yang cantik.


Indira hanya memberikan gelengan kepala sebagai jawaban pertanyaan sang ayah. Zaid hanya tersenyum tipis, anak perempuannya itu memang tidak terlalu suka keramaian. Sama seperti dirinya dulu. Bahkan Zaid merasa jika sang putri bungsu adalah cerminan dirinya dalam versi perempuan.


" Bagas gak diajakin juga yah ? " tanya Bagas iseng.

__ADS_1


" Berat kalau ajakin kamu, Gas. Banyak maunya... Mendingan bantuin bibi beresin kamar buat Om Adrian sama keluarganya " jawab Zaid lalu mengambil kunci mobil membuat Bagas sedikit memajukan bibirnya.


Adinda hanya melihat anak keduanya itu tanpa berkomentar.


" Eh, bunda kenapa lihatin Bagas terus ? Iya, iya... Bagas tahu kok. Anak bunda yang satu ini emang cakepnya luar biasa, gak ketulungan... " ucap Bagas percaya diri dengan memuji dirinya sendiri.


Adinda melemparkan bantal sofa ke arah Bagas dan tepat mengenai wajah tampan anaknya itu.


" Ih, kasih sayang bunda emang sadis nih. Untung kena bantal doang mah cakepnya gak luntur kayak sayangnya Bagas sama Bunda " ucap Bagas asal sambil memeluk bantal.


" Astaghfirulloh, Mas. Tambah lama anak kamu itu kaya Bang Juna kelakuannya " ucap Adinda sembari mengusap-usap dadanya.


" Kamu sih, waktu hamil Bagas dulu sebel banget sama Juna. Nah akhirnya anak kamu itu kelakuannya sama kayak kakak kamu itu " sela Zaid sambil berjalan menuju pintu.


" Biar nyebelin tapi ngangenin kan, Bun ? Ayo ngaku aja... " canda Bagas menaik turunkan alisnya dengan senyum manis tergambar di wajah tampannya, Bagas mendekati sang bunda lalu mencium pipi Adinda.


" Ish... Kamu tuh ya... Paling bisa bikin bunda gak jadi marah. Nyebelin ! " cebik Adinda sambil menjewer telinga Bagas.


" Aw... Ampun Bun... Ampun... ! " pekik Bagas padahal Adinda tidak menariknya dengan keras.


" Wah, KDRT nih... Gak bisa dibiarin, harus dikasih hukuman ini. Enaknya dihukum apaan ya, Dek ? " tanya Bagas pada Indira.


Indira menatap sang kakak dengan seringai licik di wajahnya.


" Sebagai ganti rugi, Bunda harus dihukum beliin 1 box es krim yang besar buat Dira sama Bang Bagas yang rasa vanila, blue bery sama coklat chips " jawab Indira sambil mengedipkan sebelah matanya pada Bagas yang dibalas dengan acungan jempol oleh Bagas.


" Dasar modus... Kalau mau dibeliin es krim bilang aja. Gak usah pake drama segala " ucap Adinda tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya kemudian berlalu dari hadapan Bagas dan Indira untuk menyusul Zaid yang sudah menunggu di dalam mobil.


Sementara Bagas dan Indira bertos ria karena berhasil membuat sang ibu menuruti permintaan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluarga Adrian datang pukul 4 sore, mereka disambut dengan hangat oleh Adinda dan keluarganya. Si kecil Indira, langsung mengajak Raya dan Alesha ke kamarnya. Sementara Rayyan ikut bersama dengan Bagas bermain PS.


Adinda, Zaid, Adrian dan Gea nampak asyik berbincang santai di halaman belakang rumah sambil minum teh.

__ADS_1


" Evan kemana ? Dari tadi gak kelihatan ? " tanya Adrian.


" Tadi pagi nemenin Kyra hiking, biasanya sih mereka udah pulang. Ini gak tahu kenapa jam segini belum pulang, padahal udah dipesenin jangan lama " jawab Adinda sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Tak berapa lama, suara motor terdengar berhenti di depan rumah. Dan benar saja, Evan dan Kyra yang datang. Melihat mobil Adrian terparkir di halaman, Evan segera masuk ke dalam mencari keberadaan orang tua dan calon mertuanya.


" Assalamu'alaikum " ucap Evan sambil menghampiri keluarganya yang berada di halaman belakang.


" Wa'alaikumsalam " jawab mereka sambil melihat Evan yang baru saja menampakkan diri.


" Menantu Om... Baru pulang " ucap Adrian menatap pria yang meski terlihat kotor dan berantakan namun tetap saja tampan.


Evan segera menyalami Adrian dan Gea juga kedua orang tuanya.


" Kenapa baru pulang ? " tanya Zaid pada Evan.


" Gara-gara Kyra, Yah... Diajakin pulang susah banget, masih mau nyari... " Evan menghentikan ucapannya saat Kyra datang dan menyalami semua yang ada disana.


" Kamu nyariin apa Kyra ? " tanya Adinda kepada keponakannya itu.


" Adalah, bun... " jawab Kyra sambil tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.


" Lho, Alesha sama si kembar mana ? " tanya Kyra menyadari di tempat itu tidak ada keberadaan mereka.


" Alesha sama Raya di kamarnya Dira, kalau Rayyan lagi main PS sama Bagas di kamarnya Bagas " jawab Adinda.


" Ohh... "


" Kalau gitu, Evan bersih-bersih dulu ya bun. Permisi Om, Tante... " pamit Evan lalu segera bergerak menuju kamarnya.


" Iya, Kyra juga mau bersih-bersih dulu... Permisi semuanya " pamit Kyra lalu menuju ke kamarnya.


Kyra memang tinggal bersama dengan Adinda dan Zaid karena Pertiwi dan Farhan menetap di Singapura bersama anak kedua mereka. Kyra memilih tinggal di Indonesia daripada ikut dengan irang tua dan adiknya. Kyra memang lebih dekat dengan Adinda dan Zaid. Sejak kecil Kyra dirawat oleh Adinda bahkan diberi ASI.


Hal ini disebabakan ketika Kyra baru berumur 4 bulan, Pertiwi sudah kembali mengandung anak keduanya sehingga Kyra tidak mendapatkan ASI yang baik. Oleh karena itu, Dinda memberikan ASInya kepada Kyra sehingga tak heran jika Evan dan Kyra begitu dekat seperti saudara kandung bahkan selalu bersekolah di sekolah yang sama.

__ADS_1


__ADS_2