
Pertiwi sampai di depan unit apartemen milik Mario. Sedikit ragu untuk masuk ke dalam. Pertiwi hanya diam di depan pintu.
Drrt... Drrt...
Mario : Kamu dimana wi ?
Pertiwi : Ng... di depan pintu apartemen kamu.
Mario : Masuk aja wi, kode aksesnya masih sama. Tanggal lahir kamu.
Pertiwi menghela nafas panjang, masih tak bisa percaya jika Mario belum mengganti kode akses apartemen miliknya.
Akhirnya Pertiwi menekan kode akses dan kemudian masuk setelah pintu terbuka. Pertiwi melihat sisa pecahan guci yang masih berserakan di lantai. Sementara Mario nampak sedang membalut lukanya.
" Kamu gak apa-apa, Rio ? " tanya Pertiwi saat melihat Mario terduduk di sofa.
" Gak apa, Wi. Cuma luka kecil aja " jawab Mario sambil tersenyum.
Pertiwi menghampiri Mario kemudian menyimpan kunci mobil di atas meja.
" Syukurlah kalau gak apa-apa. Aku pulang dulu ya, Rio " ucap Pertiwi sambil mengambil langkah untuk segera keluar.
Pertiwi merasakan ada yang tak biasa dengan tubuhnya. Ia merasakan panas yang menjalar di sekujur tubuh.
" Wi... " panggil Mario saat Pertiwi telah sampai di depan pintu.
" Iya ? " Pertiwi menghentikan langkahnya kemudian berbalik.
" Bisa aku minta tolong membersihkan ini. Aku sedikit kesulitan " pinta Mario sambil menunjuk pecahan guci yang berserakan serta menunjuk luka di kakinya.
Pertiwi menghembus nafas kasar.
" Kalau kamu tak bisa, tidak apa. Biar aku saja yang membereskan. Kamu cepatlah pulang ! " ucap Mario sambil bergerak mengambil sapu dengan langkah yang sedikit terpincang.
Melihat hal itu membuat Pertiwi tak tega. Ia menghampiri Mario lalu mengambil alih sapu dari tangan Mario dan segera membersihkan pecahan yang ada di lantai.
Sementara Pertiwi menyapu pecahan, Mario mengambilkan segelas air untuk Pertiwi yang telah ia siapkan sebelumnya.
Pertiwi telah selesai membersihkan lantai saat Mario datang membawakan air minum.
" Terima kasih, Wi. Ini kamu minum dulu, maaf hanya ada air putih saja " ucap Mario menyodorkan segelas air.
Tanpa pikir panjang, Pertiwi segera mengambil dan meminumnya sampai tersisa setengahnya.
__ADS_1
" Aku pulang ya, Rio " ucap Pertiwi segera menyimpan sapu lalu berjalan menuju pintu.
Hah...Kenapa rasanya panas ?
Pertiwi menyeka keringat yang menetes di wajahnya. Semakin lama rasa panas itu semakin terasa. Pertiwi sampai membuka satu kancing kemejanya lalu mengikat rambutnya yang tergerai.
Pertiwi hampir meraih handle pintu saat Mario menahannya.
" Kamu baik-baik aja, Wi ? " tanya Mario khawatir.
" Ya, aku baik-baik aja " jawab Pertiwi sambil melepaskan pegangan tangan Mario.
" Tapi kamu kayaknya gak baik-baik aja. Biar aku obatin kamu dulu " ucap Mario kemudian menyentuh kembali tangan Pertiwi.
Rasanya berbeda saat Mario menyentuhnya, terasa panas dan begitu bergairah. Pertiwi menepis tangan Mario lalu menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
" Apa yang sudah kamu lakukan ? " tanya Pertiwi menahan rasa yang begitu kuat dari dalam dirinya.
Mario menarik sudut bibirnya, lalu menyeringai.
" Tidak ada, sayang. Hanya berusaha membuatmu kembali padaku " jawab Mario sambil meraih tubuh Pertiwi.
" Lepas Mario... Lepasin aku ! Dasar br***sek kamu " pekik Pertiwi saat Mario memeluknya.
" Kurang aj*r kamu, Mario ! " umpat Pertiwi tersengal.Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Mario.
Mario semakin beringas, ia membuka paksa kemeja yang dikenakan Pertiwi hingga terpampang tubuh indah milik Pertiwi.
" Dasar ba**ngan ! " ucap Pertiwi meronta sambil melayangkan pukulan kepada Mario.
Dengan sigap, Mario menahan pukulan Pertiwi lalu menahan tangan Pertiwi di atas kepala. Setelah itu, ia menyeret Pertiwi menuju sofa. Mario menindih tubuh Pertiwi yang sudah top less dan hanya mengenakan b*a saja.
" Sayang, sudah aku katakan kalau kamu itu milikku. Hanya milikku... Dan sekarang sudah waktunya aku memiliki kamu seutuhnya " ucap Mario berkabut gairah lalu berusaha mencium Pertiwi.
Pertiwi sudah kehabisan cara untuk melepaskan diri dari kungkungan Mario. Tangannya tak bisa lagi digunakan untuk melawan karena Mario memeganginya. Namun Pertiwi tak hilang akal, dengan kekuatan yang tersisa ia menendang perkutut Mario hingga tangannya terlepas dari pegangan Mario.
Pertiwi mendorong tubuh Mario dari atas tubuhnya, lalu ia bergegas masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Pertiwi sadar apa yang sudah Mario lakukan terhadapnya. Oleh karena itu, Pertiwi memilih masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya dengan merendam diri.
*Farhan... Tolong aku !
Dor...dor...dor...dor*...
Mario menggedor pintu kamar mandi yang sudah Pertiwi kunci dari dalam.
__ADS_1
" Tiwi sayang... Aku bisa menolongmu menghilangkan rasa itu. Buka pintunya, sayang " seru Mario dari luar kamar mandi.
" Kamu gila, Mario... Aku sudah menikah " teriak Pertiwi.
" Menikah ? Laki-laki itu tidak pantas memiliki kamu. Aku yang paling pantas mendampingi kamu. Akulah yang seharusnya memiliki kamu seutuhnya ! " seru Mario dari balik pintu.
" Kamu bisa melakukannya dengan wanita lain seperti yang biasa kamu lakukan. Aku tidak sudi dimiliki lelaki sepertimu " sanggah Pertiwi sambil terus membasahi diri, menghilangkan rasa panas yang mendera.
" Aku hanya ingin kamu, Tiwi sayang... Asal kamu tahu, setiap kali melakukannya aku hanya membayangkan melakukannya denganmu. Aku benar-benar mencintai kamu, Tiwi "
Mario menggedor pintu kembali.
Ya Tuhan, lindungilah aku ! Selamatkan aku dari laki-laki ini.
" Baiklah kalau kamu tidak keluar, aku akan mendobrak pintu ini dan kita bisa melakukannya di dalam sana, sayang " seru Mario dengan tawa licik.
Bugh... Bugh...
" Dasar bre****k, apa yang kamu lakukan pada istriku " geram Farhan sambil memukuli Mario.
" Hanya mengambil milikku kembali. Kamu tidak pantas memilikinya " ucap Mario dengan senyum sinis.
" Kurang a*** " Farhan memberikan bogem mentah kembali kepada Mario.
" Kamu yang tidak pantas untuknya. Dasar manusia tak tahu diri " sentak Farhan sambil terus menghadiahkan pukulan pada wajah dan tubuh Mario, membuat Mario terhuyung dan terkapar tak berdaya.
Setelah puas memukuli Mario, Farhan mengetuk pintu kamar mandi.
" Wi, kamu gak apa-apa ? " tanya Farhan khawatir.
" Farhan ? Itu kamu kan ?Aku gak salah denger kan ? " tanya Pertiwi sambil keluar dari bath tub dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.
" Iya, ini aku... Ayo buka pintunya, kita pergi dari tempat ini ! " seru Farhan lagi.
Pertiwi segera membuka pintu kamar mandi, kemudian melihat sang suami yang berdiri di hadapannya. Pertiwi segera menghambur ke pelukan Farhan tanpa menyadari jika tubuhnya basah dan tanpa mengenakan kemeja yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Farhan menelan saliva dengan susah payah, kali ini ia bisa melihat dengan jelas tubuh indah milik istrinya walaupun hanya bagian atasnya saja.
Farhan segera membuka jaket lalu memakaikannya pada Pertiwi. Farhan segera membawa Pertiwi pergi dan meninggalkan Mario yang sudah babak belur ia hajar.
Di dalam mobil, rasa itu kembali menyergap Pertiwi. Kendati tubuhnya masih basah tetapi ia merasa kepanasan. Pertiwi membuka jaket milik Farhan yang menutupi tubuh bagian atasnya.
" Kamu kenapa, Wi ? " tanya Farhan yang merasa aneh dengan sikap Pertiwi.
__ADS_1
" Panas... Gerah... "