Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 29


__ADS_3

Adinda masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Ia ingin meminta penjelasan sang kakak dan bundanya karena telah menyembunyikan kebenaran tentang siapa Farhan sebenarnya. Sayangnya ia hanya menemukan Arjuna bersama Laras, sementara Bunda Lia, Kirana serta Adam sedang pergi berbelanja.


Adinda segera mendaratkan tubuhnya kasar di atas sofa di dekat Arjuna yang sedang asyik bermain dengan Laras.


Adinda melipat tangan dan menaruh tangan di depan dada. Sementara Zaid duduk di hadapannya sambil menggelengkan kepala melihat sikap sang istri.


" Ya ampun sayang, pelan-pelan bisa ga ? Inget kamu lagi hamil ! " Zaid mengingatkan Adinda karena merasa khawatir dengan sikap grasak grusuk sang istri.


Adinda melirik Zaid sesaat kemudian tatapannya beralih pada Arjuna yang terlihat heran akan sikapnya.


" Kesambet apaan istri kamu, Id ? Datang-datang bukannya ngucapin salam malah ngambek " celetuk Arjuna. Ia hanya melirik pada sang adik yang sudah memasang wajah masam.


" Laras sayang, kalau ngambek gak boleh cemberut ya ! Nanti cantiknya hilang lho " sindir Arjuna, berbicara dengan bayi yang lucu itu. Laras tertawa melihat wajah sang ayah lalu menarik-narik kaos kaki dengan tangan mungilnya.


" Abang... " panggil Adinda sambil mengerucutkan bibirnya.


" Tuh kelakuan istri kamu kayak gitu , Id " olok Arjuna pada Zaid.


" Eh, inget... Istriku itu juga adik kamu, Juna ! " balas Zaid berseloroh.


Arjuna dan Zaid terkekeh dengan ucapan yang baru saja mereka lontarkan.


" Apa sih, adik abang yang cantik dan bawelnya pari purna ? " tanya Arjuna melirik Adinda.


" Dinda mau ngomong sama abang, penting ! " jawab Adinda ketus sambil menurunkan tangannya.


" Penting apaan sih ? " tanya Arjuna nampak tak acuh. Ia tak serius menanggapi ucapan Adinda, malah semakin asyik bermain dengan Laras.


Adinda beranjak mendekati Arjuna, lalu meraih Laras ke dalam gendongannya.


" Abang dengerin Dinda dulu ih... " cebik Adinda lalu kembali duduk di sofa.

__ADS_1


Arjuna duduk di samping Zaid dengan malas.


" Ada apaan sih, Id ? Sampai ngamuk begitu ? Kurang asupan ? " tanya Arjuna setengah berbisik pada Zaid.


" Sembarangan ya kalau ngomong. Asupan nutrisi sempurna lah " jawab Zaid percaya diri.


" Ish, kalian berdua bisa serius gak sih ? " celetuk Adinda sambil memberikan tatapan tajam.


Arjuna menggaruk tengkuknya sementara Zaid segera membisikkan perihal Adinda yang sudah mengetahui siapa Farhan sebenarnya.


" Oh masalah itu... Terus kenapa ? " tanya Arjuna seolah tak menganggap itu masalah besar.


" Kenapa ? Abang tanya kenapa ? Bang Juna sadar gak sih kalau abang udah bohongin kita semua " cecar Adinda.


" Sorry nih interupsi, yang betul cuma kamu sama Tiwi aja, yang lain udah tahu semua " ralat Arjuna yang lagi-lagi diberi tatapan membunuh oleh Adinda.


" Maksudnya apaan cuma Dinda sama Kak Tiwi aja yang gak tahu ? Jadi kalian semua sekongkol nutupin semuanya gitu ? " tanya Adinda emosi.


" Sayang jangan suudzon... Semua pasti ada alasannya " ucap Zaid bijak menenangkan sang istri lalu beralih duduk ke samping Adinda.


" Ya ampun, Id... Mulut bini lo pedes amat ! Udah berasa bon cabe level 10 " celetuk Arjuna sambil geleng-geleng kepala.


" Ih, Abang... ! " pekik Adinda.


Suara Adinda membuat Laras kaget hingga sedikit mengeluarkan tangisan. Beruntung dengan sigap Adinda segera menenangkan bayi cantik itu.


" Sst... Laras sayang kaget ya, maafin tante Dinda ya. Sst.. " Adinda menenangkan Laras, si bayi cantik dengan menimang-nimangnya.


" Iya, iya... Maaf abang udah tutupin ini semua dari kamu dan Tiwi. Tapi jujur, gak ada maksud lain. Abang cuma mau adik-adik abang ini bahagia dengan pasangannya masing-masing. Kamu sama Zaid juga Pertiwi dan Farhan " jelas Arjuna.


" Abang tahu, pernikahan kalian berdua dilaksanakan karena sedikit paksaan. Kamu yang dijodohkan dengan Zaid. Dan Farhan yang terpaksa menikahi Pertiwi karena kesalah pahaman. Tapi yang abang tahu, pasangan kalian itu mencintai kalian. Walau mungkin awalnya tidak saling mencintai, tapi abang yakin seiring berjalannya waktu perasaan cinta akan hadir dalam kehidupan kalian. Kayak kamu sama Zaid contohnya, awalnya nolak dijodohin eh tahunya sekarang malah hamil. Kalau gak cinta apa coba namanya sampai mau dihamilin segala ? " tambah Arjuna panjang lebar.

__ADS_1


" Ih, abang... Apaan sih, kok ngomongnya gitu " dengus Adinda dengan wajah memerah.


" Tapi bener kan yang abang omongin " sahut Arjuna santai.


" Oke... Sekarang pertanyaannya sampai kapan kita tutupin hal ini sama Kak Tiwi ? " sahut Adinda mengalihkan kembali ke masalah yang sebenarnya.


" Sampai masalah di Rumah Sakit selesai. Kamu gak usah khawatir, abang terus pantau kok perkembangannya. Farhan juga selalu komunikasi sama abang. Jadi sekarang abang mohon, untuk masalah Farhan ini, kamu gak usah ngomong apapun sama Tiwi. Kamu pura-pura gak tahu aja sampai akhirnya Farhan sendiri yang berterus terang pada Tiwi " tambah Arjuna lagi.


" Tapi abang curang, kenapa cuma Dinda yang gak dikasih tahu ? Mas Zaid juga, malah diem-diem bae " Adinda melirik sang suami dengan kesal.


" Buat apa kita ributin masalah orang lain. Buat aku, yang penting hubungan kita baik. Kita cukup tahu masalah orang lain tapi tidak boleh terlalu ikut campur. Biarkan semuanya berproses, belajar agar menjadi lebih baik. Kita semua punya jalan berbeda dalam mencari kebahagiaan kita " jawab Zaid sambil memeluk dan mengecupi pucuk kepala sang istri dengan mesra.


" Woy... Kalau mesra-mesraan sana di kamar, jangan di depan anak kecil. Buset, mata anak gue yang suci ini jadi ternoda gara-gara kalian " cibir Arjuna lalu mengambil Laras dari gendongan Adinda dan membawa sang putri masuk ke kamar.


" Idih, abang malah masuk sih ? " tanya Adinda saat menyadari sang kakak telah berlalu menuju ke kamar.


" Biarin aja, sirik dia mah gak ada tandem " jawab Zaid sembari melingkarkan tangannya di bahu Adinda dan sesekali mencium pundak sang istri.


" Kamu mau nginep disini ? " tanya Zaid kemudian.


" Emang boleh ? " Adinda balik bertanya.


" Boleh, tapi gak sekarang ya " jawab Zaid lembut sambil memainkan rambut sang istri.


" Ck... Ngapain nanya kalau gak boleh " decak Adinda sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


" Boleh, tapi engga hari ini sayang. Kita kan gak belum bilang sama ibu. Week end ini kita nginep disini, ok ? "


" Hem... Bener ya, Mas. Sejak Dinda hamil, kita belum pernah nginep disini lagi " ucap Adinda sambil membelai pipi Zaid.


Zaid meraih tangan Adinda lalu mencium dengan penuh kasih.

__ADS_1


" Iya, sayangnya Mas... Sekarang kita pulang yuk ! Kan maksudnya udah tercapai. Ayo sayang, kasihan anak kita cape, kamu juga perlu istirahat. Gak boleh banyak pikiran, itu gak baik buat perkembangan anak kita. Mas mau kamu dan anak kita sehat. Kamu ngerti kan ?! " ucap Zaid lembut menangkup kedua pipi istrinya yang terlihat sedikit chubby.


Adinda mengangguk tanda mengerti, lalu memeluk sang suami. Mereka berdua pun pamit pulang setelah berpamitan kepada Arjuna.


__ADS_2