
Sudah beberapa hari berlalu, Bagas mulai menunjukkan keseriusannya dalam menjauhi Alesha. Meskipun dirasanya berat tetapi ia harus menjalaninya. Ia tak ingin terluka lebih dalam, ia sadar diri jika Alesha lebih memilih Evan ketimbang dirinya.
Sungguh Bagas sangat bodoh karena menyimpulkan sesuatu menurut pandangannya tanpa mencari tahu kebenarannya. Ia hanya berargumen dan menganggap argumennya itu adalah sebuah fakta.
Alesha yang menyadari perubahan sikap Bagas tak bisa berbuat apapun. Setiap kali Alesha ingin berbicara dengannya, Bagas selalu menghindar.
" Bagas... " Panggil Alesha dari luar kamar milik Bagas sambil mengetuk pintu kamar.
Tak ada sahutan dari dalam kamar. Alesha kembali mengetuk pintu kamar namun tetap tak ada sahutan dari Bagas.
" Bagas kemana ya ? " gumam Alesha bingung.
Alesha meraih handle pintu, ternyata pintu kamarnya tak terkunci dan pintu akhirnya sedikit terbuka. Alesha sempat ragu untuk memasuki kamar Bagas namun akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk.
Alesha tak menemukan Bagas di dalam kamar, namun ia bisa mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
" Hm... Kayaknya Bagas lagi di kamar mandi. Nanti aja, aku balik lagi " gumam Alesha lagi.
Baru saja Alesha akan melangkahkan kaki menuju pintu, matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang ada di atas meja Bagas.
Alesha mengubah haluannya, ia berjalan menuju meja lalu meraih bingkai foto itu. Alesha tercengang melihat sosok wanita dalam bingkai foto tersebut.
" Ini kan foto... "
" Kamu lagi ngapain ? " satu suara membuyarkan pikiran Alesha. Ia lalu menaruh kembali bingkai foto itu.
" Eh, gak ngapa-ngapain kok Gas... Lesha disuruh Bunda manggil kamu. Tadi Lesha udah panggilin kamu di luar kamar tapi kamu gak jawab. Makanya, Lesha masuk... " jelas Alesha sambil membalik badan menghadap Bagas.
Ia menelan salivanya saat melihat tubuh Bagas yang atletis itu hanya berbalut handuk yang menutupi bagian tubuh dari pinggang hingga lututnya. Selain itu, rambut yang basah serta wajah yang masih ditetesi air juga menambah kesan maskulin pada diri Bagas.
Alesha mengalihkan pandangannya dari Bagas.
Ya Tuhan... Mataku sudah ternoda !
batin Alesha.
" Em... Lesha keluar dulu ya Gas ! Oh iya, Bunda nyuruh kamu cepet turun " ucap Alesha buru-buru menuju pintu.
" Lesha... tunggu ! " Bagas menahan tangan Alesha membuat Alesha menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Iya, ada apa Gas ? " tanya Alesha mencoba bersikap biasa saja ditengah hantaman rasa yang membuat jantungnya berdetak seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.
Alesha membalik badannya hingga kedua manik mata mereka beradu. Baik Alesha maupun Bagas tak mengatakan apapun. Keduanya seolah larut dalam perasaan mereka sendiri.
" Kak Lesha lama banget sih ? Bang Bagasnya ada kan " ucap Indira yang tiba-tiba berada di balik pintu.
" Eh... I, iya. Tadi Kak Lesha nungguin Bang Bagas dulu, ternyata lagi mandi " jawan Alesha sambil menggaruk kepalanya.
" Ohh... Ya udah sih Kak, ayo kita turun. Bunda udah nyariin. Kak Bagas juga buruan turun. Nanti bunda ngomel-ngomel lho ! " ucap Indira sambil menarik tangan Alesha lalu meninggalkan kamar Bagas.
Bagas hanya memperhatikan Alesha dan Indira berlalu.
" Apa kamu melihatnya Alesha ? Hanya kamu wanita yang tak hanya tersimpan di bingkai foto. Tapi juga terbingkai di dalam hatiku " ucap Bagas lirih.
Hai, hati... Mengapa begitu sulit melupakannya ? Mengapa setiap melihatnya rasa itu semakin bertambah... Hah, aku harus bagaimana ?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Kak... Kak Lesha ! " panggil Indira sambil menepuk tangan Alesha.
" Eh, iya ? Kenapa Dira ? " tanya Alesha kaget.
" Gak apa-apa kok, Dira " jawab Alesha dengan senyum palsu.
" Ini orang-orang pada kenapa sih ? Kak Lesha, Bang Bagas... Kok diem-dieman gitu. Padahal biasanya engga. Aneh ! " komentar Indira.
" Emang biasanya gimana ? " tanya Alesha memancing Indira untuk berbicara.
" Biasanya kan rame... Ini malah kayak Bang Evan, banyakan diem " keluh Indira.
" Dira... Apa Dira tahu siapa perempuan yang Bang Bagas suka ? " tanya Alesha kemudian.
Indira sejenak menatap Alesha, kemudian mengangkat kedua bahunya. Alesha menghembus kasar nafasnya.
" Kenapa Kak Lesha nanya kayak gitu ? "selidik Indira.
" Eh itu... " Alesha menggaruk kepalanya lalu tersenyum hambar.
Gadis kecil itu mengamati wajah Alesha. Sebenarnya Indira tahu jika sang kakak sangat mencintai wanita yang berada di sampingnya itu. Indira hanya tidak ingin membuat hubungan antara Bagas, Evan dan Alesha menjadi rumit.
__ADS_1
Maafin Dira ya Kak Lesha... Biar Bang Bagas sendiri yang bilang sama Kak Lesha. Kalau Kak Lesha tahu, gimana sama Bang Evan nanti ?
Alesha memperhatikan gadis kecil yang cantik itu terdiam.
" Dira... Dira kenapa ? " tanya Alesha sambil mengguncang bahu Indira.
" Eh ! Ng... Dira gak apa-apa Kak... Kayaknya ketularan Kak Lesha nih " ucap Indira nyengir.
" Kamu nih... Emangnya ngelamun itu menular ya ? " ucap Alesha sambil mencolek hidung mancung Indira.
Keduanya kemudian tertawa lalu pergi menuju ruang keluarga. Di ruang keluarga, sudah berkumpul Adinda, Zaid dan juga Evan. Indira dan Alesha segera duduk di sofa bergabung bersama mereka.
" Lho, Bagasnya mana ? " tanya Adinda heran karena hanya Alesha dan Indira yang datang.
" Bang Bagas baru selesai mandi, Bunda. Bentar lagi kayaknya turun " jawab Indira.
" Ya sudah, nanti juga kesini. Sekarang bagaimana hubunganmu dengan Alesha ? " tanya Zaid pada Evan.
" Baik, Yah... Hanya saja, kami sudah sepakat untuk tidak meneruskan perjodohan kami. Evan hanya bisa menganggap Lesha sebagai adik saja. Lagi pula Lesha juga memiliki keinginannya sendiri " jelas Evan.
Zaid menghela nafas panjang, sementara Adinda hanya menatap ke arah Evan dan Alesha, kemudian menatap Zaid. Menyadari sang istri yang menatapnya, Zaid balas menatap sang istri lalu Adinda menganggukkan kepalanya.
" Kalau itu sudah keputusan kalian berdua, kami tidak bisa berbuat apapun. Kami sadar segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. Semua harus dilakukan dengan keikhlasan. Jujur saja, kami memang sedikit kecewa tetapi kami hanya ingin melihat kalian bahagia. Kami akan membicarakan hal ini dengan mama dan papa mu, Lesha " ucap Zaid lagi.
" Kemungkinan, minggu depan... Kami akan datang ke rumah orang tuamu untuk memberikan kejelasan hubungan kalian berdua " tambah Zaid lagi.
Semuanya mengangguk setuju mendengar penjelasan dari Zaid.
Lain halnya dengan seseorang yang berdiri di balik pintu. Ia menyenderkan tubuh tegapnya di dinding, seolah dunianya runtuh seketika saat mendengar sang ayah yang akan segera memberikan kejelasan hubungan antara sang kakak dan gadis yang sangat ia cintai. Sudut matanya mulai mengembun hingga mengeluarkan cairan bening yang langsung di usapnya. Ia harus kuat dan bisa menerima semuanya dengan lapang dada.
Lesha... Jadi, inilah akhirnya. Rupanya kamu memang bukanlah takdirku... Semoga kamu bahagia !!
Tuh kan, Babang Bagas salah pengertian melulu🙈 😱
Makanya denger tuh jangan sepotong-sepotong apalagi ujungnya aja, jadi berabe kan 😓
Hem... Kira-kira Bagas bakalan tahu yang sebenarnya atau justru malah terjebak dalam prasangka yang salah ya ? 🤔🤔
Ikutin terus kelanjutannya ya, tinggal beberapa part lagi cerita Bagas dan Alesha end 😉
__ADS_1