
Arjuna membetulkan posisi tubuh sang adik yang tidur dalam keadaan terduduk agar berbaring di atas tempat tidur. Ia menatapi raut sedih dan lelah sang adik tersayang.
" Kenapa jadi seperti ini, dek ? Seharusnya saat ini kalian sedang berbahagia ? " gumam Arjuna memakaikan selimut di tubuh Adinda.
" Dinda... "
Arjuna segera memalingkan wajahnya ke arah pintu saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia begitu terkejut, saat melihat Zaid tengah berdiri di depan pintu memandangi ke arah tempat tidur.
Zaid berjalan masuk ke dalam kamar yang langsung dihampiri oleh Arjuna.
" Kamu kenapa balik lagi, Id ? Kalau Dinda sampai tahu, berantakan rencana kita " bisik Arjuna sambil mengamati sang adik yang masih tertidur lelap.
" Aku tahu, Jun... Aku hanya ingin melihat keadaannya " Zaid menjawab dengan volume suara minimal.
Arjuna mengerti bagaimana perasaan kedua insan yang saling mencintai itu. Ia menepuk pundak Zaid lalu meninggalkannya bersama dengan sang adik.
" Jangan sampai Dinda tahu kalau kamu ada disini " ingat Arjuna lalu keluar dari kamar.
Dengan sedikit tertatih, Zaid melangkah mendekati tempat tidur. Dilihatnya wajah cantik sang istri yang nampak pucat dan lemah. Zaid mengulurkan tangannya mengelus wajah Adinda.
Merasakan ada sentuhan, Adinda menggeliat tapi tidak sampai membuka matanya. Mungkin karena ia kelelahan sehingga begitu berat untuk membuka kelopak matanya.
Zaid duduk di tepi ranjang, meraba perut sang istri yang jauh lebih besar dibanding saat terakhir kali ia melihatnya. Ia mengelusnya lalu mencium perut sang istri dengan penuh kasih.
" Nak... Jaga bundamu ya ! Ayah janji akan segera berkumpul lagi bersama kalian. Ayah selalu mencintai kalian " gumam Zaid berbicara di depan perut Adinda sambil mengelus-elus perut sang istri.
Seolah menyadari kehadiran sang ayah, bayi di dalam perut itu bergerak membuat Zaid merasakan sentuhan halus sang anak.
" Hai jagoan, kamu kangen ayah ya ! " gumam Zaid sambil tersenyum dan kembali mengelus perut Adinda.
Zaid kemudian beranjak mendekatkan wajahnya ke wajah cantik milik Adinda.
Cup..., sebuah kecupan ia kecapkan di bibir sang istri. Kemudian ia mendaratkan kembali satu ciuman di kening Adinda dengan penuh cinta.
__ADS_1
" Mas mencintaimu, Dinda... Maaf Mas harus pergi lagi. Tapi Mas janji, kita akan segera bertemu dan berkumpul kembali " ucap Zaid dengan yakin.
Zaid kemudian bangkit lalu berjalan menuju ke luar kamar menghampiri Arjuna yang sedari tadi mengamatinya.
" Juna... Aku titip istriku, tolong lindungi dia. Dia segalanya bagiku " pinta Zaid kemudian segera meninggalkan vila sebelum sang istri terjaga.
Baru saja Zaid meninggalkan vila, Adinda terbangun. Ia seperti bermimpi bertemu dengan Zaid, sang suami yang sangat ia rindukan.
Mas... Mas Zaid dimana ? Pulang, Mas...
Adinda mengelus perutnya yang buncit itu. Kemudian menyeka air matanya. Ia turun dari ranjang lalu dengan segera menuruni tangga menuju ke luar.
" Mas... Mas Zaid... Mas !! " panggil Adinda menggema ke seluruh ruangan.
Mendengar suara sang adik, Arjuna yang baru saja melepas kepergian Zaid lalu masuk ke dalam vila.
" Hei... Ada apa dek ? " tanya Arjuna mencari tahu.
" Dinda... " ucap Arjuna sambil berjalan mengikuti gerakan Adinda.
Dinda tak mengiraukan sang kakak. Ia masih sibuk mencari bahkan hingga ke taman belakang, tempat kolam pancing ikan tapi ia tak bisa menemukan sang suami dimana pun.
" Dinda... " Arjuna menangkap tubuh sang adik yang hampir ambruk, lalu mendudukkan Adinda di sofa.
" Dinda yakin tadi ada Mas Zaid, Bang. Dinda bisa ngerasain kalau Mas Zaid disini " ucap Adinda dengan deraian air mata.
" Mungkin kamu bermimpi " ucap Arjuna merangkul tubuh sang adik lalu mengusap pelan rambutnya.
" Mimpi ? Benarkah hanya mimpi Bang ? Tapi kenapa terasa begitu nyata. Bahkan Dinda bisa merasakan sentuhan Mas Zaid di perut Dinda " ucap Adinda sambil terisak di pelukan sang kakak.
" Itu karena kamu begitu merindukan Zaid. Sudahlah, lebih baik kita pulang ! Disini hanya akan membuatmu lebih merindukannya. Kamu bisa Dinda... Abang tahu kamu kuat, kalian pasti akan berkumpul lagi nanti. Kamu hanya perlu berdoa dan menjaga diri kamu dan anak kalian dengan baik " tutur Arjuna mencoba menenangkan sang adik.
...****************...
__ADS_1
Hampir satu bulan berlalu, namun keberadaan Zaid masih abu-abu. Adinda kini sudah sedikit bisa menerima kenyataan. Ia tidak terlalu banyak menangis kendati masih sangat mengharapkan kembalinya sang suami.
Untuk sementara, Adinda tinggal di rumah sang bunda. Hal ini dilakukan Arjuna agar sang adik tidak terus memikirkan Zaid. Di rumahnya, Adinda bisa sedikit melupakan kesedihannya karena terhibur oleh keberadaan Adam serta Laras.
Sementara itu, Zaid kini sudah pulih. Ia akan kembali lagi ke rumah menemui sang istri dan sang ibu. Tetapi tidak sebagai Zaid melainkan sebagai orang lain yang ditugaskan oleh Arjuna untuk menjadi sopir baru di keluarga Zaid.
Zaid melihat dirinya di depan cermin, seorang Zaid namun dengan wajah yang lain. Ya, agar penyamarannya tidak terbongkar. Farhan membantunya dengan memesan topeng karet kepada make up artist yang biasa menggunakan topeng sebagai properti shooting film holywood.
Beruntungnya Arjuna dan Zaid memiliki seorang ipar yang begitu peduli dengan kondisi keluarga mereka. Bahkan dengan kekuasaan sultan yang dimiliki Farhan, mereka bisa mengetahui jika dalang dibalik kecelakaan Arjuna adalah pimpinan tertinggi dari penyelundup yang dibasmi oleh Zaid kemarin. Hanya saja pertanyaannya adalah mengapa mereka menargetkan Zaid secara pribadi ?
Zaid telah mengenakan topeng karet. Ia begitu semangat untuk menemui sang istri meskipun Adinda dan sang ibu mungkin tidak akan mengenalinya. Arjuna menunggu Zaid di ruang tengah apartemen milik Farhan yang ditinggali oleh Zaid selama ini.
Arjuna terperangah melihat Zaid yang sudah rapi. Ia tidak lagi terlihat seperti Zaid. Untuk saat ini identitasnya adalah sebagai Arif, sopir baru untuk Adinda dan Bu Sandra yang menggantikan Pak Dito yang pulang kampung dikarenakan ibunya sakit.
" Siap untuk ketemu istri kamu ? " tanya Arjuna.
" Siap 100 persen, Jun " jawab Zaid semangat.
" Tapi inget, kondisikan perasaan Id. Saat ini, status kamu bukan suami Adinda tapi sopirnya Dinda. Kamu inget kan " Arjuna menekankan kalimatnya.
" Iya, aku tahu... Aku bisa bersandiwara " sahut Zaid.
" Bisa sandiwara, tapi gak bisa nahan nafsu " celetuk Arjuna asal.
" Bisa, Jun... Aku yakin bisa... " sanggah Zaid.
" Waktu sakit aja, maen nyosor. Apalagi sekarang udah sehat begini " ledek Arjuna membuat Zaid menatap tajam sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
" Waktu itu kan gak tahan, Jun. Lihat dia di depan mata, masa mau dianggurin. Kangen banget, tadinya mau diapa-apain tapi ada satpam di depan pintu " kilah Zaid melirik Arjuna.
" Lah emang lo yakin sekarang di depan Dinda lo bisa nahan ? " tanya Arjuna lagi.
" Bisalah... Demi keamanan istri sama anak. Aku pasti bisa " tekad Zaid.
__ADS_1