
Adinda dan Adrian duduk berhadapan, sementara Arif memilih untuk duduk di meja yang ada di belakang mereka. Walaupun begitu tapi Arif bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Adinda hanya memesan orange juice, sementara Adrian memilih kopi untuk menemani obrolan mereka. Tak lupa Adinda pun memesankan Arif kopi agar tidak bosan menunggunya.
" Gimana kabarnya Kapten Zaid ? " tanya Adrian sambil menyeruput kopi setelah sebelumnya berbasa-basi dengan hal yang umum.
" Masih belum ada kabar, Kak " jawab Adinda menghela nafasnya, mencoba menguatkan diri.
" Sampai kapan kamu terus berkeyakinan dia masih hidup ? " tanya Adrian lagi.
" Sampai Dinda bisa lihat langsung jasadnya Mas Zaid... Sampai Mas Zaid ditemukan tak bernyawa, barulah saat itu tiba Dinda percaya " jawab Adinda yakin.
Adrian mengusap kasar wajahnya yang tampan sambil menggelengkan kepala.
" Astaga, Dinda... Kamu harus melanjutkan hidup kamu. Kamu berhak bahagia, tidak harus terkungkung dalam kenyataan yang tak tahu berujung dimana " ucap Adrian.
" Maksud Kak Adrian apa ? " tanya Adinda tak mengerti dengan apa yang Adrian ucapkan.
" Aku bisa membahagiakan kamu, Adinda... Bahkan aku akan menganggap anakmu itu anakku. Ijinkan aku bersamamu " jawab Adrian berterus terang.
Adinda tercengang dengan pengakuan Adrian, tak menyangka jika lelaki di hadapannya itu akan mengatakan hal seperti itu. Padahal, ia adalah rekan kerja sang suami.
Reaksi yang sama dirasakan oleh Zaid. Ia begitu terkejut mendengar ucapan Adrian yang terang-terangan menginginkan sang istri. Tangan Zaid mengepal di bawah meja. Ingin rasanya ia memukul Adrian saat itu juga. Mengatakan untuk menjauhi Adinda dan menyatakan bahwa dirinya masih hidup dan berada tak jauh dari sang istri.
Adinda tersenyum sinis,
" Kak Adrian, apa kakak sadar dengan ucapan kakak barusan ? Kakak pikir, Dinda semudah itu melupakan Mas Zaid. Bahkan seandainya Mas Zaid telah meninggal pun, Dinda tidak pernah memikirkan untuk mencari pengganti Mas Zaid " tegas Adinda.
Adinda beranjak dari duduknya, tapi ditahan oleh Adrian.
__ADS_1
" Tunggu, Dinda... Maafkan aku, aku hanya tidak tega melihatmu harus melalui saat-saat sulit seorang diri " ucap Adrian mencoba meraih tangan Adinda.
Adinda menepis tangan Adrian sebelum menyentuh tangannya.
" Kak Adrian lupa ? Dinda gak pernah sendiri. Semua keluarga Dinda ada di samping Dinda, mereka semua mendukung dan selalu menyemangati Adinda. Seharusnya Kak Adrian juga mendukung Dinda untuk kuat. Bukan meminta Dinda berpaling. Apa Kak Adrian lupa siapa Mas Zaid ? " ucap Adinda ketus. Ia menatap tajam lelaki yang baru saja menyatakan perasaannya itu.
" Ayo, Mas Arif kita pulang ! " seru Adinda yang langsung diikuti oleh Arif.
" Maaf Dinda... Maafkan aku. Aku tahu ini tidak tepat. Tapi kamu harus rela dengan semua yang terjadi. Bukankah Kapten Zaid pun tidak akan tenang jika kamu belum ikhlas ! " ucap Adrian membuat Adinda menoleh.
" Ikhlas atau tidak itu urusan Dinda. Kak Adrian tidak perlu repot mengurusi Dinda. Terima kasih untuk pembicaraan yang tak berfaedah ini " ucap Adinda lalu segera melenggang keluar kafe.
...****************...
Selama perjalanan pulang Adinda hanya diam, menatap kosong ke arah jalan. Memikirkan ucapqn Adrian jika ia harus merelakan sang suami yang entah bagaimana keadaannya dan tak diketahui keberadaannya sampai saat ini.
" Iya, mba " jawab Arif tanpa banyak bertanya.
Arif melajukan mobil menuju ke vila. Tidak ada obrolan seperti halnya tadi pagi saat mereka akan pergi ke rumah sakit.
" Kok Mas Arif tahu jalan ke vila sih ? Dinda kan belum ngasih tahu jalannya " selidik Adinda saat menyadari jika jalan yang dilalui Arif memang jalan menuju vila padahal Arif belum pernah mengantarnya ke vila.
" Oh, itu... Anu mba, Mas Juna pernah ngasih tahu kalau vila keluarganya di daerah sini. Jadi saya cobain aja. Berarti feeling saya bener ya lewat sini Mba ? " Arif berkelit pura-pura tak tahu.
" Iya, betul. Nanti di depan belok ke kanan terus lurus sampai ada turunan terus belok lagi ke kiri " jelas Dinda.
Arif manggut-manggut tanda mengerti.
Hampir aja... Zaid menghela nafas lega
__ADS_1
Akhirnya, mereka tiba di vila. Adinda masuk ke dalam setelah sebelumnya mencari penjaga vila untuk membuka kunci.
Adinda berjalan menuju taman belakang, kemudian duduk di kursi taman yang ada.
Zaid hanya memerhatikan sang istri dari jauh, ia tidak berani mendekat. Khawatir tidak dapat mengontrol perasaannya.
" Mas... Dinda harus gimana ? Dinda harus apa ? Sampai saat ini, Dinda yakin kalau Mas Zaid akan kembali. Mas Zaid pasti kembali kan ? Mas Zaid udah janji sama Dinda kalau Mas Zaid akan menemani Dinda melahirkan anak kita "
Air mata mulai membasahi wajah cantik Adinda.
" Mas... Apa Dinda harus menyerah sekarang ? Apa Dinda harus merelakan kehilangan Mas Zaid selamanya ? Bilang sama Dinda Mas... ! Mas... Mas Zaid kemana ? Memangnya Mas mau ada yang gantiin posisi Mas Zaid ? Hiks...hiks... Pulang Mas...! " ucap Adinda terisak.
Adinda mengeluarkan foto USG hasil pemeriksaan tadi dari dalam tasnya.
" Mas... Kamu lihat, anak kita sehat... Jagoan Mas ini mirip banget sama Mas Zaid. Dia mau ditengokin sama ayahnya. Mas Zaid pulang... Dinda mohon, pulang ya Mas... Dinda kangen... ! " ucap Dinda lagi sambil mengelus perutnya yang tiba-tiba menegang.
" Maafin bunda ya, sayang... Bunda belum bisa nemuin ayah kamu... Tapi bunda yakin, ayah akan segera pulang " ucap Adinda sambil terus mengelus perutnya.
Adinda mengusap air matanya setelah menumpahkan segala unek-unek di dalam hatinya. Ia tahu, tidak seharusnya ia terlalu sedih karena akan berpengaruh pada bayi dalam kandungannya.
Sama hal dengan sang istri meluapkan kesedihannya, Zaid pun merasakan hal yang sama. Ia begitu ingin memeluk Adinda dan mengatakan jika ia masih hidup dan selalu ada di dekatnya.
" Maafkan Mas, Dinda... Sungguh Mas ingin sekali memelukmu, mengatakan jika Mas selalu ada di sisimu, meringankan beban di hatimu... Tunggu sebentar lagi dan kita akan segera bersama " gumam Zaid dari balik pintu.
Zaid segera menghubungi Arjuna untuk segera melaksanakan operasi pemberantasan. Selama ini mereka sudah menemukan dalang dibalik kecelakaan yang dialami Zaid. Berkat koneksi Farhan yang mengenal para pengusaha baik pengusaha golongan putih maupun pengusaha golongan hitam serta kecanggihan teknologi dari perusahaan Farhan, tidak sulit untuk menemukan pelakunya yang tak lain adalah kelompok penyelundup yang ditangkap oleh tim Zaid kemarin. Hanya saja tinggal mencari siapa pengkhianat dalam kesatuan mereka yang membocorkan rahasia. Dan mereka akan segera bergerak untuk meringkus mereka.
Lantas Zaid berjalan menuju tempat Adinda duduk. Zaid berdiri di belakang Adinda, tangannya sudah terulur ingin mengelus punggung sang istri. Namun Zaid langsung menarik tangannya yang maaih berada di udara kemudian lebih memilih untuk memanggil Adinda.
" Mba... Sudah sore, sebaiknya kita pulang. Nanti ibu khawatir, soalnya Mba Dinda kan gak cerita sama ibu kalau kita mau ke vila dulu " ucap Zaid menahan dirinya agar tidak memeluk sang istri yang terlihat begitu kusut dengan mata yang masih basah.
__ADS_1