Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 27


__ADS_3

Pertiwi menutup pintu apartemen mengantarkan kepergian Farhan. Sudah 1 bulan ini, Farhan mengundurkan diri dari Rumah Sakit dan menjadi driver on line. Setiap hari pergi pagi dan pulang larut malam.


Sementara Pertiwi sendiri telah bekerja di klinik milik perusahaan Kevin. Saat ini tidak ada jadwal praktik di klinik, sehingga Pertiwi bisa bersantai di rumah.


Pertiwi merebahkan diri di sofa, sambil menonton acara televisi. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Pertiwi melihat pesan yang masuk.


Farhan : Kamu jangan kemana-mana ya, hari ini aku makan siang di rumah. Masak yang enak ya... Love you !!😘😘


Me : Iya, aku masakin yang paling enak buat suamiku. Semangat ya 💪💪🥰


Pertiwi menyunggingkan senyum. Harus ia akui Farhan selalu bisa membuatnya tersenyum dan merasa nyaman.


Pertiwi bergerak ke dapur, menyiapkan bahan masakan kemudian menyibukan diri memasak. Hingga tak terasa hari sudah siang.


Ponsel Pertiwi kembali berdering, mengira sang suami yang menelpon ia langsung mengangkat panggilan itu.


" Halo, Tiwi apa kabar ? " tanya seseorang yang suaranya sangat Pertiwi kenal.


Pertiwi mematikan ponselnya, namun ponselnya kembali berdering tak henti. Merasa kesal, akhirnya Pertiwi mengangkat panggilan itu.


" Akhirnya kamu angkat juga... " ucapnya lega.


" Mau apa lagi ? " tanya Pertiwi ketus.


" Aku cuma mau minta maaf... Tolong maafin semua kesalahanku ! Aku menyesal Wi ! " ucapnya memohon.


" Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku sudah memaafkan kesalahanmu, jafi jangan ganggu aku ! " jawab Pertiwi dengan tegas.


" Benarkah ? Syukurlah, aku lebih tenang mendengarnya " sahutnya.


" Sudah ya, aku harus menyiapkan makan siang untuk suamiku " ucap Pertiwi mempertegas statusnya.


" Tunggu Wi, ada yang ingin aku bicarakan, sebentar saja "


" Soal apa ? " tanya Pertiwi.


" Tentang suamimu. Aku tahu, jika sekarang suamimu bekerja sebagai driver online. Aku akan membantunya kembali bekerja di Rumah Sakit. Anggap saja sebagai penebus kesalahanku. Bagaimana pun aku tidak ingin melihatmu kesulitan " jelasnya.


Pertiwi tidak langsung menjawab, ia berpikir jika Mario benar-benar berubah. Selain itu, ia juga senang jika Farhan mendapatkan pekerjaan lamanya kembali daripada harus menjadi driver online.

__ADS_1


" Gimana, Wi...? " tanya Mario.


" Aku harus tanya suamiku dulu " jawab Pertiwi ragu-ragu.


" Begitu ya ? Baiklah, aku tunggu kabar darimu secepatnya. Tapi, bukankah akan lebih baik jika kamu memberi kejutan untuk suamimu itu. Aku yakin ia akan setuju " bujuk Mario.


Pertiwi nampak berpikir, ia memang menginginkan Farhan kembali bekerja tapi ia khawatir jika ini adalah siasat Mario untuk menemuinya.


" Hem, baiklah... Tapi aku hanya ingin bertemu di tempat umum " ucap Pertiwi dengan syarat.


" Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir. Nanti aku share lokasinya. Sampai bertemu nanti " Mario mengakhiri percakapan mereka.


Pertiwi menyimpan telepon di atas meja makan, tak lama satu pesan masuk dari Mario berisi lokasi tempat mereka bertemu sore nanti.


Pertiwi berpikir keras, bagaimana cara memberitahukan Farhan. Suaminya itu pasti melarangnya menemui Mario. Pertiwi menghembus nafas kasar saat mendudukkan dirinya di sofa.


Satu pesan kembali masuk ke dalam ponsel Pertiwi, kali ini Farhan yang mengirim pesan. Ia meminta maaf karena tidak jadi pulang ke rumah untuk makan siang disebabkan sedang mendapatkan order ke tempat yang agak jauh dan kemungkinan akan pulang larut malam.


Seperti mendapatkan angin segar, Pertiwi bisa menemui Mario tanpa harus meminta persetujuan Farhan. Lagi pula ini untuk kebaikan Farhan juga, itulah yang ada di pikiran Pertiwi.


...****************...


Adinda melihat sesosok wanita yang sangat dikenalnya masuk ke dalam toilet. Adinda meminta Zaid untuk menunggu sementara ia masuk ke dalam toilet untuk mencari sosok yang dikenalnya.


" Kak Tiwi " panggil Adinda saat menemukan sang kakak sedang mencuci tangan di depan wastafel.


" Lho, kamu kok disini de ? Sama siapa ? " tanya Pertiwi terkejut melihat sang adik bungsu ada di hadapannya.


" Sama Mas Zaid, lagi pengen jalan-jalan " jawab Adinda sembari memperlihatkan deretan giginya yang putih.


" Kak Tiwi sama Kak Farhan lagi jalan-jalan juga ya ? " tanya Adinda kepo.


" Engga, Kak Farhan lagi jalan. Kak Tiwi ada janji sama Mario " jujur Pertiwi.


" Apa ? Gak salah tuh Kak ? Jangan-jangan cuma akal-akalan Kak Mario aja biar ketemu Kak Tiwi " celetuk Adinda.


" Iya sih, tadinya kakak juga mikir gitu. Tapi dia udah bilang nyesel terus dia mau bantuin biar Kak Farhan balik lagi kerja di Rumah Sakit " jelas Pertiwi.


" Terus Kak Tiwi percaya ? " tanya Adinda .


" Mau gak mau harus percaya, de. Kakak kasihan sama Kak Farhan harus kerja dari pagi sampai malam cari orderan. Lagian juga kakak ketemuan di tempat ramai kok, jadi Mario gak mungkin macam-macam " jawab Pertiwi menepis kecurigaan Adinda.

__ADS_1


" Ya udah kalau gitu. Kakak hati-hati ya ! Kalau Kak Mario macem-macem, Kak Tiwi tendang aja perkututnya biar gak bisa bertelor " oceh Adinda diiringi tawa.


Adinda dan Pertiwi keluar dari toilet. Zaid sempat kaget melihat sang istri keluar bersama dengan Pertiwi. Namun Adinda segera menjelaskan. Akhirnya mereka pun berpisah.


" Pertiwi udah ijin sama Farhan ketemu Mario ? " selidik Zaid.


Adinda menggidikan bahunya.


" Tadi sih Kak Tiwi cuma bilang ketemuan sama Kak Mario karena mau bantuin Kak Farhan biar balik kerja lagi di Rumah Sakit " jawab Adinda.


" Kalau kamu, gak boleh keluar ketemuan sama orang lain apalagi laki-laki tanpa seijin aku. Ngerti kan ?! " titah Zaid sambil mencolek hidung sang istri.


" Siap Kapten ! " sahut Adinda lalu bergelayut manja di lengan Zaid.


Adinda dan Zaid kembali berjalan-jalan hingga langkah mereka berhenti tatkala melihat boot es krim yang sedang penuh antrian.


" Kenapa ? Kamu mau ? " tanya Zaid saat Adinda terus melihat es krim.


Adinda mengangguk semangat.


" Ya udah, aku beli dulu. Kamu tunggu disini aja, duduk dulu. Pasti pegel kan dari tadi jalan terus " ucap Zaid penuh perhatian.


Zaid mengantarkan sang istri untuk duduk di kursi dahulu kemudian menuju boot es krim.


" Mas... Es krimnya yang rasa blueberry sama vanila ya ! " ucap Adinda saat sang suami berlalu. Zaid mengannguk lalu segera ikut dalam antrian.


Saat menunggu Zaid, Adinda tak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Farhan masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Mata Adinda tak lepas memandang pria yang begitu mirip dengan kakak iparnya itu. Hanya saja pria ini begitu rapi dengan setelan jas juga didampingi seorang asisten yang menemani. Mereka berdua bertemu dengan beberapa orang yang sepertinya rekan bisnisnya.


" Kok, mirip Kak Farhan ya ? Tapi penampilannya beda banget " gumam Adinda.


" Sayang, kamu lihatin apa sih ? Serius amat " suara Zaid membuyarkan pikiran Adinda.


" Makasih ya Mas... " ucap Adinda lalu mengambil alih es krim dari tangan Zaid. Mata Adinda terus menatap ke dalam restoran yang tadi disinggahi pria yang mirip Farhan.


Melihat sang istri yang terus melihat ke arah restoran membuat Zaid berpikir jika Adinda menginginkan makan disana.


" Buruan habisin es krimnya. Kita makan disana !" seru Zaid sambil menunjuk ke arah restoran yang Adinda perhatikan sejak tadi.


" Beneran, Mas ? " tanya Adinda dengan mata berbinar


" Iya beneran. Apa sih yang engga buat istriku tersayang ini. Makanya cepetan habisin es krimnya sayang ! " seru Zaid sambil melap sudut bibir sang istri yang belepotan es krim.

__ADS_1


__ADS_2