
Sudah 1 bulan Arif bekerja. Setiap hari lebih banyak ia habiskan dengan membereskan rumah atau menata taman bersama Adinda dan Bu Sandra. Hal yang jarang ia lakukan saat menjadi Zaid.
Hubungan mereka pun lebih akrab. Adinda bahkan tidak sungkan meminta Arif yang tak lain adalah suaminya sendiri untuk mengantarkannya periksa ke dokter kandungan.
Mengingat usia kehamilan Adinda yang akan memasuki usia 36 minggu, kini Adinda harus rutin memeriksakan kandungan satu minggu sekali.
Hari ini adalah waktu kontrol kandungan Adinda. Seperti biasa Arif sudah siap menunggu Adinda dan Bu Sandra untuk pergi ke rumah sakit di depan mobil.
" Rif... Hari ini, tolong kamu antar Adinda ya. Saya ada kumpulan ibu-ibu pensiunan. Saya titip Adinda ya ! " seru Bu Sandra memberitahu pada Arif.
" Baik, Bu " Arif menjawab dengan sopan.
Tak lama Adinda datang menghampirinya. Dengan mengenakan pakaian hamil dibawah lutut berwarna hijau pastel, membuat aura kecantikan Adinda semakin bertambah meskipun sedang hamil besar.
Sungguh Zaid sangat terpesona melihat sang istri dengan rambut digulung ke atas dan bibir yang dipulas dengan lipstik berwarna peach yang membuatnya terlihat segar.
Adinda mendudukkan diri di kursi depan di samping Arif. Membuat Arif mengernyit heran.
" Kok Mba Dinda duduk di depan ? " tanya Arif.
" Kalau duduk di belakang gak ada temen ngobrol, Mas. Lagian Ibu kan gak ikut nemenin, jadi Dinda duduk di depan aja " jawab Adinda.
" Mas Arif keberatan Dinda duduk di depan ? " tanya Adinda curiga.
" Gak apa-apa, Mba... Cuma Mba Dinda kan majikan saya. Masa mau duduk sebelahan sama sopir " elak Arif.
" Ya, gak apa-apa lah. Sopir juga kan manusia. Lagian Mas Arif ini kan temennya Bang Juna, jadi udah kayak kakak Dinda sendiri. Ayo buruan jalan, Mas. Nanti keburu antriannya banyak lho ! " seru Adinda.
Arif pun dengan hati-hati melajukan mobilnya, jauh di lubuk hatinya ia merasa begitu bahagia karena bisa kembali duduk berdampingan bersama sang istri tercinta.
Mereka akhirnya tiba di depan lobi rumah sakit. Arif sengaja menurunkan Adinda di lobi, sementara ia memarkirkan mobilnya lebih dahulu. Pada saat kembali, ia melihat sang istri tengah berbicara dengan seseorang yang ia kenal.
Tak ingin membuang waktu, segera ia menghampiri Adinda bersama seorang pria yang tak lain adalah partnernya dulu, Adrian.
" Mba Dinda... " ucap Arif saat mendekati mereka.
" Eh, Mas Arif udah datang. Dinda pamit dulu ya Kak " ucap Adinda sopan lalu beranjak pergi. Arif menganggukan kepalanya kepada Adrian untuk pamit menyusul Adinda.
__ADS_1
Adrian memperhatikan Adinda dan pria yang datang bersamanya.
Kenapa rasanya aku mengenalnya ? Apa jangan-jangan dia itu...
Tapi tidak... Kapten Zaid masih belum ditemukan, lagipula tadi Adinda memanggilnya Mas Arif
Adrian menerka-nerka jika pria yang datang bersama Adinda adalah Zaid. Namun kemudian ia menepiskan pikirannya itu.
" Ibu Adinda Ayunindya Persada, silakan masuk ! " ucap seorang perawat memanggil Adinda.
Adinda segera berdiri kemudian masuk ke dalam ruangan dokter.
" Mas Arif, tunggu disini ya. Jangan kemana-mana. Tuh tinggal pilih aja perawat yang ada buat Mas Arif " ucap Dinda sambil tertawa, menggoda Arif yang begitu cuek dengan wanita-wanita yang memperhatikannya.
Arif hanya melihat punggung Adinda yang kini telah masuk ke dalam ruangan. Padahal ia ingin sekali menemani sang istri memeriksakan kandungannya dan melihat perkembangan bayi mereka.
" Itu, istrinya ya Mas " ucap salah seorang pria yang sedang menunggu panggilan masuk.
Arif hanya tersenyum simpul. Ia begitu ingin mengakui jika memang benar Adinda adalah istrinya.
Merasa seperti tertampar dengan ucapan pria itu, Zaid melayangkan pikirannya. Pastinya setiap calon ibu ingin ditemani oleh suaminya memeriksa kandungan bahkan menemaninya melahirkan buah hati mereka. Lalu Adinda ? Ia harus ditemani oleh ibu, bahkan terkadang oleh Arjuna untuk memeriksakan kandungannya.
Maafkan Mas, Dinda... Maaf tak bisa menemanimu di saat-saat seperti ini
Satu tepukan di bahu menyadarkan Zaid.
" Tuh, Mas... Istrinya sudah keluar berarti sekarang giliran istri saya yang dipanggil. Permisi ya, Mas " ucapnya lalu melenggang masuk ke dalam ruangan dokter obgyn bersama dengan sang istri.
Zaid melihat Adinda yang kini sedang berbicara dengan perawat. Ia berinisiatif mendekati Adinda.
Rupanya Adinda sedang menunggu resep yang diberikan oleh dokter.
" Mba Dinda sudah selesai ? " tanya Arif.
" Tinggal nunggu resep terus ditebus di apotek. Bentar ya Mas " jawab Adinda sambil mengambil resep yang disodorkan oleh perawat.
" Biar saya yang ambil obatnya, mba. Mba dinda tunggu saja di lobi " usul Arif.
__ADS_1
" Ya udah, ini uangnya Mas. Makasih ya " sahut Adinda lalu memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada Arif.
Arif bergerak menuju apotek sementara Adinda melipir ke lobi menunggu Arif selesai menebus resep.
Selesai menebus obat, Arif kembali menuju lobi. Ia mencari keberadaan Adinda hingga menemukan wanita itu tengah berbincang kembali bersama Adrian.
Sebelah alis Arif terangkat, merasa heran mengapa Adrian terlihat begitu akrab dengan Adinda. Arif bergegas menghampiri mereka berdua.
" Mba, ini sudah selesai nebus obatnya " ucap Arif membuat Adinda menoleh pada Arif.
" Oh sudah ya, Mas.. Kalau begitu ayo kita pulang. Kak Adrian, Dinda pulang dulu ya. Makasih ya udah mau nemenin disini " pamit Adinda lalu bangkit dari duduknya.
" Ng... Dinda " panggil Adrian saat Adinda mulai berjalan meninggalkannya.
Adinda menghentikan langkah kemudian berbalik sambil mengernyit heran.
" Kenapa kak ? " tanya Adinda ramah.
" Saya mau ajakin Dinda makan sebentar sambil ngobrol-ngobrol. Dinda bisa ? " tanya Adrian penuh harap.
" Ng... Boleh, tapi sebentar aja ya Kak. Biar gak jauh di kafe depan rumah sakit aja gimana ? Sama Mas Arif juga harus ikut, gak enak kalau kita cuma berdua aja " jawab Adinda dengan syarat dan ketetapan yang diajukan.
" Iya, boleh. Asal Dinda gak kepaksa " sahut Adrian semangat.
Apa sih maksud Adrian deketin Dinda ? Jangan-jangan mau nikung nih.
Zaid sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Mas Arif, mau kan temenin Dinda sebentar ? " tanya Adinda melihat pada Arif.
" Mas... Mas Arif... " panggil Adinda sambil sedikit menepuk lengannya.
" Eh, iya mba. Kenapa ? " tanya Arif bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Mas Arif sekarang temenin Dinda sama Kak Adrian ngobrol di kafe depan ya " seru Adinda sambil tersenyum melihat tingkah Arif yang kebingungan.
" Eh, I... Iya, Mba... " jawab Arif singkat lalu berjalan mengikuti Adinda dan Adrian yang berjalan di depannya.
__ADS_1