
Adinda sudah menyambut Arjuna di halaman saat sang kakak tiba. Hari ini, rencananya Adinda akan kembali ke rumah Zaid. Setelah 2 minggu, ia menenangkan diri di rumah sang bunda.
" Abang lama amat sih, Ibu udah telponin terus dari tadi " keluh Adinda saat melihat sang kakak keluar dari dalam mobilnya.
Adinda terpaku saat melihat sosok yang turut keluar dari mobil Arjuna.
Mas Zaid...?
" Idih, gak sabaran amat sih. Oh iya, ini Arif... Dia bakalan gantiin Pak Dito untuk sementara. Jadi nanti kamu kalau periksa ke dokter bisa dianterin Arif. Abang kan harus kerja, gak bisa ijin terus buat nemenin kamu " jelas Arjuna sambil mengenalkan pria yang berdiri di belakangnya.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk hormat pada Adinda.
Adinda menelisik pria itu, dari perawakannya begitu mirip dengan suaminya. Wajahnya saja yang berbeda. Bahkan sorot matanya, sama seperti Zaid.
" Abang kenal dimana ? " bisik Adinda pada sang kakak.
Arjuna melirik Zaid, lalu menghela nafasnya.
" Arif ini, temen sekolah abang dulu. Dia kebetulan habis kena PHK dari tempat kerjanya. Nah kebetulan Pak Dito lagi pulang kampung, jadi abang tawarin aja buat jadi sopir sementara sampai Pak Dito balik lagi " jelas Arjuna.
" Oohh... " Adinda hanya ber oh ria.
" Rif... Kamu tunggu dulu di mobil ya ! Saya mau bantu angkatin barang-barang adik saya dulu " seru Arjuna.
" Baik, mas " jawab Arif singkat.
Deg... Adinda membalik badannya, menatap Arif yang sudah berlalu menuju mobil.
Su... Suara itu ? Kenapa suaranya mirip suara Mas Zaid ?
Adinda menggeleng-geleng kepala, kemudian memukul kepalanya pelan.
" Dia bukan, Mas Zaid... Dinda... Hanya suaranya saja yang mirip " Adinda bergumam dengan hatinya sendiri.
" Hei, dek... Ayo cepetan ! Tadi katanya mau pulang " pekik Arjuna yang kini sudah berada di muara pintu.
Adinda mempercepat langkahnya mencapai Arjuna, lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama mereka kembali. Arjuna membawa koper besar milik Adinda menuju mobilnya. Arif dengan siaga memasukkan koper ke dalam bagasi.
__ADS_1
Adinda berpamitan dengan Bunda Lia, Kirana, Adam serta Laras. Rasanya begitu berat meninggalkan mereka setelah kebersamaan selama ini. Tapi Adinda pun tak kuasa meninggalkan sang ibu mertua sendirian disana tanpa ada anak dan menantu yang menemani.
Adinda menyusul Arjuna yang telah masuk ke dalam mobil. Kendaraan yang dikemudikan oleh Zaid alias Arif itu pun melaju menuju kediaman Bu Sandra.
Zaid sesekali melirik sang istri yang memandang ke arah luar melalui kaca spion sambil tersenyum samar.
Akhirnya aku berada di dekatmu, Dinda...Apa kamu mengenaliku ?
Aku akan selalu menjaga dan melindungi kalian.
Mobil memasuki pekarangan kediaman Zaid. Bu Sandra tengah duduk di beranda menunggu kedatangan menantu kesayangannya. Setelah Zaid menghilang, hanya Adindalah yang bisa mengurangi rasa kehilangannya. Namun, selama 2 minggu ini Adinda memilih tinggal di kediaman sang bunda hanya untuk menenangkan pikirannya. Ia tak bisa melarang, karena ia tahu betapa terpukulnya Adinda dan itu dikhawatirkan berdampak pada kehamilannya.
" Dinda... Kamu sudah lebih baik nak ? " tanya Bu Sandra saat Adinda memeluknya.
" Iya, bu..." jawab Adinda.
" Alhamdulillah... Ayo masuk, nak ! Ayo Juna, kamu masuk juga ! " seru Bu Sandra.
" Oh iya, ini orang yang akan menggantikan Pak Dito untuk sementara, Bu " ucap Arjuna kemudian memanggil Arif agar mendekat.
Sama seperti Adinda, Bu Sandra mengamati sopir baru yang dibawa oleh Arjuna. Sepintas memang mirip dengan anaknya, namun wajahnya berbeda.
" Ah, iya... Kalau gitu, Juna kamu tolong anterin Arif ke kamarnya ya. Itu kamar yang di deket tangga aja " Seru Bu Sandra pada Arjuna.
Arjuna mengangguk, membiarkan kedua wanita beda generasi itu masuk lebih dulu. Arif membawa tasnya dan membawakan koper milik Adinda dari bagasi mobil.
Arjuna kemudian mengantar Arif menuju kamarnya setelah sebelumnya membawakan koper sang adik ke kamarnya.
" Sementara kamu tidur disini, Id... Sabar, nanti juga bisa balik lagi ke kamar kalian " ucap Arjuna menepuk pundak sahabatnya.
Zaid hanya mengangguk. Tak apa ia tinggal terpisah kamar dari sang istri, selama ia bisa melihat sang istri dari dekat.
" Inget... Tahan diri dari godaan Adinda, jangan sampai lo bablas " Arjuna mengingatkan sang sahabat agar menjaga batasan.
" Lagian sama istri sendiri ini, halal Jun " kelit Zaid.
" Halal kalau sebagai Zaid, nah ini kan sebagai Arif, dia itu majikan lo. Pamali kalau naksir majikan " Arjuna terkekeh sendiri membayangkan betapa sulitnya menjadi Zaid yang harus menahan diri untuk tidak menyentuh sang istri yang sangat ia cintai.
__ADS_1
" Ciih, iya gue tahu. Gue pasti nahan diri " ucap Zaid sambil membereskan isi tasnya ke dalam lemari.
" Abang... Disuruh ibu makan dulu, sekalian Mas Arifnya juga ajakin makan " ucap Adinda tiba-tiba berada di depan pintu kamar.
Arjuna dan Zaid saling memandang, khawatir jika Adinda mendengar percakapan mereka.
" Lho kok malah pada diem sih. Ayo... ! " ajak Adinda sambil meninggalkan kamar.
" Dinda, denger gak ya ? " tanya Zaid.
Arjuna mengangkat bahu,
" Kayaknya sih enggak. Kalau dia denger pasti udah melukin lo, secara dia kan kangen banget sama lo, Id " jawab Arjuna.
Arjuna beranjak meninggalkan kamar yang akan ditempati Arif, diikuti oleh Arif menuju ruang makan. Adinda sudah duduk lebih dulu di samping Bu Sandra.
" Juna, ayo makan dulu. Itu Arif juga, ayo sini makan dulu " seru Bu Sandra.
" Maaf, Bu... Juna harus cepet pulang. Tuh, Rif... Kamu makan dulu aja " seru Arjuna pada Arif. Arjuna yakin jika Zaid merindukan makan bersama dengan ibu juga istrinya.
" Saya makan di belakang saja, bu " tolak Arif.
Sesaat Bu Sandra terdiam mendengar suara Arif yang begitu mirip dengan Zaid. Ia hampir mengeluarkan air mata, namun segera Adinda menyentuh tangannya yang bergetar membuatnya menetralkan rasa yang berkecamuk di hatinya.
" Hem...makan disini saja kali ini. Anggap saja ini penyambutan kami. Besok-besok kalau kamu merasa tidak nyaman, boleh makan di belakang " ucap Bu Sandra menghilangkan kecanggungan yang ada.
Arif melirik ke arah Arjuna lalu duduk di meja makan setelah mendapat anggukan kepala dari Arjuna.
" Juna, pamit ya bu. Kalau ada apa-apa, ibu sama Dinda ngomong aja sama Arif. Arif bisa diandalkan kok " jelas Arjuna sambil mencium tangan Bu Sandra untuk berpamitan.
" Abang pulang ya, dek. Baik-baik disini... Jaga kandungan kamu, jangan sedih terus ! " seru Arjuna mengelus kepala sang adik. Adinda mengangguk kemudian mencium tangan Arjuna.
" Rif... Titip mereka ya. Kalau ada masalah penting, kamu hubungi saya aja " seru Arjuna sambil menepuk pundak Arif.
" Iya, Mas " jawab Arif singkat.
Akhirnya Arjuna meninggalkan rumah dengan perasaan tenang, karena kini sudah ada yang menjaga adiknya.
__ADS_1