Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap Part 4


__ADS_3

Evan kembali ke rumah setelah selesai menemani Tuan Lukman. Sesampainya di rumah, ia mencari keberadaan Reksa. Ia harus meminta maaf atas kecurigaannya kemarin.


Evan berkeliling rumah mencari keberadaan Reksa. Akhirnya ia menemukan Reksa sedang duduk di samping kolam renang sambil memainkan air kolam dengan tangannya.


Evan menghampiri Reksa yang nampak asyik melamun.


" Ehem... Reksa... " panggil Evan.


Reksa seketika menoleh saat mendengar namanya disebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat Evan yang memanggilnya. Ia segera bangkit, namun karena licin akhirnya ia tercebur masuk ke dalam kolam.


Melihat hal itu, Evan ikut menceburkan dirinya ke dalam kolam. Ia berniat untuk menolong Reksa, namun tanpa ia duga ternyata Reksa mahir berenang. Mereka kini sudah berada di tepi kolam renang. Adinda yang mengetahui jika Evan dan Reksa baru saja tercebur ke kolam renang segera membawakan handuk untuk keduanya.


" Kalian berdua tuh, kalau mau berenang pakai baju renang " ucap Adinda sambil menyodorkan handuk pada Evan dan Reksa.


" Siapa yang mau renang, Bunda ? Tadi tuh Reksa kecebur ke kolam. Tadinya Evan mau tolongin, eh tahunya Reksa bisa berenang " sahut Evan sambil menyelimuti handuk ke badannya.


" Oh... Jadi ceritanya kamu mau jadi pahlawan buat Reksa gitu " seloroh Adinda menahan agar tidak tersenyum.


" Eh, gak gitu Bun. Itu tadi... Ah, udahlah... Evan bersih-bersih dulu " ucap Evan kemudian meninggalkan Adinda dan Reksa.


Adinda tersenyum samar melihat Evan, selanjutnya ia menyuruh Reksa juga untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup.


Reksa telah selesai mengganti pakaiannya. Kini ia mengenakan dress selutut yang baru saja diberikan oleh Adinda. Dengan rambut terurai yang masih basah, Reksa tampak begitu cantik dan segar.


" Reksa, tolong kamu panggil Evan di kamarnya. Dia pasti belum makan " pinta Adinda yang diangguki oleh Reksa.


Reksa mengetuk pintu kamar Evan dengan ragu. Ia masih merasa tidak enak dengan Evan. Reksa mengetuk pintu sambil melamun hingga ia tak sadar jika pintu sudah terbuka dan tangannya justru menyentuh dada Evan. Menyadari hal itu membuat Reksa sedikit mundur dan hampir terjatuh jika saja Evan tidak menahan tubuhnya.


" Ma... Maaf Mas ! " Reksa menjauhkan dirinya dari Evan sambil menunduk.


" Hem... " sahut Evan.


" Maaf Mas, tadi Tante Dinda nyuruh Mas Evan makan dulu " ucap Reksa tanpa menatap Evan.


" Iya, nanti saya ke bawah " jawab Evan.


" Kalau gitu, saya permisi Mas " pamit Reksa kemudian segera melangkahkan kakinya.

__ADS_1


" Reksa... " panggil Evan.


Seketika Reksa menghentikan langkahnya.


" Iya, Mas... " sahut Reksa sambil menoleh.


Evan berjalan mendekati Reksa.


Sungguh Reksa didera gemuruh dalam hatinya saat Evan mendekatinya.


" Reksa, saya minta maaf atas sikap saya kemarin. Maaf karena saya sudah mencurigai kamu " ucap Evan tulus.


" Tidak apa, Mas ! Itu wajar, saya juga pasti bersikap sama seperti Mas Evan jika ada orang asing yang tiba-tiba berada di dalam mobil " sahut Reksa dengan senyum di wajahnya.


" Tadi saya bertemu ayah tiri kamu. Dia ada di Rumah Sakit " ucap Evan.


Ucapan Evan membuat Reksa mengangkat wajahnya hingga akhirnya mata keduanya beradu, saling menatap satu sama lain.


" Bagaimana Mas Evan tahu, jika dia ayah tiri saya ?" tanya Reksa mencari tahu.


Reksa begitu terkejut, badannya gemetar.


" Apa Mas Evan akan mengatakan keberadaan saya kepada mereka ? " tanya Reksa dengan nada suara yang juga ikut bergetar.


Evan menggelengkan kepalanya.


" Saya tidak akan memberitahukan kepada mereka. Kamu tenang saja " ucap Evan sambil memandangi Reksa yang nampak shock dengan ucapannya.


" Te... Terima kasih, Mas ! " ucap Reksa lirih kemudian berjalan mendahului Evan menuruni tangga.


Evan memperhatikan Reksa sambil berjalan di belakangnya. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Evan cukup mengganggu pikirannya. Sehingga Reksa tidak fokus dan akhirnya ia terpeleset dari anak tangga terakhir yang dipijaknya. Beruntung Evan dengan sigap memegang tangan Reksa sehingga ia tidak berakhir dengan mencium lantai.


" Kamu gak apa-apa kan ? Apa yang kamu pikirkan ? " tanya Evan.


" Maaf Mas... Saya hanya takut mereka menemukan saya " jawab Reksa apa adanya.


" Bukankah sudah kukatakan tadi jika aku tidak akan memberitahu mereka... " tegas Evan kemudian.

__ADS_1


Reksa hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata pun.


" Aku... Kami akan melindungimu. Kamu harus yakin tentang itu " tambah Evan lagi.


" I... Iya Mas. Terima kasih " ucap Reksa kemudian ia melepaskan tangannya dari pegangan Evan.


Reksa berjalan meninggalkan Evan menuju ke dapur. Sementara Evan menuju ke ruang makan.


Tak lama Reksa membawakan segelas jus jeruk untuk Evan.


" Ini jusnya Mas. Tadi Tante Dinda yang buat untuk Mas Evan "


" Terima kasih, Reksa " sahut Evan tulus.


" Sama-sama Mas. Saya permisi Mas ! " timpal Reksa kemudian ia permisi meninggalkan Evan.


Reksa masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang. Entah mengapa semenjak Evan mengatakan bertemu dengan ayah tirinya juga orang yang telah membeli ginjalnya. Pikirannya justru tidak tenang. Walaupun Evan sudah mengatakan tidak akan memberitahu keberadaannya juga akan melindunginya, tetap saja ia khawatir.


" Ibu... Reksa harus bagaimana ? Reksa takut bu... Ibu... Andai ibu masih ada, ibu pasti melindungi Reksa " gumam Reksa lirih.


Ia teringat kembali kejadian 3 tahun yang lalu, saat itu sang ayah memaksanya untuk memberikan ginjalnya. Namun, sang ibu menggantikannya dengan memberikan ginjalnya. Setelahnya sang ibu justru sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.


Reksa pikir dia sudah aman karena sang ibu telah memberikan ginjalnya. Ternyata dugaannya salah, sang ayah justru berniat menjual ginjalnya kembali bahkan telah menerima uang dengan jumlah yang sangat besar. Bahkan jika saja ia tidak melarikan diri, mungkin saja Reksa kini sudah bergantung pada satu ginjalnya saja.


Reksa menyandarkan diri pada pinggiran ranjang, tubuhnya meluruh. Ia memeluk lututnya sembari menahan diri agar tidak mengeluarkan air mata namun tetap saja cairan bening itu mengalir di pipinya. Ingin rasanya ia pergi jauh, namun ia sadar disinilah tempat teraman untuknya saat ini.


Evan yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Reksa, melihat gadis yang sedang terduduk itu dari celah pintu yang sedikit terbuka. Evan termangu, ia bisa merasakan kegundahan gadis itu. Entah karena apa, rasanya ia tak rela melihat gadis cantik itu bersedih hati.


" Reksa... " ucap Evan sambil menggeser pintu kamar Reksa.


Gadis cantik itu mengangkat wajahnya kemudian menyeka air mata yang ada di pipinya.


" I...Iya Mas ? " tanya Reksa kemudian bangkit berdiri.


" Mas Evan ada perlu apa ? " tanya Reksa seolah tidak terjadi apapun pada dirinya.


Evan melangkahkan kakinya mendekati Reksa, kemudian memeluk gadis cantik di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2