Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 52


__ADS_3

" Siapa kau ? Apa maumu sebenarnya ? " tanya Zaid berusaha tenang.


" Siapa saya, anda tak perlu tahu... Saya hanya ingin membuat perhitungan dengan anda " jawabnya dengan santai.


" Masalahmu itu denganku, jangan libatkan istri dan anakku " jawab Zaid dengan penekanan.


" Tentu saja, saya hanya menjadikan mereka jaminan saja agar anda tidak bermain-main dengan saya ! " sahutnya tak mau kalah.


" Apa yang kau inginkan ? " gertak Zaid.


" Nyawamu " jawabnya sambil tertawa jahat.


" Baiklah, tapi lepaskan istri juga anakku ! " pinta Zaid.


" Wah... wah... wah... Rupanya anda sangat mencintai istri anda itu. Ya, harus ku akui istri anda sangat cantik bahkan keponakanku saja bisa jatuh cinta padanya " ucapnya lagi sambil tertawa lebar.


Zaid mengepalkan tangannya, sementara Arjuna yang turut mendengarkan percakapan mereka hanya menepuk pundak Zaid untuk menenangkannya.


" Jika anda menginginkan istri dan anak anda selamat datanglah ke jalan XX sendirian, tanpa melibatkan orang lain tengah malam nanti " titahnya.


" Lalu bagaimana dengan istri dan anakku ? " pancing Zaid.


" Tidak perlu bernegosiasi denganku. Jika kau ingin mereka selamat, ikuti saja arahanku ! " perintahnya lalu mematikan sambungan telepon.


Zaid meremat ponselnya, merasa kesal sendiri. Tapi segera ia menarik nafas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Sebagai seorang pemimpin prajurit ia tentunya tahu cara menyusun strategi untuk memenangkan perang.


" Juna, aku akan pergi nanti malam ! " ucap Zaid pada Arjuna.


Arjuna menaikkan sebelah alisnya,


" Kamu pergi sendiri ? " tanya Arjuna.


" Ya, jika itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Adinda " jawab Zaid.


" Jangan gila, Id... Cari mati kamu ! " sungut Arjuna.


" Tidak ada pilihan lain. Tolong kamu bawa ibu ke rumah bunda. Jangan katakan Adinda diculik, nanti mereka khawatir. Tempatkan penjagaan ketat di sekitar rumahmu. Kalau perlu hubungi Farhan, minta tolong padanya untuk menempatkan pengawal pribadinya di rumah bunda " seru Zaid pada Arjuna.


" Lalu bagaimana denganmu ? Kamu benar-benar akan menghadapinya sendiri ? "


" Ya, untuk pengalihan sementara aku akan pergi sendiri. Setelah satu jam, baru kamu dan tim delta datang membantu. Semoga ini jalan yang terbaik dan aku bisa menyelamatkan Adinda " papar Zaid.

__ADS_1


" Baiklah, aku akan melaksanakannya. Kamu harus berhati-hati. Orang yang kamu hadapi kali ini tidak hanya pintar tapi juga licik " ucap Arjuna.


" Aku akan membawa serta tim medis kalau kalau nanti membutuhkan bantuan medis " tambah Arjuna lagi.


" Terima kasih, Jun... Kamu sudah menjadi sahabat juga kakak ipar yang baik " ucap Zaid.


" Kamu pasti bisa, Id... Kamu harus bertahan dan berhasil menyelamatkan Dinda "


...****************...


" Mba... Mba Dinda... Kita sudah sampai, Mba " ucap Geri sambil membangunkan Adinda.


Adinda membuka matanya yang berat, lalu melihat sekelilingnya. Ia terlonjak kaget saat menyadari jika ia telah sampai di sebuah rumah kecil yang ada di tempat sepi, tidak ada rumah lain. Hanya ada sebuah gudang dan letaknya sekitar 500 meter dari rumah itu di sebelah timur.


" Kenapa kita kesini ? Tolong antarkan saya pulang ! " pinta Adinda sedikit khawatir.


" Maaf, Mba. Tadi Kapten Zaid meminta kami membawa Mba Dinda kesini untuk menjaga keamanan Mba Dinda. Penjahat itu akan mencelakakan Mba Dinda. Jadi Kapten Zaid meminta kami untuk menyembunyikan Mba " ucap Geri penuh kebohongan.


Adinda nampak ragu, namun akhirnya ia mengikuti Geri untuk masuk. Di dalam rumah itu, ada ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, juga dapur. Tidak ada yang aneh, semua tampak biasa saja. Bahkan lemari es pun penuh bahan makanan.


" Mba bisa memasak jika lapar, semua bahan masakan ada di lemari es. Kami harus segera kembali. Kapten Zaid berpesan agar Mba tidak keluar dari rumah ini, nanti Kapten Zaid sendiri yang akan menjemput Mba Dinda " jelas Geri lagi.


Tak lama Geri memfoto Adinda yang tengah duduk di sofa.


" Maaf Mba, saya minta foto Mba Dinda dulu. Untuk bukti bahwa saya sudah membawa Mba Dinda dengan selamat kesini. Kalau begitu kami permisi, Mba ! " ucap Geri kemudian pamit pada Adinda.


Tanpa Adinda sadari, Geri mengunci pintu dari luar dan temannya yang lain telah memasang bom di sekeliling rumah itu.


" Misi selesai, Bos ! " lapor Geri sambil mengirim bukti foto Adinda dan fotorumah yang telah dipasangi bom beserta Adinda di dalamnya.


" Bagus... ! Sekarang kalian jaga, jangan sampai ada yang mendekati rumah itu. Awasi, jangan terlalu dekat ! " jawabnya lalu mematikan panggilan telpon.


Nah, tinggal menunggu pemeran utamanya datang ! Ayo, Zaid cepat selamatkan istrimu, dan kita lihat kehancuranmu kehilangan orang yang paling berarti di hidupmu ! Ha...Ha...Ha...Ha...


...****************...


Sinar matahari sudah memudar menuju peraduannya. Adinda hanya bisa melihat dari jendela saja keindahan saat matahari mulai terbenam.


Adinda mengambil foto dengan ponselnya kemudian mengirimkannya pada sang suami, namun tidak ada jaringan tersedia. Adinda hanya bisa membuang nafasnya.


Kendati rumah ini sangat nyaman, tapi ia merasa khawatir. Ada perasaan aneh mengganggu pikirannya.

__ADS_1


" Ah, mungkin hanya pikiranku saja ! " gumam Adinda lalu menutup jendela kamar tidur dan menutup gorden.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Zaid. Karena lapar, Adinda beranjak menuju dapur. Ia menemukan mie instan lalu mengambil telur dari dalam lemari es, kemudian ia memasaknya.


" Hem... Kalau Mas Zaid tahu, pasti ngambek " ucap Adinda sambil tersenyum, bersiap menikmati sepiring mie goreng plus telur.


Adinda telah selesai makan, ia menuju tempat tidur. Kemudian ia melabuhkan tubuhnya yang terasa pegal. Adinda mengelus perutnya yang terasa sedikit sakit


" Sabar ya, nak. Ayah pasti segera jemput kita pulang " ucap Adinda sembari terus mengelus perutnya.


Baru saja Adinda memejamkan matanya, terdengar suara jendela diketuk dari luar. Adinda kembali membuka matanya, merasa was was ia mengambil sapu yang ada di balik pintu kemudian menyingkap gorden.


" Kak Adrian ? Ngapain kakak kesini ? " tanya Adinda membulatkan matanya saat melihat sosok yang ia kenal.


" Sstt ! " Adrian menempelkan telunjuk di depan bibirnya agar Adinda tidak mengeluarkan suara.


" Ada apa Kak ? " tanya Adinda setengah berbisik.


" Kita harus secepatnya pergi dari sini ! " jawab Adrian sambil melihat sekeliling.


" Engga Kak... Mas Zaid nanti mau jemput Dinda. Dinda tungguin Mas Zaid aja !" tolak Adinda.


" Dinda apapun yang mereka katakan itu bohong. Kapten Zaid tidak pernah meminta mereka menjemputmu tadi. Aku yang diminta Kapten Zaid untuk menjemputmu. Mereka justru berniat menculikmu dan menempatkanmu disini. Aku tadi memanggilmu, tapi kamu sudah naik bersama mereka " jelas Adrian.


" Engga, Kak Adrian bohong ! " sentak Adinda sambil melangkah mundur menjauhi jendela.


Adrian masuk ke dalam kamar melalui jendela.


" Dinda, percaya sama aku. Aku tidak akan mencelakakanmu. Kapten Zaid memintaku menjagamu sementara ia menghadapi mereka. Ayo Dinda, kita pergi dari sini. Waktu kita tidak banyak, ada bom yang terpasang disekeliling rumah ini dan akan segera meledak " akhirnya Adrian berterus terang pada Adinda tentang kondisi yang sebenarnya.


" Apa ? A...ada bom " ucap Adinda tak percaya. Ia lalu terduduk di ujung tempat tidur.


" Ayo, Dinda kita harus segera keluar dari sini " ajak Adrian.


Adinda segera bangkit lalu mengikuti Adrian yang berjalan menuju jendela. Adrian telah keluar dari jendela, namun Adinda enggan untuk mengikutinya.


" Ayo, Dinda ! Nanti mereka datang ! " seru Adrian bersiap memegang Adinda dari luar jendela.


Adinda mencebik, wajah cantiknya merengut.


" Ck... Gimana lewatnya Kak ? Perut Adinda segede gini " ucap Adinda kesal sambil menunjuk perutnya yang besar.

__ADS_1


__ADS_2