
Alesha dan Indira begitu antusias menaiki beberapa wahana permainan yang ada di pasar malam. Lain halnya dengan Evan yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
Bagas memperhatikan sang kakak yang tengah sibuk membalas chat di ponselnya.
" Chat dari siapa sih Bang ? Kayaknya penting banget sampe gak berhenti nengokin hp " selidik Bagas.
" Chatan sama temen " jawab Evan singkat, lalu kembali asyik dengan ponselnya.
Evan melirik Bagas lalu kembali menatap ponselnya. Bagas sempat mengintip layar ponsel milik Evan. Ia bisa melihat sekilas nama Freya pada ponsel Evan.
Freya ? Perasaan pernah denger nama itu ? Tapi siapa ya ?
Bagas sibuk memikirkan sosok Freya yang ada di ponsel Evan.
" Eh, Abang... Beliin Dira permen kapas dong ! " rengek Indira pada Bagas.
" Udah naik kincirnya ? " tanya Bagas.
Gadis cantik itu mengangguk,
" Tapi Kak Lesha mau naik lagi tuh. Abang temenin deh ! " seru Indira pada Bagas.
" Kamu mau naik kincir lagi, Les ? " tanya Bagas.
" Iya, tapi Dira gak mau nemenin nih " jawab Alesha.
" Ya udah ditemenin Bang Evan aja ! " ucap Bagas sambil melirik Evan.
" Kamu aja, Gas ! Biar Abang temenin Dira beli permen kapas " seru Evan sambil meraih tangan Indira lalu membawa gadis kecil itu pergi.
" Lah, kok malah Bagas sih " ucap Bagas sambil mengacak rambutnya.
" Jadi Bagas gak mau temenin Lesha nih ? " rajuk Alesha mengerucutkan bibirnya.
" Aih... Iya, iya... Bagas temenin deh. Ayo ! " ajak Bagas sambil meraih jemari tangan Alesha.
Deg... Deg...
Jantung keduanya berdetak kencang saat tangan mereka menyatu.
" Eh, sorry Les " ucap Bagas segera melepas pegangan tangannya.
__ADS_1
Ya ampun... Nih tangan maen nyosor aja lagi ! Bagas merutuki dirinya sendiri.
" Gak apa-apa, Gas " ucap Alesha sambil tersenyum menutupi rasa di hatinya.
Kok jadi deg degan di deket Bagas ya ?
Alesha dan Bagas masuk ke dalam kincir kemudian kincir pun berputar. Mereka berdua menikmati pemandangan dari atas kincir. Hingga akhirnya kincir berhenti saat mereka ada di puncak.
Alesha memperhatikan sekeliling, merasa kagum dengan pemandangan yang dilihatnya dari atas sana. Lampu warna-warni yang gemerlapan serta bintang-bintang yang berkilauan terhampar di gelapnya langit malam.
" Bagus ya Gas, pemandangannya dari atas sini " ucap Alesha sambil terus memandangi langit dan suasana di bawah.
" Iya, cantik ... " gumam Bagas sambil terus menatapi gadis cantik yang duduk di depannya itu.
" Eh, apa Gas ? " tanya Alesha mengalihkan pandangan matanya pada Bagas yang masih asyik menatapnya hingga pandangan keduanya beradu.
Deg... Deg... Deg...
Jantung keduanya berpacu dengan kuat, sesaat mereka larut dalam perasaan masing-masing hingga kemudian kincir bergerak kembali membuat keduanya saling mengalihkan pandangan.
Aku kenapa sih ? Kenapa jadi grogi ya deket sama Bagas ?
Ah, Lesha... Andai saja kamu itu tercipta untukku !
Bagas dan Alesha pun segera turun, kemudian mencari keberadaan Evan dan Indira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Adinda dan Zaid berada di atas peraduannya. Adinda menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang, sementara Zaid berbaring di paha sang istri.
" Mas... Kalau Alesha gak berjodoh sama Evan gimana ? " tanya Adinda sambil membelai rambut sang suami.
" Maksudnya gimana sayang ? " tanya Zaid sambil memejamkan matanya.
" Kalau ternyata Evan itu bukan jodohnya Alesha, apa Kak Adrian bisa terima " ucap Adinda sambil menatap wajah suaminya.
Zaid membuka matanya kemudian menatap mata sang istri dengan tatapan lembut. Zaid kemudian bangun dan ikut bersandar pada head board ranjang seperti halnya sang istri.
" Kalau Evan memang bukan jodohnya Alesha, tidak ada yang bisa kita lakukan sayang... Lagipula jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan. Walaupun kita memaksa, tapi jika memang bukan jodoh kita, kita bisa apa... Mas yakin Adrian dan Gea akan mengerti jika itu terjadi. Memangnya kenapa sih ? Kamu kayak orang bingung gitu " ucap Zaid.
Adinda menggelengkan kepalanya... Ia enggan memberitahukan kepada Zaid, masalah yang dihadapi anak-anaknya.
__ADS_1
" Dinda, sayang... Kamu mikirin apa ? " tanya Zaid sambil meraih dagu sang istri.
Adinda menghela nafasnya panjang.
" Ini tentang anak-anak, Mas " ucap Adinda pada sang suami.
" Memang kenapa sama anak-anak sayang ? tanya Zaid bingung. Zaid merasa tidak ada yang salah dengan anak-anak mereka.
" Evan... Dinda juga gak tahu pasti sih Mas. Tapi kayaknya Evan menyukai orang lain " jawab Adinda.
" Masa sih ? Kalau Mas perhatiin kayaknya Evan suka sama Alesha, buktinya dia gak nolak perjodohan ini kan. Kalau dia gak suka, pastinya sudah lama dia tolak. Kamu terlalu berlebihan, jangan mikir yang enggak enggak " sahut Zaid.
" Bukan cuma itu, Mas. Bagas... Sebenarnya Bagas juga mencintai Alesha " tambah Adinda sambil menghembuskan nafasnya.
Zaid menaikkan sebelah alisnya,
" Bukannya kemarin dia bilang gak ada perasaan apapun sama Alesha " ucap Zaid seolah tak percaya dengan apa yang Adinda katakan.
" Nah itu dia... Dinda tahu kalau Bagas itu bohong. Dia melakukan itu karena menghargai perjodohan antara Evan dan Alesha. Bagas rela mengorbankan perasaannya demi melihat Alesha bahagia dengan Evan. Tapi justru Evan yang menyakiti perasaan Alesha " jelas Adinda.
" Maksudnya gimana, sayang ? " tanya Zaid mengernyitkan keningnya.
" Tadi, waktu Dinda pergi sama Alesha ke Supermarket, Dinda lihat Evan sama perempuan di toko buku. Dinda bisa lihat kalau Evan menyukai perempuan itu. Sorot matanya berbeda saat Evan bersama dengan Lesha. Dinda juga yakin kalau Alesha melihatnya, meskipun dia gak cerita apapun sama Dinda " jawab Adinda panjang.
Zaid terlihat menarik nafas panjang lqlu oerlahan menghembuskannya..
" Jadi mau kamu sekarang gimana ? Mau batalin perjodohan ini ? " tanya Zaid menatap sang istri.
Adinda memijat pelipisnya, ia juga bingung harus bersikap seperti apa. Ia tidak mau anak-anaknya terluka ataupun melukai orang lain.
" Dinda bingung, Mas ! Kalau aja Alesha memiliki perasaan yang sama pada Bagas. Lebih baik Bagas saja yang menggantikan Evan untuk dijodohkan dengan Alesha. Toh sama saja, mau Evan atau Bagas yang berjodoh dengan Alesha tetap kita akan berbesanan dengan Kak Adrian dan Kak Gea. Sayangnya... Alesha mencintai Evan " Adinda mengusap wajahnya sambil membuang nafas.
Zaid meraih sang istri ke dalam pelukannya.
" Kita harus gimana, Mas ? Dinda gak mau salah satu dari mereka terluka ! " ucap Adinda lirih sambil membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Zaid mengusap punggung Adinda, ia mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembutnya. Memberikan ketenangan dan kenyamanan pada sang istri yang dirundung kegelisahan.
Zaid mengelus punggung sang istri, kemudian tangannya bergerak membelai rambut Adinda dan bergerak menjalar ke bagian lainnya.
" Mas ... Apa sih ? Kondisikan tangannya kemana-mana deh " cebik Adinda sambil melepaskan diri dari pelukan Zaid.
__ADS_1
" Sini, Mas kasih obat dulu biar kamu tenang ! " ucap Zaid mengecupi wajah sang istri lalu ******* bibirnya.
Tuh kan, kebiasaan ! Kalau udah gini bablas deh🤣🤣 Ya sudahlah... Diobatin dulu aja gundahnya Adinda sama yang enak-enak ya Zaid, biar mikirnya juga enak 🤭