
Zaid kembali memasuki kamarnya dengan pakaian dinas lengkap. Sementara pistolnya ia selipkan di pinggang. Ia melihat Adinda masih memejamkan matanya.
Dihampirinya sang istri, lalu dikecupnya kening Adinda dengan penuh cinta.
" Sayang... Maaf Mas harus pergi dulu, Mas akan segera kembali. Maaf jika keputusan Mas ini membuatmu kecewa. Tapi percayalah ini semua, Mas lakukan untuk kebaikan kita semua " ucap Zaid sambil membelai rambut milik Adinda.
Zaid menelisik wajah sang istri yang nampak lelah dengan mata yang sembab. Zaid kemudian beralih mencium perut Adinda.
" Doain ayah ya sayang... Ayah tidak akan lama. Ayah pasti akan segera kembali " ucap Zaid mengelus perut Adinda.
Zaid melepaskan tangan darinperut Adinda namun tangan sang istri mencegahnya. Tak lama, Adinda membuka matanya. Ia melihat sang suami yang sudah siap di hadapannya. Adinda kemudian berusaha bangkit, Zaid membantu sang istri untuk duduk. Ia tahu, pasti Adinda kesulitan bergerak terlebih lagi dengan perutnya yang membesar seperti sekarang.
Adinda memeluk Zaid saat sang suami membantunya untuk bangun.
" Maafin Dinda, Mas... Dinda cuma takut kehilangan Mas Zaid lagi " ucap Adinda dengan tetap memeluk Zaid.
Zaid membelai rambut sang istri dengan lembut.
" Mas tahu " ucap Zaid.
" Mas hati-hati ya ! Janji sama Dinda kalau Mas akan kembali " pinta Adinda.
" Iya, Mas janji. Mas akan kembali lagi, kali ini tidak perlu waktu lama Mas secepatnya akan kembali " jawab Zaid.
" Dinda pegang janji Mas Zaid... " ucap Adinda sambil melepaskan pelukannya.
Zaid tersenyum dengan sikap sang istri, tak lama Zaid mencuri ciuman di pipi dan bibir sang istri.
" Mas harus pergi sekarang. Doain Mas selamat dan secepatnya kembali " seru Zaid lalu beranjak dan meninggalkan kamar diikuti oleh Adinda yang mengantarkannya hingga depan pintu.
...****************...
__ADS_1
Zaid, Arjuna dan sepuluh anggota tim delta telah bersiap menyergap sebuah gudang tua yang berada di pinggiran kota. Nampak penjagaan ketat di sekitar gudang tersebut.
Zaid membagi tim menjadi 2 bagian. Zaid menyerang dari bagian depan gudang, sementara Arjuna menunggu di bagian belakang gudang. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi jika ada yang melarikan diri melalui pintu belakang gudang.
Tambahan personel juga didapat dari Farhan yang mengerahkan 4 pengawalnya sebagai sniper untuk melindungi tim Zaid dan Arjuna.
Zaid dan personelnya mulai bergerak dalam senyap. Mereka masuk dari sisi kanan dan kiri gudang. Satu persatu penjaga gudang yang bersenjata lengkap itu berhasil dilumpuhkan. Bak film-film Hollywood mereka berhasil melumpuhkan musuh tanpa ada keributan. Setelah pintu masuk berhasil dikuasai, Zaid masuk ke dalam gudang bersama sebagian anggotanya, sementara yang lain mengawasi di depan pintu masuk gudang.
Terlihat 4 orang sedang duduk sambil bermain kartu dan minum minuman keras, sementara ada sekitar 6 orang yang berada di atas gudang berjaga-jaga mengantisipasi serangan mendadak.
Zaid memerintahkan anak buahnya mengenakan masker sebelum ia melemparkan bom asap ke arah mereka.
Asap sudah memenuhi gudang, para penjahat itu pun langsung kalang kabut. Ada beberapa orang yang sigap memakai masker kemudian bersiap melakukan perlawanan dengan menembakkan peluru ke arah Zaid dan anggotanya.
Zaid bersembunyi di belakang drum bekas. Ia melihat pergerakan lawan lalu menembak ke arah mereka, satu orang berhasil Zaid lumpuhkan.
Sementara anggota tim yang lain menyerang musuh yang berada di atas gudang. Suara tembakan saling bersahutan di dalam gudang.
" Kapten... Semua tempat sudah clear. Tidak ada yang tersisa. Mereka sudah tertangkap dan dikumpulkan di belakang gudang " lapor seorang anggota tim delta pada Zaid.
" Bagus, sekarang kita keluar dari gudang ini ! " seru Zaid lalu berjalan menuju pintu belakang gudang.
Zaid menginterogasi para penjahat yang berhasil dibekuk oleh timnya. Namun ia tak mendapatkan titik terang mengenai pimpinan kelompok itu. Mereka hanya mengatakan pemimpin mereka adalah Shadow Mask, karena selalu menggunakan masker saat bertemu dengan mereka.
" Katakan, siapa pimpinan kalian. Maka saya pastikan hukuman yang kalian terima tidak akan berat " ucap Zaid sambil mengelilingi mereka.
" Maaf Pak, kami tidak tahu... " ucap mereka.
" Jika kalian ternyata berbohong, hukuman kalian jauh lebih berat lagi karena selain kalian melakukan tindak kejahatan, kalian juga menyembunyikan pelaku sebenarnya " tambah Arjuna.
Hening, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Zaid menghela nafas, hingga akhirnya ponsel milik seorang kawanan penjahat itu berdering.
__ADS_1
Zaid mengambil ponsel yang berdering. Melihat di layar ponsel tersebut sebuah nama Big Bos.
Zaid menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
" Wah... wah... wah... Kapten Zaid, rupanya anda masih hidup. Sepertinya cadangan nyawa anda begitu banyak ! " ucapnya dari balik telepon sambil tertawa.
" Siapa kau ? Apa yang kau inginkan ? " gertak Zaid.
" Aku ? Ha...ha...ha... Kamu tidak perlu mengenalku, cukup aku saja yang mengenalmu " jawabnya lagi dengan pongah.
" Rupanya anda seorang pengecut... Tidak berani menghadapi langsung hanya memperalat cecunguk-cecunguk untuk melakukan kejahatan anda selama ini " balas Zaid sengit.
" Ya, tentu saja. Untuk apa mengotori tanganku sendiri jika ada yang bersedia melakukannya untukku " sahutnya sombong.
" Hah, pengecut tetaplah pengecut. Kalau kau berani langsung hadapi aku ! " timpal Zaid mengobarkan peperangan.
" Tentu saja, aku akan dengan senang hati menghadapimu dan aku sendiri yang akan membuatmu mati ! Kau tunggu saja pembalasan dariku " ucapnya lalu menutup panggilan.
Arjuna yang paham jika Zaid sedang mengulur waktu untuk mencari asal panggilan tersebut segera menghubungi Farhan untuk melacaknya. Dengan kemampuan IT yang dimiliki oleh Farhan tak butuh waktu lama, segera mendapatkan koordinat lokasi si penelpon tadi. Farhan segera memberitahu tempat dimana si penelpon berada pada Zaid. Dan setelah mendapatkan lokasinya, Zaid mengirimkan tim yang lain untuk bergerak sementara ia segera menyusul.
" Gawat, Bos ! Alarm sinyal darurat telah berbunyi pertanda tempat kita telah dikepung " lapor anak buahnya.
Lelaki paruh baya itu menggertakkan giginya lalu memukul meja di depannya hingga pecahan kaca berhamburan di lantai.
" Sial... Rupanya dia pintar juga ! " ucapnya kesal tak peduli jika darah mengucur di jemarinya.
" Siapkan helikopter, segera kita tinggalkan tempat ini. Dan hancurkan tempat ini setelah kita mengudara " titahnya yang langsung dituruti oleh anak buah kepercayaannya.
Helikopter telah siap diterbangkan, tak lama setelah sang bos besar masuk ke dalamnya helikopter pun lepas landas. Setelah berada di ketinggian yang aman, ia menekan tombol untuk mengaktifkan bom yang berada di sekeliling bangunan. Dan tak lama kemudian sebuah ledakan besar meluluh lantakkan tempat itu.
" Kita akan segera bertemu, Kapten Zaid. Aku akan menantikan saat itu. Hari dimana dendamku akan terbalaskan ! " gumamnya dengan seringai licik di bibirnya.
__ADS_1