
Sebelum pulang, Evan menyempatkan diri untuk menemui Reksa di ruang rawatnya. Evan membuka pintu, namun ia tak melihat Reksa di ruangan itu. Ia berjalan menuju kamar mandi berharap gadis cantik itu berada disana. Tapi nihil, ternyata Reksa tak juga berada disana.
" Kamu dimana Reksa ? Apa yang harus aku katakan pada Bunda " gumam Evan sambil menghembus nafasnya.
Evan benar-benar merasa bersalah kepada Reksa. Andai saja ia memiliki mesin waktu, tentu ia akan memutar waktu mencegah Reksa untuk datang ke Rumah Sakit.
Evan kembali berjalan menuju pintu, namun pintu segera terbuka dan menampakkan wajah gadis yang sedari tadi dicarinya. Evan segera menghampiri Reksa kemudian memeluk gadis itu.
" Mas Evan... " ucap Reksa terkejut karena Evan tiba-tiba memeluknya.
" Reksa... Ayo kita pulang ! " seru Evan sambil melepaskan pelukannya namun matanya tertuju pada wajah sendu Reksa.
Reksa menggeleng pelan,
" Gak bisa, Mas... Reksa harus bertanggung jawab. Ayah sudah menerima uang dari Tuan Lukman, jadi mau tidak mau... "
" Aku akan mengganti uang yang sudah Tuan Lukman keluarkan. Selagi belum terlambat, kita bisa pergi dari sini " potong Evan.
" Tidak Mas... Bukan hanya karena uang. Setelah mengetahui masalah yang dihadapi Tuan Lukman, aku ingin membantunya agar ia bisa sembuh dan menemukan anaknya lagi " tukas Reksa.
" Tapi bisa saja nanti kesehatan kamu yang bermasalah " sahut Evan khawatir.
" Reksa baik-baik saja. Lagi pula, hasil medical check up tidak ada masalah " ucap Reksa.
" Tapi... "
" Mas... Mengapa Mas Evan khawatir sama Reksa ? Maaf kalau Reksa lancang menanyakan hal ini. Reksa itu hanya orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupan Mas Evan dan keluarga. Reksa bukan siapa-siapa... Jadi Mas Evan jangan terlalu berlebihan... "
" Berlebihan kamu bilang ? Memangnya salah kalau aku berlebihan mengkhawatirkan kamu ? Bunda dan semua yang ada di rumah menyayangi kamu, Reksa. Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap kamu " nada suara Evan mulai meninggi.
Reksa terdiam mendengar ucapan Evan.
" Maafin Reksa, Mas... Maaf kalau Reksa tidak tahu cara berterima kasih pada keluarga Mas Evan. Tapi Reksa ini bukan siapa-siapa... "
" Cukup Reksa ! Berhenti mengatakan jika dirimu bukanlah siapa-siapa ! " seru Evan.
" Itu kenyataan, Mas. Reksa memang bukan siapa-siapa... "
" Reksa, kamu orang yang paling berharga untukku. Dan aku tidak ingin sesuatu terjadi pada orang yang aku sayangi " ucap Evan jujur.
__ADS_1
Reksa terhenyak mendengar ucapan yang keluar dari bibir pria tampan di hadapannya. Pria yang sudah ia kagumi semenjak pertama kali bertemu, meski dalam keadaan tak baik.
" Ma... Maksud Mas Evan apa ? " tanya Reksa dengan nada suara bergetar.
Evan kembali meraih Reksa ke dalam pelukannya.
" Aku harus mengakui satu hal, aku mencintai kamu, Reksa... Aku tidak tahu sejak kapan rasa itu tumbuh. Tapi nyatanya rasa itu ada dan berkembang dalam hati ini. Reksa... Aku akan melindungi kamu. Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu " aku Evan.
Reksa terpaku dalam pelukan Evan. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia begitu terharu mendengar pengakuan dari Evan.
" Ayo, kita temui Tuan Lukman. Aku akan membatalkan proses pendonoran ginjalmu dan akan mengganti kerugian yang telah ia keluarkan"
ajak Evan kepada Reksa. Sebelumnya, ia menyeka air mata di pipi Reksa.
Mereka berdua menuju ruang rawat Tuan Lukman yang berada di sebelah ruang rawat Reksa.
Tuan Lukman nampak duduk bersandar di ranjangnya. Ia menyambut kedatangan Reksa dan Evan dengan senyuman samar.
Sepertinya aku tidak perlu melakukan apapun untuk membuat mereka mengakui perasaan mereka
Evan dan Reksa sedikit membungkukkan badannya saat berada di depan Tuan Lukman.
Evan menggenggam jemari tangan Reksa dengan erat. Sementara Reksa pun menautkan jemarinya dengan kuat.
" Mohon maaf Tuan Lukman, saya mohon agar anda bersedia membatalkan rencana anda untuk transplantasi ginjal milik Reksa " ucap Evan langsung pada inti masalah.
Sebelah alis Tuan Lukman terangkat, ia menatap Evan dan Reksa silih berganti.
" Apa maksud ucapan anda, dokter ? "
" Saya tahu anda sudah mengeluarkan uang banyak untuk operasi ini. Tapi saya akan mengganti kerugian anda " jawab Evan.
" Memangnya anda siapanya Reksa sampai berani menghentikan proses penyembuhan saya ? " tukas Tuan Lukman.
" Saya calon suaminya " tegas Evan.
Tuan Lukman menyeringai,
" Sepertinya anda lupa, jika tadi siang anda mengatakan bahwa anda mengatakan itu hanya karena ingin melindunginya " sanggah Tuan Lukman dengan senyum mengejek.
__ADS_1
" Saya memang ingin melindungi Reksa, tapi saya juga harus mengakui jika saya memang mencintai Reksa dan saya akan benar-benar menjadikan Reksa istri saya "
" Benarkah ? Anda begitu percaya diri, dokter. Apakah kamu juga mencintainya, nak ? Bukankah kamu juga mengatakan jika kamu tidak pantas untuknya ? " Tuan Lukman kini melayangkan pertanyaan kepada Reksa.
Reksa hanya bisa meremas pakaian yang dikenakannya tanpa mengatakan apa-apa.
Ya, memang benar jika Reksa merasa tidak pantas untuk Evan.
" Saya yang berhak menentukan siapa wanita yang pantas untuk mendampingi saya. Dan saya yakin Reksalah yang saya inginkan untuk mendampingi saya " jawab Evan dengan tegas.
" Baiklah jika kamu memang menginginkannya untuk menjadi istrimu. Tapi saya juga menginginkannya " ucap Tuan Lukman yang langsung membuat Evan geram.
" Bukankah sudah saya katakan jika saya akan mengganti rugi atas semua yang sudah anda keluarkan " ucap Evan menahan kekesalannya.
" Apakah kamu bisa mengganti waktu saya yang hilang agar bisa bersama putri saya ? "
" Jangan libatkan Reksa dalam hal ini. Reksa tidak tahu apapun " jawab Evan.
" Sayangnya, dia sudah terlibat. Dan anda tidak bisa melakukan apapun " balas Tuan Lukman.
Evan mengepalkan tangannya. Jika saja pria di hadapannya ini bukanlah seorang yang sakit-sakitan tentunya ia tidak akan sungkan untuk memukul pria egois itu.
" Ayo, Reksa kita pergi dari sini ! " seru Evan sambil menarik tangan Reksa.
" Anda tidak bisa membawanya pergi, dokter Evan. Tidak tanpa seijin saya " seru Tuan Lukman sambil bergerak menuruni ranjangnya.
Bahkan Tuan Lukman kini sudah berjalan menghampiri Evan dan Reksa. Tuan Lukman memegang tangan Reksa dengan lembut.
" Lepaskan tangan anda dari calon istri saya. Jangan pernah memaksa saya untuk berbuat kasar kepada anda, Tuan ! " ancam Evan.
" Saya sudah menemukannya jadi saya tidak akan pernah melepaskannya karena saya tidak ingin kehilangannya lagi " Tuan Lukman menyahut ucapan Evan tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Reksa.
" Tuan... Tolong lepaskan saya ! " mohon Reksa.
" Tidak... Saya tidak akan pernah melepaskanmu karen kamu adalah putri kandungku... Kamu adalah putriku yang hilang " ucap Tuan Lukman memandang Reksa dengan tatapan penuh rindu.
...****************...
Tinggal beberapa part menuju end ya bestie ! Tungguin terus lanjutannya, jangan lupa mampir juga di cerita Kyra dan Om Doteng ya ! Author tungguin lho 😊😘😘
__ADS_1