Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 46


__ADS_3

Arif sudah melajukan kendaraan meninggalakan vila. Adinda kini lebih memilih duduk di kursi belakang, mungkin karena ia merasa lebih leluasa duduk di belakang yang lega atau lebih leluasa untuk menumpahkan air matanya kembali.


Arif menyalakan musik, kebetulan lagu yang diputar adalah lagu dari Mahalini yang berjudul Sisa Rasa. Mendengar lagu itu membuat Adinda kembali meneteskan air matanya, seolah lagu itu merupakan curahan hatinya.


Melihat Adinda mengeluarkan air mata kembali, membuat Arif bermaksud mematikan pemutar musik. Akan tetapi, dilarang oleh Adinda.


" Puter aja terus, Mas. Gak perlu dimatiin... Dinda baik-baik aja " ucap Dinda lirih menahan perih di hatinya


...Melihatmu bahagia satu hal yang terindah...


...Anugrah terindah yang ku punya...


...Kau buatku percaya ketulusan cinta...


...Seakan kisah sempurna kan tiba...


...Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat...


...Seakan semua tak mungkin menghilang...


...Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan...


...Tak tersisa lagi waktu bersama...


...Mengapa masih ada sisa rasa di dada...


...Di saat kau pergi begitu saja...


...Mampukah ku bertahan...


...Tanpa hadirmu sayang...


...Tuhan sampaikan rindu untuknya...


^^^(Sisa Rasa by Mahalini)^^^


Adinda menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia menyandarkan kepala pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya hingga akhirnya ia terlelap.


Mereka tiba di kediaman Zaid saat hari sudah berganti malam. Arif yang melihat Adinda tertidur lelap tak tega membangunkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Adinda menuju kamarnya.


Arif membaringkan Adinda di atas tempat tidur, kemudian menyelimutinya. Ia menatapi wajah cantik yang penuh kesedihan itu kemudian mencium kening Adinda.

__ADS_1


Tak lupa ia pun mencium dan mengelus perut milik Adinda, memberikan sentuhan kepada sang anak yang telah lama dirindukannya. Kemudian ia bergegas keluar dari kamar Adinda sebelum ada orang yang melihatnya.


Arif menutup pintu kamar Adinda, namun ia dikejutkan oleh kehadiran Bu Sandra yang sudah berada tepat di belakangnya dengan tangan melipat di depan dadanya.


" Apa yang sudah kamu lakukan pada menantu saya ? Beraninya kamu melakukan hal seperti tadi. Lancang sekali kamu ! " gertak Bu Sandra.


Wajah Arif memias, ia tak menyangka jika sang ibu melihat apa yang ia lakukan pada Adinda.


" Maaf, Bu... Saya... " Arif menundukkan wajahnya.


Dengan menahan amarah, Bu Sandra melangkahkan kakinya menuju kamar Arif. Sementara Arif berjalan mengikuti.


Bu Sandra mengeluarkan barang-barang Arif yang ada di dalam lemari dengan penuh emosi.


" Mulai sekarang, kamu saya pecat. Saya tidak perlu orang kurang ajar untuk bekerja di rumah ini . Jangan mentang-mentang kamu teman Arjuna jadi kamu tidak tahu batasan " cecar Bu Sandra.


" Maafkan saya Bu, tolong jangan pecat saya " mohon Arif sambil berlutut di hadapan Bu Sandra yang tengah dilanda amarah.


" Tidak perlu pura-pura di hadapan saya... " ucap Bu Sandra ketus tanpa menatap Arif. Ia masih sibuk mengeluarkan isi lemari Arif sampai akhirnya tanpa sengaja sebuah cincin menggelinding di lantai akibat terjatuh dari tempatnya yang diobrak-abrik oleh Bu Sandra.


Tring... tring... Cincin itu jatuh tepat di bawah kaki Bu Sandra.


Melihat ada benda berkilau di bawah kakinya, spontan Bu Sandra mengambil benda tersebut. Ia begitu terkejut saat melihat cincin itu, cincin pernikahan Zaid. Ia begitu mengenalnya karena ia sendiri yang memilihkan cincin itu. Cincin dengan ukiran huruf Z dan A.


" Me... Mengapa kamu bisa memiliki cincin ini ? Cepat katakan ! " pekik Bu Sandra dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.


" Itu... " Arif tidak meneruskan ucapannya. Ia semakin menundukkan wajahnya.


" Katakan ! Siapa kamu sebenarnya ? Mengapa cincin milik Zaid ada padamu ? " tanya Bu Sandra dengan nada bergetar, kali ini ia berjalan menghampiri Arif.


Ia mensejajarkan diri dengan Arif yang tengah menunduk.


" Katakan siapa kamu sebenarnya ? Ibu mohon jujurlah ! " ucap Bu Sandra dengan tersedu, suaranya sedikit merendah.


" Maafkan Zaid, Bu... ! " ucap Zaid sambil menatapi sang ibu yang nampak tak percaya.


Zaid membuka topeng yang melekat di wajahnya, sepersekian detik kemudian sang ibu memeluknya dengan pilu.


" Allohu akbar... Zaid... Akhirnya kamu kembali, nak ! " ucap sang ibu diiringi tangisan bahagia yang tak lagi bisa dibendungnya.


Sang ibu menciumi kepala Zaid dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Alhamdulillah ya Alloh... Akhirnya anakku kembali " ucap Bu Sandra penuh rasa syukur.


Zaid memeluk sang ibu penuh keharuan. Akhirnya ia tak lagi harus menjadi Arif di depan sang ibu.


Setelah saling berpelukan melepas kerinduan, Bu Sandra melepas pelukannya.


" Ayo, nak... Kita temui istri kamu. Dia pasti bahagia melihat kamu disini ! Dinda sangat mengharapkan kamu kembali " tambah sang ibu sambil berdiri.


Zaid menggelengkan kepala, ia menolak keinginan sang ibu.


" Sebaiknya Dinda tidak perlu tahu dulu Bu. Zaid khawatir Dinda dan ibu berada dalam bahaya jika mereka mengetahui Zaid masih hidup " jelas Zaid.


" Mereka siapa ? Orang yang sudah mencelakakanmu nak ? " tanya Bu Sandra penasaran.


" Iya Bu... Kami sedang menyelidikinya dan akan segera meringkus mereka " jawab Zaid.


" Lalu Arjuna ? Jadi dia sudah tahu jika kamu adalah Arif ? " tebak Bu Sandra.


" Iya, bu. Waktu itu sebenarnya Juna, Farhan dan Pertiwi sudah menemukan Zaid. Mereka semula membawa Zaid ke vila, kemudian pindah ke apartemen Farhan untuk pengobatan dan penyembuhan Zaid. Setelah sehat kembali, Juna membawa Zaid kembali ke rumah ini sebagai Arif... Maafkan Zaid karena sudah membohongi ibu dan Adinda " jelas Zaid sambil menciumi tangan sang ibu.


Prang... Terdengar suara pecahan gelas dari arah luar kamar. Spontan Zaid dan Bu Sandra menoleh ke arah pintu. Nampaklah Adinda yang sudah berdiri disana dengan air mata membasahi wajahnya.


" Dinda... " ucap Zaid dan Bu Sandra bersamaan.


.


" Mas Zaid... " ucap Adinda dengan nada bergetar.


Zaid segera berlari menghampiri sang istri yang diam memaku. Zaid segera memeluk Adinda dengan erat. Ia tak peduli jika di lantai terdapat banyak pecahan gelas.


" Mas Zaid... Jahat... Ja hat... " ucap Adinda sambil memukul-mukul sang suami. Air mata tak henti menetes dari sudut matanya.


" Maafin Mas, Dinda... Maaf sudah membuat kamu terluka... Maaf sudah membuatmu khawatir... Maaf sudah membohongimu " ucap Zaid semakin mengeratkan pelukannya.


" Kenapa Mas ? Kenapa bohongin Dinda ? Kenapa Mas tega membuat Dinda menunggu selama ini ? Apa Mas tahu kalau Dinda kangen ? Dinda takut kehilangan Mas Zaid... " Dinda kini membenamkan wajahnya ke dada sang suami, menumpahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya.


" Iya... Mas tahu. Maafkan Mas ya ! " ucap Zaid lembut lalu mengecup pucuk kepala sang istri.


" Mas... Jangan tinggalin Dinda lagi ! " seru Adinda, mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan sang suami yang sangat ia rindukan.


Zaid menghapus air mata yang masih tersisa di wajah cantik Adinda. Zaid tersenyum kemudian mengecup pipi sang istri.

__ADS_1


" Mas akan selalu bersamamu... Sampai akhir usia kita nanti, kita akan selalu bersama ! " ucap Zaid penuh kasih. Lalu menautkan bibirnya di bibir sang istri yang begitu menggoda.


__ADS_2