
Adinda kini telah berada di ruang perawatan, ia memeluk bayi tampan yang baru saja lahir ke dunia beberapa saat yang lalu. Sang suami dengan setia senantiasa berada di sisi sang istri.
Semua kejadian buruk yang dilakoni dalam kehidupan mereka seolah menguap begitu saja saat melihat bayi lucu nan menggemaskan itu hadir melengkapi kebahagiaan dalam hidup mereka.
Tak henti, Zaid mengucapkan syukur atas anugrah yang telah Tuhan karuniakan kepadanya.
Zaid mencium pucuk kepala sang istri kemudian beralih mencium sang anak yang anteng meminum asi dari sang ibu.
Zaid membantu Adinda menyamankan posisi duduknya. Dia selalu berusaha menjadi suami siaga untuk istri dan anaknya.
" Mana... Mana cucu ibu ? " tanya Bu Sandra begitu masuk ke ruangan Adinda. Pandangan matanya langsung mengarah pada sosok mungil yang berada dalam pelukan Adinda.
" Masyaa Alloh... Akhirnya kesampaian juga ibu nimang cucu " ucapnya sambil mengambil alih bayi imut itu dari tangan Adinda. Matanya mulai berembun saat menatap bayi tampan itu.
" Anak ganteng, cucu nenek... " ucapnya sambil menimang cucu pertamanya itu penuh kasih sayang.
" Selamat ya sayang ! Sekarang kamu sudah menjadi ibu. Terima kasih sudah menjadi menantu yang baik dan sudah memberikan cucu yang lucu ini " tambah Bu Sandra mencium pipi menantunya.
" Zaid ga dikasih selamat juga bu ? " tanya Zaid penuh harap.
" Selamat nak, kamu sekarang adalah seorang ayah. Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan tak terkira di sisa umur ibu. Jadilah orang tua yang bisa menjadi teladan untuk anak-anak kalian serta bertanggung jawablah kepada keluargamu ! Semoga keluarga kalian selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan " doa Bu Sandra.
" Aamiin... " jawab Zaid dan Adinda serempak.
Tak lama kemudian, Bunda Lia, Kirana dan kedua anaknya datang bersama dengan Arjuna. Mereka pun sangat bahagia dan terpesona melihat bayi mungil yang rupawan itu.
Tiwi dan Farhan menyusul masuk ke dalam kamar Adinda dengan membawakan hadiah untuk keponakan mereka yang baru saja lahir. Semua anggota keluarga berkumpul di kamar Adinda menyambut anggota baru dalam keluarga mereka.
Zaid memilih untuk keluar dari ruangan bersama Arjuna dan Farhan. Mereka membiarkan para wanita di dalam sana berebut menggendong Evano.
" Gimana operasinya Adrian ? " tanya Zaid pada Arjuna.
" Berjalan lancar, Adrian sedang dalam tahap pemulihan. Dia sudah melalui masa kritisnya, sekarang hanya tinggal menunggu ia sadar " jelas Arjuna.
" Entah bagaimana aku harus berterima kasih kepada Adrian. Seandainya saja Adrian tidak disana saat itu, mungkin Adinda yang sekarang masih belum sadar " lirih Zaid mengingat kembali saat Adrian dengan cekatan melindungi Adinda dari tembakan pamannya sendiri dan malah berujung dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Zaid mengusap wajahnya, sementara Farhan hanya mendengarkan kedua saudara iparnya tanpa ikut menimpali.
__ADS_1
" Aku harus melihat keadaan Adrian. Dia sudah banyak berkorban " ucap Zaid menatap lurus ke depan.
" Mungkin sebaiknya kamu ajak Dinda juga, Id ! Dia juga pasti ingin melihat keadaan Adrian " seru Arjuna.
Zaid mengangguk perlahan.
" Apa kabarnya calon papa yang satu ini. Maaf, kami sampai tidak menyadari kamu disini " ucap Arjuna melirik Farhan yang berada di belakang mereka.
Zaid ikut menatap Farhan yang kini menyunggingkan senyum sambil mengusap tengkuknya.
" Han... Tiwi gak ngidam yang aneh kan ? Kalau Dinda dulu gak aneh-aneh " ucap Zaid mengenang masa-masa kehamilan sang istri yang sering ia tinggalkan.
" Gak aneh karena lo banyakan pergi. Gue yang ketiban susah, karena istri lo itu minta ini itu sama gue " bantah Arjuna merasa kesal.
Zaid hanya terkekeh mendengar curhatan Arjuna.
" Tiwi gak minta yang aneh sih Bang, cuma tiap malem minta... " Farhan menjeda ucapannya.
" Minta apaan ? "
Arjuna dan Zaid kompak bertanya dengan saling memandang penuh rasa ingin tahu.
Zaid dan Arjuna tertawa lepas bersama sementara Farhan mendengus sebal karena menjadi bahan tertawaan saudara iparnya.
" Sabar, Han... Itulah seninya punya istri hamil " ucap Arjuna menepuk pundak Farhan.
" Itu wajar Han... Setiap perempuan hamil kan beda-beda ngidamnya. Kamu harus ingat, semua yang kamu lakukan saat ini, akan terbayarkan setelah melihat anak kalian lahir nanti " tambah Zaid menyemangati Farhan.
Obrolan mereka terhenti saat Pertiwi memanggil mereka untuk masuk ke dalam ruangan Adinda. Selagi berkumpul, mereka pun melakukan foto bersama secara dadakan.
...****************...
Zaid mendorong kursi roda yang dipakai Adinda menuju ruang perawatan Adrian. Setelah mengetahui kabar jika Adrian telah sadar, keduanya langsung pergi melihat keadaan Adrian. Setelah sebelumnya menitipkan Evano kepada sang ibu yang tengah menemani Adinda.
Zaid membuka pintu ruangan yang ditempati Adrian. Adrian yang sedang terbaring sendirian kemudian menolehkan wajah ke arah pintu.
Wajahnya terlihat sumringah saat melihat Zaid dan Adinda datang menjenguknya.
__ADS_1
Adinda telah sampai di samping brankar, ia melihat wajah pucat dan Adrian dengan infus dan transfusi darah di kedua tangannya.
" Kak Adrian... Maaf sudah membuat kakak terluka " ucap Adinda sedih melihat keadaan Adrian.
Zaid mengelus punggung sang istri, menenangkannya yang kini sudah tak lagi dapat menahan air matanya.
" Aku baik-baik saja, Dinda... " jawab Adrian dengan sudut bibir yang terangkat.
" Aku yang seharusnya meminta maaf... Karena ulah pamanku, hidup kalian jadi penuh masalah. Atas nama Om Tirta, aku meminta maaf ! " ucap Adrian lirih.
" Kamu tidak perlu meminta maaf... Yang penting semua telah berlalu. Kami datang untuk melihat keadaanmu. Secara khusus saya memgucapkan terima kasih sebesar-besarnya, karena kamu telah menjaga dan melindungi Adinda dengan segenap hati dan penuh tanggung jawab " ucap Zaid tulus.
"Jika ada yang kamu inginkan, katakan saja. Saya akan berusaha mengabulkannya " ucap Zaid.
Adrian nampak berpikir lama, lalu kemudian
" Bagaimana jika saya meminta sesuatu yang sangat berharga dan penting bagi anda. Apakah Kapten akan memberikannya ? " tanya Adrian penuh teka-teki sambil melihat ke arah Zaid.
Tangan Zaid memegang pegangan kursi roda. Ia berpikir jika mungkin Adrian masih menginginkan istrinya.
" Selama kamu tidak meminta istri saya, saya akan mengabulkan permintaanmu " ucap Zaid menatap tajam Adrian.
" Mas... " Adinda menatap Zaid yang kini memasang raut wajah waspada. Tangan Adinda terulur menyentuh tangan Zaid.
Adrian tersenyum samar,
" Anda tenang saja Kapten... Saya tidak akan merebut istri orang lain. Saya cukup tahu diri ! " ungkap Adrian sambil menatap Adinda.
" Lalu apa maumu ? " tanya Zaid menurunkan tensinya.
" Saya mau anda berjanji, menjodohkan anak kita nanti. Seperti halnya anda dan Adinda yang juga dijodohkan oleh orang tua kalian. Saya mungkin pernah berharap bisa menjadi orang tua sambung anak kalian kemarin, saya sadar itu tidak akan pernah terwujud. Tapi saya masih memiliki kesempatan untuk menjadi ayah mertua dari anak kalian " tutur Adrian penuh harap.
Zaid dan Adinda saling berpandangan, mereka menghela nafas kemudian menyetujui keinginan Adrian.
" Baiklah, aku setuju untuk menjodohkan anak kita nanti. Tapi... " Zaid menggantung ucapannya lalu melirik sang istri.
Adrian menatap Zaid dan Adinda penuh tanda tanya.
__ADS_1
" Tapi Kak Adrian nikah dulu. Gimana mau jodohin anak, kalau Kak Adrian aja belum punya anak " tambah Adinda mencairkan suasana yang tegang sebelumnya.