Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 23


__ADS_3

Zaid keluar dari ruang IGD untuk menemui Aldi dan Rian. Kaki panjangnya melangkah menuju kedua laki-laki yang telah membawa istrinya ke rumah sakit. Zaid menghentikan langkah saat telah berada di depan kedua teman istrinya itu.


" Saya ingin mengucapkan terima kasih karena kalian berdua telah membawa istri saya ke rumah sakit " ucap Zaid kepada Aldi dan Rian.


" Saya juga meminta maaf atas sikap saya sebelumnya kepada kalian berdua " tambah Zaid lagi.


Aldi dan Rian saling memandang satu sama lain.


" Adinda itu teman kami, sudah seharusnya kami menolong Adinda saat ia membutuhkan " ucap Rian.


" Terima kasih atas perhatian kalian. Adinda beruntung memiliki teman-teman seperti kalian " sahut Zaid.


" Kalau begitu saya permisi, saya harus menemani istri saya di dalam " ucap Zaid sambil beranjak.


" Tunggu Kak... " Aldi menahan langkah Zaid.


" Saya... Saya mau minta maaf karena sudah mengatakan bahwa saya menyukai Adinda. Tidak seharusnya saya mengatakan itu jika saja saya tahu jika Adinda sebenarnya telah menikah, saya... "


Zaid menyunggingkan senyum.


" Tidak apa, saya mengerti kondisinya. Saya tidak bisa menyalahkan jika ada orang yang menyukai istri saya. Tetapi kamu harus ingat jika orang yang kamu cintai itu adalah seorang wanita yang telah bersuami. Saya harap kamu bisa melupakan perasaan kamu pada Adinda. Saya tahu kamu laki-laki yang baik. Saya harap kamu juga mendapatkan wanita yang baik pula " ucap Zaid lalu menepuk pundak Aldi dan melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam IGD.


Zaid kembali melihat Adinda yang kini telah ditemani oleh Pertiwi. Caca dan Mayang berpamitan tak lama setelah Zaid kembali.


" Jadi Dinda kenapa, wi ? " tanya Zaid pada Pertiwi.


" Gak apa-apa kok, Kak. Dinda harus istirahat aja, gak boleh terlalu capek " jawab Pertiwi.


" Jadi sekarang, Dinda boleh pulang kan ? " harap Adinda.


" Boleh, tapi kalian harus konsul dulu ke dokter obgyn " tambah Pertiwi.


" Kenapa harus ke dokter obgyn sih Kak, tadi kakak bilang Dinda gak apa-apa " rajuk Adinda.


Zaid terlihat berpikir setelah mendengar ucapan Pertiwi.

__ADS_1


" Apa Dinda ? " Zaid menggantung ucapannya sambil menatap Pertiwi.


" Kayaknya gitu sih. Makanya mendingan Kak Zaid bawa Adinda cek ke dokter obgyn " sambung Pertiwi yang ternyata paham arah pembicaraan Zaid.


Senyuman bahagia tersungging di wajah Zaid. Zaid menghampiri Adinda, lalu mencium pucuk kepala sang istri.


" Ini ada apa sih, Mas ? Kok Mas Zaid bahagia gitu sih disuruh cek ke dokter obgyn " ucap Adinda merasa bingung dengan tingkah suaminya.


Zaid mengelus perut Adinda yang masih rata itu dengan lembut.


Adinda terkejut dengan reaksi Zaid, namun sesaat kemudian ia menangis haru sambil meraba perut ratanya.


" Jadi, Dinda hamil Kak ? " tanya Adinda sambil menatap ke arah Pertiwi.


" Kayaknya sih gitu, tapi harus cek lebih lanjut. Selamat ya, de... ! " ucap Pertiwi sambil memeluk Adinda.


" Mulai sekarang, adiknya kakak ini udah mau jadi ibu. Gak boleh manja lagi, jaga diri sama debay... " seru Pertiwi yang diangguki oleh sang adik.


" Kalau gitu tinggal nungguin Kak Tiwi nyusul punya bayi juga " seloroh Adinda yang langsung membuat Pertiwi terbatuk.


" Uhuk... uhuk... "


Pertiwi meminumnya hingga menyisakan setengah botol air dalam kemasan.


" Kamu itu ada-ada aja... Memangnya hamil itu bisa janjian " ucap Zaid sambil mengacak rambut istrinya karena gemas.


" Yeh, kali aja Kak Tiwi hamil. Kalau belum hamil juga berarti Kak Farhan harus gempur terus Kak Tiwi tiap malam, kayak... "


Adinda menghentikan ucapannya saat Zaid menatapnya tajam.


" Kamu udah boleh pulang. Nanti infusannya dicabut suster. Terus kalau mau periksa ke klinik obgyn ada di lantai 2, sekarang masih praktik dokternya. Kakak pergi ya, takutnya ada pasien lagi. Inget gak boleh kecapean ! " terang Pertiwi kemudian pamit.


Huft... Gimana mau hamil, gituan aja gak pernah.


Pertiwi menghembuskan nafas kasar setelah keluar dari ruangan Adinda kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari IGD menuju ke kantin.

__ADS_1


Di lorong rumah sakit yang sepi, tangannya ditarik oleh seseorang dan membawanya masuk ke ruangan pribadinya.


" Lepas ! " pekik Pertiwi sambil menghempaskan tangan orang tersebut yang tak lain adalah Mario, mantan tunangannya.


" Wi, dengerin aku dulu sayang... Aku betul-betul mencintai kamu. Bahkan tidak ada sedikit pun rasa kepada Tika atau yang lainnya, tidak seperti perasaanku kepadamu "


" Diam... Aku jijik sama kamu Mario. Cinta kamu bilang ? Kalau kamu cinta, kamu gak akan khianatin aku. Lupain aku, Mario...! " seru Pertiwi sambil berjalan menuju pintu.


" Maafin aku, Wi... Aku gak bisa tanpa kamu. Ampuni aku, kamu boleh siksa aku, pukul aku... Aku akan menerima semuanya, tapi tolong jangan tinggalin aku ! " pinta Mario dengan berlutut di hadapan Pertiwi lalu menggenggam tangan Pertiwi.


" Maaf Rio... Aku gak bisa, semua rasa itu sudah hilang. Tak ada lagi yang tersisa setelah aku mengetahui perbuatanmu. Yang tersisa hanyalah sedih, kecewa dan sakit hati... " Pertiwi melepaskan tautan tangan Mario.


" Asal kamu tahu, Mario... Aku sudah menikah dan tidak akan pernah ada jalan untuk kita kembali seperti dulu " tambah Pertiwi dengan jujur.


" Kamu bohong ! Kamu sengaja mengarang cerita ini agar aku melepaskanmu kan " tuduh Mario tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Pertiwi.


" Terserah kamu percaya atau tidak. Untuk apa aku mengarang cerita yang tidak benar. Aku tidak seperti dirimu, yang sering mengumbar kebohongan untuk menyembunyikan kelakuan bejatmu. Jadi mulai saat ini, aku mohon jangan pernah lagi memintaku untuk kembali karena aku tidak akan pernah mau kembali padamu " tegas Pertiwi dan segera meninggalkan ruangan itu bersama Mario yang masih berlutut.


Aku akan menjadikanmu milikku Pertiwi. Aku akan memastikannya. Sampai kapan pun hanya aku yang boleh memilikimu, bukan orang lain !!


batin Mario sambil menatap kepergian wanita yang ia cintai.


Pertiwi setengah berlari menjauh dari ruangan Mario. Pembicaraannya dengan Mario saat ini, sungguh telah membuat hatinya terluka kembali.


Setelah 2 bulan ini, ia berjuang melupakan rasa cinta dan kesedihannya. Ia belajar menerima pernikahannya walaupun dengan perjanjian. Kini ia harus kembali berhadapan dengan lelaki yang begitu ia cintai namun juga memberikan luka yang begitu dalam.


Tanpa sadar, Pertiwi menabrak Farhan yang tengah berjalan menuju ke arahnya.


" Maaf... " ucap Pertiwi melangkah mundur.


Melihat yang menabraknya adalah Pertiwi, sang istri membuat Farhan sedikit terkejut. Pasalnya sang istri nampak kacau.


" Kamu gak apa-apa ? " tanya Farhan sambil memegang bahu Pertiwi.


Pertiwi menghambur memeluk Farhan, lalu menumpahkan air mata di dada bidang milik suaminya itu. Farhan sempat menahan diri agar tidak melakukan kontak fisik dengan sang istri. Namun ia sungguh tak kuasa melihat wanita yang dinikahinya 2 bulan lalu itu menangis. Hingga akhirnya, Farhan mengelus punggung Pertiwi untuk menenangkannya.

__ADS_1


Kurang ajar... Aku pasti akan membuatmu kembali padaku, Tiwi. Dan aku akan segera menyingkirkanmu, dasar security si**an !


ucap Mario dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2