
" Apa ? " tanya Evan dan Reksa bersamaan.
" Ya, saya sangat yakin jika kamu adalah Aureliaku yang hilang. Kita hanya tinggal menunggu hasil tes DNA yang tadi dilakukan oleh Dokter Anan " ungkap Tuan Lukman yang membuat Reksa dan Evan terkejut.
" Anda jangan mengada-ada, Tuan " sanggah Reksa.
" Aku tidak mengada-ada... Walaupun belum ada hasilnya tapi perasaanku mengatakan jika kau adalah putriku " timpal Tuan Lukman.
Evan terdiam, ia memutar otaknya. Memikirkan bahwa semuanya memang saling berkaitan. Dimulai dari ginjal yang cocok serta golongan darah mereka yang sama.
" Mas... Mas Evan... " panggil Reksa sembari melihat ke arah Evan yang tertunduk lesu.
Evan menghela nafasnya lalu menatap kedua netra Reksa yang masih mencari jawaban atas keterangan yang baru saja didapatnya.
" Mungkin kita harus menunggu hasil tesnya dulu, Reksa... " jawab Evan yang kini mengecilkan suaranya.
" Ini gak mungkin, Mas... " tukas Reksa.
" Tidak ada yang tidak mungkin, Reksa. Bisa saja Tuan Lukman ini memang ayah kandungmu " sahut Evan.
Reksa mengalihkan pandangannya kepada pria yang kini berdiri di hadapannya, yang memandangnya penuh rasa rindu.
" Aurel, putriku... " ucap Tuan Lukman sambil berusaha memeluk Reksa.
Reksa membiarkan Tuan Lukman memeluknya. Reksa tak menampik jika ada rasa berbeda saat Tuan Lukman memeluknya. Merasa seolah ada ikatan erat diantara mereka.
Air mata Tuan Lukman meluruh membasahi pipinya. Ia begitu bahagia, karena bisa kembali memeluk putrinya yang telah lama dirindukannya. Walaupun hasil tes DNA belum keluar tapi ia sangat yakin jika gadis yang dipeluknya saat ini adalah putrinya yang hilang.
Perlahan tangan Reksa memeluk tubuh ringkih Tuan Lukman. Jauh di dalam hatinya, ia berharap jika yang terjadi ini adalah nyata. Sungguh, ia akan sangat bahagia mengetahui jika ia bukanlah gadis yatim piatu dan ia masih memiliki orang tua.
Melihat hal itu, mata Evan mulai menghangat. Cairan bening itu hampir lolos dari sudut matanya jika saja ia tidak segera menyeka matanya dengan ujung jari telunjuknya.
Sudut bibir Evan tertarik menampilkan sebuah senyuman di wajahnya.
Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu Reksa. Aku bahagia melihatmu bahagia...
Evan melangkahkan kaki menuju pintu, namun saat ia meraih handle pintu, Reksa memanggilnya.
" Mas Evan mau kemana ? "
" Aku pulang dulu... Kamu sepertinya perlu bicara banyak dengan ayahmu. Besok aku akan menemuimu lagi. Lagipula harus ada yang menjelaskan pada Bunda tentang semua ini " jawab Evan dengan senyum tersungging.
__ADS_1
Reksa mengangguk paham.
" Sampaikan salam Reksa untuk Tante Dinda. Maaf Reksa gak bisa ikut pulang sekarang " ucap Reksa dengan suara tertahan.
Reksa... Satu hari nanti akan ku pastikan kamu pulang selamanya ke rumah bersamaku sebagai istriku.
" Kalau begitu saya pamit Om... Tolong jaga Reksa untuk saya " ucap Evan kemudian keluar dari ruangan Tuan Lukman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Evan telah sampai di rumah, ia tidak langsung masuk ke kamar melainkan duduk menyendiri di halaman belakang.
" Lho... Kamu udah pulang ? Reksanya mana ? " tanya sang ibu yang kebetulan melintas.
" Bunda... " Evan bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Adinda dan segera memeluknya. Melingkarkan tangannya di bahu Adinda lantas menempelkan dagunya di pundak sang ibu.
Menyadari suasana hati sang anak tidak baik, Adinda lantas mengusap rambut Evan kemudian membalik badannya hingga berhadapan dengan sang anak.
" Kenapa ? Kamu ada masalah ? Masalah kerja atau masalah Reksa ? " tanya Adinda menatap intens pada Evan.
Evan menghela nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
" Ayo cerita sama Bunda, ada masalah apa ? " tanya Adinda lembut.
" Reksa... Kayaknya gak akan balik lagi kesini Bunda " jawab Evan.
" Lho kenapa bisa gitu ? " tanya Adinda heran.
" Tadi, Reksa ketemu sama ayah tirinya itu waktu di Rumah Sakit... "
" Apa ? Terus sekarang gimana kabarnya Reksa ? Kamu kenapa gak bawa Reksa pergi sih ? " tanya Adinda panik.
" Bunda... Bunda tenang dulu... ! "
" Gimana Bunda bisa tenang, kalau nyawa Reksa terancam sekarang. Ayo kita ke Rumah Sakit, kita bawa Reksa pergi dari sana " seru Adinda sambil beranjak.
" Ayo Evan ! Kamu tuh gimana sih, kok malah diem aja " ucap Adinda kesal karena sang anak terkesan tidak mau melalukan apapun.
" Bunda... Bunda tenang aja. Reksa udah aman kok... " jelas Evan.
" Aman ? Aman gimana maksud kamu ? " kening Adinda mengernyit.
__ADS_1
" Reksa udah sama ayah kandungnya " jawab Evan.
" Ayah kandungnya ? Ini maksudnya gimana sih, tadi kamu bilang ketemu ayah tiri kok sekarang malah jadi sama ayah kandungnya. Aduh jadi pusing nih kepala Bunda " ucap Adinda bingung.
Akhirnya Evan menceritakan kepada Adinda kejadian tadi siang, bahwa orang yang telah membeli ginjal Reksa besar kemungkinan adalah ayah kandungnya.
" Oh, begitu ceritanya... Alhamdulillah, akhirnya Reksa ketemu sama keluarganya... Terus kenapa kamu sedih ? Harusnya kan kamu seneng "
" Evan seneng Bunda... Seneng banget malah. Tapi Evan gak sanggup jauh dari Reksa. Kalau Reksa beneran anak kandung Om Lukman, pasti Reksa dibawa sama ayah kandungnya " ucap Evan lirih
" Ya, ampun. Gini nih, kalau udah bucin... Susah amat, ya tinggal kamu bawa lagi Reksanya " sahut Adinda enteng.
" Ayahnya pasti gak ngijinin, Bun " timpal Evan.
" Ya kamu minta baik-baik dong. Tinggal kamu ijin sama ayahnya kalau memang kamu serius " jelas Adinda.
" Maksudnya gimana, Bun ? " tanya Evan lagi masih tak bisa menangkap arah pembicaraan sang ibu.
" Ya, ampun Evan... Masa kamu gak ngerti juga sih maksud Bunda " jawab Adinda menggeleng-geleng kepalanya.
" Please jelasin sama Evan, Bunda... Evan udah stuck nih, buntu pikiran Evan " tukas Evan mengacak rambutnya.
" Maksudnya Bunda tuh, Bang Evan lamar Kak Reksa... Gimana sih, gitu aja gak ngerti... " celetuk Indira sambil duduk di pangkuan sang ibu.
Rupanya sejak tadi Indira memperhatikan dab mendengarkan pembicaraan antara ibubdan kakaknya.
" Dira, bener kan Bunda ? " tanya Indira sambil melirik ke arah Adinda.
" Bener... Pinter banget sih cantiknya Bunda ini " ucap Adinda sambil mencium pipi Indira
" Tuh, Bang... Jangan banyak mikir, nanti keduluan orang tahu rasa deh. Sakitnya tuh disini lho " ucap Indira sambil memegang dadanya dengan sebelah tangannya
" Dih... ngeledekin Abang nih ceritanya, hem... " timpal Evan sambil menggelitiki Indira membuat gadis kecil yang cantik itu memekik kegelian dibuatnya.
" Udah... Udah... Evan ! Yang Indira bilang itu bener. Kalau kamu gak mau kehilangan Reksa, secepatnya kamu lamar Reksa jadi istri kamu. Memangnya kamu mau keduluan Bagas nikah sama Alesha " sindir Adinda.
" Iya, Bunda... Terima kasih atas solusinya ya bidadari-bidadarinya Bang Evan " ucap Evan kemudian mengecup pipi Adinda dan Indira.
" Udah, sekarang buruan kamu mandi gih ! " seru Adinda pada sang anak.
" Siap Bunda... Terima kasih sudah menjadi ibu terbaik untuk anak-anak Bunda " ucap Evan setengah berbisik di telinga sang ibu kemudian kembali mengecup pipi Adinda sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1