
Adinda dan Zaid kini telah berada di dalam restoran mewah itu. Zaid memilih melihat menu, sementara Adinda melihat sekeliling restoran, mencari sosok yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
" Kamu mau pesan apa ? " tanya Zaid pada sang istri.
" Apa aja, terserah Mas Zaid " jawab Adinda tanpa melihat sang suami yang nampak heran dengan sikap sang istri yang menelisik ke semua penjuru ruangan.
" Kalau aku pesenin chicken steak mau ? " tanya Zaid.
Adinda mengangguk tanpa melihat Zaid. Ia masih sibuk mencari sosok yang tadi dilihatnya.
Zaid memperhatikan sang istri dengan seksama.
" Kalau aku pesenin seblak level 5, mau juga ? " tanya Zaid lagi.
" Mau, terserah Mas Zaid ajalah. Atur cantik " jawab Adinda cuek.
Zaid mengerutkan kening serta melipat tangannya di dada sambil melihat sang istri yang masih fokus sendiri.
Tak lama Adinda menatap Zaid dengan aneh.
" Kenapa ? Ada yang mau kamu pesen lagi ? " tanya Zaid sambil menaikkan sebelah alisnya.
" Mas Zaid kenapa nawarin seblak ? Emangnya di restoran gini ada menu seblak juga ? " tanya Adinda polos.
" Ya, gak ada lah " jawab Zaid sambil membanting punggungnya di kursi.
" Terus kenapa nawarin ? " tanya Adinda merasa aneh.
" Kamu lagi nyari apa sih ? Dari tadi matanya belanja terus, lihat kanan kiri. Emangnya ada yang lebih menarik selain suami kamu ini " omel Zaid.
Adinda mencebikkan bibirnya, merasa malas jika sang suami sudah ngomel-ngomel tak jelas.
" Mas Zaid, apaan sih ? Dinda cuma lagi nyari orang. Mau mastiin aja " jelas Adinda cuek.
" Memangnya siapa yang kamu cari ? " tanya Zaid penasaran.
" Kak Farhan. Tadi Dinda lihat orang yang mirip banget sama Kak Farhan tapi penampilannya beda banget " jawab Adinda sambil mencari ke sekeliling ruangan.
" Kamu salah lihat kali " sanggah Zaid.
" Makanya, Dinda mau mastiin. Tuh orangnya ketemu " ucap Adinda sambil menunjuk dengan dagunya.
Zaid menoleh ke arah lirikan mata sang istri dan ia pun menemukan sosok yang tadi diceritakan oleh Adinda sedang berjalan bersama dengan 3 orang yang berpakaian rapi.
Adinda beranjak dari duduknya, Zaid berusaha menghentikan sang istri namun terlambat. Adinda sudah lebih dulu berjalan ke arah pria tersebut.
__ADS_1
" Kak Farhan " sapa Adinda saat ia telah berada di hadapan sosok itu.
Sontak pria itu menatap wajah wanita yang menyapanya.
" Adinda " ia terkejut sambil menyebutkan nama Adinda.
" Dinda... " panggil Zaid saat mensejajarkan diri dengan sang istri.
Zaid sendiri terkejut menatap pria yang disapa oleh istrinya itu.
Farhan meminta Kevin untuk mengantarkan kliennya ke luar restoran, sementara dirinya memilih menjelaskan semuanya kepada Adinda sang adik ipar.
Farhan menceritakan semuanya kepada Adinda, tanpa ada yang ditutupi kemudian meminta Adinda untuk tidak menceritakan apa pun kepada Pertiwi.
" Jadi, Mas Zaid sama Bang Juna udah tahu siapa sebenarnya Kak Farhan ? " tanya Adinda sebal mengetahui kenyataan jika sang suami ikut andil menyembunyikan kebenaran darinya.
" Iya, sayang. Maafin Mas " jawab Zaid sambil meraih tangan Adinda.
" Bisa-bisanya Mas Zaid sama Bang Juna tutupin ini semua. Kak Farhan juga, mau sampai kapan bohongin Kak Tiwi " ucap Adinda emosi.
" Sampai Kakak tahu perasaan kakakmu yang sebenarnya dan masalah Rumah Sakit beres " jawab Farhan jujur.
" Kak Tiwi tuh sayang lho sama Kak Farhan " ucap Adinda.
" Benarkah ? " tanya Farhan antusias.
" Jadi Tiwi ketemuan sama Mario ? " tanya Farhan dengan perasaan tak karuan.
" Iya, tadi Dinda ketemu Kak Tiwi katanya mau ketemuan sama Kak Mario di cafe biasa " jawab Adinda jujur.
Wajah Farhan berubah memerah menahan amarah. Setelah Kevin kembali, ia segera pamit untuk mencari keberadaan Pertiwi. Ia mempunyai firasat tidak baik tentang ini.
" Kevin lacak sinyal dari ponsel Pertiwi. Cari dimana lokasinya saat ini ! " titah Farhan segera bergegas menuju cafe yang disebutkan oleh Adinda.
Kevin mencari sinyal gps ponsel Pertiwi. Untunglah ia telah memasang pelacak sinyal pada ponsel milik istri atasannya itu.
" Nyonya baru saja pergi dari mal ini, Tuan " jawab Kevin.
" S*it !! Ayo kita harus segera menemukannya sebelum sesuatu yang buruk menimpanya " seru Farhan lalu bergegas menuju parkiran mobil.
...****************...
" Aku anterin kamu pulang ya, Wi. Sekalian aku mau ketemu suami kamu juga ! " pinta Mario saat mereka akan berpisah.
" Gak usah, Rio. Aku bisa pulang sendiri, nanti malah ngerepotin kamu " tolak Pertiwi.
__ADS_1
" Gak apa-apa, Wi. Sekalian aku mau minta maaf juga sama Farhan " bujuk Mario lagi.
Karena merasa tak enak dan rasa terima kasih karena Mario sudah mau membantu Farhan agar kembali bekerja di Rumah Sakit, akhirnya Pertiwi mengabulkan permintaan Mario dan masuk ke dalam mobil Mario.
Kamu akan jadi milikku, Tiwi. Dan aku akan pastikan Farhan menjauh darimu. Lelaki itu tidak pantas untuk bersamamu. Akulah yang pantas memilikimu...
Mario menyelipkan senyum saat Pertiwi masuk ke dalam mobilnya tanpa curiga apa pun.
Tidak ada yang aneh dalam perjalanan mereka. Mario bersikap hormat kepada Pertiwi, sehingga Pertiwi merasa aman. Sempat merasa ragu dengan sikap Mario, namun akhirnya Pertiwi percaya dengan semua ucapan Mario yang manis namun penuh dengan tipu muslihat.
" Ya, ampun wi... Aku lupa bawa berkas di apartemenku. Kita mampir sebentar ya ! " ucap Mario.
" Kalau gitu, kamu turunin aku di depan aja. Aku bisa pulang sendiri " sahut Pertiwi.
" Gak apa aku anterin aja. Lagian sebentar doang. Kamu tunggu aja di mobil, aku naik ke atas sebentar. Ok " timpal Mario.
" Tapi, Rio... " sela Pertiwi.
" Kamu masih gak percaya sama aku ya, Wi ? " tanya Mario dengan wajah memelas.
" Bukan gitu... " jawab Pertiwi sambil menghela nafas.
" Ya udah kalau gitu, aku turunin aja kamu di depan. Nanti aku nyusul aja deh ke tempat kamu habis ngambil berkas di apartemen " Mario akhirnya menepikan mobilnya.
Merasa tak enak, akhirnya Pertiwi menyetujui untuk mampir ke apartemen Mario dulu. Akhirnya, Mario dan Pertiwi sampai di depan gedung apartemen Mario. Mario pamit untuk mengambil berkas, sementara Pertiwi menunggu di dalam mobil milik Mario.
" Aku ke atas dulu sebentar ya, Wi. Kalau kamu haus, kamu minum aja dulu. Aku buru-buru balik lagi " ucap Mario sambil memberikan sebotol air mineral pada Pertiwi.
Sudah sekitar 15 menit, Mario belum kembali juga. Karena kesal menunggu, akhirnya Pertiwi meminum air mineral yang tadi diberikan oleh Mario.
Tak lama ponselnya berdering.
" Wi... Maaf, sepertinya kamu harus pulang sendiri. Kakiku terkena pecahan kaca. Karena buru-buru, aku gak sengaja nyenggol guci sampai pecah dan pecahannya kena kaki " ucap Mario.
" Oh, ya udah gak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri. Kamu baik-baik aja kan, Rio ? " tanya Pertiwi khawatir.
" Iya, aku baik-baik aja. Oh iya, Wi... Kalau kamu gak keberatan, tolong antar kunci mobil aku ke apartemenku, soalnya aku harus obatin luka ini dulu. Takutnya nanti kamu kelamaan nunggu terus telat pulang " jawab Mario bersiasat.
" Ok, biar aku anter ke atas. Sekalian aku lihat luka kamu dulu " ucap Pertiwi tanpa rasa curiga sedikit pun.
" Oke, Thanks ya Wi " ucap Mario lalu menutup telepon.
Aku gak sabar untuk memiliki kamu, Pertiwi !
Gumam Mario dengan seringai licik di bibirnya.
__ADS_1
"