
Adrian mengusap tengkuknya, menahan senyum melihat wanita cantik yang tengah merengut itu. Adrian mengitari rumah, lalu mencari cara agar bisa mendobrak pintu depan yang telah dipasangi bom dan akan meledak jika dibuka paksa.
Adinda menunggu Adrian di ruang tamu. Menunggu dalam cemas, saat Adrian mencoba mematikan bom tersebut. Walaupun Adrian seorang penjinak bom, ia tetap harus berhati-hati jangan sampai salah perhitungan dan menyebabkan bom itu meledak. Akhirnya, Adrian berhasil menjinakkan bom dan segera meminta Adinda untuk keluar. Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat mereka meninggalkan rumah itu.
Saat mereka berlari, dua orang penculik Adinda kembali dan mengejar mereka. Keduanya menembaki Adrian dan Adinda, untunglah ada sebuah pohon besar sehingga mereka bisa berlindung di balik pohon itu.
" Aku akan menghadapi mereka, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana !" perintah Adrian.
" Tapi Kak... " belum selesai Adinda berbicara, Adrian sudah bergerak keluar dari persembunyian dan hilang dibalik gelapnya malam.
Terdengar suara saling tembak dan kemudian suara itu menghilang. Rasa was was dan takut menyelimuti Adinda, terlebih saat ia mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati pohon besar tempat ia berlindung. Adinda menarik tubuh lalu menekuk lutut, ia hanya bisa berdoa dalam hati.
" Dinda... "
Adinda mengangkat wajah saat mendengar suara yang ia kenal menyebut namanya.
" Kak Adrian... " pekik Adinda begitu bahagia.
" Syukurlah, Kakak gak apa-apa... " ucap Adinda spontan memeluk Adrian sambil meneteskan air matanya.
Sesaat waktu terasa terhenti bagi Adrian, saat Adinda memeluknya erat. Tapi ia segera menepikan rasa yang ia punya. Ia tahu Adinda hanya mengkhawatirkannya tapi hati dan cintanya bukan untuknya.
Tangan Adrian terulur mengelus punggung Adinda mencoba menenangkan wanita cantik itu.
" Ayo Dinda, kita harus ke tempat aman sekarang. Letnan Arjuna akan segera datang membawa bantuan " seru Adrian sambil melepaskan pelukan Adinda.
" Bang Juna akan datang ? Lalu Mas Zaid ? " tanya Adinda penasaran.
" Kapten Zaid sedang berjuang melawan dalang semua masalah ini. Kita doakan saja agar dia berhasil !" ucap Adrian sambil memegang tangan Adinda.
Mereka segera meninggalkan tempat itu, namun baru beberapa langkah seseorang menghadang jalan mereka sambil menodongkan pistolnya ke arah Adinda dan Adrian.
Adrian segera memasang badan untuk melindungi Adinda dan Adinda hanya bisa menyembunyikan diri di balik tubuh kekar Adrian.
" Wow... Sungguh ironis. Kamu menyelamatkan istri dari pembunuh saudaramu sendiri. Sungguh luar biasa " ejek Geri.
" Adriana tidak dibunuh. Dia mati karena kebodohannya sendiri " sahut Adrian tenang.
" Tidak...! Kapten sialan itu yang membuatnya mati sia-sia " teriak Geri tidak terima.
" Kapten Zaid tidak terlibat apapun. Seharusnya kamu sadar, buka mata kamu. Rasa cintamu terhadap Adriana membuatmu buta " balas Adrian.
" Ya, aku memang sangat mencintai Adriana tapi dia malah mencintai laki-laki sialan itu. Walaupun telah ditolak tapi ia masih saja mencintainya bahkan mati karenanya. Aku harus membalaskan kematian Adriana " ucap Geri dengan kepedihan yang sangat dalam.
__ADS_1
Adinda mencengkram lengan Adrian, namun Adrian berusaha menenangkannya dengan mengelus tangan Adinda.
" Semua ini tidak akan terjadi jika ia tidak mengenal Zaid. Ini semua salah Zaid dan dia harus merasakan kehilangan wanita yang paling dicintainya. Sama seperti aku. Jadi sekarang, minggir kamu Adrian !" teriak Geri mengarahkan pistolnya ke arah Adrian.
" Kak..." lirih Adinda takut.
Adrian melihat keadaan sekitar,
" Kamu menginginkan wanita ini ? Langkahi dulu mayatku ! " ucap Adrian lalu menendangkan tanah berpasir ke arah mata Geri, membuat Geri tidak fokus.
Pada saat bersamaan, Adrian menendang pistol yang dipegang Geri hingga terlempar. Adrian segera memukul Geri, namun Geri dapat menahan pukulan Adrian malah justru ia yang mendaratkan pukulan dan tendangan di tubuh Adrian.
Adinda hanya bisa melihat perkelahian dua pria itu tanpa bisa membantu. Sampai akhirnya, Adinda melihat pistol milik Geri yang tadi terlempar kemudian meraihnya.
Adrian kini sudah terpojok, seberapa besar usahanya melawan Geri tetap ia tak bisa mengalahkannya, justru kini Adrian yang terpojok. Geri akan memukulnya menggunakan balok kayu.
" Berhenti ! " teriak Adinda sambil mengarahkan pistol ke arah Geri.
Geri melemparkan balok kayu, lalu memukul Adrian hingga tersungkur. Geri bergerak mendekati Adinda dengan seringai jahat di wajahnya.
" Berhenti disana, atau aku akan menembakmu ! " ancam Adinda.
" Aku yakin kau tidak akan berani " gertak Geri sambil terus mendekati Adinda.
Tangan Adinda bergetar, jantungnya berdetak hebat bahkan keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan senjata yang baru saja ia pegang itu. Adinda terus melangkah mundur sementara Geri terus mendekati Adinda. Adinda terpeleset karena tersangkut ranting yang menghalangi langkahnya menyebabkan pistol di genggamannya terlempar ke arah Geri.
" Dasar bodoh... Pergilah... ! Tunggu suamimu itu menjemputmu di alam baka "
Adinda memejamkan matanya, ia hanya bisa pasrah jika saat ini adalah akhir dari hidupnya.
Buug...
" Aargh... "
Adrian memukulkan batang pohon ke bagian kepala Geri membuatnya seketika terjatuh. Adrian segera mengambil pistol lalu mengamankannya.
Adrian menghampiri Adinda lalu memeluknya yang terlihat begitu shock. Wajah Adinda nampak pucat serta tubuhnya bergetar.
" Kamu sudah aman, Dinda... Jangan takut ! " ucap Adrian menenangkan Adinda.
...****************...
Sementara itu, Zaid sudah berada di alamat yang dituju. Sebuah gudang tua di kaki bukit dipinggiran kota. Tidak ada penjagaan ketat, tapi Zaid bersikap siaga serta penuh kewasapadaan saat memasuki bagian dalam gudang.
__ADS_1
Suara tepukan tangan terdengar oleh Zaid saat ia sampai di dalam gudang. Seorang pria paruh baya duduk tenang di sebuah kursi sambil menghisap cerutu.
" Selamat datang Kapten Zaid. Lama tidak bertemu " sapanya sambil berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri Zaid.
" Tak perlu berbasa-basi. Katakan dimana istriku kau sembunyikan ? " gertak Zaid.
Pria itu tertawa,
" Rupanya kau begitu mencintai istrimu itu. Kita lihat, sampai dimana rasa cintamu itu bertahan " ucapnya sambil menyeringai.
Pria itu menekan tombol untuk memperlihatkan foto Adinda yang berada di dalam rumah di atas bukit. Kemudian ia juga memperlihatkan bom yang sudah dipasang di sekeliling rumah.
Tangan Zaid mengepal sempurna, rahangnya mengeras bahkan giginya pun berbunyi gemeretak.
" Kurang ajar... Aku sudah datang. Selesaikan urusanmu denganku, lepaskan istriku ! " teriak Zaid dengan nafas memburu.
" Jika kau ingin membebaskan istrimu itu, kau harus melawan orang-orang suruhanku. Jika kau bisa mengalahkan mereka, maka aku akan memberikan tombol ini padamu " jawabnya menunjukkan detonator bom kepada Zaid.
Tak lama ia memanggil, anak buahnya yang berjumlah tidak lebih dari 10 orang untuk melawan Zaid yang datang tanpa senjata juga tanpa kawan.
Zaid bersiap melawan mereka semua, kendati hanya dengan tangan kosong Zaid melawan mereka semua. Sementara lawan membawa senjata. Ada yang membawa pisau, samurai, cambuk, gear berduri bahkan tombak dan garpu.
Zaid hanya diberi senjata toya dan tongkat. Tapi Zaid tak kenal menyerah. Orang yang membawa gear serta pisau maju lebih dulu. Zaid melawan mereka dengan menggunakan tongkat.
Saat gear dilesakkan ke arah Zaid, ia menahannya dengan tongkat lalu memutar gear dan melemparnya jauh. Orang itu kemudian menyerang Zaid bersamaan dengan yang menggunakan pisau, namun Zaid bisa menghindar dan menendang mereka dengan tendangan memutar. Kedua orang itu ambruk saat Zaid memberikan tendangan kembali kepada keduanya.
Tak lama orang yang membawa garpu pun maju menyerang Zaid. Dengan menggunakan toya yang tergantung di lehernya, Zaid menahan garpu yang sedang diarahkan ke dadanya. Zaid menahan, kemudian menendang perut orang tersebut secepat kilat, Zaid berbalik memelontir tangan orang tersebut kemudian mematahkannya.
Tanpa Zaid duga, orang yang menggunakan samurai dan cambuk menyerangnya bersamaan. Zaid terkena sabetan samurai di lengan kanannya. Darah mulai mengucur membasahi kemejanya. Sementara lecutan cambuk pun mengenai punggung Zaid, membuatnya berjongkok menahan sakit yang menjalarinya.
Dengan menahan sakit, Zaid melakukan perlawanan. Ia menahan ujung cambuk dengan menggunakan tangan kirinya sementara tubuhnya bergerak lincah menghindari sabetan samurai. Zaid menggerakkan tubuhnya berputar hingga cambuk yang dipegangnya kini berada di leher pemegang samurai. Lalu Zaid menariknya hingga orang tersebut tercekik.
Samurai yang kini telah jatuh, diambil oleh Zaid kemudian ia gunakan untuk menyerang yang memakai cambuk. Sabetan samurai Zaid arahkan ke bagian tangan dan punggung orang tersebut membuatnya ambruk menahan sakit.
Kini Zaid harus berhadapan dengan orang gila yang memiliki detonator bom.
" Aku sudah mengalahkan mereka semua, jadi berikan detonator itu padaku ! " seru Zaid dengan suara menggema di dalam gudang.
Pria tua itu menyeringai sambil menunjukkan detonator kepada Zaid.
" Baiklah sesuain keinginanmu, aku akan membebaskan istrimu dari dunia ini " ucapnya lalu menekan detonator bom.
Boom...
__ADS_1
Terdengar bunyi ledakan yang Zaid yakini adalah rumah diatas bukit yang ditempati oleh sang istri.
"Tidaaak...Adinda ... " teriak Zaid sekencang-kencangnya.