
Semua berjalan lancar. Farhan akhirnya bisa membongkar kebusukan Dokter Harun yang memanipulasi data keuangan. Akhirnya seluruh pemegang saham sepakat untuk memecat Dokter Harun dan melaporkannya atas tindakan korupsi. Sementara itu, dokter Tika dan dokter Mario pun diberhentikan dari Rumah Sakit.
Sesuai janjinya, Farhan menceritakan yang sebenarnya kepada Pertiwi. Awalnya Pertiwi begitu terkejut, bahkan sempat tidak terima dengan kebohongan yang dilakukan oleh Farhan. Namun akhirnya ia menerima semuanya sebagai suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.
Dan resepsi pernikahan antara Farhan dan Pertiwi resmi digelar secara megah dan meriah. Sebagai hadiah pernikahan mereka, Pertiwi didapuk menjadi Direktur Rumah Sakit oleh sang ayah mertua.
...****************...
Sudah beberapa hari ini, Adinda selalu bermimpi buruk. Ia bermimpi sang suami meninggalkannya sendirian. Hingga malam ini, mimpi yang sama terulang bahkan ia bermimpi jika sang suami terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Adinda bangun dari tidurnya. Ia menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. Adinda mencari keberadaan sang suami yang tidak ada di sampingnya.
Adinda menapaki lantai, ia melihat waktu masih jam 1 malam. Adinda berjalan menuju pintu guna mencari keberadaan sang suami.
" Mas... Mas Zaid... " panggil Adinda sambil membuka pintu kamar.
Adinda melangkahkan kakinya menuju ke dapur, ia bermaksud mengambil minum. Langkah kakinya terhenti saat mendapati sang suami tengah menerima panggilan telepon dengan mimik wajah yang serius. Adinda memerhatikan sang suami yang tak menyadari keberadaannya. Sampai akhirnya, Adinda berlalu menuju dapur.
Adinda mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. Setelahnya, ia meminum air di dalam gelas hingga tandas.
" Sayang, kamu lagi apa ? " tanya Zaid sembari melingkarkan tangannya di pinggang Adinda.
" Lagi ambil minum, haus nih Mas " jawab Adinda membalik badannya lalu memperlihatkan gelas yang sudah habis isinya.
Zaid tersenyum, lalu mengambil gelas dari tangan sang istri dan menyimpannya di atas meja makan.
Zaid kembali memeluk sang istri. Kali ini tidak hanya memeluk, ia juga mengusap lembut perut sang istri yang sudah agak menonjol.
" Mas telponan sama siapa malam-malam ? " tanya Adinda.
Zaid menghembuskan nafasnya yang hangat di ceruk leher Adinda lalu menciumi leher sang istri membuat Adinda sedikit geli.
" Mas, ih... Geli " protes Adinda.
" Mas pengen sayang... Lagian anak kita juga kayaknya kangen ditengokin sama ayahnya " ucap Zaid pelan di telinga Adinda.
__ADS_1
Adinda mencubit perut berotot Zaid, lalu menumpahkan unek-uneknya.
" Kangen... Kangen... Tiap hari nengokin juga, masih kurang ? " oceh Adinda.
" Ya gak apa-apa, kan sama istri sendiri ini. Halal " sahut Zaid mengikuti langkah sang istri kembali menuju kamar mereka.
Kini, mereka sudah berada di atas peraduan mereka. Zaid tak lepas memeluk sang istri yang berbaring di sampingnya.
" Mas... Lepas ih, gerah " seru Adinda mencoba melepaskan tangan sang suami.
" Biar kayak gini, sayang. Mumpung ada deket kamu " jawab Zaid tak mengendurkan pelukannya.
Adinda membalik badannya menghadap sang suami. Adinda menangkup wajah sang suami yang memejamkan matanya.
" Memangnya, Mas mau kemana ? " tanya Adinda bingung.
Zaid membuka matanya, menatapi wajah sang istri yang penuh tanya. Zaid meraih tangan Adinda lalu menciuminya.
" Mas... " panggil Adinda.
" Mas dapat tugas dinas luar " terang Zaid.
" Telepon yang tadi ? " tanya Adinda mengingat sang suami yang tadi menerima telepon.
" Hem... " Zaid mengangguk.
" Berapa lama ? " tanya Adinda kemudian. Adinda sudah tahu, jika sang suami mengatakan dinas luar maka akan memakan waktu paling cepat satu minggu.
" Entahlah, kali ini waktunya tidak bisa ditentukan. Jika masalahnya belum selesai, maka akan semakin lama " Zaid menghembus nafas kasar.
" Mas gak bisa nolak ? " tanya Adinda membuat Zaid menatap sang istri dengan tatapan heran. Biasanya Adinda tak mempermasalahkan jika ia ada tugas dinas luar.
" Dinda takut, Mas... Belakangan ini, Dinda mimpi buruk. Dinda takut terjadi apa-apa sama Mas Zaid . Jadi, Dinda minta Mas Zaid menolaknya " jelas Adinda.
" Sayang, ini sudah tugas dan kewajiban Mas. Apapun resikonya , kita harus siap " jawab Zaid menatap ke dalam mata sang istri.
__ADS_1
" Dinda cuma takut kehilangan Mas Zaid... Dinda gak tahu jadi apa nanti Dinda kalau... "
" Sstt... Mas akan baik-baik aja. Mas janji akan segera kembali. Mas janji menemani kamu melahirkan dan membesarkan anak kita bersama. Tugas kamu mendoakan keselamatan Mas dan menjaga anak kita sampai nanti kita bertemu lagi !" ucap Zaid sambil mengecupi pucuk kepala Adinda.
" Tapi, Mas... "
Zaid mengecup bibir sang istri dengan lembut.
" Mas janji akan kembali, meskipun nyawa Mas taruhannya. Mas pasti akan kembali untuk kamu dan anak kita " tegas Zaid.
Adinda merangsek memeluk erat sang suami. Wajahnya menabrak dada bidang Zaid. Air mata lolos dari pelupuk matanya, semakin lama semakin deras membasahi piyama milik Zaid. Adinda terisak, menahan rasa gemuruh di hatinya. Kebimbangan yang melanda hatinya membuatnya tak tahu harus berbuat apa selain menumpahkan dengan air mata.
Zaid memeluk Adinda, ia bisa merasakan kegundahan yang dilanda sang istri. Jika saja ia bisa memilih, tentu ia lebih memilih menemani sang istri menjalani kehamilannya. Tapi Zaid seorang prajurit, abdi negara yang harus siap membaktikan dirinya kapan pun negara memanggilnya.
" Sayang... " ucap Zaid lembut sembari mengusap punggung sang istri
Adinda masih membenamkan wajah di dada Zaid. Menumpahkan segala kekhawatirannya melalui tangisan.
" Sayang... Kamu harus kuat, demi Mas dan demi anak kita " seru Zaid menatapi sang istri yang semakin terisak.
Adinda mendongak, menatap wajah sang suami yang tengah menatapnya penuh kasih. Zaid menyeka air mata yang membasahi pipi Adinda. Lalu mengecupi kedua mata sang istri yang masih berembun itu.
Adinda mengangkat jari kelingkingnya dan mengangkat jari kelingking Zaid.
" Janji sama Dinda, kalau Mas pasti kembali apapun yang terjadi ! "
" Iya, sayang... Mas janji akan kembali untuk menemuimu dan anak kita. Dan kamu pun harus berjanji akan selalu menjaga diri dan menjaga anak kita " Zaid menautkan kelingkingnya dengan kelingking adinda.
" Mas janji, ini akan menjadi tugas dinas luar terakhir Mas. Mas sebenarnya sudah meminta surat permohonan mutasi, hanya saja surat keputusan pemindahannya belum keluar. Setelah tugas ini selesai, Mas akan bekerja satu bagian dengan Arjuna " jelas Zaid.
" Betul, Mas ? " tanya Adinda berseri.
" Ya, karena Mas ingin selalu dekat dengan kalian. Kalianlah sumber kekuatan dan kebahagiaan Mas " jawab Zaid mengusap lembut perut sang istri.
" Sayang, jagoannya ayah. Jagain bunda selama ayah tidak ada. Jangan membuat bundamu lelah. Kamu anak yang kuat. Tunggu ayah kembali dan kita akan segera bertemu " ucap Zaid lalu mencium perut sang istri dengan penuh cinta.
__ADS_1