
" Siapa kamu ? Simpan tangan kamu di atas kepala " perintah Arjuna tegas tanpa menurunkan senjatanya.
Kedua body guard Farhan bersiaga melindungi Arjuna.
Lelaki itu membalik badannya dengan mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Wajahnya nampak panik dan ketakutan.
" Siapa kamu ? " tanya Arjuna.
" Sa... Saya... Darto Pak, tolong jangan tembak saya ! Saya masih mau hidup " ratapnya.
Arjuna melihat dengan seksama lelaki di hadapannya ini. Mengindikasi jika lelaki ini tidak berbahaya, Arjuna menurunkan senjatanya.
" Saya Arjuna, Bapak yang tadi menghubungi saya ? " selidik Arjuna.
" Iya, Pak... Eh, mas... Walah saya harus panggil apa ini ? " ucapnya bingung setelah melihat wajah Arjuna yang rupawan.
" Jadi dimana adik ipar saya, Pak ? " tanya Arjuna to the point.
Pertiwi dan Farhan berjalan menghampiri Arjuna setelah dirasa keadaan mereka aman.
Pak Darto melihat kepada Arjuna, Pertiwi juga Farhan bergantian.
" Waduh... Saya ini ada di surga kali ya. Dari tadi yang saya lihat orang ganteng sama cantik... Weh, saya masih hidup kan ? " ucap Pak Darto berbicara pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk wajahnya.
Pertiwi sampai terkekeh melihat tingkah lucu Pak Darto ini.
" Maaf, Pak... Bisa Bapak antar kami melihat kakak kami " ucap Farhan menepuk pundak Pak Darto.
" Eh, iya... Maaf, saya kira ini mimpi. Soalnya tadi udah lihat kejadian buruk eh sekarang lihat yang bening-bening " sahut Pak Darto sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Pak Darto membawa mereka menuju tempat ia bersembunyi dengan Zaid. Tadi ia sempat memapah Zaid menjauh dari tempat kejadian karena khawatir jika orang-orang yang ingin mencelakakan Zaid kembali lagi.
Sambil berjalan, Pak Darto menceritakan kejadian yang dialaminya. Dimulai saat Zaid memesan mobilnya, kemudian menyewa mobilnya dan menyuruhnya membawa tas ransel Zaid serta menghubungi Arjuna jika Zaid tidak kembali. Karena Pak Darto sedikit khawatir, ia berinisiatif mengikuti mobilnya yang dikemudikan oleh Zaid dengan menyewa ojek yang ada.
__ADS_1
Pak Darto mengikuti mobilnya namun ia pun menyadari jika ternyata bukan hanya dirinya yang mengikuti mobil yang dikemudikan Zaid. Hingga akhirnya, ia kehilangan jejak saat berada di jalanan sepi dekat jurang.
Tanpa diduga mobil yang tadi mengikuti mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi bahkan hampir menabrak motor yang ditumpanginya. Merasa ada yang tidak beres, Pak Darto meminta pengemudi ojek mendekat ke tepi jurang dan benar saja mobil miliknya telah berada di dasar jurang dan terbakar.
Pak Darto meminta pengendara ojek mencari bantuan, sementara ia turun ke dalam jurang. Setelah orang-orang berdatangan, ia menjauh namun ternyata ia terjatuh dan menemukan Zaid yang pingsan dengan luka-luka di tubuhnya.
Saat itu, Pak Darto berinisiatif memberitahu orang-orang agar memberikan pertolongan, namun Zaid melarangnya dan memintanya untuk membawanya bersembunyi lalu menyuruhnya menghubungi Arjuna. Dan akhirnya, disinilah mereka semua berada.
Arjuna melihat Zaid dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak luka-luka di seluruh tubuhnya, di dahinya terdapat luka sobek serta pakaiannya pun robek.
Pertiwi segera menghampiri Zaid, lalu memeriksanya. Pertiwi mengambil alat suntik lalu menyuntikkan antibiotik serta obat anti nyeri pada tangan Zaid.
" Beruntung, tidak ada luka dalam. Tapi harus diperiksa kalau-kalau ada benturan di kepalanya. Selain itu, bahu kiri Kak Zaid mengalami dislokasi. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit, Bang ! " seru Pertiwi. Ia mempersiapkan alat medis untuk menjahit luka di dahi Zaid, serta memasangkan kain untuk membebat lengan Zaid.
Arjuna berpikir keras. Ia tidak mungkin membawa Zaid ke Rumah Sakit. Tentunya jika kabar Zaid masih hidup diketahui orang banyak, maka tidak tertutup kemungkinan para pelaku akan kembali mencari Zaid.
" Kita tidak bisa pergi ke Rumah Sakit. Terlalu beresiko " cegah Arjuna.
" Tapi, Bang... " sela Pertiwi.
" Tidak... Itu justru akan membahayakan orang yang ada di rumah " Arjuna menghela nafas panjang.
" Lalu bagaimana kalau kita bawa ke vila. Jarak dari sini ke vila keluarga Kak Zaid tidak terlalu jauh. Kita bisa merawatnya sementara, lalu kita pindahkan ke tempat yang lebih aman " Pertiwi memberi jalan keluar.
" Iya, Bang... Saat ini, sepertinya itu jalan terbaik. Nanti saya suruh Kevin menambah personel untuk menjaga keamanan di vila " Farhan menyetujui ide sang istri.
" Baiklah, kalau begitu kita bawa dulu Zaid keluar dari sini " ucap Arjuna. Mereka membopong Zaid menuju ke mobil.
Setelah sampai di vila, Zaid segera dibawa masuk ke dalam vila. Pertiwi dibantu oleh Farhan merawat Zaid dengan peralatan medis seadanya. Sementara Pak Darto dipersilahkan untuk makan dan beristirahat sejenak.
Arjuna mengganti pakaian Zaid dengan pakaian bersih setelah lukanya dibersihkan. Zaid masih belum sadar, Arjuna dengan setia menunggui sahabatnya itu dengan duduk di sampingnya.
Pertiwi dan Farhan memilih kembali ke rumah Zaid, karena tak ingin yang lain curiga. Pak Darto ikut kembali ke kota bersama Farhan dan Pertiwi. Sementara dua orang body guard disiagakan untuk berjaga di vila. Dan yang satunya ikut mengawal Pertiwi dan Farhan.
__ADS_1
Sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan Zaid, Farhan mengganti mobil Pak Darto yang terbakar dengan mobil baru. Selain itu, Pertiwi juga mempekerjakan Pak Darto sebagai supir di Rumah Sakit yang dipimpinnya. Bahkan istri Pak Darto bisa melahirkan di rumah sakit dengan fasilitas VIP yang biayanya ditanggung oleh Farhan.
Mata Zaid mengerjap, lalu melihat sekeliling ruangan.
" Kamu udah sadar, Id ? Alhamdulillah " ucap Arjuna penuh syukur.
" Kita di-mana, Jun ? " tanya Zaid lemah.
Zaid berusaha bangkit, namun Arjuna melarangnya. Arjuna kemudian mengambilkan segelas air minum dengan sedotan untuk Zaid.
" Ini di vila keluarga kamu " jawab Arjuna sambil menyimpan gelas yang sudah diminum oleh Zaid.
" Dinda, gi-mana Jun ? " tanya Zaid khawatir.
" Dia sempet shock waktu denger kamu kecelakaan... " jawab Zaid.
" Maafin, Mas Dinda..." gumam Zaid memandang ke atas langit-langit kamar.
" Terus sekarang mau gimana ? Mau aku bawa Dinda kesini atau... "
" Juna, aku minta tolong jangan kasih tahu Dinda kalau kamu sudah menemukanku. Tolong kasih tahu juga Pertiwi dan Farhan untuk merahasiakannya " pinta Zaid memotong ucapan Arjuna.
" Hah ? Ini... Aku gak salah denger kan ? Memangnya kamu gak pengen ketemu istri kamu ? " tanya Arjuna tak percaya.
" Hanya untuk sementara... Aku tidak mau keluargaku menjadi target. Biarkan saja begini dulu, sampai aku berhasil meyelidiki semuanya. Dan siapa aktor dibalik ini semua " jawab Zaid menerawang.
Arjuna menarik nafasnya panjang lalu menghembus perlahan. Jemarinya mengurut pelipisnya. Entah apa yang harus ia sampaikan pada sang adik jika ia kembali nanti.
" Jun... " Zaid memanggil Arjuna yang hanya diam setelah ia menyatakan keinginannya.
Arjuna melihat ke arah Zaid,
" Aku gak bisa, Id... Seandainya kamu lihat gimana keadaan Adinda yang begitu hancur, aku yakin kamu pun tidak akan kuasa. Melihatnya kehilangan separuh jiwanya, rasanya seperti akan mati " jelas Arjuna meremas tangannya.
__ADS_1
" Aku mohon, Jun... Ini satu-satunya cara membiarkan keluargaku selamat. Sampai nanti kita cari cara agar aku bisa menjaga keluargaku dari dekat. Tolong, Juna... Cuma kamu yang bisa membantuku. Aku mohon " harap Zaid.
Arjuna berpikir cukup lama. Semua yang dikatakan Zaid memang ada benarnya. Akhirnya ia menyetujuinya setelah menimbang segala resiko yang ada. Arjuna pun berjanji akan membantu Zaid menyelidiki hal ini.