
Bagas membalik badannya saat merasakan kehadiran seseorang berada di dekatnya.
" Bunda... " ucap Bagas lirih.
Adinda menatap ke arah luar, melihat jika Evan dan Alesha sedang asyik berbincang.
" Jelasin sama Bunda ! " ucap Adinda tegas.
" Jelasin apa sih Bun ? Gak ada yang harus Bagas jelasin " elak Bagas sambil mengambil langkah untuk melarikan diri.
Adinda menahan tangan Bagas agar tak menghindarinya.
" Bunda tahu apa yang kamu rasakan " lirih Adinda.
Deg... Waktu serasa berhenti untuk Bagas saat sang ibu mengatakan mengetahui perasaannya.
" Perasaan apa sih Bun ? Kok ngomongnya aneh gitu " Bagas masih berusaha menutupi.
Adinda mencengkram lengan Bagas.
" Sejak kapan ? Sejak kapan kamu menyukainya ? Jujur sama Bunda, Gas ! " seru Adinda menatap mata Bagas.
Bagas menghindari tatapan Adinda dengan memalingkan wajahnya.
" Jawab Bunda, Gas ! " mohon Adinda.
" Maaf Bunda " ucap Bagas lirih.
Adinda melepaskan cengkraman tangannya lalu mundur dua langkah. Merasakan sesak yang memenuhi rongga dadanya, serta rasa pening di kepalanya.
" Bunda... Bunda gak apa-apa kan ? " tanya Bagas khawatir sambil memegangi sang ibu.
Adinda mengatur nafasnya, menenangkan dirinya sendiri lalu menatap Bagas dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Bagas membawa sang ibu untuk duduk di kursi.
" Maafin Bunda ya ! Seharusnya Bunda lebih peka pada perasaan kamu " ucap Adinda.
" Bagas gak apa-apa kok, Bun... Bagas sadar kok, kalau Bagas gak seharusnya memiliki perasaan ini. Tapi Bagas gak bisa lawan. Semakin dilawan justru perasaan Bagas semakin besar " jelas Bagas tak tahu harus menjelaskan perasaannya seperti apa.
" Jadi sejak kapan kamu menyukainya ? " tanya Adinda lembut.
Bagas mengangkat bahunya lalu menggelengkan kepala.
" Bagas juga gak tahu sejak kapan Bun... Mungkin sejak Bagas tahu apa itu cinta. Yang Bagas rasain cuma nyaman aja di dekatnya. Bagas juga selalu ingin dia nyaman, senyum ketawa... Bagas gak suka lihat dia sedih " jawab Bagas.
Adinda mengelus kepala Bagas penuh kasih sayang lalu menangkup wajah putra keduanya itu.
" Maafin bunda sama ayah... " ucap Adinda lirih.
" Kenapa Bunda harus minta maaf sih, Bunda gak salah. Bagas yang salah... Bagas gak akan ngerusak hubungan mereka kok Bun. Bagas hanya butuh waktu untuk melupakan perasaan ini ! " jelas Bagas sambil tersenyum tipis.
Bagas melebarkan bola matanya, terkejut dengan apa yang baru saja sang bunda ucapkan.
" Bunda serius ? " tanya Bagas responsif.
" Kalau itu adalah cita-citamu, Bunda tak akan melarang lagi. Mungkin hanya ini yang bisa Bunda lakukan untukmu. Bunda tidak bisa memberikan yang lainnya " ucap Adinda sambil melihat ke arah Alesha di luar.
" Tidak apa, Bunda... Dengan restu Bunda ini, Bagas akan melakukan yang terbaik. Bagas tidak akan mengecewakan Ayah dan Bunda " ucap Bagas lantas memeluk sang ibu dengan bahagia.
Sejak lama Bagas ingin masuk Akademi Militer sebagaimana sang Ayah dulu. Namun terhalang ijin dari sang Ibu. Adinda memang tidak mengijinkan anak-anaknya mengikuti jejak sang ayah. Adinda trauma dengan apa yang menimpanya dulu dan ia tak ingin semua terjadi kepada anak-anak mereka.
Tapi kini demi mengurangi luka hati sang anak, ia merelakan sang anak masuk di Akademi Militer. Walaupun terasa berat, tapi ia berusaha menerima keputusan Bagas yang begitu ingin menjadi tentara selayaknya sang Ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Bagas dan Alesha kini telah menyelesaikan ujian akhir mereka. Bagas kini disibukkan dengan ujian masuk Akmil. Sementara Alesha kini tinggal di rumah Adinda untuk berlibur sambil mencari perguruan tinggi tempat ia melanjutkan pendidikannya.
__ADS_1
" Gas... Anterin Lesha dong, jalan-jalan ! " pinta Alesha.
Alesha merasa bosan sendiri, sudah satu minggu ini dia hanya diam di rumah. Baik Bagas maupun Evan memiliki kesibukan sendiri sehingga ia hanya bisa diam di rumah menemani Adinda atau menemani Indira setelah pulang sekolah.
" Sorry ya Les... Bagas masih ada tes nih. Entar kalau rangkaian tes Bagas udah beres, Bagas janji deh ajakin jalan. Terserah mau kemana " jawab Bagas sambil merapikan pakaian dan tas ranselnya. Hari ini dia akan melakukan tes akademik/ Rik pusat sebagai rangkaian tes terakhir untuk masuk Akmil setelah sebelumnya melakukan tes administrasi, jasmani dan kesemaptaan, penelitian personel dan tes psikologi.
" Doain Bagas biar lulus ya, Les ! " ucap Bagas dengan senyuman lalu berlalu dari hadapan Alesha menuju halaman dimana Ayah dan Bundanya sedang menunggu.
Setelah berpamitan pada Adinda, Bagas pergi bersama Zaid. Alesha hanya bisa menatap kepergian Bagas dari balik jendela. Alesha menghela nafasnya, ia merasa ada yang hilang. Meskipun ia semakin dekat dengan Evan, tetapi justru ia merasa kehilangan sosok Bagas yang selalu menemaninya selama ini.
Drrt... drrt...
Ponsel milik Alesha bergetar. Alesha segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Bagas : Jangan sedih gitu... 🥺 Setelah selesai, Bagas janji ajak jalan. Kamu maunya ke pasar malam kan ? Iya, iya... Nanti Bagas temenin naik kincir 😁 Sekarang doain biar Bagas lulus ya 😉
Alesha tersenyum, hatinya terasa hangat karena Bagas selalu tahu apa yang dirasakannya. Ia kemudian membalas pesan dari Bagas.
Alesha : Semangat ya Bagas !! Aku selalu doain yang terbaik buat kamu 💪💪🥰. Jangan lupa janjinya ajakin Lesha jalan-jalan ya 😁
Bagas yang menerima pesan dari Alesha pun kini tersenyum melihat pesan yang dikirim Alesha.
" Dari siapa ? " tanya Zaid penasaran karena melihat sang anak yang tersenyum sendiri setelah melihat ponselnya.
" Ada deh " jawab Bagas kemudian mematikan ponselnya.
" Jangan tegang, ayah yakin kamu bisa. Tarik nafas, hembuskan perlahan. Tenangkan diri kamu, jangan lupa berdoa. Kamu sudah siap ? " tanya Zaid melirik sang anak yang nampak tegang.
Mengikuti saran sang Ayah, Bagas mengatur nafasnya. Hingga perlahan ia bisa menguasai dirinya agar bisa tenang. Zaid tersenyum dengan sikap Bagas. Walaupun pecicilan, tetapi anaknya ini selalu tenang dan bisa menguasai dirinya. Tak mudah terbawa emosi dan selalu berpikir logis. Zaid yakin jika Bagas akan lulus.
Akhirnya, mereka sampai di tempat pelaksanaan ujian. Bagas turun dari mobil setelah berpamitan pada sang Ayah. Dengan langkah pasti dan percaya diri, Bagas memasuki ruangan. Ia begitu yakin jika ia akan bisa melalui ujian terakhir ini dengan hasil yang baik. Ia percaya, ridho dan doa dari orang tuanya akan mengantarkannya dalam keberhasilan. Karena ia yakin jika ridho Tuhan ada dalam ridho orang tua.
Walaupun, Bagas anak dari seorang perwira tinggi tetapi Zaid tak ingin ikut campur dalam proses penerimaan Bagas. Zaid selalu mengutamakan kejujuran dan kemampuan dari sang anak. Zaid yakin jika Bagas memiliki kemampuan sehingga tidak membutuhkan namanya untuk diterima sebagai taruna Akmil.
__ADS_1