Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 34


__ADS_3

Adinda merapikan sendiri perlengkapan yang akan dibawa oleh Zaid. Sesekali ia menyeka buliran air mata yang keluar dari sudut matanya.


Adinda menepuk-nepuk dadanya ,sesekali ia juga menghela nafas, menguatkan diri melepas sang suami untuk berjuang. Ia tidak mengerti mengapa saat ini begitu berat untuk ditinggalkan oleh Zaid. Mungkin efek hormon kehamilan yang membuatnya lebih sensitif atau mungkinkah karena ada firasat lain ?


Ya Tuhan yang Maha Melindungi. Lindungilah selalu suamiku. Selamatkanlah ia dan kembalikan lagi suamiku kepadaku, biarkan ia memenuhi janjinya.


Zaid masuk ke dalam kamar, melihat sang istri terduduk di lantai membereskan tas ransel serta koper miliknya.


Zaid menghampiri Adinda lalu berjongkok dan melingkarkan tangannya di pundak sang istri. Menghidu aroma harum tubuh dan rambut sang istri tercinta.


" Aku mencintaimu, Adinda... Kemarin, hari ini dan esok hari. Selamanya hanya mencintaimu ! " Zaid mencium pucuk kepala Adinda.


Mendengar pengakuan sang suami membuat tubuh Adinda bergetar, air matanya kembali lolos ke pipinya. Sepertinya Zaid juga merasakan hal yang sama dengannya. Rasanya terlalu berat untuk berpisah dengan orang terkasih.


Adinda memegang erat tas ransel milik Zaid, mencoba menahan rasa sedih yang menderanya belakangan ini. Adinda harus rela melepas kepergian sang suami tercinta.


Zaid memeluk tubuh Adinda, ia tahu istri cantiknya itu sedang memantapkan hati melepasnya.


" Mas pasti akan kembali. Bukankah Mas sudah berjanji ? Kamu percaya kan ? " tanya Zaid sambil menghadapkan diri melihat sang istri.


Adinda tak kuasa lagi membendung tangisnya. Ia memeluk Zaid dengan erat, sangat-sangat erat. Mata Zaid mulai mengembun, namun segera ia mengatur nafasnya untuk menguasai emosinya. Ia harus kuat, kendati tak tega meninggalkan sang istri. Zaid menghapus air mata di wajah Adinda yang nampak sendu.


Zaid menampilkan senyuman di wajahnya.


" Kamu bisa, sayang. Aku tahu kamu bisa. Tunggu Mas pulang ya ! " ucap Zaid lalu mencium kening sang istri.


Adinda menutup mata saat sang suami mencium kening kemudian beralih mencium bibirnya. Mereka saling ******* satu sama lain penuh cinta. Zaid menyudahi tautan bibir mereka , lalu mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya. Zaid menempelkan keningnya dengan kening sang istri lalu menangkup kedua pipi Adinda. Nafas keduanya terengah.


" Kamu jangan nakal. Jaga anak kita baik-baik. Jangan lupa susu sama vitaminnya diminum. Gak boleh telat makan terus gak boleh tidur malam ! Ngerti !? " seru Zaid pada sang istri.


Adinda mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Zaid beralih, ia menghadapkan wajahnya di depan perut sang istri. Zaid mengelus lembut perut Adinda lalu mencium perut sang istri.


" Hai anak ayah, jagoannya ayah dan bunda... Ayah pergi tugas dulu ya... Jagain bunda ya, sayang ! Baik-baik disana, jangan nyusahin bunda. Ayah janji akan baik-baik saja dan akan kembali bersama dengan kalian. Tunggu ayah pulang ya... Ayah akan sangat bahagia menantikan kehadiranmu " ucap Zaid mengajak berbicara bayi yang baru berusia 5 bulan dalam kandungan sang istri.


Perut Adinda mengeras, sedikit gerakan mengusik tangan Zaid yang tengah mengelus perut sang istri. Zaid menatap Adinda dengan haru.


" Dia bergerak sayang ! " pekik Zaid begitu bahagia. Zaid kembali menyentuh perut sang istri dan mengelusnya.


" Doain ayah ya sayang. Doain ayah kembali dengan selamat dan secepatnya berkumpul lagi bersama kalian " ucap Zaid kembali mencium perut Adinda dan kembali Zaid merasakan gerakan dari dalam perut Adinda.


" Cepet pulang ya, ayah. Bunda sama dede bayi akan selalu menunggu ayah pulang " ucap Adinda sambil mengelus kepala Zaid.


Zaid meraih ransel serta koper yang telah dibereskan Adinda. Keduanya kemudian keluar kamar dan menuju halaman depan rumah.


Disana sudah menunggu Arjuna beserta Bu Sandra. Zaid berpamitan kepada sang ibu kemudian memasukan perlengkapannya ke dalam mobil.


" Doain Zaid ya, Bu... Zaid titip Adinda dan anak Zaid " pamit Zaid mencium tangan sang ibu dengan ta'zim.


" Hati-hati ya, nak. Ibu meridhoimu, jaga diri. Dan kembalilah dengan selamat. Kami akan baik-baik saja sampai nanti kamu kembali ke sisi kami ! " ucap sang Ibu, menyeka air mata yang menetes.


Adinda melihatnya dengan haru, hingga air mata kembali lolos dari pelupuk matanya.


Zaid beralih pada sang istri yang tak henti menyapu air matanya.


" Mas pergi dulu ya sayang... Inget jangan nakal, Mas janji pasti kembali ! " ucap Zaid tak ingin membuat sang istri sedih.


Adinda memeluk erat Zaid.


" Cepat kembali, Mas ! Kami akan selalu menunggumu. Aku mencintaimu Kapten Zaid " Adinda mengecup bibir sang suami.


" Aku akan sesering mungkin menghubungimu... I love you " ucap Zaid lembut lalu mencium perut Adinda.

__ADS_1


" Jagoan ayah... Ayah pergi dulu ya. Jangan nakal, jagain bunda selama ayah gak ada ! Ayah menyayangimu " seru Zaid, berharap sang anak mendengar ucapannya.


Zaid masuk ke dalam mobil bersama dengan Arjuna. Ia melambaikan tangannya pada sang istri juga sang ibu tercinta. Bu Sandra merangkul sang menantu, menguatkan Adinda dengan mengelus punggungnya.


" Zaid akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, dia pasti akan kembali " ucap sang ibu menenangkan menantu cantiknya itu.


Adinda mengangguk mengerti, kedua mata indahnya tak lepas memandang mobil yang membawa sang suami hingga menghilang dari pandangan.


Zaid menyandarkan kepala pada jok mobil. Ia tak begitu banyak bicara. Mungkin inilah waktu terlama ia harus meninggalkan keluarganya.


" Id, kamu cerita sama Dinda yang sebenarnya bahwa kamu dalam misi penyelidikan mafia ? " tanya Arjuna.


" Tidak, aku hanya tidak ingin ia lebih khawatir. Ia sedang hamil dan aku tidak ingin dia terlalu banyak pikiran dan berpengaruh pada perkembangan bayi kami " jawab Zaid menghembus nafasnya kasar.


" Jun... Aku titip istri dan anakku. Tolong jaga dia sampai aku kembali ! " pinta Zaid memohon.


" Tanpa disuruh pun sudah pasti aku akan menjaganya. Kamu lupa ya kalau aku ini kakaknya " sahut Arjuna santai.


" Terima kasih, Jun. Aku lebih tenang sekarang. Ku percayakan keselamatan keluargaku padamu. Aku mengandalkanmu ! " seru Zaid.


" Kita ini kan keluarga. Sudah seharusnya saling membantu " ucap Arjuna sambil menepuk pundak sahabat sekaligus adik iparnya itu.


" Kalau terjadi sesuatu padaku, tolong kuatkan Dinda. Lindungi selalu dia " ucap Zaid lirih.


Arjuna menepikan kendaraannya, lalu menatap Zaid dengan tajam.


" Ngomong apa sih, Id ? Bukannya tadi udah janji akan kembali. Kamu juga harus inget ada janji yang harus kamu tepati dulu sebelum kamu nikahi Adinda, kamu janji bahagiain dia. Jadi jangan pernah berani untuk tidak kembali ! Atau gue gak akan pernah anggap lo sahabat gue lagi " ancam Arjuna.


Zaid membisu, hanya memandang dengan tatapan tak terartikan.


" Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya ! Setidaknya, jika sesuatu yang buruk terjadi, aku akan jauh lebih tenang karena ada kamu di sisi mereka " Zaid membuka suara.

__ADS_1


" Emang lo mau keluarga lo bahagia tanpa kehadiran lo ? Seenggaknya, lo berusaha menepati janji yang udah lo buat. Lo harus inget, janji itu utang, Id. Jadi gue mewakili Adinda dan ibu cuma mau lo kembali dengan selamat " tegur Arjuna lalu kembali menjalankan mobilnya menuju pangkalan militer untuk mengantar Zaid.


__ADS_2