Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap Part 7


__ADS_3

" Evan, kamu tenanglah dulu. Jernihkan pikiran kamu. Kamu harus ingat, kesembuhan pasien harus diutamakan. Itu jauh lebih penting daripada urusan pribadi " ucap Dokter Anan.


Evan tak bisa berkata apapun. Ia hanya diam dan terus berpikir. Seandainya saja ia tidak meminta Reksa datang hari ini, semua ini pasti tak akan terjadi. Evan mengusap wajahnya, kemudian meliril ke arah Reksa yang masih setia berada di sisinya.


" Maafkan aku Reksa... Karena aku semuanya terjadi " ucap Evan menatap Reksa yang masih berurai air mata.


Reksa menghapus air matanya kemudian menatap Evan.


" Tidak apa, Mas ... Mungkin sudah takdir Reksa. Reksa harus menjalaninya... " ucap Reksa lirih.


" Tidak, Reksa... Aku akan mencari jalan keluar lain... " tukas Evan.


Reksa menggeleng pelan.


" Tidak perlu, Mas... Mereka benar, seharusnya Mas mengedepankan kesehatan dan kesembuhan pasien. Reksa bukan siapa-siapa Mas Evan, jadi tidak perlu berlebihan memperlakukan Reksa " sanggah Reksa membuat Evan terperangah dengan ucapan Reksa.


Dokter Anan telah selesai berdiskusi dengan Tuan Lukman dan asistennya, kemudian ia menghampiri Evan dan Reksa.


" Nona... "


" Reksa, nama saya Reksa Dokter " ucap Reksa lugas.


" Ah ya... Nona Reksa, mari ikut bersama saya. Kita harus melakukan medical check up untuk memastikan kesehatan anda lebih dulu " seru Dokter Anan.


" Biar saya yang menemaninya, Dok... " tawar Evan sambil memegang tangan Reksa.


" Tidak... Kamu sebaiknya menemani Tuan Lukman. Ada banyak hal yang ia ingin bicarakan denganmu. Lagipula, saya khawatir kamu justru membawa pergi nona Reksa " ucap Dokter Anan.


" Tidak apa, Mas... Reksa akan baik-baik saja " ucap Reksa kemudian mengikuti Dokter Anan dan asisten Tuan Lukman keluar dari ruang rawat mewah itu.


Evan menatap Reksa yang telah keluar dengan tatapan sendu. Evan menghembus kasar nafasnya.


" Dokter Evan... Mendekatlah ! " seru Tuan Lukman.


Dengan langkah gontai, Evan mendekati ranjang Tuan Lukman kemudian berdiri di sisi ranjang.


" Dokter Evan, tolong jelaskan bagaimana anda bertemu dengan gadis itu ! " seru Tuan Lukman.


" Kami bertemu sekitar 3 bulan yang lalu. Waktu itu, Reksa berada di dalam mobil saya. Rupanya, ia melarikan diri dari Rumah Sakit karena dipaksa oleh ayah tirinya untuk mendonorkan ginjalnya " jelas Evan sambil melirik ke arah Tuan Lukman.


Pria paruh baya itu, menghela nafasnya. Lalu menatap Evan lekat.

__ADS_1


" Lalu, anda menampungnya ? " tanya Tuan Lukman.


" Ibu saya yang mengijinkan Reksa tinggal di rumah, karena merasa kasihan mendengar kisah hidupnya. Ayah tirinya benar-benar tidak berprikemanusiaan. Dulu, ayah tirinya menjual organ ibunya Reksa hingga akhirnya sakit-sakitan dan meninggal. Dan kini terulang kembali pada Reksa. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Reksa " jawab Evan.


" Lalu mengapa tadi anda mengatakan jika dia adalah calon istri anda ? " tanya Tuan Lukman.


" Saya hanya ingin melindungi Reksa. Karena akhirnya saya tahu jika andalah yang telah membeli ginjal Reksa " jelas Evan.


" Jadi, anda tidak memiliki perasaan lain padanya ? Dalam pandangan saya justru anda begitu peduli terlihat dengan sikap anda yang sangat melindunginya " selidik Tuan Lukman.


" Saya... Saya tidak tahu. Saya belum yakin dengan perasaan saya sendiri " sahut Evan lirih.


Tuan Lukman tersenyum penuh arti.


" Sebaiknya tanyakan pada hati kecil anda, dokter. Sebelum semuanya terlambat " ucapnya penuh teka-teki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reksa sudah menyelesaikan rangkaian medical check up. Kini ia sudah berada di ruang rawat VVIP yang berada di samping ruang rawat Tuan Lukman.


Reksa duduk di atas ranjangnya, saat seseorang masuk ke dalam ruangannya.


" Tu... Tuan ! " ucap Reksa sambil bergerak menuruni ranjangnya.


Gadis cantik itu tersenyum dengan terpaksa.


Tuan Lukman berjalan mendekati Reksa perlahan. Ia kemudian duduk di tepi ranjang.


" Anda baik-baik saja Tuan ? " tanya Reksa sambil melihat wajah Tuan Lukman yang nampak pucat.


" Tak pernah sebaik ini " jawab Tuan Lukman sambil tersenyum menatap Reksa dengan penuh kerinduan.


" Anda tenang saja, setelah operasi. Anda akan lebih baik. Anda bisa berkonsentrasi penuh untuk mencari putri anda yang hilang " ucap Reksa sambil memegang tangan pria paruh baya itu.


Tuan Lukman menggenggam tangan Reksa dengan haru.


" Dari mana kau tahu mengenai putriku ? " tanyanya menatap Reksa lekat.


" Maaf Tuan... Saya tadi diberitahu oleh Mas, eh maksud saya Dokter Evan. Maaf jika saya salah ucap, saya tidak bermaksud membuat anda bersedih " jawab Reksa lirih.


" Tidak apa, nak... " tukas Tuan Lukman sambil tersenyum melihat Reksa.

__ADS_1


" Bagaimana hubunganmu dengan ayahmu itu ? Mengapa dia begitu tega menjual organ tubuhmu ? " selidik Tuan Lukman.


Reksa menggeleng lemah, ia tak ingin menceritakan masa lalunya yang pahit. Tuan Lukman memahami jika Reksa begitu berat untuk menceritakan kepadanya. Lagi pula ia sudah tahu karena tadi Evan sudah memberitahunya. Tuan Lukman mengusap pucuk kepala Reksa penuh kasih sayang. Matanya berembun saat berhasil menyentuhkan tangannya di kepala Reksa.


" Tuan... Mengapa anda menangis ? " Reksa mendongakkan kepala lalu bertanya karena bingung melihat pria paruh baya itu tiba-tiba mengeluarkan air mata.


Tanpa ragu, Reksa menyeka air mata yang mulai mengalir dari sudut mata Tuan Lukman.


" Tuan, tidak boleh menangis lagi. Seharusnya Tuan bahagia, karena sebentar lagi Tuan pasti sembuh " hibur Reksa.


" Aku hanya teringat putriku yang hilang. Jika dia disini, pasti dia sebesar dan secantik dirimu " sahut Tuan Lukman dengan senyuman di wajah lemahnya.


Reksa menatap ke dalam mata pria tersebut. Ia dapat merasakan kerinduan yang dalam.


" Boleh saya memelukmu, nak ? " tanya Tuan Lukman kemudian.


Reksa mengangguk hingga kemudian Tuan Lukman segera memeluk Reksa. Reksa merasakan kehangatan saat Tuan Lukman memeluknya hingga ia pun meneteskan air mata.


" Hei... Mengapa sekarang kamu yang menangis ? " tanya Tuan Lukman saat melepaskan pelukannya dari Reksa.


" Seandainya ayah saya masih ada, pasti pelukannya sehangat pelukan anda, Tuan " jawab Reksa sambil menyeka air mata di pipinya.


" Kau boleh menganggapku ayahmu. Saya tidak keberatan... " ucap Tuan Lukman.


" Benarkah Tuan ? " tanya Reksa sumringah yang diikuti anggukan kepala Tuan Lukman.


" Terima kasih, Tuan " ucap Reksa sambil memegang dan mencium tangan pria paruh baya itu menciptakan kedekatan yang dalam diantara mereka berdua.


" Nak... Bagaimana hubunganmu dengan dokter Evan ? Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu " selidik Tuan Lukman setelah mereka lebih santai.


" Mas Evan... Orang yang baik. Dia selalu melindungi saya. Dulu saya bersembunyi di dalam mobilnya saat melarikan diri dari sini. Kemudian keluarganya mengijinkan saya tinggal di rumah mereka saat menemukan saya. Mereka orang-orang baik yang selalu melindungi saya " jelas Reksa.


" Jadi kamu dan dokter Evan tidak ada hubungan spesial ? " tanya Tuan Lukman lagi.


Reksa tersenyum getir. Seberapa besar perasaannya pada Evan tak mungkin bisa membuatnya bersatu dengan dokter muda itu. Reksa cukup tahu diri, siapalah dirinya.


Reksa menggelengkan kepalanya.


" Saya bukanlah wanita yang pantas untuk Mas Evan " ucap Reksa merendahkan dirinya.


Tuan Lukman memandang Reksa.

__ADS_1


Aku akan membuatmu pantas bersanding dengannya. Tetapi sebelumnya, aku akan membuat kalian berdua menyadari perasaan kalian masing-masing.


__ADS_2