Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 26


__ADS_3

Adinda menyingkirkan lengan Zaid yang ada di atas perutnya, ia segera bangun dan berlari menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual, tenggorokannya panas dan kepalanya berat.


Ia mengeluarkan apa yang tersisa dalam perutnya.


Menyadari sang istri tak ada di sisinya, Zaid bergegas menuju kamar mandi. Ia tahu betul jika sang istri kini berada di sana. Sudah satu minggu belakangan, Adinda selalu bangun pukul 3 dini hari dan berakhir dengan muntah-muntah di kamar mandi.


Zaid menyusul Adinda lalu dengan lembut memijat tengkuk sang istri sambil mengelus punggungnya.


" Hoek... hoek... "


Adinda masih memuntahkan isi dari perutnya, hingga ia terduduk lemas di depan toilet.


" Masih mau muntah ? " tanya Zaid khawatir.


Adinda menggeleng lemah. Zaid kemudian menggendong sang istri untuk kembali ke atas ranjang.


Zaid membaluri perut dan punggung sang istri dengan minyak kayu putih. Kemudian segera beranjak dari tempat tidur.


" Mas mau kemana ? " tanya Adinda menahan tangan Zaid.


" Mau ambil air hangat buat kamu, sayang. Sebentar ya ! " jawab Zaid lalu mengelus pucuk kepala sang istri.


Selang berapa lama, Zaid kembali dengan membawa dua gelas minuman. Yang satu berisi air hangat dan yang satunya air jahe lemon hangat.


" Kok bawa 2 ? " tanya Adinda mengernyit heran saat melihat Zaid membawa 2 gelas di nampan.


" Tadi ibu buatin kamu air jahe lemon, katanya biar ngurangin mual. Kamu mau minum yang mana dulu ? " tanya Zaid penuh perhatian.


" Air putih dulu, Mas " jawab Adinda kemudian meraih segelas air putih yang disodorkan Zaid.


" Dinda jadi ngerepotin Mas Zaid sama ibu... Maafin Dinda ya " ucap Adinda setelah meneguk air yang disodorkan Zaid.


Zaid mengambil gelas dari pegangan sang istri lalu menaruhnya diatas nakas.

__ADS_1


" Kenapa harus minta maaf ? Aku seneng kok direpotin kamu... " ucap Zaid sontak membuat Adinda mengerucutkan bibirnya.


" Ish, ibu hamil gak boleh cemberut. Emangnya kamu mau nanti bayi kita lahir bibirnya manyun gitu " ingat Zaid sambil mencubit bibir Adinda.


" Astaghfirulloh... Amit-amit deh " sahut Adinda sambil mengelus-elus perutnya.


Zaid tersenyum melihat tingkah polah sang istri.


" Aku sama ibu gak repot, malahan senang dan antusias dengan kehamilan kamu. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan bayi kita. Selama aku sanggup, aku akan melakukan apa pun untuk kalian " ucap Zaid sambil mengecup kening Adinda dan ikut mengelus perut istrinya itu.


Adinda memeluk Zaid dengan erat, menenggelamkan wajahnya ke dalam dada milik sang suami. Merasai kehangatan dan kenyamanan yang selalu diberikan oleh Zaid. Zaid membelai lembut rambut Adinda saat istrinya itu memeluknya erat.


" Kamu mau tidur lagi atau ? "


" Atau apa Mas ? " tanya Adinda saat Zaid menghentikan kalimatnya.


" Mau tidurin yang lain " bisik Zaid.


Mata Adinda membelalak saat Zaid membisikan kalimat itu lalu meregangkan pelukannya.


" Udah seminggu lebih nih, sayang... Kasihan gak bisa tidur tenang ! Lagian Mas mau nengok anak kita. Boleh ya " rayu Zaid sambil menciumi leher sang istri.


" Iih... Mas Zaid gak inget dokter bilang apa selama trimester pertama ? "


" Gak boleh sering-sering terus harus hati-hati " jawab Zaid langsung.


" Bukan itu Mas, trimester pertama itu kan masih rawan... Jadi harus ekstra hati-hati, kalau bisa jangan sering..." sahut Adinda.


" Iya, sayang... Mas tahu. Ini kan gak sering. Mas udah nahan seminggu lho. Mulut Mas bilang nahan tapi yang bawah udah gak tahan. Mas janji pelan-pelan sayang... " ucap Zaid penuh hasrat.


Tanpa menunggu perintah, tangannya sudah bergerilya di dalam baju tidur Adinda. Ia menjelajah tubuh sang istri, bersiap untuk memberikan serangan fajar ke dalam bunker cinta istrinya itu.


" Maas... " desah Adinda saat Zaid bermain di kedua asetnya yang sedikit lebih besar ukurannya dari semula.

__ADS_1


Zaid segera melahap bibir sang istri, ********** dengan lembut namun semakin lama semakin menuntut. Jika sudah begitu, tiada daya dan upaya yang bisa Adinda lakukan selain melayani hasrat sang suami.


...****************...


Farhan mengakhiri panggilan telepon dari Kevin. Menatap layar ponselnya kemudian menatap keluar jendela kamarnya.


Akhirnya bukti kuat sudah ia dapatkan. Bukti bahwa dokter Harun telah memanipulasi keuangan Rumah Sakit. Ia akan segera memberitahukan sang ayah untuk segera datang ke Indonesia dan melakukan Rapat Pemegang Saham.


" Kali ini, tidak ada lagi jalan selain menjebloskanmu ke penjara. Setelah bertahun-tahun kalian menjadi benalu kini waktu kalian sudah habis. Tunggulah kejutan dariku " seringai Farhan sambil menatap gemerlap lampu jalan yang terlihat dari dalam kamarnya.


Farhan keluar dari dalam kamarnya, ia menuju ke dapur. Perutnya terasa amat lapar karena sejak semalam memeriksa data yang diberikan oleh Kevin.


Farhan membuka kulkas, ia mendapati banyak bahan makanan disana. Ya, setelah Pertiwi tinggal bersamanya di apartemen, kulkasnya selalu terisi oleh bahan makanan karena Pertiwi selalu memasak untuk mereka berdua.


Pertiwi selalu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Seperti memasak, menyiapkan keperluannya bekerja, bahkan membereskan rumah. Pertiwi memang sudah menjelma sebagai istri idaman. Walaupun yang ia tahu Farhan hanyalah seorang security, tapi Pertiwi tidak sedikitpun merendahkan Farhan. Ia selalu menghormati Farhan sebagai seorang suami. Mungkin kekurangannya hanyalah tidak bisa melayani Farhan untuk urusan ranjang. Tapi itu tak menjadi masalah, karena Farhan akan setia menanti sang istri. Ia yakin suatu saat Pertiwi akan membuka hati untuknya.


" Kamu udah bangun ? " suara yang sangat familiar di telinga Farhan membuatnya menolehkan wajah.


" Iya, lagi nyari makanan soalnya lapar " jawab Farhan sambil mengeluarkan sosis dari dalam freezer.


" Kamu kenapa udah bangun ? " tanya Farhan.


" Tadi bangun gara-gara ada suara berisik. Dikirain ada tikus, eh tahunya tikusnya gede banget kelaparan lagi " jawab Pertiwi asal lalu mengambil sosis dari tangan Farhan.


" Biar aku aja, Wi... Maaf udah bangunin kamu " ucap Farhan merasa tak enak.


" Kamu ini masih aja gak enakan. Aku ini kan istri kamu, jadi harus siapin semua keperluan kamu " sahut Pertiwi sambil mulai menggoreng sosis.


" Yakin semuanya ? " tanya Farhan yang kini berdiri di samping Pertiwi.


" I... Itu... " Pertiwi tak melanjutkan ucapannya.


Farhan tersenyum samar, ia tahu jika Pertiwi masih belum yakin menyerahkan dirinya kepadanya meskipun surat perjanjian itu sudah dibatalkan dengan cara membakarnya.

__ADS_1


" Aku bakalan nunggu kamu dengan sabar " bisik Farhan kemudian duduk dan menunggu di meja makan.


Pertiwi menghela nafas. Ia merasa bersalah karena memang belum bisa memberikan hak Farhan sebagai seorang suami. Bahkan ia membuat perjanjian agar tak ada kontak fisik selama mereka terikat pernikahan yang hanya akan berlangsung selama 1 tahun. Ya, walaupun mereka akhirnya sepakat untuk membatalkan surat perjanjian itu dan berniat menjalani pernikahan dengan normal.


__ADS_2