Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 38


__ADS_3

Adinda sudah jauh lebih tenang. Ia kini ditemani oleh Pertiwi serta Kirana dan kedua anaknya. Sementara sang bunda menemani ibunya Zaid.


Arjuna berdiri di taman belakang rumah, memikirkan nasib sahabatnya yang belum diketahui keberadaannya. Tadi siang seharusnya ia menjemput Zaid, tapi karena ada urusan ia tidak datang dan meminta Zaid untuk naik taksi.


Arjuna memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana, ia mengembus nafasnya. Matanya menatap ke depan dengan pandangan kosong.


Kamu dimana, Id ?


Siapa yang ingin mencelakakan kamu ?


Tadi siang Zaid menghubunginya, mengatakan jika ia tengah diikuti oleh seseorang hingga ia memutuskan untuk mengambil jalan arah ke vila keluarganya.


Setelah mendapat telepon, Arjuna bergegas menyusul Zaid. Namun apa mau dikata, ketika ia sampai di daerah sekitar vila telah banyak orang berkerumun dikarenakan terjadi kecelakaan. Sebuah mobil terjatuh ke dalam jurang dan kemudian meledak.


Arjuna mendekat ke tempat kejadian, kendati pihak berwajib melarang mendekat. Arjuna bisa melihat bangkai kendaraan yang masih menyisakan sisa asap. Namun dapat dipastikan tak ada orang di dalam mobil tersebut. Entah sopirnya selamat atau tidak, mengingat jurang yang terjal dan dalam.


Mungkinkah Zaid melompat sebelum mobil itu terjatuh atau para penjahat itu sudah lebih duku menangkap Zaid ? Pikiran-pikiran buruk berseliweran di kepala Arjuna. Ia hanya berharap jika Zaid bisa selamat dan segera ditemukan.


Farhan mendekati sang kakak ipar yang tengah berdiri sambil menyodorkan secangkir kopi yang dibuat oleh sang bunda.


" Minum dulu, Bang... Supaya lebih rileks " ucap Farhan.


" Makasih ya, Han " sahut Arjuna lalu mengambil dan menyeruput kopi yang diberikan oleh Farhan.


" Jadi sekarang kita hanya menunggu saja, bang ? " tanya Farhan sambil berdiri berdampingan dengan Arjuna.


" Ya, sepertinya begitu... Kita tidak punya petunjuk apa pun " ucap Arjuna pasrah sambil menghela nafas.


Ponsel Arjuna berdering, segera ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Kening Arjuna berkerut saat melihat nomor tak dikenal menghubunginya. Farhan yang melihatnya pun angkat bicara.


" Siapa bang ? " tanya Farhan.


Arjuna menggidikan bahu, ia tak menghiraukan panggilan itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.

__ADS_1


Ponselnya kembali berdering, Arjuna menatap layar monitor ponselnya, masih nomer yang sama yang menghubunginya. Padahal nomer yang digunakannya ini hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya saja.


" Diangkat aja, bang. Mana tahu penting ! " Farhan berpendapat.


Namun saat akan menjawab, ponselnya berhenti berdering. Arjuna mendesau.


" Kalau penting nanti pasti nelpon lagi Bang " ucap Farhan yang juga penasaran.


Dan benar saja, tak lama berselang ponsel Arjuna kembali berdering. Arjuna segera menjawab panggilan tersebut dengan meloud speaker agar Farhan sama-sama mendengar.


" Dengan Bapak Arjuna ? " tanyanya.


" Iya betul, anda siapa ? " Arjuna balas bertanya.


" Mohon maaf sebelumnya. Saya Darto, tadi saya diberi nomer Bapak sama... Waduh siapa sih namanya Bapak tentara ini " gumamnya bingung.


"Hah ? Diberi nomor oleh Bapak tentara ?Jangan-jangan Zaid ". pikir Arjuna.


" Maaf maksud anda bagaimana ? Tolong jelaskan pada saya " seru Arjuna penasaran.


" Baiklah, saya akan ke sana sekarang. Tolong share lokasi anda. Dan jangan sampai ada orang lain yang tahu lokasi kalian " titah Arjuna kembali.


Arjuna mengakhiri panggilan. Tak lama Pak Darto mengirim lokasinya. Arjuna bergegas menuju ke mobilnya.


" Bang Juna, mau pergi ? Gimana kalau ini cuma orang iseng aja. Atau jebakan orang yang ingin mencelakakan Mas Zaid " ucap Farhan penuh perhitungan.


Arjuna sejenak terdiam, namun kemudian kembali bersiap.


" Kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencari tahu jawabannya. Kamu tenang saja, aku akan berhati-hati " ucap Arjuna lalu segera mengenakan jaket dam menyelipkan senjata api di pinggangnya.


" Saya ikut Bang... Setidaknya dua orang akan jauh lebih baik daripada satu orang " cetus Farhan.


" Kamu yakin ? Tiwi pasti akan keberatan " ucap Arjuna.

__ADS_1


" Keberatan apa bang ? " tanya Pertiwi menyahuti ucapan Farhan.


Arjuna dan Farhan saling berpandangan.


" Dinda gimana keadaannya ? " tanya Arjuna mengalihkan pembicaraan.


" Sudah agak tenang. Sekarang Dinda udah tidur ditemani Mba Kirana, Adam sama Laras " jawab Pertiwi.


" Kalian mau kemana ? " selidik Pertiwi yang heran melihat kakak dan suaminya bersiap untuk pergi.


Arjuna akhirnya menceritakan kemungkinan jika Zaid sudah ditemukan, dan mereka akan segera menuju lokasi. Pertiwi bersikeras untuk ikut, ia beralasan agar bisa mengobati Zaid jika nanti butuh bantuan medis. Farhan dan Arjuna menentang keras keinginan Pertiwi karena tidak tahu situasi apa yang mungkin akan mereka hadapi nanti.


Pertiwi bersikukuh untuk tetap ikut bersama sang suami juga sang kakak. Tak tahu mengapa, tapi rasanya ia tak ingin berpisah dengan sang suami. Ia takut jika apa yang menimpa sang adik ikut menimpanya.


Dengan pertimbangan bahwa Pertiwi bisa membantu mengobati jika ada yang terluka, maka mau tidak mau mereka mengijinkan Pertiwi ikut. Pertiwi membawa perlengkapan medisnya juga beberapa obat yang diperkirakan bisa membantu jika ada keadaan darurat.


Farhan menghubungi Kevin, meminta sang asisten membawa beberapa body guard untuk mengikuti mereka sekedar berjaga-jaga.


Mereka pun segera pergi menuju lokasi yang tadi diberikan oleh Pak Darto. Sengaja mereka menggunakan mobil Farhan agar tidak membuat curiga keluarga mereka. Mereka beralasan untuk melihat keadaan di tempat kejadian dan mencari informasi disana.


Mereka sampai di titik koordinat yang diberikan oleh Pak Darto. Jaraknya sekitar 1 km dari tempat kejadian perkara. Tidak ada rumah penduduk ataupun gubuk untuk beristirahat. Hanya ada semak belukar serta pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Arjuna bersiaga, ia mengeluarkan senjatanya untuk sekedar berjaga-jaga. Suasana disana begitu gelap, penerangan hanyalah cahaya dari senter yang dibawa oleh Farhan dan anak buahnya.


Dengan membawa tas ransel di punggung yang berisi obat-obatan seadanya. Pertiwi berjalan di belakang sang suami. Farhan menggenggam erat tangan Pertiwi. Sesekali menengok ke arah sang istri yang nampak kesulitan menapaki jalan setapak yang terjal.


Arjuna menghentikan langkah saat ia mendengar suara diantara pohon yang ada di depannya. Arjuna mengangkat jari di depan bibirnya, meminta Farhan dan yang lainnya tak bersuara.


Arjuna menarik pelatuk senjatanya, lalu dengan pelan dan hati-hati ia bergerak menuju semak-semak di depannya.


Farhan dan Pertiwi berlindung di balik sebuah pohon besar sambil mengamati gerakan Arjuna. Satu orang anak buahnya berjaga bersama mereka, sementara dua orang anak buahnya yang lain menyebar bersama Arjuna menuju semak yang tadi sempat mengeluarkan suara ranting yang terinjak.


Arjuna dan anak buah Farhan mengepung semak tersebut dan benar saja, mereka menemukan seseorang yang tengah bersembunyi disana.

__ADS_1


" Ampun Pak... Eh, Tuan... Aduh gusti, saya masih mau hidup ! " ucap orang tersebut, saat Arjuna menodongkan senjata tepat di belakang kepalanya.


__ADS_2