Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap Part 11


__ADS_3

Seluruh keluarga besar Adinda sudah berkumpul di kediamannya, mengingat pernikahan Evan yang akan diselenggarakan 2 hari lagi. Hanya satu orang saja yang belum menampakkan batang hidungnya.


Ya, Bagas belum juga pulang ke rumah padahal seorang gadis cantik tengah memendam kerinduan kepada sang kekasih dan berharap untuk segera bertemu.


" Lesha... Ikut Bunda ke salon yuk, biar glowing di pernikahan Evan nanti " ajak Adinda yang telah bersiap pergi bersama Kirana, Laras, Pertiwi, Kyra dan Gea, sang ibu.


" Tapi... "


" Ayo Kyra... biar nanti si Bagas pangling lihat kamu " celetuk Pertiwi.


" Udah, gak usah banyak mikir. Sekarang waktunya kita me time... Aku juga titip baby sama ompap " tambah Kyra sambil terkekeh.


" Kamu tuh, bisa-bisanya nitipin bayi sama bapaknya. Emang Kak Mario bisa ngurusin bayi? " tanya Adinda yang merasa heran karena keponakannya itu malah tenang menitipkan bayi berumur 1 tahun itu dengan sang suami.


" Ompap mah ayah siaga, Bunda " jawab Kyra tersenyum bangga.


" Iya siaga. Siaga ngurus sama bikin anak" tukas Pertiwi yang dibalas decakan oleh Kyra.


" Ayo, sayang ! Lesha ikut aja temenin mama " tambah Gea sambil menggandeng lengan Alesha.


Akhirnya Alesha menurut, ia ikut dalam rombongan ibu-ibu rempong. Karena dalam rombongan ini, hanya dirinya yang belum menikah. Dan sudah pasti, dirinya hanya akan menjadi pendengar gurauan mereka saat menceritakan hubungan mereka dengan pasangannya.


Hampir seharian mereka memanjakan diri di salon. Mulai dari luluran, body spa, hingga manicure dan pedicure. Mereka kembali ke rumah saat hari mulai senja.


H-1 Hari Pernikahan Evan dan Reksa


Seluruh keluarga besar mencoba pakaian seragam untuk pernikahan esok hari. Mereka mengusung tema bernuansa biru muda.


Alesha nampak cantik dengan balutan kebaya yang begitu pas di tubuhnya.


" Wah... Kak Lesha cantik banget. Pasti Bang Bagas klepek-klepek deh lihat Kak Lesha... " puji Indira begitu kagum kepada kekasih Bagas itu.


Alesha tersenyum mendengar ucapan Indira.


" Terima kasih, Dira... Dira juga cantik pake kebaya ini " ucap Alesha memuji calon adik iparnya yang juga tampak cantik dan menggemaskan.

__ADS_1


" Kak Lesha kenapa sih ? Kok banyak ngelamun " tanya Indira menyelidik.


" Dira... Dira tahu gak kapan Bang Bagas pulang ? Apa Bang Bagas gak jadi pulang ya ? Kok sampai sekarang belum datang sih " Alesha balik bertanya kepada gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menggidikan bahunya kemudian membuka kebaya yang melekat di tubuhnya.


" Kak Lesha kangen ya ? Bunda bilang, Bang Bagas pasti datang. Jadi Kak Lesha gak usah khawatir... " ucap Indira lalu menggantung kebayanya ke dalam lemari.


" Dira... Turun dulu ya, Kak. Oh iya, tolong simpenin bajunya Bang Bagas ke kamarnya ya Kak. Dira mau ke bawah dulu ! " seru Indira meminta Alesha menyimpan pakaian seragam untuk acara pernikahan Evan esok.


Alesha mengangguk, kemudian membawa pakaian milik Bagas ke dalam pelukannya.


Peluk dulu bajunya deh, buat latihan sebelum meluk orangnya langsung ...


Pikir Alesha dengan senyuman terukir di wajahnya.


Alesha keluar dari kamar setelah mengganti kembali bajunya. Ia beranjak menuju kamar Bagas. Alesha membuka pintu kamar kekasihnya itu.


Tidak ada yang berubah dari kamar Bagas. Foto-foto masih terpajang rapi di atas nakas. Alesha menyisir setiap sudut kamar Bagas, hingga akhirnya ia melabuhkan diri dengan duduk di tepian ranjang. Pakaian milik Bagas ia sampirkan di atas ranjang.


Hem, bahkan wangi kamu tuh masih kecium disini padahal orangnya gak ada


Lesha mengecek ponsel, berharap jika ada pesan masuk dari sang kekasih. Namun tak ada satu pun pesan masuk dari Bagas. Alesha mencoba menghubungi Bagas, namun hanya operator yang menjawab bahwa nomer yang ia tuju sedang tidak aktif.


Alesha menghembus kasar nafasnya yang sedikit menyesakkan dada mengetahui tak bisa menghubungi sang kekasih.


Alesha kembali berdiri, mengambil satu figura foto saat ia dan Bagas kecil dulu. Di foto itu keduanya saling berpegangan tangan dan tersenyum. Tanga Alesha yang satu memegang seekor ikan sementara tangan Bagas yang lain memegang pancingan. Alesha tersenyum samar.


Ia ingat foto itu diambil oleh Bunda Adinda. Pada waktu itu mereka menemani orang tua mereka memancing di vila milik Zaid. Alesha sedih karena tidak juga mendapatkan ikan setelah menunggu lama. Bagas yang mendapatkan ikan hasil pancingannya memberikannya kepada Alesha hingga akhirnya gadis kecil itu tersenyum bahagia dan kemudian Adinda mengambil foto mereka dengan berpegangan tangan dan juga menunjukkan ikan dan kail.


Brak... Terdengar suara benda jatuh dari balkon kamar Bagas. Alesha segera menuju balkon dengan membuka pintu kamar Bagas yang menuju balkon. Alesha melihat sekeliling, lalu melihat ke bawah balkon. Sebuah pot tanaman nampak hancur di bawah sana.


" Kok bisa jatuh sih ? Hem, mungkin kesenggol kucing " gumam Alesha tanpa curiga sedikit pun.


Tak lama ia pun kembali masuk ke dalam kamar Bagas dan menutup pintu ke arah balkon.

__ADS_1


Melihat situasi telah aman, Bagas yang tadi bersembunyi di bawah balkon dengan cara menggantung, tangannya memegang pagar balkon. Segera ia naik dan kembali berdiri di balkon, mengintip Alesha yang masih betah berada di kamarnya.


Berkat pendidikan dan latihan fisik yang dijalaninya, Bagas menjadi cekatan dan mampu menggantung di ketinggian walaupun hanya mencengkram ujung tangga balkon tapi ia bisa bertahan.


Lama gak ketemu, aku kangen kamu Lesha... Maaf ya, aku bohongin kamu. Aku sudah ada disini sejak kemarin malam dan aku bisa melihat kamu semakin cantik dan dewasa...


Bagas menaikkan sudut bibirnya membentuk lengkungan yang manis.


Lesha melirik ke arah jendela, tiba-tiba merasa jika ada yang sedang memperhatikannya.


Alesha kembali berjalan menuju jendela, namun tiba-tiba Indira datang membuka pintu kamar membuat Alesha mengurungkan niatnya untuk melihat ke arah jendela dimana Bagas mengintip Alesha tadi.


" Kak Lesha... " panggil Indira.


" Iya, kenapa Dira ? " sahut Alesha kemudian memutar langkahnya menuju Indira yang berdiri di depan pintu kamar Bagas.


" Kak Lesha dipanggil sama Bunda dan Mama Gea. Mereka udah ngumpul di ruang tengah " jawab Indira.


" Oh gitu, ya udah. Ayo kita turun ! " ajak Alesha sambil menggiring Indira keluar dari kamar Bagas.


Indira sekilas melirik ke arah jendela dan melihat Bagas disana melambaikan tangan sambil melempar senyum. Indira balas tersenyum.


" Dira kenapa kok senyum-senyum begitu ? " tanya Alesha heran melihat Indira yang tersenyum sendiri.


" Gak apa-apa kak... Dira seneng aja karena sebentar lagi Kak Lesha bakalan nikah sama Bang Bagas... Nyusulin Bang Evan. He...he... he..." oceh Indira.


" Masih lama, Dira... Masih 3 tahun lagi paling cepet " tukas Alesha.


" Ya gak apa-apa lah. Yang penting Kak Lesha jadi nikah sama Bang Bagas ! " sahut Indira dengan senyuman cantiknya.


" Memangnya Bang Bagas mau nikahin Kak Lesha ? " tanya Alesha kepada Indira.


Entah karena apa ia melontarkan pertanyaan itu kepada gadis kecil yang berjalan di sampingnya.


" Ya, mau lah Kak... Cita-cita Bang Bagas selain jadi tentara tapi juga jadi suaminya Kak Lesha " jawab Indira jujur.

__ADS_1


Alesha tak meyahuti jawaban Indira. Ia hanya memikirkan kalimat terakhir dari ucapan Indira.


Apa iya, cita-cita kamu itu menikahiku Bagas ? Kalau itu benar adanya, aku dengan senang hati menjadi istrimu


__ADS_2