Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 57


__ADS_3

" Mba sebenarnya mau dianter kemana sih ? " tanya Adrian sambil menghentikan laju sepeda motornya.


Adrian merasa dipermainkan sebab gadis itu hanya mengatakan terus jalan setiap ia bertanya kemana tujuan gadis itu.


" Kok malah berhenti sih ? Saya kan belum nyuruh berhenti " jawab gadis itu seolah tak terima Adrian menghentikan motornya.


Adrian membuka helm yang menutupi wajahnya, ia merasa sesak sendiri. Selain karena sudah terlalu lama memakai helm juga sesak karena sikap angkuh dan seenaknya gadis yang ia tolong.


" Gini nih, dikasih hati malah minta jantung. Udah bagus saya tolongin, ini malah ngelunjak " ucap Adrian mendengus kesal.


" Lho, kok malah marah sih... Kalau niat nolongin yang ikhlas dong ! " sahut gadis itu tak ingin disalahkan.


Adrian mengacak rambutnya.


" Aargh... Kalau bukan cewek udah gue sambit dah " rutuk Adrian dalam hati.


" Ya, udah. Saya ikhlas nolongin mba sampai sini aja. Habis ini terserah mba nya deh mau kemana. Saya mau pulang, pusing kepala saya ! " timpal Adrian lalu kembali mengenakan helmnya.


" Mba mendingan pesen ojek online aja lah, atau naik taksi juga bisa. Disini banyak kendaraan lewat kok. Jadi gak bakalan susah " tambah Adrian segera menstater motornya.


" Tu... Tunggu Mas ! " ucapnya menghentikan laju motor Adrian.


Adrian membuka kaca helmnya.


" Apa lagi sih Mba ? Saya gak minta bayaran kok, tenang aja... Jadi Mba gak berhutang apa pun sama saya " celetuk Adrian menatap gadis yang kini berada di depannya.


" Saya... Saya gak tahu harus kemana. Tolong saya ! " ucap gadis itu berterus terang.


Adrian mengamati gadis yang nampak bingung itu, gurat lelah terlihat jelas di wajahnya yang cantik.


" Ck... Nyusahin aja ! Tadi bilangnya gak usah ikut campur. Sekarang malah minta ditolongin " gerutu Adrian yang tentunya dapat didengar jelas oleh gadis itu.


" Kalau gak mau bantu ya udah... Silakan, kamu boleh pergi sekarang ! " usirnya kembali ke mode angkuh kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Adrian.


Dasar cowok gak peka... Ah, ngapain juga gue minta tolong sama dia. Nanti malah kegeeran lagi dia, berasa jadi pahlawan... Gue pasti bisa menghadapi ini semua. Semangat Gea !


ucap gadis itu sambil berjalan menjauh.


" Haish... Kenapa sih gue harus gak tega segala sama cewek itu... " gumam Adrian lalu mengejar gadis yang sudah berjalan menjauhinya itu.


" Ayo, naik ! " seru Adrian menjalankan motornya pelan berdampingan dengan gadis itu.

__ADS_1


Gadis cantik itu mendelik, melirik ke arah Adrian namun tidak serta merta menghentikan langkahnya.


" Cih, ayo naik ! Gak akan ada pengulangan sekali lagi. Kalau kamu gak naik sekarang... "


Tanpa aba-aba, gadis itu segera naik ke atas motor Adrian. Adrian merasa kaget juga merasa lucu dengan sikap gadis itu yang angkuh serta keras kepala tapi juga menggemaskan. Setelah itu, Adrian melajukan motornya menuju ke rumahnya.


Mereka berdua kini telah sampai di depan rumah Adrian. Rumah minimalis berlantai 2 yang baru saja Adrian beli saat ia pindah tugas di kota ini.


Adrian memarkirkan motornya di samping mobil yang terparkir di garasi rumahnya.


" Ayo masuk ! " ajak Adrian berjalan memasuki rumah mendahului gadis itu.


Gadis itu terlihat enggan untuk masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu menatap raga Adrian yang sudah masuk ke dalam. Menyadari sang gadis yang hanya berdiri di depan, Adrian membalik badannya.


" Yakin mau disitu terus ? Gak mau masuk ? Ini udah jam 11 lewat lho ! Disini tuh kalau udah mau tengah malam biasanya suka keluar... " Adrian sengaja menggantungkan ucapannya untuk melihat reaksi gadis itu.


Tak menunggu lama, gadis itu buru-buru masuk ke dalam bahkan sampai menabrak badan Adrian sementara seringai nampak di wajah Adrian.


Suka keluar nyamuk...


Adrian terkekeh dalam hati merasa lucu dengan sikap gadis itu yang terlihat pemberani di luar namun ternyata penakut di saat bersamaan.


Gadis itu mendudukkan diri di sofa tanpa diperintah Adrian.


Gadis itu mengangguk sambil melihat sekeliling.


" Kamu tidur dimana ? " tanya gadis itu.


" Kamar saya ada di lantai bawah, tidak perlu khawatir. Saya tidak akan berlaku kurang ajar meskipun saya mampu melakukannya " jawab Adrian memberikan penekanan.


Adrian pun beranjak menuju kamarnya, sementara gadis itu mengekori Adrian.


" Ngapain kamu ngikutin saya ? Mau tidur bareng saya ? " tanya Adrian menggoda.


"Ih... Geer ! " cebiknya, memalingkan wajah.


" Terus mau apa ? " tanya Adrian lagi mengangkat sebelah alisnya.


" Anterin ke kamar... Please ! " jawabnya dengan nada memohon.


" Ck... Nyusahin aja... Ayo buruan ! " seru Adrian kini memutar langkahnya menuju ke tangga.

__ADS_1


Gadis itu dengan setia mengikuti langkah Adrian yang berjalan tegap di depannya. Hingga langkah Adrian terhenti saat membuka pintu kamar.


" Kamu bisa tinggal disini, maaf kalau tidak terlalu besar. Tapi kamar ini, dijamin bersih kok " jelas Adrian.


" Terima kasih..., kamu sudah mau membantuku meskipun tidak mengenalku " ucap gadis itu terdengar kaku namun ada ketulusan di dalam nada suaranya.


Adrian hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


" Kamu istirahat saja dulu. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tapi satu hal yang ku tahu. Kamu pasti lelah " ucap Adrian lalu meninggalkan gadis itu.


Pagi menyambut, gadis cantik itu mengerjapkan kedua kelopak matanya. Ia beringsut, menyandarkan kepala pada head board ranjang. Menghela nafas panjang, kedua matanya menatap dengan tatapan kosong.


" Maafin Gea, pi... Seandainya papi gak paksa Gea, Gea gak akan pergi ! " gumamnya dengan lelehan air mata yang keluar dari pelupuk mata indahnya.


Gadis itu menyeka air matanya saat terdengar suara ketukan di pintu kamar. Ia bangkit lalu berjalan menuju pintu lalu membukanya.


" Baru bangun ? " tanya Adrian saat pintu terbuka.


Gadis itu mengangguk. Adrian bisa melihat sisa air mata di wajah cantik gadis itu.


" Saya cuma mau ajakin Mba sarapan. Mba ini kan tamu saya, jadi saya harus pastiin kalau tamu saya ini nyaman " ucap Adrian.


" Terima kasih " jawab gadis itu lembut.


" Tumben gak nyolot, kalau gini kan jauh lebih manis " batin Adrian menatap wajah bantal gafis itu yang justru terlihat cantik.


" Mas... " ucap gadis itu menepuk bahu Adrian


" Eh iya, Mba " sahut Adrian tergeragap.


" Panggil aja Gea, jangan panggil mba. Berasa udah tua, padahal kayaknya kita seumuran " ucap gadis itu dengan senyuman menghiasi wajahnya.


" Ah iya... Kalau gitu, kamu juga panggil aja saya Adrian " timpal Adrian sambil balas tersenyum.


" Saya tunggu di bawah ya ! " ucap Adrian tiba-tiba merasa kikuk.


Adrian meninggalkan kamar Gea dengan perasaan tak karuan. Ia menenangkan rasa dalam dirinya sambil menuruni tangga.


Sementara itu, seseorang mengamati kediaman Adrian dari jauh.


" Nona muda sudah ditemukan, Tuan ! Lalu apa kami harus segera bertindak ? " tanya orang tersebut melalui sambungan telepon.

__ADS_1


" Biarkan saja. Cukup kalian awasi dan selidiki siapa orang yang bersamanya ! "


" Baik, Tuan ! "


__ADS_2