Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap part 5


__ADS_3

Reksa terdiam saat Evan memeluknya, air mata yang tadi telah ia hapus kini kembali mengalir. Bahkan kini ia terisak dalam pelukan Evan. Entah karena apa, tetapi ia merasa begitu nyaman berada dalam pelukan pria tampan itu.


Tangan Evan terulur mulai mengelus rambut Reksa.


" Aku akan selalu di sisimu Reksa, aku berjanji akan melindungimu. Kamu tidak perlu khawatir " ucap Evan dengan lembut.


Reksa menganggukkan kepala, kemudian mendongakkan wajahnya menatap Evan.


" Terima kasih, Mas " ucap Reksa dengan senyum tipis.


Evan menatap bola mata Reksa yang berwarna hitam itu. Ia seolah terhanyut dalam tatapan sendu milik Reksa. Evan baru saja menyadari jika gadis di hadapannya ini sangat cantik dan itu membuatnya tak ingin mengalihkan tatapan matanya dari Reksa.


Ditatap oleh Evan membuat Reksa menjadi salah tingkah. Jantungnya berdetak tak beraturan. Reksa segera menundukkan pandangannya agar rasa yang ada di hatinya mereda.


Evan melepaskan pegangan tangannya dari Reksa, kemudian mundur beberapa langkah. Tak bisa dipungkiri, perasaannya berdebar tak karuan. Bahkan melebihi apa yang ia rasakan kepada Freya, gadis yang selama ini selalu ada di dalam hatinya meskipun gadis itu telah menikah dengan Marcel.


Hah... Kenapa jadi grogi gini sih ? Mana mungkin aku tertarik padanya.


Evan menghembus nafasnya kasar. Mencoba menormalkan kembali rasa yang ada dalam dirinya.


Dari balik pintu, sepasang mata memperhatikan mereka berdua. Adinda tersenyum samar melihat kedekatan mereka. Adinda baru saja akan memanggil Reksa, namun ia melihat adegan saat Evan memeluk Reksa.


Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu, nak. Bunda selalu berdoa yang terbaik untukmu.


" Ehem... Kalian sedang apa ? " tanya Adinda sambil berdiri di depan pintu kamar Reksa.


Keduanya terkejut saat mengetahui keberadaan Adinda.


" Bunda... "


" Tante... "


" Kenapa kaget begitu ? Ayo kalian habis ngapain ? " tanya Adinda.


Evan dan Reksa saling berpandangan.


" Gak ngapa-ngapain " jawab keduanya serempak.


" Wah... wah... kompak sekali kalian berdua. Udah sehati nih kayaknya " seloroh Adinda tersenyum samar.


" Apaan sih bunda ? Udah ah, Evan mau ke kamar. Mau istirahat " ucap Evan kemudian berlalu dari kamar Reksa.


Adinda menatap Reksa yang tampak salah tingkah.

__ADS_1


" Eu... Tante ada perlu sama Reksa ? " tanya Reksa menyembunyikan perasaannya.


"Ah iya... Hampir aja Tante lupa. Tante mau ajakin kamu ke belanja. Kamu mau kan nemenin Tante belanja, soalnya bahan makanan di kulkas udah mau habis " jelas Adinda.


" Iya, Reksa mau temenin Tante... Sekarang perginya ? " tanya Reksa.


Adinda mengangguk, kemudian mengajak Reksa pergi.


Evan merebahkan raganya di atas tempat tidur. Ia mengangkat sebelah tangannya di kening hingga menutupi wajahnya. Sungguh tak bisa ia pahami apa yang terjadi padanya saat bersama dengan Reksa tadi. Melihat gadis itu bersedih, justru membuat hatinya sakit. Entah karena kasihan atau apa pun itu. Ia hanya ingin melindungi dan membuat gadis itu bahagia.


Evan memejamkan matanya, namun bayangan Reksa selalu datang menghampirinya. Ia membaringkan badan ke kanan dan ke kiri tetapi wajah Reksa selalu terbayang. Hingga akhirnya Evan bangkit sambil mengusap wajahnya.


Astaga... Ada apa dengan diriku ?


Evan bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga hingga akhirnya matanya tertuju pada gadis cantik yang sudah siap bersama dengan sang ibu.


" Bunda mau kemana sama Reksa ? " tanya Evan.


" Bunda mau belanja sama Reksa ke super market. Persediaan makanan di kulkas kan udah mau habis " jawab Adinda.


" Kenapa ? Kamu mau anterin Bunda ? " tanya Adinda.


" Boleh deh, daripada gabut di rumah " jawab Evan.


" Emangnya gak capek ? Kamu baru pulang jaga malam lho ! " ingat Adinda.


" Ya udah, kalau gitu ayo berangkat ! " seru Adinda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga bulan kemudian,


Reksa dan Evan sudah semakin dekat. Hal ini tentu membuat Adinda begitu bahagia. Setelah perjodohan antara Evan dan Alesha dibatalkan bahkan digantikan oleh Bagas, Evan tak pernah dekat dengan seorang wanita.


Adinda mengetahui jika Evan begitu mencintai seorang wanita bernama Freya sampai-sampai Evan tidak peduli dengan wanita-wanita yang mengharap cintanya. Bagi Evan hanyalah Freya wanita yang dipujanya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Walaupun begitu, Evan tak pernah bisa menghilangkan Freya di hatinya.


Sampai kemudian Freya menikah dengan laki-laki pilihannya setahun yang lalu. Hal ini tentu saja membuat Evan kecewa dan seolah menutup pintu hatinya untuk wanita manapun. Akan tetapi, semenjak kehadiran Reksa, Evan seolah membuka hatinya kembali. Tentu saja itu membuat Adinda merasa bahagia.


" Tante... Reksa pergi dulu ya ! " pamit Reksa sambil membawa kotak bekal untuk makan siang.


" Langsung ke Rumah Sakit ? " tanya Adinda.


Reksa mengangguk.

__ADS_1


" Iya, tadi Mas Evan minta Reksa anterin makan siang ke sana Bun " jawab Reksa apa adanya.


" Ah, so sweet banget sih kalian... Udah persis kayak suami istri..." goda Adinda yang membuat pipi Reksa merona.


" Kalo gitu Reksa berangkat ya, Tan. Nanti kelewat jam makan siangnya " pamit Reksa kemudian mencium tangan Adinda.


" Eh, Reksa... " panggil Adinda.


" Iya, Tante ? " tanya Reksa bingung.


" Ah tidak apa-apa kok... Biar nanti kamu diantar supir aja ya " ucap Adinda.


" Reksa naik ojol aja, Tante " tukas Reksa.


" Dianter saja sayang, Tante khawatir ada apa-apa sama kamu. Takutnya kamu ketemu sama ayah tiri kamu itu " sahut Adinda.


Reksa akhirnya menyetujui permintaan Adinda. Dengan diantar oleh sopir keluarga, Reksa menuju ke Rumah Sakit. Sesampainya disana, Reksa menuju taman karena Evan memintanya menunggu di taman.


Reksa duduk sendiri di kursi taman, ia membuka ponselnya dan membaca novel di aplikasi novel online pada ponselnya. Ketika sedang asyik membaca, seseorang terjatuh di depannya. Reksa dengan tanggap membantu orang tersebut lalu membawanya duduk di kursi.


" Anda tidak apa-apa, Pak ? " tanya Reksa kepada pria paruh baya tersebut. Sepertinya ia adalah salah satu pasien yang tengah dirawat dirumah sakit itu.


Pria itu bersender pada kursi taman. Reksa memberikan air mineral yang dibawanya pada pria itu.


" Terima kasih nak ! " ucapnya setelah meminum air pemberian Reksa.


" Sama-sama, Pak " sahut Reksa.


" Bapak, pasien disini ? " tanya Reksa berbasa-basi.


" Ya, saya ini pasien langganan disini. Dirawat hanya untuk menunggu mati " ungkapnya dengan senyum getir.


" Tidak ada yang bisa memastikan kematian, Pak. Saya dulu juga berpikir jika kematian itu begitu dekat dengan saya. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Sampai saat ini saya masih bisa menghirup udara " tukas Reksa.


" Jadi Bapak juga harus yakin dan semangat untuk hidup. Bapak tentunya memiliki alasan kuat untuk bertahan " tambah Reksa kemudian.


" Alasan saya untuk bertahan ? "


" Iya, pastinya semua memiliki alasan untuk bertahan hidup. Bapak harus bertahan setidaknya untuk keluarga anda ! Mereka pasti sedih jika kehilangan anda " jawab Reksa sambil meraih botol minum miliknya, kemudian membuka masker dan meminum air.


Pria paruh baya itu, menatap lekat gadis yang sedang meneguk air itu. Ia menatapnya tanpa berkedip, merasa sangat familiar dengan gadis itu.


" Reksa... " suara seorang pria membuat Reksa dan pria paruh baya itu menoleh ke arah datangnya suara.

__ADS_1


" Mas Evan... "


" Dokter Evan... "


__ADS_2