Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 40


__ADS_3

Adinda masih menutup matanya saat Pertiwi masuk ke dalam kamar. Pertiwi mendekati sang adik yang tertidur. Mungkin karena lelah setelah banyak mengeluarkan air mata.


Pertiwi menghela nafas setelah sebelumnya meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia merasa bersalah terhadap sang adik karena harus mengatakan jika Zaid masih belum ditemukan.


Pertiwi membetulkan selimut yang menutup tubuh Adinda serta menyeka buliran keringat di wajah cantik adiknya dengan hati-hati. Ia tidak ingin sang adik terbangun dan kembali menangis memikirkan sang suami. Kirana menyusul Adam dan Laras yang sudah tertidur di kamar tamu setelah Pertiwi datang. Sementara sang bunda masih menemani ibunya Zaid di kamarnya.


Kriet...


Pintu kamar Adinda terbuka, Farhan nampak berdiri di depan pintu kemudian melambaikan tangannya. Pertiwi bergegas menghampiri sang suami.


" Kamu juga harus istirahat... Jangan terlalu memaksakan diri " ucap Farhan sambil membelai rambut Pertiwi.


Pertiwi menatap sang adik, lalu kembali menatap sang suami. Ia mendesau dan tak tahu harus berbuat apa.


" Sayang, kita makan dulu, dari tadi kamu belum makan lho ! Aku gak mau kamu sakit. Gimana mau ngobatin pasien kalau dokternya sendiri sakit " celoteh Farhan lalu menggandeng sang istri menuju ke meja makan.


Pertiwi dan Farhan telah berada di ruang makan. Semua makanan masih terlihat utuh. Tentu saja, semua masih utuh karena kemungkinan mereka belum makan akibat menunggu Zaid pulang. Namun bukannya pulang, mereka malah disuguhi dengan berita yang tidak mengenakan. Dalam keadaan seperti ini, siapa yang bisa makan dengan tenang.


Farhan mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Pertiwi. Sebelumnya sang bunda memang menyuruh Farhan agar mengajak Pertiwi makan sepulangnya dari vila tadi.


Pertiwi makan dengan malas, hal itu membuat Farhan segera mengambil piring milik Pertiwi, lantas ia dengan telaten menyuapi sang istri.


" Udah, hubby... Aku malas makan, rasanya perutku sedang tidak baik " tolak Pertiwi saat Farhan kembali menyodorkan sendok ke mulutnya.


" Sayang... Kamu belum makan malam lho, aku gak mau kamu masuk angin. Jadi aaaa... aaaa..." seru Farhan meminta Pertiwi membuka mulutnya.


Pertiwi menuruti ucapan sang suami untuk membuka mulutnya dan satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya kembali. Baru saja ia mengunyah, perutnya terasa diaduk-aduk.


Pertiwi segera menuju wastafel yang ada di dapur untuk mengeluarkan isi perutnya. Melihat sang istri seperti itu, Farhan menyusul Pertiwi kemudian memijit tengkuk Pertiwi.


" Sayang... Sudah enakan ? " tanya Farhan khawatir.


Pertiwi mengangguk lemah sambil menyandarkan tubuh ke dinding.


" Kayaknya aku masuk angin " ucap Pertiwi dengan tubuh bersender pada ujung wastafel. Pertiwi menyeka keringat yang mengalir di wajahnya, kemudian membasuh muka agar lebih segar.


Farhan merasa kasihan pada istrinya itu. Seharusnya tadi ia tidak membiarkan sang istri mengikutinya dan Arjuna.


" Kamu mau minum apa? Biar aku buatin " ucap Farhan lagi.


" Air hangat aja " jawab Pertiwi tak ingin banyak berbicara.

__ADS_1


" Lho, Farhan itu Tiwi kenapa ? Sampai pucet gitu ? " tanya Bunda Lia.


" Kayaknya masuk angin, bunda. Soalnya dari tadi bantuin Bang Juna nyariin Kak Zaid " jelas Farhan menjawab pertanyaan sang bunda.


" Ya sudah, kalau begitu kalian pulang saja. Istirahat di rumah. Biar Adinda bunda yang jagain. Lagipula ada Kirana sama anak-anak. Terus di depan juga ada Satpam " ucap sang Bunda.


" Tapi bun... "


Belum selesai Farhan mengutarakan rencananya, sang Bunda bergegas membuatkan minuman hangat untuk Pertiwi.


" Sudah, kalian berdua pulang saja ! Kalian kan harus masuk kerja besok " seru Bunda Lia.


Farhan mengangguk setuju lalu melirik ke arah sang istri yang masih meminum minuman hangat yang diberikan oleh sang bunda.


" Ya, sepertinya bunda benar. Sayang, kita pulang dulu sekarang ya... Besok kita kesini lagi " bujuk Farhan pada sang istri.


Pertiwi mengangguk tanda setuju. Dan setelahnya, mereka pun berpamitan untuk pulang.


" Kamu masih mual ? " tanya Farhan saat sang istri merebahkan raganya di atas tempat tidur mereka.


" Sedikit " jawab Pertiwi tanpa membuka matanya. Satu tangan Pertiwi terangkat menutupi matanya.


Farhan berinisiatif mengelus perut sang istri, memberikan kehangatan dan kenyamanan.


Farhan menarik kedua sudut bibirnya lalu beralih mengelus rambut sang istri, tak lama kemudian ia pun segera menyusul sang istri menuju ke alam mimpi.


...****************...


Mentari telah muncul di ufuk timur, Pertiwi mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian bangun dan meregangkan otot-ototnya. Ia baru menyadari jika tak melihat keberadaan sang suami di sampingnya.


" Hubby... Kamu dimana ? " tanya Pertiwi kemudian turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Hoek...hoek...


Pertiwi mendengar suara muntah-muntah dari dalam kamar mandi. Pertiwi membuka pintu kamar mandi lalu melihat sang suami tengah mengeluarkan isi perutnya ke dalam toilet kemudian terduduk lemas.


" Astaga, hubby... Kamu gak apa-apa ? " pekik Pertiwi segera menghampiri Farhan lalu membantunya berdiri dan memapahnya menuju tempat tidur.


" Kamu kayaknya masuk angin juga ! " tebak Pertiwi.


" Hem... Sepertinya begitu " ucap Farhan lemas.

__ADS_1


Pertiwi membaringkan Farhan di atas tempat tidur, sementara ia mengambil stetoskop dan tensimeter.


" 90/70. Kami harus banyak istirahat, hubby " ucap Pertiwi.


" Banyak makan, juga jangan lupa mInum vitamin biar cepet fit badannya " tambah Pertiwi lagi.


Farhan memeluk tubuh Pertiwi dengan erat dari arah belakang sang istri. Kemudian mengecupi ceruk leher Pertiwi membuat si empunya bereaksi menahan geli.


" Sakit, sakit tapi masih bisa begini " cibir Pertiwi.


" Ini obat sayang, biar cepet sembuh " sanggah Farhan terkekeh.


Tangan Farhan kini turun mengelus perut rata Pertiwi.


" Sayang... "


" Hem... "


" Apa disini sudah tumbuh anak kita ? " tanya Farhan antusias.


Pertiwi terdiam, ia baru ingat jika ia belum mendapatkan siklus bulanannya pada periode ini. Pertiwi segera beranjak dari tempat tidur. Ia segera mengambil alat uji kehamilan yang tersedia di dalam tasnya. Farhan hanya memperhatikan gerak-gerik sang istri dari atas tempat tidur.


Pertiwi masuk ke dalam kamar mandi, lalu mulai memeriksa urine miliknya setelah sebelumnya menampung dalam wadah kecil. Pertiwi memasukkan tes pack ke dalam urine nya lalu menunggunya selama kurang lebih 3 menit.


Dengan perasaan was was Pertiwi mengambil tes pack itu kemudian melihat ada 2 garis merah disana yang menunjukkan jika ia saat ini telah mengandung.


Pertiwi bergegas keluar kamar mandi lalu menghampiri sang suami.


" Kamu kenapa sayang ? Gak apa-apa kan ? " tanya Farhan khawatir.


" Aku ada sesuatu buat kamu " jawab Pertiwi sambil memberikan tes pack pada sang suami.


Farhan melihatnya namun ia bingung membaca dan mengartikan hasilnya.


" Sayang, ini maksudnya gimana ? " tanya Farhan bingung.


" Tadi ributin udah ada atau belum di perut aku, sekarang malah bingung " kesal Pertiwi.


" Perut kamu ? Ada atau belum ? " Farhan menaikkan sebelah alisnya mencerna ucapan sang istri. Lantas tak berapa lama, ia bersorak kegirangan.


" Jadi kamu positif sayang ? Kamu hamil ? " tanya Farhan meyakinkan.

__ADS_1


" Iya, Tuan Marko Farhandika Adijaya. Selamat... Kamu akan segera menjadi seorang ayah dan kita berdua akan menjadi orang tua " jawab Pertiwi yang langsung disambut dengan pelukan oleh sang suami.


__ADS_2