Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap Part 6


__ADS_3

Evan memandangi dua orang yang tengah menatap ke arahnya.


" Kamu sudah datang ? " tanya Evan pada Reksa yang langsung berdiri dan berjalan ke arahnya.


" Baru datang kok, Mas " jawab Reksa santai dengan senyum di bibirnya.


" Kalian berdua sangat serasi dokter. Apakah wanita ini adalah kekasih anda ? " tanya pria tersebut.


" Saya bukan..."


" Iya, Tuan Lukman. Gadis ini calon istri saya " potong Evan tanpa ragu.


Reksa menatap Evan dengan tatapan heran. Ia tak menyangka jika Evan mengenalkannya sebagai calon istri kepada orang lain.


Evan melirik ke arah Reksa yang terlihat heran kemudian mengeratkan genggaman tangannya pada jemari tangan Reksa.


" Maaf Tuan Lukman, kami permisi dulu. Kami akan makan siang bersama " pamit Evan sambil menundukkan kepalanya.


" Ah iya, silakan " Tuan Lukman mempersilakan Evan dan Reksa berlalu.


Ia masih terdiam di kursi taman memandangi kedua orang yang telah berlalu.


Mengapa, dia begitu mirip dengan mendiang istriku. Ya, matanya begitu mirip dengan mata Aurelia, anakku. Apa jangan-jangan dia...


Tuan Lukman berjalan mengikuti Evan dan Reksa dari kejauhan. Melihat keduanya yang kemudian duduk sambil memakan bekal di ujung taman.


Ia seperti melihat bayangan ia dan sang istri dulu.


Sementara itu, Evan tengah asyik menyantap bekal makan siang yang dibawakan oleh Reksa.


" Orang tua tadi sakit apa, Mas ? " tanya Reksa disela-sela menyantap makan siang.


" Siapa ? Yang tadi ngobrol sama kamu ? " Evan balik bertanya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Reksa.


" Itu, Tuan Lukman. Ginjalnya bermasalah jadi harus rutin cuci darah selama belum dapat donor ginjal yang cocok " jelas Evan.


" Oh, gitu... Kasihan ya ! Keluarganya gak ada yang nemenin ? " tanya Reksa lagi. Tiba-tiba ia merasa begitu ingin tahu.


" Setahuku, istrinya sudah meninggal dan anaknya diculik waktu kecil. Sampai sekarang belum ditemukan. Makanya Tuan Lukman mati-matian mencari pendonor supaya bisa mencari anaknya itu " jelas Evan.


" Pasti beliau kesepian... Terus pendonornya udah dapet, Mas ? " tanya Reksa kemudian.


Evan hampir saja tersedak saat mendengar pertanyaan Reksa. Reksa segera memberikan air minum untuk Evan. Evan segera meneguk air minum pemberian Reksa.

__ADS_1


Gimana aku jelasin sama kamu, kalau ternyata kamulah pendonornya yang melarikan diri tempo hari.


" Mas... Mas Evan... Kok malah ngelamun sih " tegur Reksa sambil menepuk lengan Evan.


" Eh iya, maaf... " ucap Evan sambil tersenyum.


" Kamu mendingan cepet pulang. Kamu kesini dianter sopir ? " tanya Evan kemudian.


" Iya, tadi Tante Dinda maksa supaya dianter padahal bisa naik ojol " jawab Reksa sambil merapikan kotak bekal.


" Itu tandanya Bunda perhatian dan sayang sama kamu " sahut Evan sambil berdiri, kemudian mengulurkan tangannya membantu Reksa bangkit dari duduknya.


Reksa menerima uluran tangan Evan.


Kalau kamu, Mas... ? Apa kamu perhatian karena sayang sama aku ?


Sadar Reksa... Kamu itu siapa ! Mereka cuma kasihan sama kamu !!


Reksa membatin.


" Maaf aku gak bisa anter kamu ke mobil. Kamu bisa sendiri kan ? " tanya Evan pada Reksa.


" Ah, iya. Gak apa-apa sih Mas... Reksa bisa sendiri kok, kan tadi juga masuk sendiri " jawab Reksa dengan tawa kecil.


Jangan baper Reksa... Gak boleh...


" Eh, ya udah Mas Evan. Reksa pulang ya " pamit Reksa sambil berusaha menetralkan perasaannya.


Reksa pun segera berlalu meninggalkan Evan. Evan masih berdiri menatap gadis cantik itu hingga tak terlihat di matanya baru Evan kembali ke ruangan. Setelah ini, Evan akan visit ke ruangan Tuan Lukman bersama Dokter Anan.


Reksa berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang menuju tempat parkir. Saat ia berjalan, seseorang mencegatnya sambil menarik tangannya.


" Akhirnya kamu ketemu juga... Ayo ! Kamu sudah menyusahkan aku selama ini. Kamu tidak bisa lari lagi " ucap lelaki itu sambil mencengkram lengan Reksa.


" Ampun, pak... Lepasin Reksa ! Reksa gak mau ikut ! " ucap Reksa berusaha melepaskan cengkraman tangan lelaki itu.


" Kamu harus tanggung jawab atau kamu harus ganti rugi 1 milyar " ancamnya.


" Kenapa harus Reksa yang tanggung jawab, Pak. Bapak yang pakai uangnya, jadi Bapak yang harus tanggung jawab " tukas Reksa mencoba melawan.


Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Reksa menimbulkan bekas kemerahan. Air mata mulai jatuh dari pelupuk mata Reksa.


" Dasar anak tak tahu diri. Ini balasan kamu setelah aku merawat kamu dan ibumu yang penyakitan itu. Sekarang kamu pilih kamu berikan ginjalmu atau aku jual dirimu ke klub malam untuk mengganti rugi " ucapnya tanpa mempedulikan Reksa.

__ADS_1


Reksa terdiam, ia tak kuasa menolak karena sebuah pisau menempel di pinggangnya.


" Bagus, sebaiknya kamu ikuti kemauanku... Ayo sekarang kita masuk ke dalam " seru pria itu sambil berjalan di samping Reksa sambil menempelkan pisau yang ia tutupi dengan jaketnya.


Reksa tak bisa berpikir apapun, ia hanya bisa mengikuti keinginan ayah tirinya itu. Sampai akhirnya mereka sampai di ruang rawat VVIP.


Tanpa permisi, pria itu membawa paksa Reksa ke dalam ruang rawat.


" Tuan... Saya sudah menemukannya... " ucap pria itu sambil sedikit mendorong Reksa agar bisa masuk


Reksa tertunduk sambil menautkan jemarinya.


" Reksa... " ucap Evan.


" Mas Evan... " lirih Reksa saat menyadari jika di ruangan itu terdapat banyak orang termasuk pria yang tadi ditolongnya di taman.


Evan mendekati Reksa lalu menggenggam tangan gadis yang nampak ketakutan itu.


" Tuan... Saya sudah membawa anak saya ini, berarti saya sudah bebas sekarang bukan ? " tanyanya dengan seringai licik di wajahnya.


" Hem... Sekarang kau pergi dari hadapanku. Dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku " jawab Tuan Lukman tegas.


" Baiklah, tapi saya minta segera cairkan sisa uang yang telah anda cairkan itu " ucapnya tak tahu malu.


Tuan Lukman segera meminta asistennya untuk mentransfer sisa uang yang dijanjikannya pada pria itu. Dan setelah melihat bukti transfer, pria itu segera undur diri tanpa rasa bersalah karena sudah mengorbankan anaknya.


" Mas Evan... " Reksa menatap Evan dengan wajah berderai air mata.


" Dokter, segera lakukan pemeriksaan kepada gadis ini " titah Tuan Lukman kepada Dokter Anan.


" Maaf Tuan... Saya tidak mengijinkannya " ucap Evan.


" Evan, jangan bertindak bodoh. Kita tahu betul apa yang akan terjadi jika Tuan Lukman tidak segera mendapatkan donor " ucap Dokter Anan setengah berbisik pada Evan.


Evan menatap Reksa dan Tuan Lukman bergantian.


" Saya akan mengganti kerugian anda, tapi tolong lepaskan Reksa " ucap Evan tak mengindahkan ucapan Dokter Anan.


Tuan Lukman menyeringai,


" Dokter Evan, anda seorang dokter. Bukankah seorang dokter harus mengedepankan kesehatan dan kesembuhan pasien " ucap Tuan Lukman.


Evan terdiam, ia tak dapat menjawab ucapan Tuan Lukman.

__ADS_1


__ADS_2