Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Season 2 Part 14


__ADS_3

Bagas memasuki ruang keluarga, ia bersikap seolah tak mendengar apapun. Kemudian ia duduk di sebelah Indira.


" Waw, tumben nih pada ngumpul semua disini. Kayaknya Bagas ketinggalan informasi " ucap Bagas dengan nada tengil.


" Iya nih, Bang Bagas lama banget turunnya. Jadinya ketinggalan kereta " gerutu Indira.


" Waduh... si cantik ngambek nih " sahut Bagas lalu mengacak rambut Indira dengan gemas.


" Iih... Bang Bagas ! " cebik Indira lalu berpindah duduk ke samping sang ayah.


Perpindahan duduk Indira secara tidak langsung membuat Bagas duduk berdampingan dengan Alesha.


Alesha menatap Bagas tetapi Bagas tak sedikit pun melihat Alesha. Seolah Bagas sedang membangun tembok diantara mereka.


" Jadi sebenarnya ini ada apa sih sampai ngumpul semua disini ? " tanya Bagas penasaran. Meskipun tadi ia mendengar sedikit percakapan mereka tetapi Bagas tetap mencari tahu.


" Minggu depan ayah sama bunda mau berangkat ke rumah Alesha. Mau jelasin hubungan Evan dan Alesha " jawab sang ayah.


" Ohh gitu... " ucap Bagas singkat.


" Iya, karena hubungan Evan dan Alesha ti... "


Derrt... Derrt... Ponsel milik Bagas bergetar, membuat Bagas segera meraihnya tanpa menunggu kelanjutan ucapan Adinda.


" Bentar, Bun... Bagas angkat telpon dulu ya ! " potong Bagas lalu keluar dari ruang keluarga.


" Halo... Kenapa ? " tanya Bagas.


" Gas, ĺo udah lihat pengumuman kelulusan akmil belum ? "


" Belum bro... Kan besok pengumumannya " jawab Bagas santai.


" Udah ada Gas... Coba lo cek deh, lulus apa engga. Gue diterima, Gas ! " ucap sang teman dengan bangga.


" Wah, selamat ya ! Kalau gitu gue mau lihat pengumuman dulu. Moga-moga gue juga diterima ya ! Thank you udah infoin " ucap Bagas kemudian mengakhiri panggilan telponnya.

__ADS_1


Bagas segera berselancar dengan ponselnya. Ia mengecek laman pengumuman, kemudian memeriksa dengan cermat dan akhirnya ia bersorak bahagia karena namanya tertera sebagai calon taruna yang lulus Akmil. Bagas segera menurunkan dirinya, melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam.


Mendengar sorakan Bagas, spontan semua yang berada di ruang keluarga menghampiri Bagas.


" Bagas, ada apa ? " tanya Adinda menghampiri sang anak yang kini terlihat baru saja bangkit dari sujudnya. Bagas tersenyum dengan air mata di sudut matanya.


" Bagas lulus, Bunda... Bagas lulus Akmil " ucap Bagas lalu memeluk sang ibu.


" Kamu lulus, nak ? Alhamdulillah... " ucapan syukur Adinda lafalkan dengan haru.


" Selamat ya nak... ! Akhirnya cita-citamu terwujud. Bunda bahagia... " ucap Adinda yang kini ikut meneteskan air mata.


Zaid menghampiri Adinda dan Bagas yang masih berpelukan. Zaid menepuk pundak Bagas, Bagas melepaskan pelukan dari Adinda kemudian beralih memeluk Zaid.


" Selamat, Gas.. Ayah bangga sama kamu ! " ucap Zaid sambil membalas pelukan Bagas dan menepuk-nepuk punggungnya.


" Makasih, Yah... Bagas berjanji akan berusaha dengan baik. Bagas pasti bisa seperti Ayah. Bagas akan buat Ayah dan semuanya bangga sama Bagas " ucap Bagas yakin.


" Selamat Bagas ! Abang bangga sama kamu " ucap Evan bergantian memeluk sang adik kemudian menepuk pundaknya.


Kali ini tiba giliran Alesha yang mengucapkan selamat pada Bagas.


" Selamat ya, Gas... Semoga kamu sukses " ucap Alesha sambil mengulurkan tangannya pada Bagas.


" Terima kasih, Lesha. Semoga kamu bahagia ! " sahut Bagas membalas uluran tangan Alesha.


Keduanya saling berpandangan seolah ingin mengucapkan sesuatu yang lain, namun Bagas segera melepas tangannya kemudian mengalihkan tatapan matanya kepada gadis kecil yang sedari tadi merengut dengan tangan bersedekap di dada.


Bagas mendekati Indira, kemudian menurunkan dirinya hingga sejajar dengan sang adik.


" Hei, cantik... Dira gak mau ucapin selamat buat Bang Bagas ? " tanya Bagas kepada Indira.


Gadis kecil itu menggedikan bahunya sambil membuang pandangannya, tak ingin melihat Bagas.


" Hei... Adiknya Bang Bagas yang paling cantik... " bujuk Bagas.

__ADS_1


" Oh, jadi ngambek nih ceritanya... Oke, berarti Dira gak sayang sama Bang Bagas. Dira juga gak mau lihat Bang Bagas sukses dong " celetuk Bagas merajuk.


Indira melirik Bagas, lalu menurunkan tangannya dari dada. Tak lama ia memeluk Bagas dengan erat.


" Dira mau lihat Bang Bagas sukses... Dira mau Bang Bagas bahagia. Tapi Dira juga sedih... " ucap Indira lirih.


Bagas melepaskan pelukan sang adik lalu menatap lekat Indira. Tak lama gadis itu mengeluarkan air matanya.


" Kalau Bang Bagas pergi, Dira gak ada temen lagi... Siapa coba yang ajakin Dira jalan-jalan. Siapa yang ajarin Dira berenang... ? Hiks...hiks... " ucap Indira terisak.


Bagas mengelus kepala Indira dengan penuh rasa sayang.


" Dira... Kan ada Bunda, ada Ayah, ada Bang Evan juga yang bisa temenin Dira. Atau Dira bisa ajakin Kak Lesha buat anterin Dira jalan-jalan... " jelas Bagas lembut.


Indira mengangguk mengerti kemudian memeluk Bagas kembali. Senyuman tersungging di wajah Bagas. Ya, Indira memang sangat dekat dengannya. Wajar jika gadis kecil itu merasa khawatir juga merasa kehilangan jika tidak ada Bagas.


" Dira, sayang... Kita doain aja biar Bang Bagas sehat selalu disana dan belajar dengan sungguh-sungguh supaya Bang Bagas bisa sukses dan bisa membanggakan kita semua. Lagipula, ini cita-citanya Bang Bagas. Jadi kita semua harus mendukung Bang Bagas ! " seru Adinda mendekati kedua anaknya kemudian merangkul mereka.


Zaid melingkarkan tangannya ke pundak Evan, sementara Alesha hanya tersenyum melihat kedekatan mereka. Alesha kini teringat keluarganya dan merindukan mereka.


Bagas... Apa kamu akan merindukanku ? Atau kamu akan menemukan seseorang yang mengisi hatimu disana ?


Hati Alesha berubah menjadi melow. Disaat ia meyakini jika hatinya ternyata telah diiisi oleh seorang Bagas, kini ia harus menghadapi kenyataan jika orang yang ia cintai kini harus pergi tanpa mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


Apalagi, Alesha merasa jika sikap Bagas saat ini seperti menjaga jarak dengannya. Padahal Alesha ingin sekali merayakan keberhasilan Bagas dengan pergi bersama seperti saat mereka dulu pergi ke pasar malam.


Adinda kemudian melepaskan rangkulannya lalu menoleh ke arah Alesha yang masih setia dengan senyuman di wajah cantiknya. Jemari tangannya salng bertaut, menggambarkan ada rasa tidak nyaman yang dirasakannya.


Adinda berdiri kemudian melambaikan tangannya kepada Alesha. Tak menunggu lama, Alesha langsung menghambur ke pelukan Adinda. Adinda seolah tahu jika gadis cantik yang memeluknya saat ini butuh sandaran untuk menguatkannya. Disaat tiada keluarga di dekatnya, Adinda menjelma menjadi seorang ibu baginya yang memberikan kehangatan dan kenyamanan bagi Alesha.


" Sabar ya, Lesha... ! Bunda yakin Bagas akan segera tahu yang sebenarnya. Lagipula, Bunda tahu kalau Bagas itu suka sama kamu " bisik Adinda yang justru membuat Alesha terperangah kemudian melonggarkan pelukannya.


Apa ? Jadi Bunda sudah tahu perasaanku ? Bagaimana bisa ?


Batin Alesha bertanya-tanya.

__ADS_1


Alesha menatapi Adinda yang tersenyum dengan teduh, membuat siapapun yang melihatnya merasa nyaman. Adinda menganggukkan kepala seolah paham kegundahan yang dirasakan oleh Alesha.


__ADS_2