Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 62


__ADS_3

Zaid memasuki kamar yang ditempati Adinda dan Evan. Melihat sang anak yang tertidur lelap di atas kasur, ia tersenyum. Ia kemudian menemukan sang istri menatap ke luar jendela. Zaid berjalan mendekati Adinda kemudian memeluk istri tercintanya itu membuat Adinda terkejut.


" Mas ? Kok udah pulang ? " tanya Adinda sambil membalik tubuhnya menghadap sang suami yang tengah melihat ke arah luar jendela.


" Kamu ngintipin Adrian ? " Zaid mengangkat sebelah alisnya lalu menatap sang istri dengan curiga.


" Ya, kayaknya sebentar lagi mereka berdua menikah " ucap Adinda menebak-nebak.


" Gak usah sok tahu sayang ! " Zaid mencubit gemas hidung sang istri lalu mengecup bibirnya.


" Bukan sok tahu, Mas... Cuma berharap, gak ada salahnya kan mengharapkan hal yang baik " ucap Adinda.


" Hem... " Zaid kembali mengecup bibir Adinda kemudian berpindah mengecupi leher.


" Mas... Ih !" sentak Adinda karena Zaid terus menelusuri leher dan pundaknya bahkan kini pakaian atasnya telah sedikit terbuka akibat tangan jahil Zaid yang dengan cepat membuka kancing kemejanya.


Adinda mendorong badan sang suami yang dilanda gairah itu.


" Cuci tangan dulu Mas. Nanti gak boleh pegang-pegang Evan lho ! " ancam Adinda.


" Pegang-pegang bundanya boleh kan ? " goda Zaid kembali mendekati Adinda.


" Mas Zaid... Ih, masih siang tahu ! " ucap Adinda kesal.


" Lagian jam segini udah pulang. Emangnya udah selesai penatarannya ? " tanya Adinda sambil duduk di tepi kasur membetulkan guling yang bergeser karena gerakan Evan.


" Udah selesai sayang. Tadi tinggal acara ramah tamah aja, makanya Mas pulang duluan. Mas mau acara ramah tamah sama kamu aja ! " ucap Zaid kembali mendekati Adinda.


" Stop, Mas...! " seru Adinda namun tak digubris oleh Zaid.


Zaid terus merangsek mendekati sang istri membuat Adinda terpojok bersandar di headboard ranjang. Segera Zaid menyerang sang istri yang terlihat pasrah dengan membuka kancing kemeja Adinda hingga terpampang dengan jelas gundukan kenyal yang sangat disukainya.


Baru saja Zaid akan beraksi, terdengar pintu diketuk dari luar.


" Din... Dinda... Kamu tidur ? " suara Gea terdengar di luar pintu kamar.


" I... Iya Kak. Sebentar ! " jawab Adinda sambil merapikan pakaiannya yang sudah hampir terbuka akibat perbuatan sang suami.


Zaid mendesah kasar, kemudian berbaring di samping Evan dengan wajah merengut.


" Sabar ya, Mas ! Gak ada jatah ramah tamah siang " ucap Adinda mengerlingkan matanya lalu mengusap pipi sang suami dan berakhir dengan kecupan singkat di bibir Zaid.


Adinda membuka pintu kamar dan nampaklah Gea dengan wajah yang sumringah.


" Kamu habis ngapain ? " tanya Gea saat melihat Adinda yang sedikit berantakan.


" Habis tiduran nemenin Evan " jawab Adinda asal.

__ADS_1


Gea melihat sepintas jika di atas tempat tidur tidak hanya ada Evan saja tapi juga ada Zaid.


" Nemenin Evan atau nemenin ayahnya Evan ? " goda Gea dengan seringai di wajahnya.


Adinda hanya tersenyum simpul kemudian keluar dan menutup pintu kamar.


" Ada apa Kak ? " tanya Adinda.


" Ng... Itu, aku mau pergi sama Adrian " jawabnya.


" Terus ? "


" Em... Aduh gimana ya bilangnya " gumam Gea bingung.


" Kenapa Kak ? " tanya Adinda lagi.


" Gini, Dinda... Adrian ngajakin cari cincin ? "


" Hah, Kak Adrian ngelamar Kak Gea ? Beneran ? " tanya Adinda antusias.


" Sstt... " Gea menyimpan jari telunjuknya di bibir.


" Duh... Dinda, diem dong ! Nanti kedengeran suami kamu. Malu lah "


" Kok malu sih Kak ? Harusnya seneng dong. Mas Zaid juga pasti seneng banget dengernya " ucap Adinda.


" Kak Gea pasti seneng banget dilamar sama orang yang kakak cintai. Iya kan ? "


" Dulu, kamu juga gitu kan ? Seneng banget pasti dilamar Pak Kapten " tebak Gea.


Adinda tersenyum kecut.


" Dulu, Dinda sama Mas Zaid dijodohin Kak... Jadi, Dinda gak tahu rasanya dilamar sama orang yang kita cintai " jawab Adinda mengenang kembali masa saat perjodohannya dengan Zaid.


" Hah ? Jadi kalian menikah tanpa ada rasa cinta sama sekali ? Kok bisa sih ? " tanya Gea heran.


" Karena itu keinginan orang tua kami. Dan sebagai anak yang mau berbakti sama orang tua, kami harus menerimanya. Tapi menurut Mas Zaid, dia udah cinta sama Dinda sejak Dinda masih sekolah, makanya pas tahu dijodohin sama Dinda dia langsung mau.Tapi sekarang kami sudah saling mencintai kok, malahan cinta banget " aku Adinda dengan senyuman terpatri di wajah cantiknya.


" Ck... Kalau itu kejadian di aku, udah kabur kayak sekarang Din... " Gea terkekeh sambil menutup mulutnya.


" Ya udah, Kak... Sana buruan pergi sama Kak Adrian. Biar cepet-cepet dinikahin " seru Adinda.


Gea menghentikan tawanya.


" Aku minta tolong satu hal, bisa ? " tanya Gea.


Adinda mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


" Apa Kak ? " tanya Adinda.


" Tolong tanya Adrian, apakah dia memang sungguh mencintaiku atau hanya pelarian karena tidak bisa memilikimu " pinta Gea.


" Ya ampun, Kak... Kenapa kakak ngomong gitu. Kakak gak percaya sama Kak Adrian ? " Adinda menepuk dahinya sendiri.


" Aku hanya takut, ini tak seperti yang ku harapkan. Semua terlalu cepat dan aku hanya takut masih ada rasa untuk kamu di hatinya " jelas Gea sendu.


" Kalau kak Gea sayang sama Kak Adrian, seharusnya kakak percaya Kak Adrian. Apa Kak Gea gak bisa lihat, kalau Kak Adrian itu sayang sama kak Gea. Dulu, mungkin kak Adrian mencintai Dinda. Dinda juga bersyukur bisa dicintai Kak Adrian begitu besar. Tapi cinta itu gak bisa dipaksakan Kak. Dan Dinda tahu betul kalau Kak Adrian paham tentang itu. Dinda seneng banget waktu lihat Kak Adrian bisa deket sama Kak Gea. Itu berarti Kak Adrian udah bisa move on dan semuanya berkat Kak Gea " tutur Adinda panjang lebar.


" Sekarang, Kak Gea cukup mencintai Kak Adrian aja. Gak usah mikir yang lain-lain. Yang penting kalian berdua saling mencintai dan saling percaya ! " ucap Adinda bijak.


" Tapi tetep aja, Dinda... Ada yang ngeganjel di hati " sahut Gea resah.


" Ya udah, nanti Dinda pastiin perasaan Kak Adrian sama Kak Gea gimana. Tapi gak boleh curiga sama cemburu sama Dinda lho ! " ucap Adinda menggoda Gea.


" Makasih ya , Dinda... Seneng banget bisa kenal kamu " ucap Gea bahagia kemudian segera kembali ke lantai bawah untuk pergi bersama Adrian.


Adinda segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Melihat sang suami dan sang anak yang tertidur dengan gaya yang sama.


" Dasar... Emang bener-bener fotokopian kamu, Mas ! " ucap Adinda sambil mencium kening Evan yang masih lelap tertidur.


Giliran Adinda mencium pipi Zaid, namun sang suami dengan sigap langsung memeluk Adinda dan menjatuhkannya dalam dada bidangnya.


" Ya ampun, Mas... Dikirain tidur juga "


" Maafin, Mas ya ! " ucap Zaid sambil mengelus rambut dan punggung sang istri.


" Kenapa minta maaf ? " tanya Adinda heran.


" Maaf karena Mas tidak melamarmu sebagai pria yang kamu cintai saat itu " lirih Zaid.


Adinda melepaskan pelukan Zaid kemudian duduk di samping sang suami yang kini duduk di atas kasur.


" Mas tadi denger omongan Dinda sama Kak Gea ? " tanya Adinda.


Zaid mengangguk perlahan. Adinda menghela nafasnya.


" Mas... Situasi lamaran kita dulu memang gak sesuai impian Dinda. Tapi Dinda terima itu... Dinda terima Mas Zaid sebagai suami Dinda dan berusaha mencintai Mas Zaid. Dan itu berhasil, Dinda mencintai Mas Zaid bahkan merasa beruntung bisa menikah dengan Mas Zaid. Lamaran itu hanya simbolis pernyataan perasaan kepada pasangan yang kita yakini akan menjadi bagian hidup kita. Tapi yang terpenting adalah menjadikan pernikahan itu sebagai wujud nyata menyatukan hati untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupan kita " tutur Adinda sambil mengelus wajah tampan Zaid.


Zaid lantas turun dari ranjang kemudian berlutut di hadapan sang istri dan menggenggam jemari Adinda.


" Adinda Persada Ayunindya bersediakah kamu menemani hari-hari bersamaku Zaid Wira Prasetya sebagai suamimu hingga akhir usia kita ? Bersama dalam suka dan duka ? "


Adinda tersenyum penuh keharuan.


" Iya, aku bersedia menjadi istrimu sampai hanya maut yang dapat memisahkan kita. Tetaplah menjadi suami yang senantiasa mencintaiku dan aku pun akan selalu mencintaimu. I am so happy to have you Kapten Zaid ! " tegas Adinda lalu memeluk Zaid.

__ADS_1


__ADS_2