
Zaid dan Adinda memasuki ruangan dokter obgyn untuk pemeriksaan kandungan kembali. Akhirnya Zaid dapat ikut melihat perkembangan bayi mereka yang telah diketahui berjenis kelamin laki-laki.
Sungguh Zaid begitu antusias menyaksikan bayi mereka melalui layar monitor. Bayi mereka sehat dengan berat badan normal dan siap untuk dilahirkan. Kini menjelang hari perkiraan lahir bayi mereka, Adinda harus menyiapkan fisik dan mentalnya nanti saat melahirkan.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Adinda dan Zaid pergi membeli beberapa perlengkapan bayi yang belum sempat dibeli.
Saat mereka tengah asyik memilih perlengkapan untuk bayi mereka, Zaid menerima telpon jika ada hal mendesak di kantor yang harus diselesaikan terkait masalah penyergapan kemarin.
" Sayang, Mas ke kantor dulu ya. Kamu tunggu aja di restoran, nanti Mas balik lagi " seru Zaid kepada sang istri yang sibuk memilih-milih pakaian bayi.
" Kalau gitu biar Dinda pulang sendiri aja, Mas. Gak apa-apa kok " ucap Adinda santai.
" Engga, kamu tungguin Mas aja... Nanti Mas balik lagi, Mas usahain secepatnya balik lagi. Kalau Mas belum datang, kamu tunggu aja di restoran biar anak kita gak kelaparan " sahut Zaid sembari mengelus perut Adinda.
" Iya, Mas... Gih cepetan ke kantor ! " seru Adinda merasa risih karena sejak tadi sang suami terus menempel padanya.
" Ya, udah Mas pergi dulu. Inget, jangan kemana-mana ! "seru Zaid lalu mengecup kening sang istri dan segera berlalu.
Perasaan Zaid sebenarnya tak tenang meninggalkan Adinda sendirian. Apalagi dalang dibalik kecelakaannya belum berhasil ditangkap. Namun Zaid menampik semua pikiran buruknya. Ia meyakinkan diri tidak akan ada yang terjadi pada sang istri, mengingat dialah target utamanya.
Setelah membeli perlengkapan dan beberapa pakaian bayi lagi, seperti yang diperintahkan oleh Zaid, Adinda memilih menunggu sang suami sambil makan di restoran favoritnya.
Adinda menunggu Zaid sekitar 2 jam di restoran. Karena kesal menunggu di dalam restoran, Adinda keluar dari restoran dan menunggu di lobi mall sambil duduk.
Dert... Dert... Ponsel Adinda bergetar. Adinda segera mengangkat ponselnya. Ternyata sang suami yang menelponnya.
" Iya, Mas ? Mas Zaid masih lama ya ? Dinda pulang duluan aja ya " bujuk Adinda.
" Maaf ya sayang, pasti kamu nungguin lama. Tadi Mas udah suruh orang buat jemput kamu. Sebentar lagi kayaknya sampai " terang Zaid.
" Oh gitu, ya udah deh... Dinda tungguin di lobi ya, kasih tahu sama yang jemputnya "seru Adinda lalu menutup telepon.
Kenapa perasaanku tidak enak ya ?
batin Zaid saat Adinda menutup telepon.
" Kenapa, Id ? " tanya Arjuna melihat Zaid yang telihat gusar.
__ADS_1
" Kenapa perasaanku gak enak ya, Jun ? Aku khawatir ada apa-apa sama Dinda " ungkap Zaid.
" Nah, lo sih pake nyuruh si Adrian jemput Dinda. Lo kan tahu sendiri kalau Adrian tuh suka sama istri lo. Apalagi, dia ada hubungannya dengan pelaku kecelakaan lo " sahut Arjuna.
" Aku tahu itu, tapi Adrian bukan orang jahat. Dia juga baru tahu ulah pamannya itu. Bukankah dia sudah menceritakan semuanya kepada kita. Aku percaya dia tidak akan melakukan hal buruk pada Adinda. Dia pasti akan melindungi Adinda " sanggah Zaid.
" Terserah, lo deh. Kalau lo percaya sama Adrian gue ngikut aja. Lagian juga adik gue gak bakalan bisa berpaling dari lo... Dia kan udah cinta mati sama lo sekarang " ucap Arjuna dengan tawa kecil.
" Sekarang gimana caranya nangkep pamannya si Adrian itu. Dia itu terkenal licik, kita tidak boleh terpancing. Dan yang penting kita harus menemukan kaki tangannya disini " tambah Arjuna mengepalkan tangannya.
...****************...
" Mba Dinda ya ? " sapa seseorang yang mengenakan seragam dinas berdiri di hadapan Adinda.
" Iya... Oh Mas yang disuruh suami saya buat jemput saya ya ? " tanya Adinda sambil menelisik laki-laki di hadapannya.
" Eh, iya Mba... Kapten Zaid tadi nyuruh saya untuk jemput Mba Dinda " jawabnya.
" Oh, ya udah. Ayo Mas ! " ucap Adinda sambil berdiri dan membawa 3 buah paper bag hasil berbelanja tadi.
Mereka sudah sampai di depan lobi, menunggu mobil datang menjemput. Tak lama sebuah mobil SUV berwarna hitam berhenti di depan mereka.
Tanpa curiga sedikit pun, Adinda naik ke dalamnya diikuti orang tersebut. Saat pintu mobil akan ditutup Adinda sempat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Namun, Adinda tak menghiraukannya karena ia ingin segera pulang.
Mobil SUV hitam itu pun segera melaju. Di dalam mobil Adinda diberikan minum oleh orang yang tadi menjemputnya dan tak lama setelah itu, Adinda pun tertidur.
" Umpan berhasil ditangkap, Bos " ucap sopir menghubungi seseorang.
" Bagus, bawa dia ke tempat yang sudah disiapkan. Dan kita akan memancing Zaid untuk menyelamatkan istri dan anaknya " jawab orang di sebrang telepon kemudian menutup panggilan.
...****************...
Adrian setengah berlari saat dari kejauhan ia melihat Adinda bersama dengan seseorang yang ia kenal. Ia berteriak memanggil Adinda, namun Adinda tak menghiraukan panggilannya, justru Adinda malah masuk ke dalam mobil SUV hitam tersebut.
" Sial... ! " pekik Adrian saat melihat mobil itu berlalu saat ia sudah mendekat.
Adrian kembali menuju mobilnya lalu dengan segera memacu mobilnya untuk mengikuti jejak Adinda. Tak lupa ia pun menghubungi Zaid.
__ADS_1
" Kapten... Maaf, saya terlambat... Mba Dinda sudah ada yang menjemput ketika saya datang. Saat ini saya sedang mengejar mobil yang membawa Mba Dinda " lapor Adrian.
" Apa ? Bagaimana bisa Adinda ikut dengan orang asing " ucap Zaid tak percaya bercampur gelisah.
" Bukan orang asing, Kapten. Orang yang membawa Adinda itu Geri, anggota tim anda saat bertugas lima bulan yang lalu " jawab Adrian.
" Sial, kita kecolongan ! " umpat Zaid.
" Saya akan mencoba mengejar mereka Kapten " ucap Adrian.
" Saya percayakan pada kamu. Hubungi saya segera setelah menemukan mereka ! " seru Zaid.
" Siap Kapten " jawab Adrian lalu memutuskan hubungan telepon.
Zaid mengusap kasar wajahnya, tangannya memukul meja hingga meja yang terbuat dari kayu itu belah
Maafkan Mas, Dinda... Mas tidak akan membiarkan mereka melukaimu ! Mas pasti akan menyelamatkanmu !
" Ada apa ini, Id ? " tanya Arjuna yang baru saja datang dan melihat meja kerja Zaid telah belah.
" Mereka mendapatkan Dinda, Jun... Aku sudah membuat istri dan anakku berada dalam bahaya " ucap Zaid mengacak kasar rambutnya.
" Apa ? " Arjuna membelalakkan matanya.
" Bagaimana bisa terjadi ? " tanya Arjuna heran.
" Gery, ternyata selama ini dia yang sudah berkhianat. Tadi Adrian melihatnya menjemput Adinda dan sekarang dia sedang mengejar mereka " jawab Zaid.
" Aku harus mencari Adinda... Aku harus menyelamatkan istri dan anakku ! " ucap Zaid panik.
" Zaid... Kendalikan dirimu ! " sentak Arjuna.
" Aku tahu kamu khawatir, jika kamu panik seperti itu justru kamu tidak akan berpikir jernih. Tenangkan dirimu... Aku yakin orang tua keparat itu akan menghubungimu " tambah Arjuna lagi menenangkan Zaid.
Dan benar saja, tak berselang lama, ponsel milik Zaid berbunyi dan terdapat panggilan
dari nomor yang tidak dikenal.
__ADS_1
" Kapten Zaid... Bagaimana kabar anda ? " tanya suara di sebrang telepon.