
Zaid duduk bersimpuh, kedua tangannya menapaki lantai gudang. Air matanya jatuh menetes diantara kedua tangannya. Hatinya hancur, karena tak bisa menyelamatkan sang istri dan calon anaknya.
Bahkan rasa sakit di lengan dan punggungnya seakan tiada artinya dibanding kehilangan orang yang sangat ia cintai.
" Bagaimana rasanya, kehilangan orang yang kita sayangi, Kapten. Bukankah sakit ? " tanyanya dengan nada meremehkan berjalan mendekati Zaid.
Zaid mengangkat wajah, melihat pria yang dulu sangat ia hormati itu. Ingin rasanya ia membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Pria itu mengarahkan senjata apinya ke arah Zaid dengan seringai menghiasi wajah tua yang nampak sangat menjijikan.
" Aku akan mengantarmu menemui istrimu. Tidak perlu berterima kasih padaku. Anggap saja ini hadiah dariku dan Adriana " ucapnya dengan senyuman licik.
" Mas Zaid... " Satu suara mengejutkan keduanya.
Zaid dan pria itu menoleh ke arah datangnya suara. Keduanya terkejut saat melihat orang yang baru saja mereka kira telah meledak justru kini berada di tengah-tengah mereka.
Adinda berjalan bersama Adrian melewati gudang tempat Zaid bertarung. Setelah melewatinya, Adinda mendengar teriakan Zaid bersamaan dengan suara ledakan rumah di atas bukit. Hafal dengan suara sang suami, Adinda berlari meninggalkan Adrian menuju ke arah gudang. Dan akhirnya disinilah mereka semua berada.
Zaid begitu bahagia melihat sang istri masih hidup walaupun terlihat berantakan. Zaid berjalan tertatih menuju Adinda. Begitu pula Adinda yang berjalan mendekati sang suami.
Akan tetapi pria tua itu merasa sangat kesal, karena rencananya gagal. Akhirnya ia mengarahkan tembakan ke arah Adinda yang sedang berjalan ke arah Zaid.
" Dinda... Awas ! " teriak Zaid saat melihat pistol mengarah ke arah sang istri.
" Ah... "
Adinda terjatuh di atas tubuh Adrian yang dengan sigap menghalangi tembakan dengan menggunakan tubuhnya.
" Syukurlah kamu baik-baik saja, Dinda " ucap Adrian lirih lalu menutup matanya.
" Kak... Kak Adrian, bangun Kak ! " ucap Adinda sambil berusaha membangunkan Adrian.
Melihat hal itu, Zaid segera melumpuhkan pria yang tak lain adalah paman dari Adrian. Pria tua itu tak melawan saat Zaid menyerangnya, ia merasa sangat bersalah karena akibat ulahnya justru keponakannya satu-satunya yang terluka.
Pria tua itu duduk bersimpuh di depan Adrian yang terluka. Ia teringat ucapan keponakannya itu beberapa waktu yang lalu. Bahwa dendam hanya akan menghancurkan dirinya sendiri dan itu terbukti. Ia sudah menghancurkan dirinya sendiri dengan melukai keponakannya itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Arjuna dan anggota tim delta serta tim medis datang. Mereka mengamankan semua pelaku yang ada termasuk paman Adrian.
Adrian segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Zaid pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan pada lukanya. Adinda dengan setia menemani sang suami saat mendapatkan perawatan di rumah sakit.
" Mas baik-baik saja " ucap Zaid menenangkan sang istri yang terus mengeluarkan air mata.
Zaid memeluk sang istri saat lukanya telah dibalut. Adinda memeluk erat sang suami,
" Semuanya sudah selesai, tidak akan ada lagi hal buruk yang terjadi setelah ini. Mas janji ! " tambah Zaid mengecupi kepala sang istri.
Adinda hanya mengangguk lemah, ia memeluk Zaid dengan erat. Baginya ini adalah mimpi buruk yang nyata. Suaminya terluka demi menyelamatkannya bahkan demi dirinya, Adrian rela mengorbankan diri.. Entah harus dengan apa Adinda berterima kasih kepada Adrian yang begitu tulus melindunginya.
Adinda memikirkan ucapan Adrian saat mengatakan ingin bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga anaknya. Sebesar itukah rasa cinta Adrian kepadanya ? Hingga mau mengorbankan hidupnya.
" Sayang, kamu mikirin apa ? " tanya Zaid karena melihat ada yang tak biasa dengan sang istri dan itu mengganggunya.
" Kak Adrian, gimana keadaannya Mas ? " tanya Adinda sendu.
Zaid menghela nafas, lalu membelai pipi sang istri.
" Adrian ada di ruang operasi, dokter sedang berusaha mengeluarkan peluru dari punggungnya. Adrian pasti kuat, dia pasti bisa bertahan " jawab Zaid.
Adinda kembali menumpahkan air matanya.
Zaid meraih tubuh sang istri yang bergetar menahan tangisan...
" Kami melakukannya karena sangat mencintaimu. Mas tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Biarlah Mas yang merasakannya. Begitu pun Adrian, perasaannya begitu tulus padamu. Ia rela melakukan apa pun agar kamu tidak terluka... " jelas Zaid.
" Tapi... Dinda hanya mencintai Mas Zaid. Dinda hanya menganggap Kak Adrian sebagai kakak saja, tidak lebih " sanggah Adinda.
" Mas tahu itu. Hem... Jadi bersikaplah baik seperti seorang adik terhadap kakaknya. Mas tidak akan membiarkan kamu berpaling pada pria lain ! " seru Zaid sambil menghapus air mata Adinda.
" Ayo kita lihat keadaan Adrian. Di ruang operasi sudah ada Arjuna. Kita bisa mencari tahu keadaan Adrian " ajak Zaid sambil turun dari brangkar.
" Mas kuat ? " tanya Adinda cemas.
__ADS_1
" Tentu saja, ini tidak seberapa dibanding kehilangan kamu. Ayo ! " ucap Zaid lalu berjalan mendahului Adinda.
Mereka berdua menuju ruang operasi. Di depan ruang operasi, Arjuna duduk menunggu bersama dua anggota tim delta. Mereka memberi hormat kepada Zaid saat melihat sang kapten datang.
" Gimana perkembangannya, Jun ? " tanya Zaid pada Arjuna.
" Belum ada hasil... Dokter masih berusaha mengeluarkan peluru dari punggungnya. Beruntung, tidak menembus sampai ke dadanya " jelas Arjuna.
" Kita doakan saja operasinya berjalan lancar " tambah Arjuna lagi.
Mereka semua duduk menunggu di depan ruang operasi. Adinda nampak gelisah, sesekali ia mengelus perutnya yang tak nyaman. Hal itu tak luput dari perhatian Zaid.
" Kamu, kenapa sayang ? " tanya Zais khawatir saat sang istri meringis menahan sakit.
" Sakit Mas ! " ucap Adinda memegangi perutnya.
Tangan Adinda meremas kuat lengan Zaid saat sakit itu kembali menderanya.
" Mending kamu bawa periksa Dinda ke dokter, sepertinya Dinda akan melahirkan " ucap Arjuna lalu dengan sigap ia menggendong sang adik menuju ruangan dokter.
Zaid hanya bisa mengikuti Arjuna yang membawa Adinda. Jika saja ia tidak sedang terluka, tentu ia sendiri yang akan membawa sang istri.
Adinda dibawa ke ruang bersalin, setelah diperiksa ternyata sudah bukaan 4. Selain itu, air ketuban sudah banyak keluar sehingga bayinya harus segera dikeluarkan.
Zaid memutuskan untuk melakukan operasi caesar pada sang istri kendati Adinda menginginkan melahirkan secara normal. Namun Zaid tak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan istri dan anaknya.
Arjuna sibuk memberitahu keluarganya bahwa Adinda akan segera melahirkan. Sementara Zais sudah berada di dalam ruang operasi menemani sang istri.
" Mas, Dinda takut... " ucap Adinda menggenggam erat tangan sang suami.
" Jangan takut sayang, Mas disini menemanimu. Seperti janji Mas dulu, Mas akan menyaksikan anak kita lahir ke dunia, membawa kebahagiaan untuk kita. Kamu kuat sayang, kamu hebat " hibur Zaid mengecup kening sang istri.
Proses operasi pun dimulai, selama 30 menit dokter melakukan operasi dan akhirnya, bayi laki-laki yang lucu berhasil dikeluarkan dari dalam perut Adinda. Bayi yang menggemaskan itu disimpan di atas dada Adinda untuk melakukan inisiasi dini setelah sebelumnya dibersihkan oleh perawat.
Zaid menggendong sang anak yang begitu tampan, tak terasa air matanya menetes karena haru.Setelah mengadzani sang anak, Zaid mencium kening Adinda dengan lembut.
__ADS_1
" Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidup kita. Aku mencintaimu Dinda... " sebuah pengakuan yang tak pernah henti Zaid utarakan pada sang istri.
" Selamat datang, anakku. Evano Faidan Prasetya "